Al-Qur'an Surat Al-Balad Ayat 1

Al-Balad: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ

la
لَاۤ
sungguh
uq'simu
اُقْسِمُ
Aku bersumpah
bihadha
بِهٰذَا
dengan ini
al-baladi
الْبَلَدِۙ
negeri

Transliterasi Latin:

Lā uqsimu bihāżal-balad (QS. 90:1)

Arti / Terjemahan:

Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), (QS. Al-Balad ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Aku bersumpah dengan negeri ini, yakni kota Mekah, kota kelahiran Nabi dan kota suci umat Islam.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat ini secara harfiah terjemahannya, "Aku tidak bersumpah dengan negeri ini." Kata "tidak" (lA) dalam ayat itu berfungsi menguatkan, karena itu maksudnya, "Aku benar-benar bersumpah dengan negeri ini." Atau ayat itu dibaca, "Tidak! Aku bersumpah dengan negeri ini," yang juga bermakna menekankan.
Allah bersumpah dengan kota Mekah, tempat di mana terdapat Ka'bah yang dituju oleh manusia dari segala penjuru semenjak didirikan oleh Nabi Ibrahim sampai sekarang untuk melaksanakan ibadah haji. Di samping itu, kota ini juga menjadi pusat perdagangan semenjak lama sekali. Karena didatangi setiap tahun dari segenap penjuru itu, maka kota itu dinamai juga Ummul-Qura (Induk Negeri-negeri). Kota itu makmur sekalipun sekelilingnya padang pasir.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Sungguh) huruf Laa di sini adalah huruf Zaidah mengandung makna Taukid (Aku bersumpah dengan kota ini) yakni kota Mekah.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Ini merupakan sumpah dari Allah Swt. dengan menyebut Mekah Ummul Qura dalam keadaan halal bagi orang yang bertempat tinggal di dalamnya. untuk mengingatkan keagungan kedudukan kota Mekah disaat penduduknya sedang melakukan ihram.

Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah). (Al-Balad: 1) Sumpah ini bukanlah sanggahan terhadap mereka; Allah Swt. hanya bersumpah dengan menyebut nama kota ini (Mekah).

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini. (Al-Balad: 1) Yakni kota Mekah. dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini. (Al-Balad: 2) Yaitu engkau Muhammad, diperbolehkan bagimu melakukan peperangan di dalamnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, Abu Saleh, Atiyyah, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid. Mujahid mengatakan bahwa apa saja yang engkau peroleh darinya, dihalalkan bagimu.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini. (Al-Balad: 2) Maksudnya. engkau boleh tinggal di kota ini tanpa dibebani rasa dosa ataupun halangan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Allah Swt. menghalalkannya bagi Nabi Swt. dalam sesaat dari siang hari.

Makna dari apa yang dikatakan oleh mereka sehubungan dengan hal ini memang telah disebutkan di dalam hadis yang telah disepakati kesahihannya, yaitu:

"إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَهُوَ حَرَامٌ بحُرمَة اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يُعضَد شَجَرُهُ وَلَا يُخْتَلَى خَلَاهُ. وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَقَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كحرمتها بالأمس، ألا فليبلغ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ"

Sesungguhnya kota ini telah diharamkan (disucikan) oleh Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi, maka kota ini menjadi kota yang suci karena disucikan oleh Allah sampai hari kiamat nanti. Pepohonannya tidak boleh ditebang dan tetumbuhannya tidak boleh dicabuti. Dan sesungguhnya kota ini dihalalkan bagiku hanya dalam sesaat dari siang hari. kemudian kesuciannya kembali lagi di hari ini sebagaimana kesuciannya di hari sebelumnya. Ingatlah. hendaklah orang yang hadir menyampaikan (berita ini) kepada orang yang tidak hadir.

