Skip to content

Al-Qur'an Surat Ali 'Imran Ayat 110

Ali 'Imran Ayat ke-110 ~ Quran Terjemah Perkata (Word By Word) English-Indonesian dan Tafsir Bahasa Indonesia

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ( اٰل عمران : ١١٠)

kuntum
كُنتُمْ
You are
kalian adalah
khayra
خَيْرَ
(the) best
sebaik-baik
ummatin
أُمَّةٍ
(of) people
ummat
ukh'rijat
أُخْرِجَتْ
raised
dikeluarkan/dilahirkan
lilnnāsi
لِلنَّاسِ
for the mankind -
bagi/untuk manusia
tamurūna
تَأْمُرُونَ
enjoining
kamu menyuruh
bil-maʿrūfi
بِٱلْمَعْرُوفِ
the right
dengan/kepada kebaikan
watanhawna
وَتَنْهَوْنَ
and forbidding
dan kamu mencegah
ʿani
عَنِ
[from]
dari
l-munkari
ٱلْمُنكَرِ
the wrong
mungkar
watu'minūna
وَتُؤْمِنُونَ
and believing
dan kamu beriman
bil-lahi
بِٱللَّهِۗ
in Allah
kepada Allah
walaw
وَلَوْ
And if
dan sekiranya
āmana
ءَامَنَ
believed
beriman
ahlu
أَهْلُ
(the) People
Ahli
l-kitābi
ٱلْكِتَٰبِ
(of) the Book
Kitab
lakāna
لَكَانَ
surely would have been
tentulah itu
khayran
خَيْرًا
good
lebih baik
lahum
لَّهُمۚ
for them
bagi mereka
min'humu
مِّنْهُمُ
Among them
diantara mereka
l-mu'minūna
ٱلْمُؤْمِنُونَ
(are) the believers
orang-orang yang beriman
wa-aktharuhumu
وَأَكْثَرُهُمُ
but most of them
dan kebanyakan mereka
l-fāsiqūna
ٱلْفَٰسِقُونَ
(are) defiantly disobedient
orang-orang yang fasik

Transliterasi Latin:

Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh, walau āmana ahlul-kitābi lakāna khairal lahum, min-humul-mu`minụna wa akṡaruhumul-fāsiqụn (QS. 3:110)

English Sahih:

You are the best nation produced [as an example] for mankind. You enjoin what is right and forbid what is wrong and believe in Allah. If only the People of the Scripture had believed, it would have been better for them. Among them are believers, but most of them are defiantly disobedient. (QS. [3]Ali 'Imran verse 110)

Arti / Terjemahan:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali 'Imran ayat 110)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Setelah Allah menjelaskan kewajiban berdakwah bagi umat Islam dan menjaga persatuan dan kesatuan, maka dalam ayat ini dijelaskan bahwa kewajiban tersebut dikarenakan kamu (umat Islam) adalah umat terbaik dan paling utama di sisi Allah yang dilahirkan, yaitu ditampakkan untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah dengan iman yang benar, sehingga kalian menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta beriman kepada rasul-rasul-Nya. Itulah tiga faktor yang menjadi sebab umat Islam mendapat julukan umat terbaik. Sekiranya Ahli Kitab beriman sebagaimana umat Islam beriman, menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar serta tidak bercerai berai dan berselisih tentang kebenaran ajaran agama Allah, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Kenyataannya di antara mereka ada yang beriman sebagaimana imannya umat Islam, sehingga sebagian kecil dari mereka ini pantas mendapat julukan sebaik-baik umat, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik, tidak mau mengikuti petunjuk dan tidak taat kepada Allah serta mengingkari syariat-Nya.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin agar tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan agar mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi.
Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum Muslimin pada masa Nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah-belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (al-hujurat/49: 15)

