Al-Qur'an Surat At-Tariq Ayat 1

At-Tariq: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ

wal-samai
وَ السَّمَآءِ
dan langit
wal-tariqi
وَ الطَّارِقِۙ
dan yang datang di malam hari

Transliterasi Latin:

Was-samā`i waṭ-ṭāriq (QS. 86:1)

Arti / Terjemahan:

Demi langit dan yang datang pada malam hari, (QS. At-Tariq ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Demi langit yang terbentang dengan kukuh tanpa penopang dan demi apa yang datang pada malam hari dan menghiasi langit.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat-ayat ini dan pada beberapa ayat lain, Allah bersumpah dengan langit, matahari, bulan, dan malam karena terdapat padanya hal-hal, bentuk-bentuk, perjalanan-perjalanan, terbit dan tenggelamnya; maka keadaan yang ajaib dan luar biasa ini adalah bukti bagi orang yang berpikir dan memperhatikan bahwa ada penciptanya Yang Mahakuasa, tidak ada sekutu dalam penciptaannya.
Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan langit dan bintang yang terbit pada malam hari. Sinarnya memecahkan kegelapan, dan menjadi petunjuk jalan kepada manusia pada waktu gelap di bumi dan di laut. Dari bintang itu, manusia dapat mengetahui musim hujan dan hal-hal lain yang diperlukannya dalam kehidupan. Ada beberapa arti yang dikemukakan oleh para mufasir mengenai bintang tersebut. Pendapat yang terbaik adalah yang mengartikannya sebagai bintang yang bercahaya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Demi langit dan yang datang pada malam hari) lafal Ath-Thaariq pada asalnya berarti segala sesuatu yang datang pada malam hari, antara lain ialah bintang-bintang, karena bintang-bintang baru muncul bila malam tiba.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. bersumpah dengan menyebut nama langit dan semua bintang yang bersinar terang yang menghiasinya. Untuk itu, maka disebutkan oleh firman-Nya:

{وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ}

Demi langit dan yang datang pada malam hari. (Ath-Thariq: 1)

Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ}

tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Ath-Thariq: 2)

Lalu ditafsirkan oleh firman Allah Swt.:

{النَّجْمُ الثَّاقِبُ}

(yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (Ath-Thariq: 3)

Qatadah dan lain-Lainnya mengatakan bahwa sesungguhnya bintang dinamakan Ath-Thariq tiada lain karena ia hanya dapat dilihat di malam hari, sedangkan siang hari tidak kelihatan. Hal ini diperkuat dengan apa yang disebutkan di dalam hadis sahih yang mengatakan:

نَهَى أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ طُرُوقًا

Beliau Saw. melarang seseorang mendatangi keluarganya di malam hari yang sudah larut.

Yakni dia pulang ke rumahnya dengan mengejutkan di malam hari. Di dalam hadis lain yang mengandung doa telah disebutkan:

"إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ"

kecuali orang yang datang di tengah malam dengan membawa kebaikan, ya Tuhan Yang Maha Pemurah.

Mengenai firman Allah Swt.:

{الثَّاقِبُ}

yang cahayanya menembus. (Ath-Thariq: 3)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang cahayanya terang. As-Saddi mengatakan, makna yang dimaksud ialah yang menembus setan-setan apabila dilemparkan kepadanya. Ikrimah mengatakan, makna yang dimaksud ialah yang cahayanya terang lagi membakar setan-setan.

Firman Allah Swt.:

{إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ}

tidak ada suatu jiwa (diri) pun melainkan ada penjaganya. (Ath-Thariq: 4)

Yaitu sesungguhnya pada tiap diri terdapat malaikat yang menjaganya ditugaskan oleh Allah Swt. agar melindunginya dari berbagai bencana dan penyakit. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

لَهُ مُعَقِّباتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar-Ra'd: 11)

Adapun firman Allah Swt.:

{فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ}

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? (Ath-Thariq: 5)

Ini mengingatkan manusia akan betapa lemahnya asal kejadiannya, sekaligus membimbingnya untuk mengakui adanya hari kemudian. yaitu hari berbangkit. Karena sesungguhnya Tuhan yang mampu menciptakannya dari semula mampu pula untuk mengembalikannya seperti keadaan semula, bahkan lebih mudah. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman Allah Swt.:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

Dan Dialah Yang Menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. (Ar-Rum: 27)

Firman Allah Swt.:

{خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ}

Dia diciptakan dari air yang terpancar. (Ath-Thariq: 6)

Yaitu air mani yang dipancarkan oleh laki-laki dan bertemu dengan indung telur wanita, maka terjadilah anak dari percampuran keduanya dengan seizin Allah Swt. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikut-nya:

{يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ}

yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thariq: 7)

Yakni dari sulbi laki-laki dan dari tulang dada wanita.

Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thariq: 7) Yaitu sulbi laki-laki dan tara-ibul mar-ah (tulang dada wanita) yang warna air maninya kuning lagi agak encer, kejadian anak dari air mani keduanya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mis'ar, bahwa ia pernah mendengar Al-Hakam menceritakan pendapat Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thariq: 7) Lalu Ibnu Abbas mengatakan, "Inilah tara-ib," seraya meletakkan tangannya ke dadanya. Ad-Dahhak dan Atiyyah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa taribatul mar-ah artinya tempat kalung (liontin)nya. Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Sa'id ibnu Jubair.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tara-ib artinya di antara susunya. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa tara-ib ialah antara'kedua pundak sampai dada. Diriwayatkan pula dari Mujahid bahwa tara-ib berada di bawah kerongkongan. Diriwayatkan dari Ad-Dahhak bahwa tara-ib terletak di antara kedua susu, kedua kaki, dan kedua mata.

Al-Lais ibnu Sa'd telah meriwayatkan dari Ma'mar ibnu Abu Habibah Al-Madani, bahwa Al-Lais telah mendapat berita darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thariq: 7)

Bahwa yang dimaksud ialah tetesan hati, dari sanalah asal mula terjadinya anak. Diriwayatkan pula dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Ath-Thariq: 7) Yakni di antara tulang sulbi dan bagian bawah kerongkongannya.

Firman Allah Swt.:

{إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ}

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah matinya). (Ath-Thariq: 8)

Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat.

Pertama, mengatakan bahwa Allah berkuasa mengembalikan air mani yang telah terpancarkan ini ke tempat asalnya keluar. Hal ini dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, dan selain keduanya.

Pendapat yang kedua mengatakan, sesungguhnya Allah berkuasa menghidupkan kembali manusia yang diciptakan dari air mani ini sesudah matinya, lalu dibangkitkan untuk menuju negeri akhirat. Karena sesungguhnya Tuhan yang menciptakan dari semula mampu mengembalikan (menghidupkan) ciptaan-Nya seperti semula. Allah Swt. telah menyebutkan dalil yang menunjukkan hal ini di dalam Al-Qur'an di berbagai tempat. Pendapat ini dikatakan oleh Ad-Dahhak dan dipilih oleh Ibnu Jarir. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

{يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ}

Pada hari ditampakkan segala rahasia. (Ath-Thariq: 9)

Pada hari kiamat semua rahasia ditampakkan sehingga menjadi jelas dan terang, dan tiada lagi rahasia karena semuanya menjadi tampak kelihatan dan semua yang tadinya tersembunyi di hari itu menjadi kelihatan.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Ibnu Ulnar, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ عِنْدَ اسْتِهِ يُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ"

Bagi tiap orang yang khianat dinaikkan (dipasang) bendera pada pantatnya, lalu dikatakan bahwa ini adalah pengkhianatan si Fulan bin Fulan.

Firman Allah Swt.:

{فَمَا لَهُ}

maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu. (Ath-Thariq: 10)

Yakni bagi manusia kelak di hari kiamat.

{مِنْ قُوَّةٍ}

satu kekuatan pun. (Ath-Thariq: 10)

Maksudnya, kekuatan dalam dirinya.

{وَلا نَاصِرٍ}

dan tidak (pula) seorang penolong. (Ath-Thariq: 10)

