Al-Qur'an Surat As-Saff Ayat 1

As-Saff: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

sabbaha
سَبَّحَ
bertasbih
lillahi
لِلّٰهِ
kepada Allah
ma
مَا
apa
fi
فِی
pada
al-samawati
السَّمٰوٰتِ
langit(jamak)
wama
وَ مَا
dan apa
fi
فِی
pada
al-ardi
الْاَرْضِ ۚ
bumi
wahuwa
وَ هُوَ
dan Dia
al-'azizu
الْعَزِیْزُ
Maha Perkasa
al-hakimu
الْحَكِیْمُ 
Maha Bijaksana

Transliterasi Latin:

Sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa huwal-'azīzul-ḥakīm (QS. 61:1)

Arti / Terjemahan:

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. As-Saff ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Apa yang ada di langit, bintang, bulan, matahari, dan seluruh planet; dan apa yang ada di bumi, hewan dan tetumbuhan bertasbih kepada Allah, mengakui dan menyatakan kemahasucian Allah yang berbeda dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya; dan Dialah Yang Mahaperkasa menciptakan dan menghancurkan jagat raya sekejap mata; Mahabijaksana, tidak terburu menggunakan kekuasaan-Nya yang tiada terbatas untuk menghancurkan jagat raya atau menghukum manusia yang berdosa.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Segala apa yang di langit dan bumi mengakui bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah tidak ada yang lain, Dialah yang menciptakan, menguasai, menjaga kelangsungan hidup, serta menentukan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, dan semua makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan tujuan yang Dia kehendaki, serta sesuai pula dengan kegunaannya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi) yakni semuanya memahasucikan-Nya. Huruf lam yang terdapat pada lafal lillaah adalah huruf zaidah; dan di sini dipakai lafal maa, karena lebih memprioritaskan yang mayoritas (dan Dialah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan tafsir firman Allah Swt. yang mengawali surat ini dan bukan hanya sekali sehingga tidak perlu diulangi lagi. Yang dimaksud adalah firman Allah Swt.:

Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Ash-Shaff: 1)

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[61 ~ ASH-SHAFF (BARISAN) Pendahuluan: Madaniyyah, 14 ayat ~ Surat ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa semua makhluk yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah, bahwa orang-orang Mukmin tidak pantas mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan, dan bahwa Allah menyukai mereka yang bersatu. Ayat-ayat selanjutnya dalam surat ini, melalui dua orang nabi yang mulia, Mûsâ dan 'Isâ, mencela sikap keras kepala dan sikap kafir Bânû Isrâ'îl. Banû Isrâ'îl itu ingin memadamkan cahaya ilahi, padahal Allah telah menyempurnakan cahaya itu sehingga tidak akan padam. Selain itu, disebutkan pula janji Allah--yang pasti benar--untuk membuat agama ini berjaya di atas lainnya, meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Surat ini ditutup dengan anjuran untuk berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta dan jiwa, janji kepada orang-orang Mukmin berupa ampunan dan surga serta satu lagi yang mereka sukai; pertolongan dari Allah dan kemenangan yang didapat dalam waktu dekat. Di bagian akhir terdapat anjuran agar orang-orang Mukmin hendaknya menjadi pembela Allah seperti Hawâriyyûn yang menjadi penolong 'Isâ putra Maryam. Allah sungguh akan mendukung dan membela orang-orang Mukmin dengan pertolongan-Nya. Dia Maha Perkasa atas segala sesuatu lagi Mahabijaksana.]] Segala yang ada di langit dan bumi menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Hanya Dia yang Mahaperkasa atas segala sesuatu lagi Mahabijaksana.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Ini adalah penjelasan tentang keagungan dan keperkasaan Allah, segala sesuatu tunduk padaNya. Seluruh yang ada di langit dan bumi bertasbih dengan memuji, menyembah, dan meminta segala kebutuhan kepada rabb mereka. “Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa.” Yang memaksa segala sesuatu dengan keperkasaan dan KuasaNya, “lagi mahabijaksana,” dalam penciptaan dan perintahNya.