Jadi ada dua syarat untuk menjadi umat terbaik di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama, iman yang kuat dan, kedua, menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila kedua hal itu diabaikan dan tidak dipedulikan lagi, maka tidak dapat disesalkan bila umat itu jatuh ke lembah kemelaratan.
Ahli Kitab itu jika beriman tentulah lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di antara mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan kebanyakan mereka adalah orang fasik, tidak mau beriman, mereka percaya kepada sebagian kitab suci dan kafir kepada sebagiannya yang lain, atau mereka percaya kepada sebagian rasul seperti Musa dan Isa dan kafir kepada Nabi Muhammad saw.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Adalah kamu) hai umat Muhammad dalam ilmu Allah swt. (sebaik-baik umat yang dikeluarkan) yang ditampilkan (buat manusia, menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar serta beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, adalah ia) yakni keimanan itu (lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman) misalnya Abdullah bin Salam r.a. dan sahabat-sahabatnya (tetapi kebanyakan mereka orang-orang yang fasik) kafir.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah memberitahukan kepada umat Nabi Muhammad Saw. bahwa mereka adalah sebaik-baik umat. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, dari Sufyan ibnu Maisarah, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a. sehubungan dengan firman-Nya: Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran:110) Abu Hurairah r.a. mengatakan, makna yang dimaksud ialah sebaik-baik manusia untuk umat manusia, kalian datang membawa mereka dalam keadaan terbelenggu pada lehernya dengan rantai, selanjutnya mereka masuk Islam.

Dengan kata lain, mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling bermanfaat buat umat manusia. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

...menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Sammak, dari Abdullah ibnu Umairah, dari Durrah binti Abu Lahab yang menceritakan: Seorang lelaki berdiri menunjukkan dirinya kepada Nabi Saw. yang saat itu berada di atas mimbar, lalu lelaki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?" Nabi Saw. menjawab, "Manusia yang terbaik ialah yang paling pandai membaca Al-Qur'an dan paling bertakwa di antara mereka kepada Allah, serta paling gencar dalam melakukan amar makruf dan nahi munkar terhadap mereka, dan paling gemar di antara mereka dalam bersilaturahmi."

Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya, Imam Nasai di dalam kitab sunannya, dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkan melalui hadis Sammak, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
Bahwa mereka adalah orang-orang yang berhijrah bersama Rasulullah Saw. dari Mekah ke Madinah.

Pendapat yang benar mengatakan bahwa ayat ini mengandung makna umum mencakup semua umat ini dalam setiap generasinya, dan sebaik-baik generasi mereka ialah orang-orang yang Rasulullah Saw. diutus di kalangan mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.

Makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan. (Al Baqarah:143)

Yang dimaksud dengan wasatan ialah yang terpilih.

agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan)manusia. (Al Baqarah:143), hingga akhir ayat

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, kitab Jami' Imam TurmuzL kitab Sunan Ibnu Majah, dan kitab Mustadrak Imam Hakim disebutkan melalui riwayat Hakim ibnu Mu'awiyah ibnu Haidah dari ayahnya yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Kalian adalah umat yang ketujuh puluh, kalianlah yang paling baik dan paling mulia menurut Allah Swt.

Hadis ini cukup terkenal (masyhur), Imam Turmuzi menilainya berpredikat hasan. Telah diriwayatkan hadis yang semisal melalui Mu'az ibnu Jabal dan Abu Sa'id.

Sesungguhnya umat ini menduduki peringkat teratas dalam semua kebajikan tiada lain berkat Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Saw. Karena sesungguhnya beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia dan rasul yang paling dimuliakan di sisi Allah. Allah telah mengutusnya dengan membawa syariat yang sempurna lagi agung yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi dan seorang rasul pun sebelumnya.

