Al-Qur'an Surat Saba' Ayat 1

Saba': 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الْاٰخِرَةِۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

al-hamdu
اَلْحَمْدُ
segala puji
lillahi
لِلّٰهِ
bagi Allah
alladhi
الَّذِیْ
yang
lahu
لَهٗ
bagi-Nya-lah/memiliki
ma
مَا
apa
fi
فِی
di
al-samawati
السَّمٰوٰتِ
langit(jamak)
wama
وَ مَا
dan apa
fi
فِی
di
al-ardi
الْاَرْضِ
bumi
walahu
وَ لَهُ
dan bagi-Nya
al-hamdu
الْحَمْدُ
segala puji
fi
فِی
di
al-akhirati
الْاٰخِرَةِ ؕ
akhirat
wahuwa
وَ هُوَ
dan Dia
al-hakimu
الْحَكِیْمُ
Maha Bijaksana
al-khabiru
الْخَبِیْرُ 
Maha Mengetahui

Transliterasi Latin:

Al-ḥamdu lillāhillażī lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa lahul-ḥamdu fil`ākhirah, wa huwal-ḥakīmul-khabīr (QS. 34:1)

Arti / Terjemahan:

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Saba' ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada bagian pungkasan Surah al-Ahzàb Allah menegaskan pen-tingnya menunaikan amanat. Di sana Allah juga mengancam orang munafik dan kafir dengan azab yang pedih dan mengampuni dosa orang yang bertobat, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Surah Saba’ lantas diawali dengan pujian kepada Allah, Pemilik apa saja yang ada di langit dan bumi. Segala puji bagi Allah yang memiliki, menguasai, dan mengatur apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan segala puji di akhirat juga bagi Allah karena Dialah Penguasa dan Pengendali kehidupan akhirat. Dan Dialah Yang Mahabijaksana dalam tindakan dan ciptaan-Nya, Mahateliti sehingga mengetahui semua urusan secara rinci.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang berhak menerima segala pujian karena Dia yang menciptakan semua yang ada di langit dan di bumi. Dialah pemilik yang sebenarnya, tidak ada seorang pun yang bersekutu dengan Allah dalam menciptakan dan memilikinya.
Allah pula yang mengatur dan mengurusnya serta melimpahkan karunia-Nya agar semuanya berjalan dengan tertib dan teratur. Oleh sebab itu, tidak ada yang patut memperoleh pujian kecuali Allah, tidak ada yang patut disembah dan dipanjatkan doa kecuali kepada Allah. Adapun orang-orang yang menyembah dan memuja patung-patung atau yang lainnya adalah orang-orang yang tidak mempergunakan akal.
Banyak sekali bukti yang menunjukkan wujud dan keesaan Allah yang terdapat di bumi dan di langit. Bila manusia mau memperhatikan, tentu dia akan sampai kepada kesimpulan bahwa Pencipta semua alam ini adalah Allah Yang Maha Esa, Mahakuasa, dan Maha Pencipta. Hanya Allah yang berhak disembah dan dipuji, walaupun Dia sendiri tidak memerlukan pujian dari hamba dan makhluk-Nya. Hanya makhluk-makhluk-Nya yang harus memuja dan memuji-Nya, karena begitu besar dan banyaknya karunia yang dilimpahkan kepadanya. Sekiranya tidak ada yang menyembah dan memuji-Nya atau semua makhluk-Nya kafir dan ingkar terhadap nikmat dan karunia-Nya, maka hal itu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
"Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji." (Ibrahim/14: 8)

Untuk menyadarkan manusia agar mau menggunakan akalnya, Allah menerangkan bahwa semua makhluk-Nya di langit dan di bumi bertasbih memuji-Nya, termasuk burung-burung yang terbang di udara. Allah berfirman:
Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (an-Nur/24: 41)

Ayat selanjutnya menegaskan bahwa Allah yang berhak dipuji di akhirat nanti, karena Dia yang mempunyai kekuasaan di sana, dan bertindak dengan adil dan bijaksana dalam memperhitungkan dan membalas perbuatan hamba-Nya. Tidak ada seorang pun yang dirugikan dalam perhitungan perbuatannya, yang baik dibalas dengan kebaikan, dan yang jahat dibalas dengan siksa yang setimpal, bahkan dengan rahmat dan karunia-Nya satu perbuatan yang baik dibalas dengan berlipat ganda. Di dalam ayat lain diterangkan bagaimana besarnya pujian hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap nikmat yang dikaruniakan kepada mereka sebagai balasan atas perbuatannya selama hidup di dunia dengan firman-Nya:
Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki." Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (az-Zumar/39: 74)

