Al-Qur'an Surat Al-Hujurat Ayat 1

Al-Hujurat: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

yaayyuha
یٰۤاَیُّهَا
wahai
alladhina
الَّذِیْنَ
orang-orang yang
amanu
اٰمَنُوْا
beriman
la
لَا
jangan
tuqaddimu
تُقَدِّمُوْا
kamu mendahului
bayna
بَیْنَ
antara
yadayi
یَدَیِ
hadapan
al-lahi
اللّٰهِ
Allah
warasulihi
وَ رَسُوْلِهٖ
dan rasul-Nya
wa-ittaqu
وَ اتَّقُوا
dan bertakwalah
al-laha
اللّٰهَ ؕ
Allah
inna
اِنَّ
sesungguhnya
al-laha
اللّٰهَ
Allah
sami'un
سَمِیْعٌ
Maha Mendengar
alimun
عَلِیْمٌ 
Maha Mengetahui

Transliterasi Latin:

Yā ayyuhallażīna āmanụ lā tuqaddimụ baina yadayillāhi wa rasụlihī wattaqullāh, innallāha samī'un 'alīm (QS. 49:1)

Arti / Terjemahan:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujurat ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada permulaan Surah al-Hujuràt ini Allah mengajarkan akhlak kepada kaum muslim ketika berhubungan dengan Allah dan Rasul-Nya. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, yakni jangan kamu tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara sebelum mendapat keputusan Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sungguh, Allah Maha Mendengar ucapan kamu, Maha Mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kamu. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar ja-ngan mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan hukum keagamaan atau persoalan duniawi yang menyangkut kehidupan me-reka. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi syariat Islam sehingga menimbulkan kemurkaan Allah.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah mengajarkan kesopanan kepada kaum Muslimin ketika berhadapan dengan Rasulullah saw dalam hal perbuatan dan percakapan. Allah memperingatkan kaum Mukminin supaya jangan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum atau pendapat.
Mereka dilarang memutuskan suatu perkara sebelum membahas dan meneliti lebih dahulu hukum Allah dan (atau) ketentuan dari rasul-Nya terhadap masalah itu. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi apalagi bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dapat menimbulkan kemurkaan Allah.
Yang demikian ini sejalan dengan yang dialami oleh sahabat Nabi Muhammad yaitu Mu'adh bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman. Rasulullah saw bertanya, "Kamu akan memberi keputusan dengan apa?" Dijawab oleh Mu'adh, "Dengan kitab Allah." Nabi bertanya lagi, "Jika tidak kamu jumpai dalam kitab Allah, bagaimana?" Mu'adh menjawab, "Dengan Sunah Rasulullah." Nabi Muhammad bertanya lagi, "Jika dalam Sunah Rasulullah tidak kamu jumpai, bagaimana?" Mu'adh menjawab, "Aku akan ijtihad dengan pikiranku." Lalu Nabi Muhammad saw menepuk dada Mu'adh seraya berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan rasul-Nya tentang apa yang diridai Allah dan rasul-Nya." (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidhi dan Ibnu Majah dari Mu'adh bin Jabal).
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin supaya melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak tergesa-gesa melakukan perbuatan atau mengemukakan pendapat dengan mendahului Al-Qur'an dan hadis Nabi yang ada hubungannya dengan sebab turunnya ayat ini. Tersebut dalam kitab al-Iklil bahwa mereka dilarang menyembelih kurban pada hari Raya Idul Adha sebelum nabi menyembelih, dan dilarang berpuasa pada hari yang diragukan, seperti apakah telah datang awal Ramadan atau belum, sebelum jelas hasil ijtihad untuk penetapannya. Kemudian Allah memerintahkan supaya mereka tetap bertakwa kepada-Nya karena Allah Maha Mendengar segala percakapan dan Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati hamba-hamba-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului) berasal dari lafal Qadima yang maknanya sama dengan lafal Taqaddama artinya, janganlah kalian mendahului baik melalui perkataan atau perbuatan kalian (di hadapan Allah dan Rasul-Nya) yang menyampaikan wahyu dari-Nya, makna yang dimaksud ialah janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya tanpa izin dari keduanya (dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) semua perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan kalian. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan perdebatan antara Abu Bakar r.a., dan sahabat Umar r.a. Mereka berdua melakukan perdebatan di hadapan Nabi saw. mengenai pengangkatan Aqra' bin Habis atau Qa'qa' bin Ma'bad. Ayat selanjutnya diturunkan berkenaan dengan orang yang mengangkat suaranya keras-keras di hadapan Nabi saw. yaitu firman-Nya:

