Al-Qur'an Surat Sad Ayat 1

Sad: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

صۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ ذِى الذِّكْرِۗ

sad
صٓۚ
Saad
shad
wal-qur'āni
وَٱلْقُرْءَانِ
By the Quran
demi Al Quran
dhī
ذِى
full (of) reminder
mempunyai
l-dhik'ri
ٱلذِّكْرِ
full (of) reminder
peringatan

Transliterasi Latin:

Shād, wal-qur`āni żiż-żikr (QS. 38:1)

Arti / Terjemahan:

Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. (QS. Sad ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada ayat terakhir Surah as-Sàffàt Allah menjelaskan perjuangan Rasulullah dan sahabat dalam menegakkan ajaran tauhid. Meski mendapat tantangan besar, tetapi dengan kesabaran dan kegigihan mereka akhirnya memperoleh kemenangan. Tema itu dilanjutkan dengan pembicaraan pada awal surah ini yang menegaskan bahwa upaya orang kafir menghalangi tersebarnya ajaran tauhid pasti berakhir dengan kehancuran. Allah memulai surah ini dengan fawatih as-suwar "Sad" untuk menarik perhatian lawan bicara supaya memperhatikan dengan seksama pesan-pesan yang akan disampaikan. Demi Al-Qur'an yang mengandung peringatan, memiliki kedudukan yang mulia, dan mengandung hukum-hukum yang sempurna.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Allah memulai firman-Nya dengan Fawatih as-Suwar "shad.", seperti halnya Dia memulai beberapa surah yang diturunkan di Mekah dan dua buah surah yang diturunkan di Medinah. Mengenai penafsiran Fawatih as-Suwar telah dikemukakan secara luas pada penafsiran ayat yang pertama surah yang kedua (al-Baqarah dalam Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid 1).
Kemudian Allah bersumpah dengan Al-Qur'an yang mempunyai keagungan isinya, kemuliaan martabatnya serta kesempurnaan hukumnya yang mengagungkan dan menakjubkan.
Al-Qur'an disifati dengan "yang mempunyai keagungan" agar manusia memahami bahwa Al-Qur'an yang diturunkan kepada rasul-Nya itu benar-benar dari Allah, dan mengandung ajaran yang benar yang disampaikan oleh Rasulullah kepada seluruh manusia.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Shaad) hanya Allahlah yang mengetahui artinya (demi Alquran yang mempunyai keagungan) yakni penjelasan atau kemuliaan. Jawab dari qasamnya tidak disebutkan, yaitu, bahwa perkaranya tidak seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir Mekah, tuhan itu bermacam-macam.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Penjelasan mengenai huruf-huruf hijaiah ini telah disebutkan di dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah dengan keterangan yang sudah cukup hingga tidak perlu diulangi lagi di sini.

Firman Allah Swt.:

demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan. (Shaad:1)

Yakni Al-Qur'an yang mengandung peringatan bagi hamba-hamba-Nya dan manfaat bagi kehidupan mereka di dunia dan di hari kemudian nanti.

Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ziz zikr" bahwa makna yang dimaksud sama dengan apa yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. (Al Anbiyaa:10)

Yaitu peringatan bagi kalian.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abbas r.a., Sa'id ibnu Jubair, Ismail ibnu Abu Khalid, Ibnu Uyaynah, Abu Husain, Abu Saleh, dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ziz zikr" bahwa makna yang dimaksud ialah yang mempunyai keagungan, kemuliaan, dan kehormatan.

Tidak ada pertentangan di antara kedua pendapat tersebut, karena memang sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah Kitab yang mulia yang di dalamnya terkandung peringatan, alasan, dan pelajaran.

Para ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan jawab dari qasam-nya, sebagian di antara mereka mengatakan bahwa jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

Semua mereka itu tidak lain hanyalah mendustakan rasul-rasul, maka pastilah (bagi mereka) azab-Ku. (Shaad:14)

Menurut pendapat lain, jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.:

Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka. (Shaad:64)

Kedua pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dan pendapat yang kedua ini jauh dari kebenaran, dan dinilai da’if oIeh Ibnu jarir.