Dan firman-Nya:
Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu." (Fathir/35: 34-35)

Kemudian Allah menegaskan bahwa Dialah Yang Mahabijaksana, berbuat dan bertindak, serta mengatur dan mengendalikan urusan dunia dan akhirat serta alam seluruhnya. Dialah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan segala urusan. Dia Mengetahui segala-galanya dengan ilmu-Nya Yang Mahaluas.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Segala puji bagi Allah) Allah swt. memuji diri-Nya dengan kalimat ini, maksudnya ialah pujian berikut apa yang terkandung di dalamnya yaitu pujian yang bersifat tetap. Memuji Allah artinya menyanjung-Nya dengan sebutan-sebutan yang baik (yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi) sebagai milik dan makhluk-Nya (dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat) sebagaimana di dunia, yaitu Dia dipuji oleh kekasih-kekasih-Nya bilamana mereka telah berada di dalam surga. (Dan Dialah Yang Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir


Allah Swt. menceritakan perihal diri-Nya Yang Mahamulia, bahwa bagi-Nyalah segala puji yang mutlak di dunia dan di akhirat. Karena Dialah Yang Memberi nikmat dan karunia kepada penduduk dunia dan akhirat, Yang Memiliki semuanya itu, dan Yang Menguasai kesemuanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui, firman-Nya.

Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji didunia dan Akhirat dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Qasas: 70)

Karena itulah disebutkan dalam surat ini oleh firman-Nya:

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi. (Saba':1)

Yakni semuanya adalah milik-Nya dan hamba-hamba-Nya, serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. (Al-Lail: 13)

Kemudian Allah Swt. berfirman:

dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. (Saba':1)

Dialah yang berhak disembah selamanya lagi Yang dipuji sepanjang masa.

Firman Allah Swt.:

Dan Dialah Yang Mahabijaksana. (Saba':1)

dalam semua ucapan, perbuatan, syariat, dan takdir-Nya.

lagi Maha Mengetahui. (Saba':1)

Tiada sesuatu pun yang tersembunyi lagi samar bagi-Nya, dan tiada sesuatu pun yang gaib (tidak kelihatan) oleh-Nya.