Melakukan suatu amal perbuatan sesuai dengan tuntunannya dan jalan yang telah dirintisnya sama kedudukannya dengan banyak amal kebaikan yang dilakukan oleh selain mereka dari kalangan umat terdahulu.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad:

telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Zuhair, dari Abdullah (yakni Ibnu Muhammad ibnu Aqil), dari Muhammad ibnu Ali (yaitu Ibnul Hanafiyyah), bahwa ia pernah mendengar sahabat Ali ibnu Abu Talib r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Aku dianugerahi pemberian yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun." Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah anugerah itu?" Nabi Saw. menjawab, "Aku diberi pertolongan melalui rasa gentar (yang mencekam hati musuh), dan aku diberi semua kunci perbendaharaan bumi, dan aku diberi nama Ahmad, dan debu dijadikan bagiku suci (lagi menyucikan), dan umatku dijadikan sebagai umat yang terbaik."

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari segi ini, sanadnya berpredikat hasan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Ala Al-Hasan ibnu Siwar, telah menceritakan kepada kami Lais, dari Mu'awiyah ibnu Abu Hubaisy, dari Yazid ibnu Maisarah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Abu Darda r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar Abul Qasim Saw. bersabda —menurut Yazid ibnu Maisarah disebutkan bahwa ia belum pernah mendengar Abu Darda menyebutkan nama Kunyah Nabi Saw., baik sebelum ataupun sesudahnya—: Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mengutus sesudahmu suatu umat yang jika mereka mendapatkan apa yang mereka sukai, maka mereka memuji-(Ku) dan bersyukur (kepada-Ku). Dan jika mereka tertimpa apa yang tidak mereka sukai, maka mereka ber-ihtisab (mengharapkan pahala Allah) dan bersabar, padahal tidak ada kesabaran dan tidak ada ilmu." Isa bertanya, "Wahai Tuhanku, bagaimana mereka dapat berbuat demikian, padahal tanpa sabar dan tanpa ilmu?" Allah Swt. berfirman, "Aku beri mereka sebagian dari sifat sabar dan ilmu-Ku."

Banyak hadis yang berkaitan dengan pembahasan ayat ini, bila diketengahkan sangat sesuai.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnul Akhnas, dari seorang lelaki, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku diberi izin untuk memasukkan tujuh puluh ribu orang ke dalam surga tanpa hisab, wajah mereka seperti bulan di malam purnama, hati mereka sama seperti hatinya seorang lelaki. Lalu aku meminta tambah kepada Tuhanku, maka Tuhanku memberikan tambahan kepadaku tiap-tiap orang (dari mereka dapat memasukkan) tujuh puluh ribu orang lagi. Maka Abu Bakar r.a. berkata, "Maka aku berpendapat bahwa hal tersebut sama bilangannya dengan penduduk semua kampung dan semua penduduk daerah pedalaman."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bakr As-Sahmi, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Hassan, dari Al-Qasim ibnu Mihran, dari Musa ibnu Ubaid, dari Maimun ibnu Mihran, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakar, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku tujuh puluh ribu orang yang dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab." Maka Umar berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta tambahan kepada-Nya?" Nabi Saw. menjawab, "Aku telah meminta tambahan kepada-Nya, lalu Dia memberiku untuk setiap seribu orang lelaki (dari mereka) disertai dengan tujuh puluh ribu orang lagi." Umar berkata.”Mengapa engkau tidak meminta tambah lagi kepada-Nya?" Nabi Saw. menjawab, "Aku meminta tambah lagi kepada-Nya, maka Dia memberiku untuk setiap orang disertai dengan tujuh puluh ribu orang lainnya." Umar berkata, "Mengapa engkau tidak meminta tambah lagi?" Nabi menjawab, "Aku telah meminta tambah lagi, dan Dia memberiku sekian." Abdur Rahman ibnu Abu Bakar mengatakan demikian seraya membukakan di antara kedua tangannya. Sedangkan Abdullah ibnu Bakr As-Sahmi mengatakan demikian seraya merentangkan kedua tangannya, juga menciduk pasir. Adapun Hasyim menyebutkan, "Ini adalah dari Allah, bilangannya tidak diketahui banyaknya."

