Al-Qur'an Surat Al-Ahzab Ayat 1

Al-Ahzab: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

yaayyuha
یٰۤاَیُّهَا
wahai
al-nabiyu
النَّبِیُّ
Nabi
ittaqi
اتَّقِ
bertakwalah
al-laha
اللّٰهَ
Allah
wala
وَ لَا
dan jangan
tuti'i
تُطِعِ
kamu mentaati
al-kafirina
الْكٰفِرِیْنَ
orang-orang kafir
wal-munafiqina
وَ الْمُنٰفِقِیْنَ ؕ
dan orang-orang munafik
inna
اِنَّ
sesungguhnya
al-laha
اللّٰهَ
Allah
kana
كَانَ
adalah
aliman
عَلِیْمًا
Maha Mengetahui
hakiman
حَكِیْمًاۙ
Maha Bijaksana

Transliterasi Latin:

Yā ayyuhan-nabiyyuttaqillāha wa lā tuṭi'il-kāfirīna wal-munāfiqīn, innallāha kāna 'alīman ḥakīmā (QS. 33:1)

Arti / Terjemahan:

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. Al-Ahzab ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; dan karenanya janganlah engkau menuruti keinginan orang-orang kafir agar engkau berpaling dari ketaatan kepada Allah, dan janganlah engkau menuruti kehendak orang-orang munafik agar engkau duduk bersama mereka dan menjauhi kaum duafa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akibatnya, Mahabijaksana dalam segala firman dan aturan-Nya.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin agar bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menghentikan semua larangan-Nya. Allah juga melarang Nabi saw dan kaum Muslimin menuruti keinginan-keinginan orang-orang kafir yang pernah menganjurkan kepada beliau agar mengusir orang-orang mukmin yang lemah dan miskin dari majelisnya. Ayat ini juga melarang Nabi dan orang-orang mukmin mengikuti orang-orang munafik yang lahirnya mengaku sebagai seorang mukmin, tetapi hatinya tetap kafir, bahkan selalu berusaha dan bekerja sama dengan orang-orang kafir yang lain untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.
Berdasarkan ayat ini dan sebab turunnya, yang dimaksud dengan "menuruti keinginan orang-orang kafir dan munafik" ialah "menuruti keinginan mereka agar kaum Muslimin mengakui kepercayaan dan tuhan-tuhan mereka, mempercayai bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memberi syafaat dan manfaat kepada orang-orang yang menyembahnya, dan mengakui syariat-syariat mereka sebagaimana mengakui syariat yang diturunkan Allah." Hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap segala usaha orang-orang kafir dan munafik yang sengaja mengaburkan dan merusak agama dan kepercayaan mereka, sehingga pemahaman mereka terhadap agama itu menjadi menyimpang dari paham yang sebenarnya.
Akhir ayat ini memperingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan, dianjurkan, disampaikan, dan disembunyi-kan dalam hati orang kafir itu, serta segala yang mereka maksudkan dan inginkan. Oleh karena itu, Dia akan menetapkan hukuman yang adil bagi mereka dan Dia Mahabijaksana dalam mengatur segala urusan Nabi dan para sahabat-sahabatnya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Hai Nabi! Bertakwalah kepada Allah) teguhkanlah dirimu dalam bertakwa kepada Allah (dan janganlah kamu menuruti keinginan orang-orang kafir dan orang-orang munafik) dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariatmu. (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) apa yang akan terjadi sebelumnya (lagi Maha Bijaksana) di dalam mengatur urusan makhluk-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir


Perintah ini lahiriahnya ditujukan kepada orang yang berkedudukan tinggi (Nabi Saw.), tetapi makna yang dimaksud ditujukan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (umatnya). Karena sesungguhnya Allah Swt. itu apabila memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya dengan perintah ini, maka terlebih lagi kepada orang yang sebawahnya.

Talq ibnu Habib pernah mengatakan bahwa takwa ialah bila engkau selalu mengerjakan ketaatan kepada Allah atas dasar cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala-Nya, dan bila kamu meninggalkan kedurhakaan terhadap Allah atas dasar cahaya dari Allah dan karena takut terhadap azab-Nya.