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Melalui ayat-ayat ini Allah Swt. mengajarkan etika sopan santun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam bergaul dengan Rasulullah Saw. Yaitu hendaknya mereka menghormati, memuliakan, dan mengagungkan beliau Saw. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1)

Maksudnya, janganlah kalian tergesa-gesa dalam segala sesuatu di hadapannya, yakni janganlah kamu melakukannya sebelum dia, bahkan hendaknyalah kamu mengikuti kepadanya dalam segala urusan.

Dan termasuk ke dalam pengertian umum etika yang diperintahkan Allah ini adalah hadis Mu'az r.a. ketika ia diutus oleh Nabi Saw. ke negeri Yaman.

Nabi Saw. bertanya kepadanya, "Dengan apa engkau putuskan hukum?" Mu'az menjawab, "Dengan Kitabullah" Rasul Saw. bertanya, "Kalau tidak kamu temukan?" Mu'az menjawab, "Dengan sunnah Rasul." Rasul Saw. bertanya, "Jika tidak kamu temukan." Mu'az menjawab, "Aku akan berijtihad sendiri." Maka Rasul Saw. mengusap dadanya seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah kepada apa yang diridai oleh Rasulullah.

Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadis ini pula.

Kaitannya dengan pembahasan ini ialah Mu'az menangguhkan pendapat dan ijtihadnya sendiri sesudah Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Sekiranya dia mendahulukan ijtihadnya sebelum mencari sumber dalil dari keduanya, tentulah dia termasuk orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1) Yakni janganlah kamu katakan hal yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa mereka (para sahabat) dilarang berbicara di saat Rasulullah Saw. sedang berbicara.

Mujahid mengatakan, "Janganlah kamu meminta fatwa kepada Rasulullah Saw. tentang suatu perkara, sebelum Allah Swt. menyelesaikannya melalui lisannya."

Ad-Dahhak mengatakan, "Janganlah kamu memutuskan suatu urusan yang menyangkut hukum syariat agama kalian sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskannya."

Sufyan As'-Sauri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1) baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1) Yaitu janganlah kamu berdoa sebelum imam berdoa.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa ada beberapa orang yang mengatakan, "Seandainya saja diturunkan mengenai hal anu dan anu. Seandainya saja hal anu dibenarkan. Maka Allah Swt. tidak menyukai hal tersebut; karena hal tersebut berarti sama dengan mendahului."

dan bertakwalah kepada Allah. (Al-Hujurat: 1)

dengan mengerjakan semua apa yang diperintahkan-Nya kepada kalian.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Hujurat: 1)