Qatadah mengatakan bahwa jawab qasam-nya ialah:

Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad:2)

Ibnu Jarir memillih pendapat ini.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian ahli bahasa yang telah mengatakan sehubungan dengan jawab qasam ini, bahwa jawab-nya adalah Shad yang artinya benar lagi hak.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, jawab-nya adalah apa yang terkandung di dalam surat ini secara keseluruhan, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[38 ~ SHAD (HURUF SHAD) Pendahuluan: Makkiyyah, 88 ayat ~ Surat yang diturunkan di Mekah dan berisikan 88 ayat ini memberikan gambaran tentang salah satu bentuk sikap keras kepala orang-orang musyrik yang menolak dakwah Nabi Muhammad saw., di samping sikap dengki mereka karena Muhammad memperoleh kehormatan sebagai rasul dan menerima wahyu al-Qur'ân. Di dalamnya dapat kita lihat, misalnya, bantahan terhadap ilusi-ilusi palsu yang mereka yakini benar, dan keterangan bahwa faktor yang mendorong mereka memerangi dakwah rasul adalah keyakinan palsu dan sikap mereka yang suka menentang dan berselisih. Kalau saja siksa Allah telah mereka alami, mereka pasti tidak akan bersikap seperti itu terhadap Rasulullah saw. Setelah itu, surat ini juga mengutarakan bahwa Allah telah memberikan contoh dari umat terdahulu agar dapat menjadi peringatan bagi mereka sehingga tidak lagi bersikap sombong dan ingkar. Juga agar hati Rasululllah tetap tegar dalam menyampaikan misi dakwah meskipun menemui banyak rintangan dan tipu daya dari orang-orang musyrik. Selain itu, juga agar Rasulullah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepadanya seperti para nabi dan rasul lainnya. Disebutkan pula, setelah itu, balasan yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa berupa tempat kembali yang baik. Sedang orang-orang yang durhaka hanya akan kembali ke tempat yang teramat buruk. Kemudian Allah mengingatkan mereka apa yang pernah terjadi antara Adam a. s. dan musuhnya, Iblis, agar mereka mengetahui bahwa sikap sombong dan enggan mengikuti kebenaran adalah sifat Iblis. Sifat itulah yang membuatnya terusir dari rahmat Allah. Surat ini ditutup dengan pembatasan tugas Rasulullah saw., yaitu hanya sebatas menyampaikan misi dakwah. Untuk tugas itu Rasulullah tidak meminta upah sama sekali dari mereka. Tugas itu juga bukan atas dasar kemauan dirinya sendiri. Terakhir, juga dijelaskan bahwa al-Qur'ân adalah peringatan bagi semesta alam dan untuk diketahui kebenaran beritanya pada suatu saat.]] Shâd adalah huruf yang mengawali surat ini yang merupakan salah satu cara al-Qur'ân mengawali sebagian surat-suratnya dengan beberapa huruf fonemis. Aku bersumpah dengan al-Qur'ân yang mempunyai kemuliaan dan keagungan bahwa al-Qur'ân itu adalah benar dan tidak ada keraguan di dalamnya.

Asbabun Nuzul
Surat Sad Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Menurut al-Hakim, riwayat ini sahih. Bahwa ketika Abu Thalib sakit, datanglah kaum Quraisy mengadu perihal ajakan Rasulullah. Pada waktu itu Rasulullah datang juga menengoknya. Berkatalah Abu Thalib kepada Nabi saw, "Apa yang engkau inginkan dari kaummu, hai keponakanku?" Rasulullah menjawab: "Aku ingin agar mereka mengucapkan satu kalimat yang menyebabkan mereka beragama, sedang orang-orang yang keras hatinya harus membayar jizyah." Abu Thalib berkata: "Apakah kalimat itu?" Sabda Rasulullah saw: "Laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah)." Kaum Quraisy berkata: "Sangat aneh Tuhan hanya satu." Berkenaan dengan peristiwa ini, turunlah ayat di atas (Shaad: 1-8) sebagai ancaman siksa terhadap orang-orang yang menolak.