Yaitu dari luar dirinya. Dengan kata lain, tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah dan tiada pula seorang pun yang dapat menolong orang lain dari azab Allah.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[86 ~ ATH-THARIQ (YANG TAMPAK PADA MALAM HARI) Pendahuluan: Makkiyyah, 17 ayat ~ Surat kedelapan puluh enam dalam urutan mushaf al-Qur'ân ini dimulai dengan sumpah Allah dengan menyebut berbagai bukti kekuasaan Tuhan, sembari menegaskan bahwa setiap diri manusia mempunyai seorang penjaga dan pengawas. Manusia diharuskan memikirkan asal dan perkembangan hidupnya yang bermula dari air yang memancar. Dari kejadian penciptaan ini mestinya dapat ditemukan sebuah bukti bahwa Tuhan yang telah menciptakan manusia itu pasti sanggup menjadikan mereka hidup kembali sesudah mengalami fase kematian. Di bagian lain terdapat pula ayat yang berisi sumpah Allah Swt. untuk menyatakan bahwa al-Qur'ân adalah kitab suci yang membedakan antara yang benar dan yang palsu, dan al-Qur'ân itu bukan senda gurau. Meskipun demikian, orang-orang kafir tetap ingkar dan berupaya melakukan tipu daya terhadap al-Qur'ân. Namun Allah membalas makar mereka dengan makar lain yang lebih jitu. Surat ini ditutup dengan permohonan agar orang-orang kafir diberikan tangguhan waktu.]] Aku bersumpah demi langit dan bintang yang bermunculan di waktu malam.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Ayat 1-4
Allah berfirman, “Demi langit dan yang datang pada malam hari,” kemudian yang datang di malam hari dijelaskan dengan FirmanNya, “(Yaitu) bintang yang cahayanya menembus,” yakni yang bercahaya yang cahayanya menembus dan membakar langit hingga tembus dan terlihat dari bumi. Yang benar, bintang yang cahayanya menembus adalah kata umum yang mencakup seluruh bintang yang cahayanya menembus. Ada yang menafsirkannya dengan bintang saturnus yang memecah ketujuh langit dan menembusnya hingga dapat terlihat darinya. Disebut ath-Thariq karena bintang tersebut datang di waktu malam. Obyek sumpahnya adalah Firman Allah, “Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya,” yang menjaga amal perbuatannya, baik dan buruknya, dan amal yang dijaganya akan dibalas.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ (Demi langit dan yang datang pada malam hari)
Allah bersumpah dengan langit dan bintang. Disebut dengan thariq karena ia akan muncul pada malam hari dan menghilang di siang hari. (Dan dalam bahasa Arab), orang yang datang pada malam hari disebut dengan thariq.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-4. Allah memperingatkan para hamba-Nya dari kelalaian terhadap amalan mereka di dunia, karena tidaklah seseorang melainkan dia memiliki malaikat pengawas yang menghitung dan mencatat amalannya untuk mendapatkan balasan atas amalan itu. Allah menegaskan hal ini dengan dua sumpah: Demi langit-langit yang luas, dan demi bintang-bintang yang datang pada malam hari, bersinar di langit yang tidak diketahui hakikatnya oleh manusia.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Allah bersumpah dengan langit, dan bersumpah dengan bintang yang mengetuk di malam hari.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-4. Allah memulai surat ini dengan bersumpah dengan langit yang memiliki bintang-bintang bercahaya. Dan Ia bersumpah dengan sesuatu yang datang pada malam hari. Kemudian Allah memberi pertanyaan yang membangkitkan minat keingin tahuan dengan berkata : Apakah engkau tahu wahai Nabi Allah, dengan sesuatu yang datang pada malam hari ini ? Lalu Allah jelaskan bahwa ia adalah bintang yang bersinar dimana cahayanya menembus kegelapan malam, memberi petunjuk kepada siapa yang berjalan di malam hari dan menyembunyikan siang. Kemudian datang penjelasan jawaban bagi sumpah Allah, bahwa setiap jiwa ada penjaganya dari kalangan para malaikat, yang senantiasa menjaga dan mencatat atas apa yang nampak oleh malaikat dari kebaikan dan keburukan (manusia).

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ “Demi langit dan yang datang pada malam hari” Allah ‘Azza Wa Jalla memulai surat ini dengam sumpah, Allah bersumpah dengan langit dan dengan ath-thaariq (yang datang pada malam hari). Terkadanng sumpah Allah dengan makhluk menjadi masalah bagi sebagian orang, bagaimana mungkin Allah Subhaanahu wa Ta’ala bersumpah dengan makhluk-makhluk padahal bersumpah dengan makhluk-makhluk adalah kesyirikan sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ “Siapa saja yang bersumpah dengan nama selain maka dia telah kafir atau menjadi musyrik” (1) Beliau ‘alaihissholaatu wassalaam juga bersabda: مَنْ كَانَ حَالِفاً فَلْيَحْلِفْ بِاللهِ أَوْ لِيَصْمُتْ “ Barang siapa yang bersumpah maka bersumpahlah dengan (nama) Allah atau diam” (2) dengan demikian, maka tidak diperbolehkan bersumpah dengan selain Allah, baik dengan para nabi, malaikat-malaikat, dengan ka’bah atau pun dengan negri tidak juga dengan sesuatu dari makhluk-makhluk?

Jawaban dari masalah di atas, kita katakan: Sungguh Allah subhaanahu wa ta’ala punya hak untuk bersumpah dengan segala yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya, dan sumpah Allah dengan makhluk-Nya menunjukan kebesaran Allah ‘Azza Wa Jalla, karena kebesaran makhluk menunjukkan besarnya yang menciptakannya. Allah banyak bersumpah dengan makhluq-Nya, dan di antara ulama yang aku pandang terbaik dalam menjelaskan masalah ini adalah Ibnul Qayim rahimahullaah dalam kitabnya at-Tibyaan fii Aqsaamil Qur’aan. Ini adalah kitab yang bagus, banyak manfaatnya bagi penuntut ilmu.