Yakni Dia mendengar semua ucapan kalian dan mengetahui semua niat kalian.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[49 ~ AL-HUJURAT (KAMAR-KAMAR) Pendahuluan: Madaniyyah, 18 ayat ~ Surat ini dimulai dengan larangan kepada orang-orang Mukmin untuk menilai sesuatu sebelum datang perintah Allah dan Rasul-Nya, larangan mengangkat suara lebih tinggi di atas suara Rasul saw., pujian terhadap orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasul, dan celaan terhadap orang-orang yang tidak beradab dan memanggil Rasul dari luar kamarnya. Kemudian dijelaskan perintah kepada orang-orang Mukmin untuk selalu bersikap selektif dan teliti dalam menerima suatu berita dari orang-orang fasik dan lemah imannya, perintah yang harus dilakukan oleh para pemimpin dalam menghadapi dua kelompok orang-orang Mukmin yang sedang berperang, larangan bagi orang-orang Mukmin untuk saling mengolok-olok dan mencela sesamanya, larangan berburuk sangka dan memata-matai orang-orang yang berbuat kebaikan. Selain itu, surat ini juga menjelaskan larangan bagi orang-orang Arab Badui untuk mengaku bahwa mereka telah beriman sebelum iman itu menetap dalam hati mereka dan keterangan tentang siapakah orang-orang Mukmin yang sebenarnya. Kemudian dalam akhir surat ini dijelaskan larangan terhadap orang-orang yang menganggap bahwa mereka telah memberi nikmat kepada Rasulullah dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam. Namun sesungguhnya nikmat itu hanyalah milik Allah yang dianugerahkan kepada mereka dengan memberi petunjuk mereka kepada keimanan jika mereka termasuk orang-orang yang benar.]] Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan hukum masalah keagamaan dan keduniaan. Jagalah diri kalian dari azab Allah dengan jalan menaati perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua yang kalian katakan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan tuntutan keimanan terhadap Allah dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah dan mengikuti Sunnah Rasulullah dalam semua urusan mereka, agar tidak mendahului Allah dan RasulNya, tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah dan Rasulullah menyatakan, dan tidak memerintah apapun hingga Allah dan rasulullah memerintah. Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah dan RasulNya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal.
Dalam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah sebelum beliau mengucapkan. Manakala Sunnah Rasululllah telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulukan atas yang lainnya, tidak peduli siapa pun orangnya.
Kemudian Allah memerintahkan untuk takwa secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib yang berkata, “Takwa itu adalah bahwa anda mengerjakan ketaatn kepada Allah di atas dasar cahaya dari Allah dimana anda hanya berharap pahala balasan Allah, dan bahwa anda meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah di mana anda takut kepada azabNya.
Dan Firman Allah “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar,” yakni, semua jenis suara dan dalam semua waktu sekalipun dalam tempat dana rah yang sama. “lagi Maha Mengetahui,” yakni apa-apa yang zahir dan apa-apa yang bersifat batin, yang telah berlalu maupun yang akan datang, yang wajib secara aqli dan juga yang mustahil dan mubah secara aqli.
Dalam penyebutan dua nama Allah yang mulia ini setelah didahului dengan larangan mendahului Allah dan RasulNya, kemudian perintah untuk bertakwa kepadaNya, Allah mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah yang baik tersebut dan juga adab-adab yang bagus, serta ancaman dari lawannya.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Hujurat Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dll, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, yang bersumber dari Abdullah bin Zubair bahwa kafilah Bani Tamim datang kepada Rasulullah saw. Pada waktu itu Abu Bakr berbeda pendapat dengan Umar tentang siapa yang seharusnya mengurus kafilah itu. Abu Bakr menghendaki agar al-Qaqa bin Mabad yang mengurusnya sedangkan Umar menghendaki al-Aqra bin Habis. Abu Bakr menegur Umar: "Engkau hanya ingin selalu berbeda pendapat denganku." Dan Umarpun membantahnya. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga suara keduanya terdengar keras. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 1-5) sebagai petunjuk agar meminta ketetapan Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mendahului ketetapan-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari al-Hasan bahwa orang-orang menyembelih kurban sebelum waktu yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. Maka Rasulullah memerintahkan berkurban sekali lagi. Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Menurut riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Kitab al-Adlaahi, lafal riwayatnya sebagai berikut: seorang laki-laki menyembelih (kurbannya) sebelum shalat (Idul Adha)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam Kitab al-Ausath, yang bersumber dari Aisyah bahwa orang-orang mendahului shaum sebelum masuk bulan Ramadhan yang ditetapkan oleh Nabi saw. Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai teguran kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa waktu itu ada orang-orang yang menghendaki turunnya ayat tentang sesuatu. Maka turunlah ayat ini (al-hujurat: 1) yang melarang mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa orang-orang berbicara keras dan nyaring ketika berbicara dengan Nabi saw. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 2) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas bahwa ketika turun ayat, laa tarfauu ashwaatakum fauqo shautin nabiy, (janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi) (al-Hujurat: 2) terhempaslah Tsabit bin Qais di jalan sambil menangis. Ketika itu lewatlah Ashi bin Adi bin al-Ajlan seraya bertanya: "Mengapa engkau menangis ?" Ia menjawab: "Aku takut ayat ini (al-Hujurat:2) turun berkenaan dengan diriku, karena aku ini orang yang bersuara keras."
Hal ini diajukan oleh Ashim kepada Rasulullah saw. kemudian Tsabit-pun dipanggil. Rasul bersabda: "Apakah engkau tidak ridha jika engkau hidup terpuji, mati syahid, dan masuk syurga ?" Tsabit menjawab: "Aku ridha dan tidak akan mengeraskan suaraku selama-lamanya di hadapan Rasulullah saw" Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Hujurat: 3) yang melukiskan janji Allah kepada orang-orang yang taat kepada ketetapan-Nya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Abu Yala dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Zaid bin Arqam bahwa apabila orang-orang Arab berkunjung ke rumah Rasulullah saw, mereka suka berteriak memanggil beliau dari luar dengan ucapan: "Hai Muhammad ! Hai Muhammad !" Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Hujurat: 4-5) yang melukiskan perbuatan seperti itu bukan akhlak Islam.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Mamar yang bersumber dari Qatadah. Riwayat ini mursal, tetapi mempunyai syawaahid (beberapa penguat) yang marfu, yang ada di dalam kitab Sunanut Tirmidzi, dari Hadits al-Barra bin Azid dll, tetapi tidak menyebutkan nuzulul ayat. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. sambil berteriak memanggil beliau dari luar: "Hai Muhammad ! Pujianku sangat baik, tapi cacianku juga sangat tajam." Rasulullah saw. bersabda: "Celaka engkau, yang bersifat demikian itu adalah Allah." Ayat ini (al-Hujurat: 4) turun sebagai larangan kepada orang-orang yang suka berteriak-teriak dari luar rumah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari al-Aqra bin Habis bahwa al-Aqra bin Habis memanggil-manggil Rasulullah saw dari luar rumah, akan tetapi beliau tidak menjawabnya. Ia pun berteriak: "Hai Muhammad ! Sesungguhnya pujianku baik, dan cacianku sangat tajam." Bersabdalah Rasulullah saw: "Yang bersifat demikian itu adalah Allah." Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dll, yang bersumber dari al-Aqra bahwa al-Aqra datang kepada Nabi saw. dan berteriak-teriak dari luar rumah : "Hai Muhammad, keluarlah !" Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun sebagai teguran berkenaan dengan kekurang-sopanan dalam bertamu.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Pada permulaan surah al-hujur't ini Allah mengajarkan akhlak kepada kaum muslim ketika berhubungan dengan Allah dan rasul-Nya. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, yakni jangan kamu tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara sebelum mendapat keputusan Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sungguh, Allah maha mendengar ucapan kamu, maha mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kamu. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar ja-ngan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menetapkan hukum keagamaan atau persoalan duniawi yang menyangkut kehidupan me-reka. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi syariat islam sehingga menimbulkan kemurkaan Allah. 2. Ayat ini menekankan tata krama yang harus dipatuhi oleh kaum muslim ketika berbicara dengan rasulullah. Wahai orang-orang yang ber-iman! janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi pada saat terjadi percakapan antara kamu dengan beliau, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain. Janganlah kamu memanggilnya de-ngan namanya, tetapi panggilah beliau dengan panggilan yang disertai penghormatan dan pengagungan. Apabila kamu tidak berlaku hormat kepada nabi, dikhawatirkan nanti, pahala segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ اللهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya)
Yakni janganlah kalian memutuskan suatu perkara tanpa menyertakan Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian terburu-buru melakukan itu sedangkan Rasulullah bersama kalian.