Malik telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa makna yang dimaksud ialah Allah Maha Mengetahui makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam perintah-Nya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[34 ~ SABA' (KAUM SABA) Pendahuluan: Makkiyyah, 54 ayat ~ Surat Saba' diawali dengan ayat yang berisi pernyataan bahwa hanya Allah Swt. zat yang berhak untuk mendapat pujian atas karunia dan nikmat yang diberkan-Naya kepada manusia. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan dan milik Allah Swt. Surat ini juga memaparkan pendapat dan komentar orang-orang kafir tentang hari kiamat, penolakan mereka terhadap kedatangan hari kebangkitan, dan tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad itu hanya seorang pembohong dan tidak waras. Allah menyanggah berbagai tuduhan mereka itu dengan memperlihatkan beberapa bukti kekuasaan-Nya. Allah menakut-nakuti dan mengancam mereka dengan siksaan seperti yang pernah terjadi pada orang-orang terdahulu. Sebagian ada yang ditelan bumi dan yang lain ditimpa malapetaka dari langit. Setelah itu, dijelaskan pula sikap Allah terhadap para wali-Nya. Nabi Dâwûd a. s., misalnya, diberikan kemampuan meluluhkan besi dan Sulaimân a. s. dapat menundukan jin untuk kepentingan dirinya. Para jin itu membangun gedung-gedung tinggi dan patung-patung atau apa saja yang dikehendaki Sulaimân. Dâwûd dan Sulaimân adalah hamba Allah yang besyukur, sedangkan kebanyakan manusia tidak demikian. Ayat-ayat selanjutnya bertutur tentang karunia Allah atas kaum Saba' yang tidak mereka syukuri. Mereka memiliki perkebunan luas dan subur di kanan dan kiri kawasan negeri, perkampungan yang saling berdekatan dan mudah dijangkau dengan aman. Tetapi mereka kemudian menyia-nyiakan nikmat Tuhan itu. Maka Allah memberikan hukuman orang-orang yang mengingkari nikmat kepada mereka. Mereka mewujudkan dan mengikuti dugaan-dugaan yang dilontarkan oleh iblis, padahal iblis tidak memiliki kekuasaan apa pun atas diri mereka. Disebutkan pula bahwa adanya nikmat merupakan ujian bagi manusia agar dapat diketahui siapa yang beriman pada hari akhir dengan sepenuh hati dan siapa yang meragukan kebenaran itu. Surat Saba' juga mengetengahkan ihwal kebodohan dan kelemahan orang-orang yang mempertuhan sesuatu selain Allah, menyatakan dengan tegas bahwa setiap insan bertanggung jawab sepenuhnya atas dosa yang diperbuat sendiri dan memproklamirkan universalitas misi kerasulan Nabi Muhammad. Ayat-ayat lainnya menyingung keengganan orang-orang musyrik untuk mempercayai hari pembalasan yang telah ditentukan masanya oleh Allah. Pada bagian lain, diketengahkan pendapat orang-orang kafir sekitar al-Qur'ân dan perbincangan al-Qur'ân sendiri dengan orang-orang yang sombong dan lemah akal. Dalam surat ini pula al-Qur'ân memberikan suatu batas sikap membanggakan anak dan harta, menyajikan sebuah konsep bahwa kekayaan duniawi tidak akan dapat mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan jika tidak melahirkan hasil guna bagi kepentingan sosial. Sebab, dalam pandangan al-Qur'ân, harta manusia itu pada hakikatnya adalah milik Allah. Dialah yang telah menakar dan meluaskan rezeki setiap manusia. Ayat-ayat selanjutnya melukiskan kembali sosok orang-orang kafir yang telah mengatakan bahwa Muhammad bermaksud membuat batas pemisah antara mereka dengan tradisi para leluhur yang bertuhan selain Allah. Tentang kitab suci al-Qur'ân, mereka menuduh sebagai kebohongan yang dibuat-buat atau sebuah bentuk sihir. Mereka menyangkal pula bahwa telah ada sejumlah rasul sebelum Muhammad yang juga mendapatkan wahyu seperti dirinya, padahal Allah benar-benar telah mengutus banyak rasul kepada umat terdahulu. Allah menghancurkan bangsa yang memiliki kekuatan dan kedigdayaan dengan bencana, lantaran tidak mau mempedulikan ajakan rasul yang ditutus kepada mereka. Dalam surat ini disinggung pula perintaah Allah kepada Nabi Muhammad untuk memberikan penjelasan mengenai tugas dan misi yang dibawanya. Inti dakwah Muhammad tidak lebih dari pemberian peringatan, tanpa paksaan. Manusia diperintahkan untuk mengenali sendiri karakter Nabi Muhammad, sehingga mereka sadar bahwa Muhammad bukan orang tidak waras atau orang yang hanya mencari kekayaan materi. Dakwah Muhammad berdasarkan wahyu yang berasal dari Allah, dengan tujuan mendatangkan kedamaian pada umat manusia. Ketika tiba saatnya nanti, dan orang-orang menjadi panik dan tidak mendapatkan pelarian dari kedahsyatan hari itu, mereka akan berkata, "Kami beriman kepada Allah." Tapi bagaimana keimanan itu akan mendatangkan manfaat bagi mereka, padahal mereka sebelumnya adalah orang-orang kafir. Sebagaimana orang-orang kafir lainnya, mereka tidak akan diberikan apa yang mereka inginkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu meragukan ajaran-ajaran agama.]] Segala puji hanyalah hak Allah, Tuhan yang mencipta, memiliki dan memelihara semua yang terdapat di langit dan di bumi. Bagi Allah pula segala puji di akhirat karena kekuasaan-Nya yang mutlak. Dialah Yang Mahabijaksana dan tidak pernah khilaf. Allah Maha Mengetahui, dan tidak satu rahasia pun luput dari pengetahuan-Nya.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Yakni segala puji bagi Allah karena sifat-sifat-Nya yang terpuji dan perbuatan-Nya yang baik, karena semua sifat-Nya terpuji, di mana semua sifat-Nya adalah sifat sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya juga terpuji karena berjalan di antara karunia-Nya yang patut dipuji dan disyukuri serta di antara keadilan yang patut dipuji dan diakui hikmah-Nya. Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji Diri-Nya karena milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Yakni milik-Nya, hamba-Nya dan ciptaan-Nya, Dia bertindak kepada mereka dengan segala pujian untuk-Nya.