Firman Allah Swt.:

dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al Ahzab:1)

Artinya, janganlah kamu mendengar ucapan mereka dan jangan pula meminta saran dari mereka.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha­bijaksana. (Al Ahzab:1)

Dia lebih berhak untuk diikuti perintah-perintah-Nya dan ditaati, karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui semua akibat segala urusan, lagi Mahabijaksana dalam semua ucapan dan perbuatan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[33 ~ AL-AHZAB (PASUKAN GABUNGAN) Pendahuluan: Madaniyyah, 73 ayat ~ Surat al-Ahzâb diawali dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw. untuk bertakwa dan bertawakal kepada Allah, lalu beralih ke pembicaraan tentang status anak angkat. Allah menafikan pemberian status anak pada anak-anak angkat itu oleh orangtua angkatnya. Ayat selanjutnya menjelaskan hak-hak Rasulullah saw. untuk ditaati dan dicinta, dan hak-hak istri Rasulullah untuk dihormati dan dimuliakan. Dalam surat ini dipaparkan pula janji para nabi kepada Allah untuk menyampaikan pesan- pesan suci Allah. Selain itu, surat ini juga mengangkat perincian perang Ahzâb yang sempat memunculkan ketakutan dan kegoncangan luar biasa di kalangan kaum muslimin. Perang itu berakhir dengan kemenangan orang-orang beriman sebagai perwujudan janji Allah. Di samping itu, surat ini menyebutkan beberapa adab sopan santun yang harus dilakukan oleh istri-istri Rasulullah saw. Pembicaraan kemudian kembali ke topik anak angkat. Dalam surat ini ditemukan penghapusan tradisi larangan kawin bagi orangtua angkat dengan bekas istri anak angkatnya. Sebuah tradisi yang telah mengakar di zaman Jahiliah. Berkaitan dengan Nabi Muhammad sendiri, al-Qur'ân memberikan pujian dan sanjungan kepadanya sebagai orang yang pantas mendapat pujian. Al-Qur'ân berpesan kepada nabi agar memisahkan istri yang dicerai sebelum terjadi hubungan suami-istri, dengan cara yang baik. Juga agar memberikan hak mut'ah kepadanya. Dijelaskan pula bahwa Rasulullah memiliki keistimewaan hukum: boleh mengawini wanita mana saja yang menghibahkan diri kepadanya. Disebutkan pula dengan jelas bahwa Rasulullah tidak boleh kawin dengan lebih dari sembilan wanita. Ayat-ayat lain berisi penjelasan tentang aturan dan etika yang harus dipegang teguh saat berkunjung dan meninggalkan rumah kediaman nabi, termasuk di dalamnya etika bertanya kepada para istri Nabi. Dalam surat ini pula al-Qur'ân memerintahkan istri-istri nabi untuk memperhatikan etika pribadi dengan mengharuskan mereka memanjangkan jilbab yang mereka kenakan. Selebihnya, surat al-Ahzâb juga mengangkat topik pembicaraan tentang hari kiamat dan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi pada hari itu. Di akhir surat dijelaskan kewajiban keagamaan yang diembankan oleh Allah kepada manusia yang sebelumnya ditolak oleh bumi dan gunung. Secara ringkas, sasaran terpenting yang ingin dicapai oleh surat al-Ahzâb, antara lain, adalah: 1) Mengangkat masalah adopsi dengan maksud meralat tradisi Jahiliah yang melarang bapak angkat untuk mengawini bekas istri anak angkatnya. 2) Realisasi janji Allah yang akan memberikan kemenangan bagi orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir. 3) Perincian hukum menyangkut etika orang-orang beriman dalam mengunjungi rumah Rasulullah, larangan mengawini wanita bekas istri Rasulullah dan penjelasan etika khusus bagi istri-istri Rasul.]] Wahai Nabi, tingkatkanlah ketakwaanmu pada Allah. Jangan berkompromi untuk menerima pendapat orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Allah Maha Meliputi--dengan ilmu-Nya--segala sesuatu; Mahabijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1-2. Maksudnya, hai orang yang telah dikaruniai kenabian oleh Allah dan diutamakan dengan wahyuNya serta diutamakan atas seluruh manusia! Syukurilah nikmat Rabbmu yang telah dikaruniakan kepadamu dengan menggunakan takwaNya yang engkau lebih utama dengannya daripada selain engkau, dan yang wajib atasmu darinya lebih besar daripada selain kamu. Maka wajib atasmu darinya lebih besar daripada selain kamu. Maka patuhilah perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, dan sampaikanlah risalahNya (ajaranNya) dan sampaikanlah wahyuNya kepada hamba-hambaNya, serta berikanlah nasihat kepada manusia, dan jangan sekali-kali kamu menaati setiap orang kafir yang telah menampakkan permusuhannya terhadap Allah dan RasulNya, ataupun orang munafik yang sudah merahasiakan pendustaan dan kekafiran, dan menampakkan lawannya. Mereka itu semua adalah musuh yang sesungguhnya. Maka janganlah taat kepada mereka dalam sebagian perkara yang dapat merusak takwa dan membatalkannya, dan jangan kamu mengikuti keinginan mereka, karena akan menyesatkanmu dari yang benar,
“dan” akan tetapi “Ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu,” sebab sesungguhnya itulah petunjuk dan rahmat, dan berharaplah dengannya pahala dari Rabbmu, karena sesungguhnya Dia “Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari kalian, yaitu kebaikan atau keburukan.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Ahzab Ayat 1