Dalam lafaz lain disebutkan:

فَإِنْ أَحَدٌ تَرَخَّص بِقِتَالِ رَسُولِ اللَّهِ فَقُولُوا: إِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لِرَسُولِهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ"

Maka jika ada seseorang yang menghalalkan kesuciannya karena Rasulullah pernah melakukan peperangan (di dalamnya). maka katakanlah, bahwa sesungguhnya Allah hanya memberi izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberi izin bagimu!

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[90 ~ AL-BALAD (KOTA) Pendahuluan: Makkiyyah, 20 ayat ~ Allah bersumpah demi tanah suci, Mekah, tempat Nabi Muhammad saw. lahir dan besar, juga merupakan tempat yang sangat dicintainya. Selain itu, Allah juga bersumpah demi bapak dan anaknya. Sebab, melalui bapak dan anak itu, Allah menjaga keberadaan dan kelangsungan hidup manusia. Bunyi sumpah yang disebutkan itu adalah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan sulit dan susah payah. Tetapi kemudian ia berubah menjadi sombong dan menganggap bahwa kekuasaannya tidak tertandingi, serta menganggap bahwa ia telah memiliki harta sangat banyak yang dikeluarkannya untuk memuaskan hawa nafsunya. Setelah itu Allah menghitung segala yang dikaruniakan kepadanya, yang memudahkannya untuk mengetahui jalan-jalan petunjuk dan melampaui segala kesulitan, agar menjadi penghuni surga, yaitu golongan kanan, dan menjauhi segala yang menjadikannya termasuk golongan kiri, yaitu orang-orang yang dicampakkan ke neraka yang pintu-pintunya kemudian ditutup.]] Aku benar-benar bersumpah demi kota suci Mekah.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1-3. Allah bersumpah “dengan kota ini,” yang aman, yaitu Makkah al-Mukarramah. Negeri yang paling mulia secara mutlak, khususnya pada saat munculnya Rasulullah di negeri itu. “Dan demi bapak dan anaknya,” yaitu Adam dan keturunannya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

1-3. Aku bersumpah dengan negeri ini, yakni kota mekah, kota kelahiran nabi dan kota suci umat islam. Dan engkau, wahai nabi, bertempat tinggal di negeri mekah ini, membuatnya bertambah mulia. Dan demi pertalian bapak dan anaknya, demi adam dan anak cucunya. Manusia dengan kehendak Allah mengalami siklus dari kanak-kanak menuju dewasa, berkeluarga, beranak pinak, dan berakhir dengan kematian. Inilah fenomena kehidupan yang perlu direnungi

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. لَآ أُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِ (Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah))
Yakni Aku bersumpah demi kota haram yaitu Makkah.
Sumpah ini sebagai peringatan terhadap kemuliaan Ummul Qura (Makkah) di sisi Allah, karena di dalamnya terdapat Baitul haram, serta merupakan negeri Nabi Ismail dan Nabi Muhammad, serta di dalamnya dilaksanakan manasik haji.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-4. Allah mengagungkan kota Makkah al-Mukarramah, dengan bersumpah menggunakan kota agung yang menjadi tempat tinggalmu -hai Rasulullah-, sebagai pemuliaan bagi derajatmu. Dan Allah juga bersumpah dengan Nabi Adam dan para keturunannya.

Isi dari sumpah ini adalah: Kami telah menciptakan manusia untuk menghadapi berbagai musibah dunia dan kesulitan akhirat, dan hal ini tidak terlepas dari dua hal; harus bersyukur dalam menghadapi kebahagiaan, dan harus bersabar dalam menghadapi kesusahan; sehingga manusia selalu berada dalam dua hal yang sulit.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Allah bersumpah dengan tanah haram yaitu Makkah al-Mukarramah.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-3. Allah memulai surat ini dengan bersumpah (dengan) kota ini yaitu Mekkah Al Mukarramah dengan sumpah yang tegas. Dan firman-Nya لَآ sebagai peringatan dan penegasan. Kemudian Allah berkata : Dan engkau wahai Nabi tinggal di kota ini, meskipun kaum musyrikin menghalalkan berdusta atasmu, menyerangmu, menganggapmu gila, penyihir dan penyair. Kemudian Allah bersumpah dengan Adam dan anak keturunannya.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)


لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ "Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah)," Kata [Laa] di sini untuk pembuka, maksudnya: Pembuka pembicaraan dan untuk penagasannya, dan tidak bermakna peniadaan. Karena tujuannya adalah untuk meneguhkan sumpah, yakni: Saya bersumpah dengan negeri ini. Tetapi Laa di sini datang untuk peringatan dan penegasan, sedangkan arti أُقْسِمُ adalah sumpah, menegaskan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan cara (gaya bahasa) tertentu.

Segala yang digunakan namanya untuk bersumpah pasti diagungkan oleh yang bersumpah, dan bisa juga tidak memiliki keagungan jika dilihat dari hakikat zatnya, contohnya orang-rang musyrik yang bersumpah dengan latta dan uzza, karena kedua berhala tersebut agung di sisi mereka. Tapi kenyataannya tidak agung tidak juga diagungkan.

Karenanya sumpah (baik halif, qosam atau yamiin –dalam bahasa arab-) adalah menegaskan suatu perkara dengan menyebut suatu yang diagungkan oleh yang bersumpah dengan sifat (gaya bahasa) tertentu, huruf-huruf untuk besumpah dalam bahasa arab adalah, huruf Ba, Waw, dan Ta. Dan yang ada dalam ayat yang mulia ini لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ adalah huruf Ba بِهَذَا الْبَلَدِ Negeri yang dimaksdukan di sini adalah Mekkah. Allah bersumpah dengannya karena kemuliaan dan keagungannya. Mekkah adalah tempat termulia di bumi, secara kehormatan (keharamannya) dan tempat di bumi yang paling Allah 'Azza Wa Jalla cintai. Oleh karenanya, dari negeri tersebutlah Allah mengutus Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam, yang berstatus sebagai tuannya manusia shalawaatullaah wa salaamuhu 'alaih.

Maka sangat pantas jika negeri ini dijadikan sebagai penyebutan sumpah, tetapi kita tidak boleh bersumpah dengannya, karena dia adalah makhluk, dan kita tidak mempunyai hak atau wewenang untuk bersumpah dengan makhluk, sebagaimana Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ "Barang siapa yang bersupah dengan menyebut nama selain Allah maka dia kafir atau berbuat syirik (menyekutukan Allah)" (1) sedangkan Allah 'Azza Wa Jalla maka Dia berhak bersumpah dengan apapun yang Dia kehendaki, oleh karenanya dalam ayat ini di sini bersumpah dengan kota Mekkah.

(1) Dikeluarkan Tirmizi (1535) dari hadits Ibnu Umar radhiyallallaahu 'anhuma dinyatakan shahih oleh Al-Albaniy dalah Ash-Shahih al-Jami' (7204)

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Yaitu negeri Mekah yang merupakan negeri yang paling utama secara mutlak, khususnya ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berada di sana.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

{ لَا أُقْسِمُ بِهَٰذَا الْبَلَدِ } Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini, yaitu Kota Makkah yang dimuliakan, kota ini dinamakan juga dengan "Al-Balad" atau "Ummul Quro' " , Allah berfirman : { إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ } ( Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, ) [ An-Naml : 91 ] , sebagaimana yang juga dikatakan oleh Allah dalam sumpah-Nya di surah At-Tin ayat 2 , kota yang suciyang dimuliakan dan diagungkan oleh Allah.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1-2. Aku bersumpah demi Negeri yang mulia yaitu Makkah Al-Mukarramah. Kamu wahai Nabi SAW boleh tinggal di NegerI ini, dimana orang-orang musyrik Mekah tidak boleh menyakitimu, Ucapan itu mengandung teguran bagi mereka dan pembolehan dirimu untuk tinggal di dalamnya. Hal ini untuk menampakkan limpahan anugerahNya dan memberitahukan bahwa kemuliaan suatu tempat sesuai kemuliaan penduduknya