Karena di akhirat jelas sekali terpujinya Dia melebihi ketika di dunia. Oleh karena itu, ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memutuskan masalah di antara makhluk, lalu manusia semua melihat keputusan-Nya, sempurnanya keadilan-Nya dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya, maka mereka semua memuji-Nya karena hal tersebut, bahkan orang-orang yang berhak mendapatkan siksa, tidaklah mereka memasuki neraka kecuali hati mereka dipenuhi pujian untuk-Nya, dan bahwa hal itu merupakan balasan terhadap amal mereka, dan bahwa Dia Maha Adil dalam ketetapan-Nya memberi mereka hukuman. Adapun tampak jelas pujian untuk-Nya di surga, maka sudah masyhur dan sesuai dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli (akal), karena penghuni surga ketika melihat nikmat Allah yang datang bertutur-turut dan melimpahnya kebaikan-Nya, banyak keberkahan-Nya dan luas pemberian-Nya, di mana tidak ada satu pun angan-angan dan harapan penghuni surga kecuali segera diberikan, bahkan diberikan melebihi angan-angan dan harapannya. Mereka diberi kebaikan yang tidak terbatas sesuai dengan yang mereka angan-angankan dan yang belum pernah terlintas di hati mereka. Lalu bagaimana menurutmu tentang pujian mereka kepada Tuhan mereka dalam menikmati kesenangan yang hakiki itu? Dan lagi, di surga telah hilang segala penghalang dan pemisah yang memisahkan penghuninya dari mengenal Allah, mencintai-Nya dan memuji-Nya. Tentu saja, yang demikian lebih dicintai mereka daripada setiap kenikmatan. Oleh karena itulah, ketika mereka melihat Allah Ta’ala, mendengarkan firman-Nya saat Dia berbicara kepada mereka, membuat mereka lupa dari semua kenikmatan. Bahkan dzikrullah di surga seperti bernafas dan berlanjut terus sepanjang waktu, di samping itu ketika di surga jelas sekali keagungan Allah, kemuliaan-Nya, keindahan-Nya dan luasnya kesempurnaan-Nya yang menghendaki sempurnanya pujian dan sanjungan untuk-Nya.

Dalam kerajaan dan pengaturan-Nya, serta bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya.

Yakni yang mengetahui perkara yang rahasia dan tersembunyi. Oleh karena itulah di ayat selanjutnya disebutkan lebih rinci pengetahuan-Nya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Pada bagian pungkasan surah al-a'z'b Allah menegaskan pen-tingnya menunaikan amanat. Di sana Allah juga mengancam orang munafik dan kafir dengan azab yang pedih dan mengampuni dosa orang yang bertobat, karena Allah maha pengampun dan maha penyayang. Surah saba' lantas diawali dengan pujian kepada Allah, pemilik apa saja yang ada di langit dan bumi. Segala puji bagi Allah yang memiliki, menguasai, dan mengatur apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan segala puji di akhirat juga bagi Allah karena dialah penguasa dan pengendali kehidupan akhirat. Dan dialah yang mahabijaksana dalam tindakan dan ciptaan-Nya, mahateliti sehingga mengetahui semua urusan secara rinci. 2. Dengan kemahatelitian-Nya, dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, seperti binatang-binatang, air, dan lain-lain. Dia juga mengetahui apa yang keluar darinya seperti benih yang tumbuh, air yang memancar, dan lain-lain. Allah pun mengetahui apa yang turun dari langit seperti malaikat, hujan, dan sebagainya, dan apa yang naik kepadanya seperti uap, doa dan lain-lain. Dan dialah yang maha penyayang kepada semua hamba-Nya, maha pengampun kepada siapa pun yang bertobat.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. الْحَمْدُ لِلّٰهِ (Segala puji bagi Allah)
Makna pujian bagi Allah telah dijelaskan pada surat al-Fatihah, yaitu pujian bagi-Nya dengan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang indah.