Diriwayatkan oleh Juwaibir dari adl-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Mekah, di antaranya al-Walid bin al-Mughirah dan Syaibah bin Rabiah, mengajak Nabi saw. untuk meninggalkan dakwahnya dengan perjanjian akan diberikan setengah harta benda mereka. Sementara itu, kaum munafikin dan Yahudi Madinah menakut-nakuti Rasulullah dengan ancaman akan membunuhnya jika tidak meninggalkan dakwahnya. Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 1) yang memperingatkan Nabi agar tidak mengikuti orang-orang kafir dan munafik.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Wahai nabi! bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; dan karenanya janganlah engkau menuruti keinginan orang-orang kafir agar engkau berpaling dari ketaatan kepada Allah, dan janganlah engkau menuruti kehendak orang-orang munafik agar engkau duduk bersama mereka dan menjauhi kaum duafa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui akibatnya, mahabijaksana dalam segala firman dan aturan-Nya. 2. Dan karena itu, ikutilah dan lakukanlah apa saja yang telah diwah-yukan tuhanmu kepada engkau. Sungguh, Allah maha mengetahui dengan sangat teliti terhadap apa yang kamu kerjakan, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi; dan dia akan membalasnya sesuai apa yang telah kamu lakukan.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ اتَّقِ اللهَ (Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah)
Yakni tetaplah dalam ketakwaan kepada Allah dan tambahlah ketakwaanmu itu.

وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِينَ(dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir)
Yakni dari para penduduk Makkah dan orang-orang kafir yang semisal mereka.

وَالْمُنٰفِقِينَ ۗ( dan orang-orang munafik)
Yaitu orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran.
Ayat ini diturunkan sebab mereka mengatakan kepada Nabi: “janganlah kamu olok-olok tuhan-tuhan kami lagi, dan janganlah mengejek mereka; namun katakanlah bahwa mereka dapat memberi syafaat bagi orang yang menyembah mereka.” Maka Allah memerintahkan Rasulullah untuk tidak mempedulikan perkataan mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-3. Allah berfirman kepada Rasulullah dengan menyematkan sifat mulia kenabiannya, dan memerintahkannya untuk tetap teguh di atas ketakwaan kepada Allah dan menyelisihi orang-orang kafir dan munafik. Allah Maha Mengetahui hamba-hamba-Nya dan Maha Bijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya.