Di sini Allah Ta’ala bersumpah dengan as-Samaa, sedangkan as-Samaa artinya adalah segala sesuatu yang berada di atasmu, maka segala yang ada di atasmu disebut langit, begitu pun awan yang air hujan turun darinya disebut Samaa’ sebagaiman Allah Ta’ala berfirman: أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا "Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, ”(QS. Ar-Ra’du: 17) jika penyebutan samaa mencakup segala yang berada di atasmu, dengan begitu maka sama mencakup apa-apa yang beradai di antara langit dan bumi, dan mencakup langit-langit seluruhnya, karena semua itu berada di atasmu.

Sedangkan firman-Nya وَالطَّارِقِ [wath-thaariq] ini adalah sumpah kedua, maknanya: Bahwa Allah bersumpah dengan ath-Thariq, apa yang dimaksud dengan Thariq? Thariq di sini bukan orang yang mengetuk keluarganya di malam hari, tapi thariq di sini dijelaskan Allah ‘Azza Wa Jalla dengan firman-Nya: النَّجْمُ الثَّاقِبُ “(yaitu) bintang yang cahayanya menembus, ” Inilah yang dimaksud Thariq. Yang dimaksudkan dengan Bintang dalam ayat ini bisa seluruh bintang sehingga ال [alif lam] di sini adalah al-jins (yang bermakna mencakupkan semua bintang) bisa juga bermakna bintang yang cahayanya menembus, yang berkilau, kilauannya tajam, karena dia menyorot kegelapan dengan cahayanya. Bintang apa pun itu maka sejatinya bintang-bintang tu adalah di antara ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Allah ‘Azza Wa Jalla yang menunjukan kesempurnaan kuasa-Nya dalam menjalankan dan mengaturnya, juga membedakan bentuk-bentuk dan manfaat-manfaatnya juga. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُوْنَ “dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. ”(QS. An-Nahl: 16) Allah Ta’a juga berfirman: وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوْماً لِلشَّيَاطِيْنِ “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, ”(QS.AL-Mulk: 5) bintang-bintang dilangit adalah hiasan langit, juga sebagai pelempar setan dan tanda-tanda untuk petunjuk jalan.

(1) Dikeluarkan Tirmiziy (1535) dari hadits Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhaa dinyatakan shahih al-Albaniy dalam shahih al-Jami’ (6204)
(2) Dikeluarkan Bukhari (2679) dan Muslim (1646) dari hadits Abdullah Bin Umar radhiyallaahu ‘anhumaa.

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Demi langit yang terbentang dengan kukuh tanpa penopang dan demi apa yang datang pada malam hari dan menghiasi langit. 2. Dan wahai nabi, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu'.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Diawal surah ini Allah ﷻ bersumpah dengan dua hal : Dia bersumpah dengan langit, dan dengan attoriq, Allah ﷻ berhak bersumpah dengan apapun yang Dia inginkan, dan Allah ﷻ tidak bersumpah dengan sesuatu melainkan ada ibroh atau pelajaran yang dapat diserap oleh manusia dari sesuatu itu.

Sedangkan hamba tidak berhak baginya untuk bersumpah dengan sesuatu apapun kecuali dia bersumpah dengan nama Allah ﷻ, sperti yang dsabdakan oleh Rasulullah ﷺ : (( مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ )) "barangsiapa bersumpah, hendaklah dia bersumpah dengan (nama) Allâh atau diam" Diriwayatkan oleh : Imam Bukhori : 2679 , di hadits lain Rasulullah bersabda : (( مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ )) “Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, maka sungguh dia telah kafir atau musyrik” Diriwayatkan oleh : Imam Atturmudzy : 1535 Dari hadits Ibnu Umar , dan Shohohkan oleh Al-Albani dalam kitabnya "Al Irwa' ".

Di ayat ini Allah bersumpah dengan langit yang tujuh tungkatan itu, karena padanya terdapat pelajaran yang sangat penting, juga sebagai atap untuk bumi, itulah nikmat Allah yang sangat besar.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Diriwayatkan dari Nasai dari Jabir bin Abdullah, berkata: Ketika Mu’adz mendirikan shalat maghrib, dia membaca surat Al-baqarah dan An-nisa. Kemudian Nabi tahu dan berkata: “Wahai Mu’adz, apakah kamu menjadi pembuat fitnah? Mengapa kamu tidak membaca was sama’i wath thariq atau wasy syamsi wa dhulhaha atau semisalnya saja?”

1. Aku (Allah) bersumpah demi langit dan bintang yang muncul di waktu malam. Bintang itu disebut dengan Ath Thariq, karena bintang itu muncul ketika malam dan hilang ketika siang.