Al-Qur'an Surat Al-Infitar Ayat 1

Al-Infitar: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ

idha
اِذَا
apabila
al-samau
السَّمَآءُ
langit
infatarat
انْفَطَرَتْۙ
terbelah

Transliterasi Latin:

Iżas-samā`unfaṭarat (QS. 82:1)

Arti / Terjemahan:

Apabila langit terbelah, (QS. Al-Infitar ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Ada empat peristiwa besar pada hari kiamat yang disebutkan di bagian awal surah ini, dari ayat 1 s.d. 4. Dua peristiwa yang pertama terjadi di langit dan sisanya di bumi. Apabila langit yang demikian besar dan kukuh terbelah, retak, kemudian digulung.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat-ayat ini menjelaskan kekacauan yang terjadi menjelang hari Kiamat dan kehancuran alam semesta. Gejala kehancuran alam digambarkan dengan keadaan langit yang terbelah sehingga formasi alam semesta berubah menjadi kacau. Bintang-bintang jatuh berserakan, tidak lagi pada posisinya. Padahal Allah menginformasikan bahwa matahari memiliki posisi tertentu yang menjadi pusat rotasinya, dan begitu juga dengan bulan. Firman Allah:

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (ar-Rum/30: 50)

Fenomena lainnya adalah lautan meluap menenggelamkan semua daratan. Air tawar bercampur dengan air asin, tidak ada lagi daratan yang bisa dihuni oleh makhluk hidup apalagi air laut yang meluap menjadi panas. Sungguh bumi telah berubah, bukan lagi bumi yang biasa dikenal oleh manusia.

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)

Untuk telaah ilmiah Surah al-Infithar/82:1-3, lihat pula telaah ilmiah Surah al-haqqah/69: 13-16; al-Ma'arij/70: 8, dan at-Takwir/81: 1-3. Ketika terjadi proses ke arah Big Crunch itu, yaitu proses pemadatan atau penyusutan alam semesta, maka semua materi pecah kembali menjadi materi-materi fundamental seperti quark, elektron dan sebagainya, gaya-gaya seperti gaya gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah mulai menyatu kembali. Langit antariksa mulai lemah karena tidak ada topangan gaya gravitasi, dan mulai menyusut/mengerut dan retak/terbelah. Saat itulah benda-benda langit, termasuk bintang-bintang yang mulai kehilangan gaya-gaya gravitasinya, bertubrukan antar sesamanya. Inilah gambaran 'bintang-bintang jatuh berserakan, karena kehilangan gaya-gaya gravitasinya, dan karena terurai kembali atau meluruh menjadi materi-materi fundamentalnya.
Menurut Bashiruddin, ketika matahari telah mencapai evolusi membengkak dan berwarna merah (red star)(lihat telaah ilmiah Surah at-Takwir/81: 1-3), maka suhu bumi akan meninggi, sampai air laut mencapai titik didihnya. Panasnya bumi oleh radiasi matahari merah ini, sangat mungkin akan mencairkan gunung-gunung es di Artik (Kutub Utara) dan benua es Antartika (Kutub Selatan), sehingga samudera akan meluap secara dahsyat, menenggelamkan banyak pulau. Air laut ini kemudian akan mendidih dan menguap dan lenyap dari bumi. Bumi menjadi tidak layak huni. Paul Davies mengatakan bahwa ketika alam semesta telah memadat sampai seper-seratus (1/100) dari luasnya yang sekarang ini, maka efek tekanannya akan mengakibatkan suhu yang meninggi sampai mencapai titik didih benda cair; dan bumi menjadi tempat yang tidak layak-huni lagi.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Apabila langit terbelah) atau menjadi belah.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Firman Allah Swt:

{إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ}

Apabila langit terbelah. (Al-Infithar: 1)

Yakni retak besar dan terbelah, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

السَّماءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ

Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu karena Allah. (Al-Muzzammil: 18)

