Al-Qur'an Surat Muhammad Ayat 1

Muhammad: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ

alladhina
اَلَّذِیْنَ
orang-orang yang
kafaru
كَفَرُوْا
kafir/ingkar
wasaddu
وَ صَدُّوْا
dan mereka menghalang-halangi
an
عَنْ
dari
sabili
سَبِیْلِ
jalan
al-lahi
اللّٰهِ
Allah
adalla
اَضَلَّ
sesatkan
a'malahum
اَعْمَالَهُمْ 
amal perbuatan mereka

Transliterasi Latin:

Allażīna kafarụ wa ṣaddụ 'an sabīlillāhi aḍalla a'mālahum (QS. 47:1)

Arti / Terjemahan:

Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. (QS. Muhammad ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat yang terakhir dari Surah Al-Ahqàf menyebutkan ancaman kepada orang-orang fasik bahwa mereka akan dibinasakan oleh Allah. Ayat pertama dari surah ini menjelaskan ciri-ciri dari orang-orang fasik tersebut. Allah menjelaskan bahwasanya mereka ialah orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, yakni menghalang-halangi mereka memeluk Islam atau menghalang-halangi mereka beribadah di Masjidil Haram. Allah menghapus segala amal mereka, maka tidak ada pahala bagi amalnya itu dan tidak menyelamatkan dari api neraka disebabkan kekafirannya.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah membagi manusia menjadi dua golongan: pertama, golongan kafir, yaitu orang-orang yang mengingkari kekuasaan dan keesaan Allah, menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia, menghalangi manusia beribadah kepada-Nya, membuat-buat cara beribadah kepada-Nya menurut pendapat dan keinginan sendiri, mencela dan menghalangi manusia beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad. Seluruh perbuatan golongan ini tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yang termuat di dalam Al-Qur'an dan hadis Rasul-Nya, tetapi mengikuti keinginan sendiri dan mengikuti petunjuk setan.
Semua perbuatan yang berdasarkan perbuatan setan tidak ada artinya di sisi Allah walaupun perbuatan itu baik bagi manusia dan kemanusiaan. Perbuatan itu seolah-olah buih yang timbul di permukaan air, kemudian hilang tanpa bekas sedikit pun. Oleh karena itu, semua amal dan perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik tidak ada arti dan pahalanya di sisi Allah di akhirat nanti. Mereka hanya mendapat balasan di dunia yang diperoleh dari manusia, walaupun bentuk amal dan perbuatan itu seperti budi pekerti yang mulia, berhubungan dengan orang lain (silaturrahim), memberi makan orang miskin, memelihara anak yatim, membuat usaha-usaha kemanusiaan, memelihara dan mendirikan masjid.
Pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang pernah dikerjakan oleh orang-orang musyrik Mekah, seperti memakmurkan Masjidilharam, melindungi orang-orang yang memerlukan perlindungan, membantu orang-orang yang mengerjakan thawaf dan sebagainya.
Allah berfirman:

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (al-Furqan/25: 23)

Kedua, golongan mukmin, yaitu orang-orang yang mengakui keesaan Allah, taat hanya kepada-Nya saja, beribadah sesuai dengan petunjuk Allah, tidak menurut kemauan sendiri dan menjauhi larangan-Nya, beriman kepada Al-Qur'an yang dibawa Nabi Muhammad, dan membantu manusia melaksanakan ibadah kepada-Nya. Ini adalah golongan yang diridai Allah. Amal dan perbuatan golongan mukmin diterima Allah, diampuni segala dosanya, mereka mendapat pahala di dunia sedang di akhirat akan mendapat kebahagiaan yang abadi.
Menurut Ibnu 'Abbas, ayat pertama diturunkan berhubungan dengan orang-orang yang memberi makan tentara musyrik Mekah pada waktu Perang Badar. Mereka ada dua belas orang, yaitu Abu Jahal, al-harits bin Hisyam, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, Munabbih bin al-hajjaj, Nubaih bin al-hajjaj, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, Zam'ah bin al-Aswad, hakim bin hazam, dan al-harits bin 'Amir bin Naufal. Mereka semua mempunyai amal kebajikan pada masa Arab Jahiliah, seperti menyediakan minuman jemaah haji, memberi makan para tamu yang datang ke Masjidilharam, melindungi dan menjaga hak tetangga, dan sebagainya. Semua amal mereka dibatalkan pahalanya oleh Allah, seakan-akan mereka tidak pernah berbuat apa pun, karena dasar diterimanya suatu amal dan perbuatan adalah iman kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Sedangkan ayat kedua diturunkan berhubungan dengan orang Ansar di Medinah. Mereka beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, membantu orang-orang Muhajirin yang baru datang dari Mekah hijrah bersama Nabi Muhammad, dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Orang-orang yang kafir) dari kalangan penduduk Mekah (dan menghalang-halangi) orang-orang lainnya (dari jalan Allah) dari jalan keimanan (Allah melebur) menghapus (amal-amal mereka) seperti memberi makan dan menghubungkan silaturahim; mereka tidak akan melihat pahala amalnya di akhirat nanti dan mereka hanya mendapat balasan di dunia saja dari kemurahan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Firman Allah Swt.:

Orang-orang yang kafir. (Muhammad: 1)

kepada ayat-ayat Allah Swt.

dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. (Muhammad: 1)

Yaitu membatalkan dan meleyapkan amal-amal tersebut, tidak memberinya pahala dan tidak pula imbalan. Semakna dengan firman-Nya:

Dan Kami hadapi amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al-Furqan: 23)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh. (Muhammad: 2)

Yakni hati mereka beriman dan jugajiwa mereka, tunduk patuh kepada syariat-syariat Allah semua anggota tubuh mereka; mereka beriman lahir dan batinnya.

dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad. (Muhammad: 2)

Hal ini merupakan 'ataf khas kepada 'am yang menunjukkan pengertian bahwa beriman kepada Al-Qur'an merupakan rukun iman lain sesudah beriman kepada Nabi Muhammad.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[47 ~ MUHAMMAD (NABI MUHAMMAD) Pendahuluan: Madaniyyah, 38 ayat ~ Di awal surat ini dijelaskan bahwa Allah telah menghapus amal perbuatan orang-orang kafir karena mereka mengikuti kebatilan, dan mengampuni dosa orang-orang Mukmin karena mereka mengikuti kebenaran. Dijelaskan pula mengenai kewajiban mempertahankan kebenaran dan balasannya di akhirat berupa surga, seruan kepada orang-orang Mukmin untuk membela agama dan berperang di jalan Allah. Pada bagian selanjutnya, dijelaskan juga bahwa orang-orang yang mengikuti kebatilan akan membuat kerusakan di muka bumi dan akan memutuskan hubungan silaturahmi ketika mereka berpaling dari kebenaran. Peringatan bagi orang-orang Mukmin untuk selalu mewaspadai orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah mereka agar orang-orang munafik itu tidak mendengarkan kelemahan mereka, juga disebut dalam surat ini. Begitu juga ancaman terhadap orang-orang munafik agar kejelekan mereka diperlihatkan karena Rasulullah menampakkan sikap dengki mereka, disinggung pula. Kemudian disebutkan pula larangan bagi orang-orang Mukmin untuk bersikap lemah dalam memerangi orang-orang munafik, karena orang-orang Mukmin mempunyai kedudukan lebih tinggi dan Allah selalu menyertai mereka, di samping karena Allah tidak menyia-nyiakan amal perbuatan mereka. Akhirnya, surat ini ditutup dengan seruan untuk membelanjakan harta di jalan Allah dan penjelasan bahwa orang yang kikir dan tidak mau membelanjakan hartanya di jalan Allah sebenarnya telah bersikap kikir pada dirinya sendiri. Diterangkan pula bahwa menolak kebenaran adalah penyebab kehancuran orang-orang yang menentang dan didatangkannya kaum yang lebih baik untuk menggantikan mereka.]] Orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-Nya serta menghalangi orang lain untuk masuk agama Islam, akan dihapus semua amal perbuatannya oleh Allah.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Ayat-ayat ini mencakup penjelasan tentang pahala bagi orang-orang yang beriman, hukuman bagi orang-orang yang durhaka, sebab dari semua itu, dan seruan untuk manusia agar mengambil pelajaran dari semua itu.
Allah berfirman, “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir dan pemimpin kesesatan, orang-orang yang menyatukan antara kekufuran terhadap Allah dan ayat- ayatNya serta menghalangi diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah, yaitu menghalangi dari keimanan yang diserukan oleh para rasul dan para pengikutnya; mereka itulah orang-orang yang, “Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.” Artinya, dihapus dan mereka dibuat menderita karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Perbuatan-perbuatan mereka ini mencakup perbuatan yang dilakukan untuk mengelabui kebenaran dan menipu para wali Allah, tapi Allah mengembalikan efek buruk tipu daya mereka itu pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan mendapatkan pahala itu dihapus oleh Allah dari mereka. Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebatilan, yaitu semua tujuan yang tidak diinginkan untuk mencari keridhaan Allah seperti menyembah berhala dan patung dan juga perbuatan-perbuatan yang bertujuan untuk menolong kebatilan, perbuatan yang dilakukan untuk mendukung kebatilan sama-sama batil.