Dan Allah memerintahkannya untuk mengikuti wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, dan perintah ini mencakup seluruh umatnya juga. Allah Maha Mengetahui segala yang mereka kerjakan, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.

Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah untuk bertawakkal kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai penjaga dan penolong orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Wahai Nabi! Tetaplah kamu dan orang-orang yang bersamamu pada ketakwaan kepada Allah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta takutlah hanya kepada-Nya semata. Janganlah kamu taati orang-orang kafir dan munafik dalam urusan yang diinginkan oleh nafsu mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tipu daya orang-orang kafir dan munafik, Dia Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya dan kepengurusan-Nya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Surat ini dimulai dengan seruan kepada Al Musthafa ﷺ dengan kunyah sebagai penghormatan dan pemuliaan baginya ﷺ, Allah memerintahkannya agar bertakwa yang (takwa) itu adalah wasiat bagi orang-orang yang pertama dan terakhir, dan agar mendekatkan diri kepada Allah dalam kesendirian maupun tidak. Dan juga agar memerintahkan orang-orang yang beriman dan menganjurkan mereka untuk bertakwa kepada Allah dan memenuhi janji, kemudian agar tidak mentaati orang-orang kafir, juga orang-orang munafik yang mereka minta agar orang-orang yang beriman beribadah kepada tuhan-tuhan dan sesembahan-sesembahan mereka yang buruk. Allah menjelaskan bahwa diri-Nya mengetahui yang tersembunyi atas urusan hamba-Nya, dan memiliki hikmah dalam urusan hamba-Nya.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Maksudnya, wahai orang yang dikaruniakan kenabian oleh Allah, dikhususkan dengan wahyunya, dan dilebihkan di antara sekian makhluk-Nya! Syukurilah nikmat Tuhanmu yang dilimpahkan kepadamu dengan melakukan ketakwaan kepada-Nya, di mana engkau lebih harus bertakwa daripada selainmu, kewajibanmu lebih besar daripada selainmu, maka kerjakanlah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya serta sampaikanlah risalah dan wahyu-Nya serta berikanlah sikap tulus (nasihat) kepada makhluk-Nya. Jangan sampai ada yang menghalangimu dari tujuan ini, oleh karenanya janganlah menaati setiap orang kafir yang menampakkan permusuhan kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang munafik yang menyembunyikan kekafiran dan pendustaan, tetapi yang ia tampakkan malah sebaliknya. Janganlah menaati mereka dalam sebagian perkara yang berlawanan dengan ketakwaan, dan jangan ikuti hawa nafsu mereka, sehingga nantinya mereka menyesatkanmu dari jalan yang lurus.

Yakni tetaplah bertakwa kepada-Nya.

Dalam hal yang menyelisihi syariatmu.

Apa yang akan terjadi sebelum terjadinya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Disebut surah Al-Ahzab karena kandungannya berisi tentang peristiwa perang khandaq atau ahzab yang terjadi di kota Madinah antara kaum musyrik quraisy dan Ghathafan, dengan kesepakatan dengan orang Yahudi Bani Quraidzah untuk memerangi umat Islam,

1. Wahai Nabi, giatlah kamu untuk taat kepada Allah, dan hendaklah orang-orang mukmin takut kepada Allah sebab kamu telah menjadi contoh bagi mereka. Janganlah kamu taat kepada orang kafir dan orang munafik. Yang mengajakmu dengan cara toleransi dan kelembutan, berpaling meninggalkan Tuhan mereka dengan cara yang buruk, sesungguuhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum diciptakan, Maha Bijaksana atas apa yang diciptakan dan diatur, memerintah dan melarang, para Ulama’ Tafsir berkata: orang-orang Musyrik mengajak Rasulullah SAW untuk menolak untuk menyebut Tuhan-Tuhan mereka dengan sebutan yang buruk, dan hendaknya Rasul menjawab: Sesungguhnya dalam ayat ini mengandung syafaat, renungkanlah itu dan itulah sebab turunnya ayat ini