الَّذِى لَهُۥ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ(yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi)
Yakni segala yang ada pada keduanya adalah kepunyaan-Nya dan dibawah kekuasaan-Nya, Allah memperlakukannya dengan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan. Dan pujian bagi-Nya atas apa yang ada di langit dan di bumi yakni pujian bagi-Nya atas segala kenikmatan yang telah diberikan kepada makhluk-makhluk-Nya, dan juga pujian bagi-Nya atas sifat-sifat-Nya yang sempurna seperti kuasa, bijaksana, ilmu, dan pengetahuan, yang telah diketahui oleh para hamba-Nya melalui penciptaan Allah pada langit dan bumi.

وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الْاٰخِرَةِ ۚ( dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat)
Yakni bagi-Nya pujian dari hamba-hamba-Nya yang memuji-Nya di kehidupan akhirat setelah memasuki surga, seperti dalam firman-Nya:
وقالوا الحمد لله الذي صدقنا وعده
“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami.” (az-Zumar: 74)
Dan Dia terpuji di akhirat sebagaiman terpuji di dunia.

وَهُوَ الْحَكِيمُ(Dan Dialah Yang Maha Bijaksana)
Yang menetapkan urusan kehidupan dunia dan akhirat.

الْخَبِيرُ (lagi Maha Mengetahui)
Tentang urusan makhluk-Nya di dunia dan di akhirat.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Allah memuji diri-Nya. Dia telah terpuji sebelum ada yang memuji-Nya, Dia Pemberi karunia bagi hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi, segalanya adalah milik-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. Dan milik-Nya pujian di akhirat atas kesempurnaan keadilan dan rahmat-Nya. Dia memberi keputusan antara hamba-hamba-Nya dengan memberi pahala bagi orang-orang baik dan memberi siksaan bagi orang-orang jahat. Dia membalas dengan adil terhadap orang-orang zalim dan berdosa. Dan Dia Maha Bijaksana dalam kerajaan dan pengaturan-Nya, Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Segala puji bagi Allah Pemilik segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dia lah yang menciptakan, menguasai dan mengaturnya. Bagi-Nya semata sanjungan di Akhirat. Dia Maha Bijaksana dalam penciptaan dan pengaturan-Nya, Maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, tidak ada sesuatu pun darinya yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah memulai surat ini dengan pengagungan atas diri-Nya, Dia memiliki puji-pujian yang sempurna. Al Hamdu adalah pujian atas sesuatu yang terpuji dengan keindahan seluruh sifat-sifat-Nya dari sisi keagungan; Sifat Allah berkisar antara keutamaan di mana makhluk memuji dan mensyukuri atas hikmah yang diketahui atas diri Allah dan pujian bagi-Nya. Allah memuji diri-Nya di sini dengan maksud bahwa Dia adalah raja bagi seluruh makhluk di langit maupun di bumi, Allah berkuasa bagi keduanya dengan kehendak yang dimaui oleh-Nya. Alif dan Lam pada Al Hamdu adalah Alif Lam Ta’rif yang maksudnya seluruh pujian bagi-Nya, sebagaimana Allah mengkhususkan pujian di dunia (untuk diri-Nya) dan juga pujian di akhirat, Dia adalah Al Hakim atas seluruh urusan makhluk; Di mana Allah urutkan urusan-urusan di dunia yang mengandung hikmah dan kebaikan bagi makhluk, Dia Maha Mengetahui atas segala urusan-urusan makhluk-Nya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1. Pujian sempurna dan ungkapan syukur kepada Allah. Dia-lah Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi atas semua makhluk. Kepemilikan dan kekuasaan penuh milik Allah, Dia berbuat sesuai apapun Yang Dia kehendaki. Pujian dan syukur atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan untuk makhluk dan hamba-Nya. Juga pujian kepada-Nya di alam akhirat Yang Memasukkan hamba-Nya yang beriman ke dalam surga. Dia-lah Yang memiliki pujian di dunia mauun di akhirat. Dia Pemilik Kebijaksanaan dalam segala apapun yang Dia perbuat untuk makhluk-Nya, dan Maha Mengetahui atas segala apa yang paling bermanfaat untuk mereka