Imam -Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dari Dam-dam ibnu Zur'ah yang mengatakan bahwa Syuraih ibnu Ubaidah telah menceritakan bahwa Sauban mengalami sakit di Himsa, sedangkan di kota Himsa terdapat pula Abdullah ibnu Qart Al-Azdi, tetapi ia tidak menjenguknya. Lalu masuk menemui Sauban seorang lelaki dari Kala'iyyin dengan maksud menjenguknya. Maka Sauban berkata kepadanya, "Apakah engkau dapat menulis?" Lelaki itu menjawab, "Ya." Sauban berkata, "Tulislah!" Lalu Sauban mengimlakan suratnya yang ditujukan kepada Amir Abdullah ibnu Qart yang isinya sebagai berikut: "Dari Sauban, pelayan Rasulullah Saw. Amma Ba'du: Sesungguhnya seandainya Musa dan Isa a.s. mempunyai seorang pelayan yang sedang sakit di dekatmu, kamu harus menjenguknya." Lalu ia menghentikan imlanya dan melipat suratnya, kemudian berkata kepada lelaki tersebut, "Maukah engkau mengantarkan surat ini kepadanya?" Lelaki itu menjawab, "Ya." Lalu lelaki itu berangkat dengan membawa surat Sauban dan menyerahkannya kepada Ibnu Qirt. Ketika Abdullah ibnu Qirt membacanya, lalu ia berdiri dengan kaget, dan orang-orang merasa heran dengan sikapnya itu, apakah terjadi sesuatu pada dirinya? Abdullah ibnu Qirt datang menjenguk Sauban, lalu masuk menemuinya dan duduk di dekatnya selama sesaat, lalu berdiri hendak pergi. Tetapi Sauban memegang kain selendangnya dan berkata, "Duduklah, aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadis yang pernah kudengar dari Rasulullah Saw. Aku pernah mendengar beliau Saw. bersabda: 'Sesungguhnya akan masuk ke dalam surga dari kalangan umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tanpa azab, setiap seribu orang dari mereka disertai dengan tujuh puluh ribu orang lagi'."

Hadis ini hanya diriwayatkan dari jalur ini oleh Imam Ahmad sendiri, sanad semua perawinya siqah dari kalangan ulama kota Himsa di negeri Syam. Hadis ini berpredikat sahih.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ishaq ibnu Zuraiq Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail (yakni Ibnu Iyasy), telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Damdam ibnu Zur'ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Asma Ar-Rahbi, dari Sauban r.a. yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Tuhanku telah menjanjikan kepadaku tujuh puluh ribu orang dari sebagian umatku tidak akan dihisab, setiap seribu orang disertai dengan tujuh puluh ribu orang lainnya.