Asbabun Nuzul
Surat As-Saff Ayat 1

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim-dishahihkan oleh al-Hakim-, yang bersumber dari Abdullah bin Salam. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika shahabat Rasulullah saw. duduk-duduk bermuzakarah, di antara mereka ada yang berkata: "Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai Allah, pasti kami akan mengerjakannya." Ayat ini (Ash-Shaaf: 1-2) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang kemudian dibacakan oleh Rasulullah saw. sampai akhir surah. Surah ini turun sebagai tuntunan berkenaan dengan amal yang diridhai Allah swt, yaitu berkorban mempertahankan agama dan mengamalkannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Shalih, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan Ali, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa para shahabat ingin mengetahui amal yang paling dicintai Allah swt dan paling afdol (utama). Maka turunlah ayat ini (Ash-Shaaf: 10-12) yang menegaskan bahwa berjihad adalah amal yang paling utama. Tetapi ternyata mereka segan berjihad sehingga merekapun diperingatkan Allah swt, karena menyalahi ucapannya, yakni dengan diturunkannya surah (Ash-Shaaf: 2-3).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahak bahwa ayat li ma taquuluuna maa laa tafaluun, (mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat) (Ash-Shaaf: 2) turun berkenaan dengan orang-orang yang berkata-kata tentang perang, akan tetapi tidak pernah melakukannya, baik memukul, menusuk, ataupun membunuh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa ayat ini (Ash-Shaaf: 2-3) turun di waktu kaum Muslimin mundur terdesak pada perang Uhud.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair bahwa ketika turun ayat: yaa ayyuhal ladziina aamanuu hal adul-lukum alaa tijaarotin-tunjiikum min adzaabin aliim. (hai orang-orang yang beriman sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?) (Ash-Shaaf: 10) kaum Muslimin berkata: "Sekirannya kami tahu apa yang dimaksud dengan tijaroh (perniagaan) itu, pasti kami akan ikut serta memberikan harta benda dan ahli famili." Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (Ash-Shaaf: 11) yang menjelaskan bahwa tijaroh (perniagaan) ialah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di Jalan-Nya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Apa yang ada di langit, bintang, bulan, matahari, dan seluruh planet; dan apa yang ada di bumi, hewan dan tetumbuhan bertasbih kepada Allah, mengakui dan menyatakan kemahasucian Allah yang berbeda dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya; dan dialah yang mahaperkasa menciptakan dan menghancurkan jagat raya sekejap mata; mahabijaksana, tidak terburu menggunakan kekuasaan-Nya yang tiada terbatas untuk menghancurkan jagat raya atau menghukum manusia yang berdosa. 2. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya! mengapa kamu mengatakan secara terbuka di hadapan orang banyak atau secara tertutup sesuatu yang tidak kamu kerjakan' apakah kamu merasa tidak bersalah melakukannya'.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abdullah bin Salam, berkata: "Kami berunding apa yang kalian tanyakan kepada rasul", maka dia bertanya: "Amal apa yang paling disukai Allah?" Maka kami tidak ada yang berdiri. Kemudian rasul mengutus pemuda kepada kami, yang membacakan surah ini, surah As-shaf awal hingga akhir.

1. Seluruh makhluk di bumi dan langit mensucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak sesuai denganNya. Itu menunjukkan adanya kewajiban mensucikan Allah setiap saat. Dialah Dzat yang Maha Kuat dan tidak ada yang dapat mengungguliNya, Dzat yang Maha Bijaksana dalam firman dan tindakanNya

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Allah menjelaskan kebesaran-Nya di alam semesta dan ketundukan seluruh makhluk kepada-Nya; seluruh makhluk yang ada di tujuh langit dan bumi bertasbih, memuji dan menyucikan-Nya. Dia Maha Perkasa dalam kerajaan-Nya dan Maha Bijaksana dalam mengatur seluruh urusan makhluk-Nya.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi menyucikan Allah dan membersihkan-Nya dari segala yang tidak pantas bagi-Nya dan Dia Maha Perkasa, tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya, takdir-Nya dan syariat-Nya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah mengabarkan bahwa segala sesuatu di langit maupun di bumi bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya dari apa yang tidak pantas bagi Allah, dari sifat-sifat-Nya yang kurang dan cacat. Kemudian Allah mengabarkan bahwa Allah Maha Gagah yang tak dapat dikalahkan, Yang Maha Bijaksan atas apa yang Allah perbuat. Pada ayat ini terdapat petunjuk untuk bertasbih pada setiap waktu.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Darimi di juz 2 hal. 200 berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Katsir, dari Al Auzaa’iy dari Yahya bin Katsir dari Abu Salamah dari Abdullah bin Salam ia berkata, “Sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah duduk bersama kami lalu kami berbincang-bincang dan berkata, “Kalau kita mengetahui amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala tentu kita akan lakukan,” maka Allah Ta'aala menurunkan ayat, “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.-- Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” sampai akhirnya. Abdullah (bin Salam) berkata, “Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakannya kepada kami sampai akhirnya.” Abu Salamah berkata, “Lalu (Abdullah) ibnu Salam membacakannya kepada kami.” Yahya berkata, “Lalu Abu Salamah membacakannya kepada kami,” dan Yahya juga membacakannya kepada kami, demikian pula Al Auzaa’iy membacakannya kepada kami dan Muhammad juga membacakannya kepada kami. (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad juz 5 hal. Hal. 452, Tirmidzi juz 4 hal. 199 dan ia menerangkan apa yang di sana berupa perselisihan terhadap Al Auza’iy, Ibnu Hibban hal. 383 di Mawaariduzh Zham’aan, Hakim di juz 2 hal. 69, 229 dan 487, dan ia berkata pada tiga tempat tersebut, “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi dan pada tempat yang pertama ia menerangkan tentang perselisihan terhadap Al Auza’iy. Al Haafizh dalam Al Fat-h juz 10 hal. 265, “Telah terjadi ‘mendengarkan surah ini’ secara berantai dalam hadits yang disebutkan pada bagian awalnya sebab turunnya, dan isnadnya shahih. Sedikit sekali jika terjadi penyebutan secara berantai (pembacaan surah secara berantai) yang sepertinya dengan keadaannya yang bertambah ketinggiannya.” Ia (Al Haafizh) juga berkata, “Hadits itu adalah hadits musalsal (berantai) yang paling shahih.”

Ayat ini menerangkan keagungan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kekuasaan-Nya, dimana semua makhluk tunduk kepada-Nya dan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan memuji Allah, beribadah kepada-Nya dan meminta kebutuhan-Nya.

Dia menundukkan segala sesuatu dengan keperkasaan dan kekuasaan-Nya.

Dalam ciptaan-Nya dan dalam perintah-Nya.