Al-Qur'an Surat Qaf Ayat 1

Qaf: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

قۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ الْمَجِيْدِ ۖ

qaf
قٓۚ
Qaf
Qâf
wal-qur'āni
وَٱلْقُرْءَانِ
By the Quran
demi Al Qur'an
l-majīdi
ٱلْمَجِيدِ
the Glorious
yang mulia

Transliterasi Latin:

Qāf, wal-qur`ānil-majīd (QS. 50:1)

Arti / Terjemahan:

Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia. (QS. Qaf ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Qàf. Allah bersumpah dengan kitab-Nya : Demi Al-Qur’an yang mulia.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Telah diungkapkan sebelum ini bahwa huruf-huruf abjad yang ada pada permulaan surah biasanya memperingatkan betapa pentingnya perkara yang disebut kemudian, dan sering sekali yang disebut itu ialah sifat Al-Qur'an seperti yang disebutkan di sini.
Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan kitab-Nya, yang mengandung banyak berkah dan kebajikan (Al-Qur'an) yang sangat mulia bahwa Nabi Muhamammad benar-benar seorang utusan-Nya yang memberi peringatan kepada kaumnya tentang adanya hari kebangkitan. Senada dengan pernyataan ini, dalam permulaan Surah Yasin juga telah diterangkan bahwa Nabi Muhammad sungguh-sungguh adalah salah seorang rasul yang diutus agar memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan. Oleh karena itu, mereka lalai dan disebut zaman Jahiliah.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Qaaf) hanya Allah saja yang mengetahui arti dan maksudnya. (Demi Alquran yang sangat agung) artinya, yang sangat mulia, tiadalah orang-orang kafir Mekah beriman kepada Nabi Muhammad saw.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Qaf adalah salah satu dari huruf Hijaiah yang telah disebutkan pada permulaan surat-surat Al-Qur'an, sama halnya dengan Shad, Nun, Alif Lam Mim, Ha Mim, Ta Sin, dan lain sebagainya, menurut Qatadah dan lain-lainnya yang keterangannya telah kami kemukakan dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Menurut apa yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, Qaf adalah nama sebuah gunung. Seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— riwayat ini bersumber dari dongengan-dongengan kaum Bani Israil, lalu diambil oleh sebagian orang karena adanya pembolehan mengambil riwayat dari mereka menyangkut hal-hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat pula didustakan.

Menurut hemat saya, hal ini dan yang semisal dengannya termasuk salah satu dari buatan kaum zindiq mereka (Bani Israil) yang sengaja mereka sisipkan dalam agama mereka untuk mengelabul urusan agama mereka. Sebagaimana telah dilakukan buatan-buatan seperti ini di kalangan umat ini, padahal banyak memiliki ulama yang agung, para ahli hafal hadis, dan para Imam mujtahidin, yaitu hadis-hadis buatan yang disandarkan kepada Nabi Saw. Padahal masa umat ini dengan nabinya masih belum begitu jauh. Maka terlebih lagi dengan umat Bani Israil yang masanya begitu jauh, sedangkan para ahli hafal kitab yang kritis sangat minim di kalangan mereka. Dan lagi kebiasaan mereka dalam meminum Khamr dan para ulamanya yang berani mengubah kalimat­-kalimat Al-Kitab dari tempat-tempat yang sebenarnya serta berani pula mengganti kitab Allah dan ayat-ayat-Nya.

Sesungguhnya syariat kita memperbolehkan pengambilan riwayat dari mereka (Ahli Kitab) hanyalah sebatas apa yang telah digariskan oleh Nabi Saw. melalui sabdanya:

Berceritalah dari Bani Israil tidak ada dosa.

Yaitu sebatas apa yang diperbolehkan oleh kaidah rasio. Adapun mengenai hal-hal yang irasional dan jelas batil serta dicurigai dusta, maka hal tersebut bukanlah termasuk ke dalam apa yang diperbolehkan oleh hadis di atas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Banyak dari kalangan ahli tafsir ulama Salaf dan juga sejumlah besar ulama Khalaf yang meriwayatkan kisah-kisah dari kitab-kitab Ahli Kitab dalam jumlah yang boleh dikata cukup banyak sehubungan dengan tafsir Al-Qur'anul Karim, padahal yang sebenarnya mereka tidak memerlukan berita-berita dari mereka.

Dan ironisnya Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim Ar-Razi sendiri rahimahullah sehubungan dengan tafsir ayat ini telah mengetengahkan sebuah atsar yang garib. yang sanadnya tidak sahih sampai pada Ibnu Abbas r.a.

Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa ia pernah mendapat cerita dari Muhammad ibnu Ismail Al-Makhzumi, bahwa telah menceritakan kepada kami Lais ibnu Abu Salim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Allah Swt. telah menciptakan lautan di balik bumi ini yang mengelilinginya, kemudian di balik lautan itu Allah menciptakan sebuah gunung yang diberi nama Gunung Qaf; langit yang terdekat mengatapinya. Kemudian di balik gunung itu Allah Swt. menciptakan pula bumi sebesar tujuh kali lipat bumi ini. Kemudian Allah Swt. di balik itu menciptakan lautan yang mengelilinginya, lalu Dia di balik itu menciptakan sebuah gunung yang dinamakan Gunung Qaf, langit yang kedua mengatapinya, hingga hal yang sama diciptakan pada tujuh bumi dan tujuh laut, dan tujuh gunung, serta tujuh langit. Kemudian Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt. yang mengatakan: dan laut itu ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudahnya. (Luqman: 27)

Sanad atsar ini munqati (ada mata rantai yang terputus).