Barangkali sanad inilah yang dipelihara, yaitu dengan tambahan Abu Asma Ar-Rahbi antara Syuraih dan Sauban.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa kami banyak menerima hadis dari Rasulullah Saw. di suatu malam, kemudian pada pagi harinya kami datang, lalu beliau Saw. bersabda: Semalam ditampilkan kepadaku para nabi, masing-masing bersama umatnya. Maka ada seorang nabi yang lewat hanya dengan ditemani oleh tiga orang, seorang nabi lagi ditemani oleh segolongan orang, seorang nabi lainnya dengan ditemani oleh beberapa orang saja, dan ada pula seorang nabi yang tidak ditemani oleh seorang pun, hingga lewat di hadapanku Musa a.s. dengan ditemani oleh banyak orang dari kaum Bani Israil yang jumlahnya membuat aku kagum. Lalu aku bertanya, "Siapakah mereka itu?" Maka dikatakan (kepadaku), "Ini adalah saudaramu Musa dengan ditemani oleh kaum Bani Israil." Aku bertanya, "Lalu manakah umatku?" Dikatakan (kepadaku), "Lihatlah ke sebelah kananmu" Maka aku memandang (ke arah kanan) dan ternyata aku melihat manusia yang bergelombang-gelombang hingga pemandanganku tertutup oleh wajah mereka. Ketika dikatakan kepadaku, "Apakah engkau puas?" Aku menjawab, "Wahai Tuhanku, aku rela." Nabi Saw. melanjutkan kisahnya, "Lalu dikatakan kepadaku, 'Sesungguhnya bersama mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab'." Kemudian Nabi Saw. bersabda: Tebusan kalian adalah ayah dan ibuku, jika kalian mampu, lakukanlah agar menjadi orang-orang yang termasuk ke dalam tujuh puluh ribu orang itu. Jika kalian tidak mampu, maka jadilah kalian termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bergelombang itu. Dan jika kalian masih tidak mampu juga, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang ada di ufuk (cakrawala) itu, karena sesungguhnya aku telah melihat di sana ada orang-orang yang berdesak-desakan. Maka berdirilah Ukasyah ibnu Mihsan, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikan diriku termasuk di antara mereka," yakni salah seorang di antara tujuh puluh ribu orang itu. Maka Nabi Saw. mendoa untuknya. Lalu berdiri pula lelaki lainnya dan memohon, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk salah seorang dari mereka." Nabi Saw. menjawab, "Engkau telah kedahuluan oleh Ukasyah." Kemudian kami (para sahabat) berbincang-bincang dan mengatakan, "Menurut kalian, siapakah mereka yang tujuh puluh ribu orang itu?" Sebagian dari kami menjawab, "Mereka adalah kaum yang dilahirkan dalam Islam dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun hingga meninggal dunia." Ketika hal tersebut sampai kepada Nabi Saw., maka beliau Saw. menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan ruqyah (pengobatan memakai bacaan), dan tidak pula memakai setrika (pengobatan dengan setrika), serta tidak pula mereka ber-tatayyur dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad dan konteks ini. ia meriwayatkannya melalui Abdus Samad, dari Hisyam, dari Qatadah berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal. Tetapi dalam riwayat ini ditambahkan sesudah sabdanya,

"Aku rela, wahai Tuhanku, aku rela, wahai Tuhanku," yaitu: "Allah berfirman, 'Apakah engkau telah rela?' Aku menjawab, 'Ya.' Allah berfirman, 'Lihatlah ke arah kirimu!' Ketika aku melihat ke arah kiri, tiba-tiba cakrawala tertutup oleh wajah kaum lelaki. Allah berfirman, 'Apakah engkau telah puas?' Aku menjawab, 'Aku rela'."

Dari segi (jalur) ini sanad hadis berpredikat sahih. Imam Ahmad sendirilah yang mengetengahkannya, sedangkan mereka (selain dia) tidak mengetengahkannya.

Hadis yang lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mani', telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Asim, dari Zurr, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang menceritakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: "Ditampakkan kepadaku semua umat di tempat musim (haji), maka diperlihatkan kepadaku umatku, lalu aku melihat mereka dan ternyata jumlah mereka yang banyak dan penampilan mereka membuatku kagum, mereka memenuhi seluruh lembah dan perbukitan. Lalu Allah berfirman, 'Apakah engkau rela, hai Muhammad?' Aku menjawab, 'Ya.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya bersama mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan ruqyah, tidak pernah ber-tatayyur, dan hanya kepada Tuhan sajalah mereka bertawakal'." Lalu berdirilah Ukasyah ibnu Mihsan dan berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku termasuk dari mereka." Nabi Saw. menjawab, "Engkau salah seorang dari mereka." Lalu ada lelaki lainnya berkata, "Doakanlah kepada Allah semoga Dia menjadikan aku termasuk di antara mereka (yang masuk surga tanpa hisab itu)." Nabi Saw. menjawab, "Permintaanmu itu telah kedahuluan oleh Ukasyah."

Al-Hafiz Ad-Diya Al-Maqdisi meriwayatkannya, dan ia mengatakan, "Hadis ini menurutku dengan syarat Muslim."