وَاتَّقُوا۟ اللهَ ۚ (dan bertakwalah kepada Allah)
Dalam setiap urusan kalian.

إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ(Sesungguhnya Allah Maha Mendengar)
Segala suara.

عَلِيمٌ (lagi Maha Mengetahui)
Segala hal.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-2. Allah memberi petunjuk bagi orang-orang beriman dalam adab berbicara dengan Nabi Muhammad; Allah melarang mereka terburu-buru dalam segala hal ketika berada di hadapan beliau, dan melarang mereka memutuskan perkara agama tanpa ada perintah dari Allah dan Rasulullah, serta memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allah dengan mentaati perintah dan larangan-Nya. Allah Maha Mendengar segala perkataan dan Maha Mengetahui segala keadaan dan perbuatan.

Allah juga melarang mereka meninggikan suara ketika berbicara dengan Rasulullah melebihi suara beliau, dan melarang mereka mengeraskan suara ketika memanggil beliau seperti kebiasaan mereka memanggil sesama mereka sendiri, maka hendaklah mereka memanggil Rasulullah dengan cara yang sesuai dengan derajat kenabiannya, agar amalan mereka tidak terhapus sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Ibnu ‘Asyur berkata: Dengan larangan ini Allah memerintahkan untuk merendahkan suara ketika di hadapan Rasulullah, karena yang dimaksud dari larangan ini bukanlah agar mereka diam tanpa berbicara ketika di hadapannya. (at-Tahrir wa at-Tanwir 26/183).