Yang jelas menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Ibnu Abbas ra sehubungan dengan Qaf ini, ia adalah salah satu dan Asma Allah Swt.

Dan menurut riwayat dari Mujahid, Qaf adalah salah satu dan huruf Hijaiah sama halnya dengan firman Allah Swt. lainnya yang mengawal, banyak surat, seperti Shad, Nun, Ha Mim, Ta Sin, Alif Lam Mim dan lain sebagainya. Ini Jelas berbeda jauh sekali dari apa yang dikatakan bersumber dari Ibnu Abbas r.a. di atas.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan Qaf ialah Qudiyal Amru Wallahi, yakni 'Demi Allah, urusan itu telah diputuskan . Dan bahwa firman Allah Swt. ini menunjukkan adanya kalimat yang terbuang yang berkaitan dengannya, semisal dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Kukatakan kepadanya.”Berhentilah!" Maka dia berkata.”Stop!"

Tetapi tafsir seperti ini masih diragukan, karena adanya kalimat yang terbuang hanya dapat ditunjukkan melalui konteks yang menunjuk ke arahnya. Lalu darimanakah pengertian seperti itu dalam huruf Qaf ini?

Firman Allah Swt.:

Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Qaf: 1)

Yakni Al-Qur'an yang sangat mulia lagi sangat agung.

yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42)

Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan jawaban dari sumpah yang disebutkan dalam ayat ini.

Menurut Ibnu Jarir dan sebagian ulama Nahwu, jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). (Qaf: 4)

Tetapi pendapat ini masih diragukan, bahkan sebenarnya jawab qasam-nya telah terkandung di dalam kalimat sesudahnya, yaitu menetapkan kenabian dan hari kemudian, yakni mengukuhkan dan meyakinkan keberadaannya, sekalipun hal tersebut tidak disebutkan secara teks; hal seperti ini banyak didapati dalam qasam-qasam yang ada dalam Al-Qur'an, seperti pada pembahasan yang terdahulu dalam firman-Nya:

Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shad: 1-2)

Hal yang sama disebutkan di dalam surat ini melalui firman-Nya:

Qaf. Demi Al-Qur'an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib.” (Qaf: 1-2)

Yakni mereka merasa heran dengan adanya seorang rasul dari kalangan manusia yang diutus kepada mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia.” (Yunus: 2)

Yaitu hal ini bukanlah merupakan peristiwa yang mengherankan, karena sesungguhnya Allah memilih dari kalangan malaikat dan manusia menjadi utusan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[50 ~ QAF (HURUF QAF) Pendahuluan: Makkiyyah, 45 ayat ~ Di bagian awal, surat ini menjelaskan pengukuhan risalah Muhammad saw., pengingkaran orang-orang kafir atas kedatangan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan setelah mereka mati dan menjadi tanah. Kemudian dipaparkan bukti-bukti yang ada di alam semesta yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia kembali dari kematian. Dialah yang telah menciptakan mereka dan mengetahui apa yang terdetik di dalam hati mereka. Semua perkataan dan perbuatan mereka tercatat di dalam buku yang terjaga. Surat ini kemudian menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti, usaha orang-orang kafir untuk melepaskan diri dari kekafiran yang mereka ikuti di dunia, dengan melemparkan kesalahan kepada setan, akan sia-sia belaka, dan perdebatan orang-orang kafir itu akan berakhir dengan masuknya mereka semua ke dalam neraka. Sementara, pada waktu yang sama, Allah memberi nikmat kesenangan yang kekal kepada orang-orang Mukmin di dalam surga. Selanjutnya, di akhir surat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk tabah dalam menghadapi sikap aniaya orang-orang kafir yang tidak mau mengambil pelajaran dari siksa yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi. Di samping itu, terdapat juga petunjuk kepada Rasulullah untuk selalu menyembah Allah, penegasan akan hari kebangkitan, hiburan bagi Rasul bahwa ia diutus sebagai pemberi peringatan kepada orang-orang Mukmin, dan bukan untuk menjadi penguasa atas orang-orang kafir.]] Qâf adalah salah satu huruf eja Arab. Surat ini diawali dengan menyebut huruf tersebut, sebagaimana beberapa surat al-Qur'ân juga diawali dengan huruf-huruf eja, untuk tujuan menantang dan menarik perhatian. Aku bersumpah demi al-Qur'ân yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan bahwa sesungguhnya Kami telah mengutusmu, wahai Muhammad, untuk memberi peringatan kepada manusia dengan al-Qur'ân. Tetapi penduduk Mekah tidak mau mempercayainya, bahkan mereka merasa heran bahwa akan datang seorang rasul dari kalangan mereka sendiri untuk memberi peringatan akan datangnya hari kebangkitan. Lalu orang-orang kafir berkata, "Ini adalah suatu keajaiban!