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[82 ~ AL-INFITHAR (TERBELAHNYA LANGIT) Pendahuluan: Makkiyyah, 19 ayat ~ Surat al-Infithâr memaparkan peristiwa-peristwa dahsyat yang terjadi pada hari kiamat dengan gaya bahasa yang dapat meyakinkan pembaca akan kesungguhan terjadinya kiamat. Saat itu, setiap orang akan mengetahui segala yang diperbuatnya di dunia. Ayat-ayat yang lain berisi peringatan pada manusia yang menyombongkan diri di hadapan Tuhan--yang telah menjadikannya dan memberinya bentuk paling sempurna di seluruh alam--dan mendustakan hari pembalasan. Ayat-ayat selanjutnya memberikan penjelasan bahwa Allah Swt. mempunyai malaikat yang bertugas sebagai penjaga dan pencatat amal perbuatan manusia. Dikemukakan pula, dalam surat ini, bahwa kenikmatan dan kesenangan hidup akhirat akan didapat oleh orang-orang yang berbuat kebajikan. Sementara orang-orang kafir yang bergelimang dosa akan menemukan kesengsaraan. Mereka akan merasakan api neraka pada hari kiamat, hari ketika seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Saat itu segala urusan berada dalam kekuasaan Allah.]] Bila langit terbelah.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Ayat 1-5
Maksudnya, bila langit runtuh dan terbelah, bintang-bintangnya berhamburan, hilang keindahannya, laut-laut meluap hingga menjadi satu lautan, kuburan terbongkar mengeluarkan semua mayat yang ada di dalamnya untuk dikumpulkan di tempat pemberhentian di hadapan Allah untuk pembalasan amal perbuatan, pada hari itu penutup tersingkap, sesuatu yang samar menjadi nyata, dan setiap jiwa mengetahui setiap keberuntungan atau kerugian yang menyertainya. Di sana, orang zhalim menggigit jari pada saat melihat perbuatan yang telah dilakukannya dan yakin akan mendapatkan kesengsaraan abadi dan siksaan selamanya.
Di sana, (sebaliknya) orang bertakwa yang melakukan amal baik mendapatkan kemenangan besar, kenikmatan abadi, dan selamat dari siksaan Neraka Jahim.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. إِذَا السَّمَآءُ انفَطَرَتْ(Apabila langit terbelah)
Yakni terbelah karena para malaikat yang turun.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-5. Allah menjelaskan dengan tegas betapa besar kekuasaan-Nya dengan peristiwa-peristiwa mengerikan yang terjadi pada makhluk-makhluk di hari kiamat, agar para hamba beriman kepada hari kebangkitan dan hari pembalasan dengan siksaan atau pahala:

Jika langit telah terbelah, bintang-bintang telah berjatuhan, air lautan saling menghantam, dan kubur-kubur telah porak poranda sehingga penghuninya keluar dalam keadaan hidup. Maka ketika itu setiap jiwa akan mengetahui kebaikan yang telah dia lakukan dan perbuatan yang dia tunda pelaksanaan atau sunnah yang dilakukan baginya setelah kematiannya, itu semua akan mendapatkan balasannya.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Jika langit telah terbelah untuk turunnya malaikat melaluinya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-4. Surat ini dimulai dengan keimanan, dimana Allah bersumpah dengan langit yang apabila telah terbelah dan berubah aturan (dari yang semestinya). Allah juga bersumpah dengan bintang-bintang yang apabila berjatuhan dan berserakan. Allah juga bersumpah dengan lautan yang meluap satu sama lain dan kemudian (terkumpul) menjadi lautan yang satu, dan bercampur air (dari laut) yang tawar dengan yang asin. Allah juga bersumpah dengan kuburan yang apabila dihamburkan dan dibangkitkan (mayit) di dalamnya untuk berkumpul di padang masyhar

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ “Apabila langit terbelah” Yakni terbelah, sebagaimana dalam firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ “Apabila langit terbelah,”(QS. Al-Insyiqaaq: 1-2)

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

1-4. Ada empat peristiwa besar pada hari kiamat yang disebutkan di bagian awal surah ini, dari ayat 1 s. D. 4. Dua peristiwa yang pertama terjadi di langit dan sisanya di bumi. Apabila langit yang demikian besar dan kukuh terbelah, retak, kemudian digulung. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, keluar dari garis edarnya, dan berhamburan secara acak akibat hilangnya gaya tarik-menarik antar-benda angkasa. Dan apabila lautan dijadikan meluap, di mana batas antara satu laut dengan lainnya terbelah dan hancur sehingga air meluap. Air tawar dan asin pun menyatu, berkumpul menjadi lautan raksasa tak bertepi. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar sehingga mayat-mayat yang ada di dalamnya hidup kembali lalu berhamburan keluar tak tentu arah

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Pada surah ini sebagaimana surah-surah sebelumnya ( At Takwir ) , dan juga akhir surah ( Abasa ) dan surah ( an Naziat ), pada surah-surah ini Allah membahas tentang peristiwa terjadinya hari kiamat dan perkara-perkara yang akan terjadi setelah kiamat itu terjadi.

Peristiwa yang maha dahsyat ini Allah menyebutnya beberapa kali dalam surah-surah tersebut dengan tujuan agar kita mengambil darinya pelajaran dan peringatan, juga agar muncul rasa takut dalam diri setiap insan yang ada iman dalam hatinya, selain itu surah ini juga sebagai peringatan bagi mereka yang belum menyatakan keimanannya kepada Allah ﷻ agar mereka tidak mengatakan : Saya tidak mengetahui hal ini, saya tidak mengerti hal-hal yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang, saya tidak mempersiapkan diri karena saya tidak mengetahuinya.

Allah ﷻ berfirman : { إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ } apabila langit itu pecah dan terbelah, dari ayat ini kita mengetahui bahwa langit itu akan berubah dan akan mengalami kekacauan pada sistemnya, karena ajal yang ditetapkan oleh Allah telah tiba, dan segala sesuatu jika ajalnya telah tiba maka pasti akan berubah dan musnah.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Tirmidzi, dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW berkata: “Barang siapa yang senang memperhatikan berbagai peristiwa yang akan terjadi pada hari kiamat, hendaknya dia membaca ayat “idza asy-syamsu kuwwirat, dan idza as-samaau infatharat, dan idza as-samaau insyaqqat.”

1- 2. Apabila langit telah terbelah dan bintang-bintang berjatuhan