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti apa yang disyariatkan! Janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dengan ucapan atau perbuatan, dan bertakwalah kepada Allah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar segala ucapan kalian dan Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, tidak ada sedikitpun dari perbuatan kalian yang luput dari-Nya, dan Dia akan membalas kalian karenanya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Surat ini dimulai dengan petunjuk bagi orang-orang yang beriman untuk memuliakan nabi dengan sebenar-benar pemuliaan karena kedudukan beliau; di mana surat ini dimulai dengan seruan kecintaan agar mereka menjadi orang-orang yang beriman, Allah berkata: Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah kalian mengerjakan urusan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu dari urusan agama dan janganlah kalian mengawali urusan agama tanpa izin dari Allah, berkata Ibnu Abbas: janganlah kalian yaitu ucapan maupun perbuatan kalian mendahului ucapan Allah atau Rasul Nya beserta perbuatannya. Maka jika telah sampai suatu dalil maka wajib orang-orang mukmin tidak mendahulukan pendapat di atas pendapat Nabi. Kemudian Allah memerintahkan hambanya yang beriman untuk takut kepada Allah dalam ucapan mereka, perbuatan dan seluruh keadaan mereka; Karena Allah mendengar apa yang mereka ucapkan, mengetahui gerak-gerik mereka dari perbuatan mereka.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abi Mulaikah, bahwa Abdullah bin Az Zubair memberitahukan mereka, bahwa ada rombongan orang dari Bani Tamim datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Abu Bakar berkata, “Angkatlah Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zurarah.” Lalu Umar berkata, “Bahkan, angkatlah Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata, “Engkau tidak menginginkan selain menyelisihiku.” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud menyelisihimu.” Maka keduanya berbantah-bantahan sampai suaranya keras, kemudian turunlah tentang hal itu ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya…dst.”

Syaikh As Sa’diy menerangkan, “Ayat ini mengandung adab terhadap Allah Ta’ala dan adab terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, membesarkan Beliau, menghormatinya dan memuliakannya. Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin sesuatu yang menjadi konsekwensi beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan agar mereka berjalan di belakang perintah Allah sambil mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam semua urusan mereka. Demikian pula agar mereka tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya, tidak berkata sampai Beliau berkata, dan tidak memerintahkan sampai Beliau memerintahkan. Inilah hakikat adab yang wajib terhadap Allah dan Rasul-Nya, dan ini merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan keberuntungannya, dan jika hilang, maka hilanglah kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal. Dalam ayat ini terdapat larangan yang keras mendahulukan ucapan selain Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam di atas ucapan Beliau. Oleh karena itu, kapan saja jelas sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka wajib diikuti dan didahulukan di atas yang lainnya siapa pun dia. Selanjutnya Allah memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan Thalq bin Habib (tentang takwa), “Kamu mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dan kamu mengharapkan pahala Allah. Demikian pula kamu menjauhi durhaka kepada Allah di atas cahaya dari Allah sambil takut kepada siksaan Allah.”

Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.

Yakni semua suara dengan berbagai bahasa.

Baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang berlalu maupun yang baru, yang mesti, mustahil maupun yang mungkin. Disebutkan kedua nama ini “Samii’un ‘Aliim” setelah larangan mendahului Allah dan Rasul-Nya serta perintah bertakwa kepada-Nya adalah untuk mendorong mengerjakan perkara-perkara yang baik, adab yang indah serta menakut-nakuti agar tidak mendurhakai.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1. Wahai orang-orang yang beriman dengan Allah dan rasulNya jangan memutuskan hukum untuk masalah kalian sebelum Allah dan rasulNya menentukan hukum hal itu. Takutlah kepada Allah dalam segala urusan kalian dengan mengerjakan apa yang diperintahNy dan meninggalkan apa yang dilarangNya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian dan Maha Mengetahui tindakan-tindakan kalian. Imam Bukhari dan lainnya dari Abdullah bin Zubair berkata: “Seseorang dari Bani Tamim ingin bertemu nabi SAW, lalu Abu Bakar berkata: “Perintahkanlah Al-Qa’qa’ bin Ma’bad” dan Umar berkata:”Jangan tapi perintahlah Aqra’ bin Habis”. Kemudian Abu Bakar berkata: “Kamu hanya ingin berbeda denganku”, lalu Umar berkata: “Aku tidak bermaksud berbeda denganmu” kemudian keduanya saling berdebat sampai-sampai mereka meninggikan suaranya, kemudian Allah menurunkan surah ini”