Asbabun Nuzul
Surat Muhammad Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan al-ladziina kafaruu wa shadduu ang sabiilillaahi adlalla amaalahum (orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah, Allah menghapus amalan-amalan mereka. (Muhammad: 1) adalah orang-orang Mekah. Sementara ayat-ayat selanjutnya, wal-ladziina aamanuu wa amilush shaalihaat, (dan orang-orang yang beriman [kepada Allah] dan mengerjakan amal-amal yang shaleh) (Muhammad: 2) adalah kaum Anshar di Madinah.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Ayat yang terakhir dari surah al-ahq'f menyebutkan ancaman kepada orang-orang fasik bahwa mereka akan dibinasakan oleh Allah. Ayat pertama dari surah ini menjelaskan ciri-ciri dari orang-orang fasik tersebut. Allah menjelaskan bahwasanya mereka ialah orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, yakni menghalang-halangi mereka memeluk islam atau menghalang-halangi mereka beribadah di masjidil haram. Allah menghapus segala amal mereka, maka tidak ada pahala bagi amalnya itu dan tidak menyelamatkan dari api neraka disebabkan kekafirannya. 2. Setelah Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir, kemudian dilanjutkan dengan menerangkan pahala bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan membuktikan imannya itu dengan mengerjakan kebajikan serta ber-iman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad yaitu kitab suci Al-Qur'an; dan mereka beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya. Itulah kebenaran dari tuhan mereka yang harus ditaati oleh manusia; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dengan mengampuninya dan memperbaiki keadaan mereka dengan menganugerahkan pertolongan baik di dunia maupun di akhirat.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. الَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ اللهِ (Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah)
Mereka adalah orang-orang kafir Quraisy yang mengingkari Allah dan menghalang-halangi diri mereka sendiri dan orang lain dari agama Islam.

أَضَلَّ أَعْمٰلَهُمْ (Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka)
Yakni Allah menjadikan amalan-amalan mereka sia-sia dan akibatnya kembali kepada diri mereka sendiri.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-3. Allah mengolok orang-orang kafir yang menghalangi diri mereka sendiri dan orang laing dari agama-Nya, dan memberi peringatan bahwa amalan mereka akan terhapus.

Dan Allah memuji orang-orang beriman yang melaksanakan perintah-Nya dan meyakini al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang merupakan kitab yang benar dan firman Allah. Dan Allah memberi kabar gembira bagi mereka atas keberhasilan amal perbuatan mereka, karena Allah telah menghapus dosa-dosa mereka dan memperbaiki urusan mereka.

Itu semua merupakan balasan yang adil karena orang-orang kafir telah mengikuti kesesatan setan dan tidak mentaati Allah, dan orang-orang beriman telah mengikuti petunjuk al-Qur’an dan mentaati Allah. Demikianlah Allah menjelaskan keadaan orang-orang kafir dan orang-orang beriman.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Orang-orang yang kafir terhadap Allah dan mengalihkan manusia dari agama Allah, Allah membatalkan perbuatan mereka.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Surat ini dimulai dengan penjelasan akan buruknya balasan bagi orang-orang kafir, dan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman; Allah mengabarkan bahwa mereka yang menolak untuk masuk islam dan memalingkan manusia dari agama Allah, mereka adalah orang-orang kafir quraisy dan yang semisal dengan mereka; Allah menghapuskan amalan mereka yang mereka dahulu memuliakan manusia sebagaimana memuliakan tamu dan bersilaturahmi, yang mereka beramal dengan kebaikan kecuali kekufuran yang bersama mereka menjadikan amalan-amalan mereka terhapus dan lenyap.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Ayat ini dan setelahnya mengandung penjelasan pahala bagi kaum mukmin dan siksaan bagi orang-orang yang durhaka, sebabnya, serta mengajak manusia agar mengambil pelajaran terhadapnya.

Yakni dari beriman kepada-Nya. Mereka ini adalah tokoh-tokoh kekafiran dan pemimpin kesesatan, dimana mereka menggabung antara kafir kepada Allah dan ayat-ayat-Nya dengan menghalangi diri mereka dan orang lain dari jalan Allah, yaitu beriman kepada apa yang diserukan para rasul dan pengikutnya.

Maksudnya, semua amal mereka tidak mendapat bimbingan dari Allah, tidak dihargai dan tidak mendapat pahala, seperti amal mereka memberi makan orang lain dan menyambung tali silaturrahim. Mereka tidak akan melihat pahalanya di akhirat, namun mereka diberi balasan di dunia karena karunia-Nya. Menurut Syaikh As Sa’diy, amal di sini mencakup rencana jahat mereka keopada kebenaran dan kepada para wali Allah, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menjadikan rencana jahat tersebut berbalik kepada mereka sehingga maksud mereka gagal. Termasuk pula amal yang mereka harapkan pahalanya, maka Allah akan menghapuskannya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Diriwayatkan dari Tabbrani pada ausath dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma: bahwa Nabi SAW membaca surat ini pada shalat maghrib.

1. Orang-orang yang kafir/mengingkari Allah dan rasul-Nya, dan menghalangi diri mereka dan orang lain dari kebenaran Islam, atau melarangnya. Mereka adalah para kafir Qurays, para ahli kitab dan lain-lain. Allah menolak amal perbuatan mereka dan mengurangi manfaatnya, tidak dapat menyelamatkan mereka dari kekekalan di dalam neraka. Mereka juga tidak akan mendapat pahala di akhirat, sebab kekufuran mereka. Ibnu Abbas berkata: mereka adalah penduduk Makkah