Hadis lain.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muhammad Al-Jazu'i Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Uqbah ibnu Makram, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Imran ibnu Husain yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sebagian dari umatku kelak masuk surga sebanyak tujuh puluh ribu orang, tanpa hisab dan tanpa azab. Ketika ditanyakan kepada beliau Saw., "Siapakah mereka itu?" Maka Nabi Saw. menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan ruqyah, tidak pernah berobat memakai setrika, dan tidak pernah ber-tatayyur, hanya kepada Tuhan sajalah mereka bertawakal.

Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Hisyam ibnu Hassan, tetapi dalam hadis Imam Muslim disebutkan perihal Ukasyah.

Hadis lain ditetapkan di dalam kitab Sahihain:

melalui riwayat Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa sahabat Abu Hurairah r.a. pernah menceritakan hadis berikut kepadanya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Segolongan dari umatku kelak masuk surga yang jumlahnya adalah tujuh puluh ribu orang, wajah mereka bersinar seperti bulan di malam purnama. Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Ukasyah ibnu Mihsan Al-Asadi berdiri seraya mengangkat baju namirahnya, kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku salah seorang dari mereka." Rasulullah Saw. berdoa: Ya Allah, jadikanlah dia termasuk di antara mereka. Kemudian berdiri pula lelaki lain dari kalangan Ansar dan mengatakan hal yang sama, tetapi Nabi Saw. bersabda: Ukasyah telah mendahuluimu memperoleh doa itu.

Hadis lain.

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Usman, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, dari Abu Hazim, dari As-Sahl ibnu Sa'd, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Sebagian dari umatku yang jumlahnya ada tujuh puluh ribu orang atau tujuh ratus ribu orang, sebagian dari mereka menolong sebagian yang lain, hingga orang yang pertama dan orang yang terakhir dari mereka masuk ke dalam surga semuanya. Wajah mereka seperti rembulan di malam purnama.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan bersama-sama hadis ini melalui Qutaibah, dari Abdul Aziz ibnu Abu Hazim, dari ayahnya, dari Sahl dengan lafaz yang sama.

Hadis lain.

Imam Muslim ibnul Hajjaj mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Said ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa ketika ia berada di rumah Sa'id ibnu Jubair, maka Sa'id ibnu Jubair berkata, "Siapakah dari kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?" Aku (Husain ibnu Abdur Rahman) menjawab, "Aku." Kemudian aku berkata, "Adapun aku tidak berada dalam salatku karena aku tersengat (oleh binatang berbisa)." Sa'id ibnu Jubair bertanya, "Lalu apa yang kamu lakukan?" Aku menjawab, "Aku melakukan ruqyah." Sa'id ibnu Jubair bertanya, "Apakah hal yang mendorongmu melakukan hal tersebut?" Aku menjawab, "Sebuah hadis yang diceritakan kepada kami oleh Asy-Sya'bi." Sa'id ibnu Jubair bertanya, "Apakah yang diceritakan Asy-Sya'bi kepada kalian?" Aku menjawab bahwa Asy-Sya'bi pernah menceritakan kepada kami dari Buraidah ibnul Hasib Al-Aslami bahwa ia pernah mengatakan, "Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit 'ain atau demam!' Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa sesungguhnya memang baik seseorang yang berpegang kepada apa yang didengar oleh Asy-Sya'bi, tetapi Ibnu Abbas pernah menceritakan kepada kami dari Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Ditampilkan kepadaku seluruh umat, maka aku melihat ada seorang nabi yang hanya ditemani segolongan kecil manusia, dan nabi lain yang hanya ditemani oleh seorang dan dua orang lelaki, serta seorang nabi yang lainnya lagi tanpa ditemani oleh seorang pun. Kemudian ditampilkan kepadaku sejumlah besar manusia, maka aku menduga bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, "Ini adalah Musa dan kaumnya, tetapi lihallah ke arah cakrawala itu!" Maka aku memandang ke arah itu, dan tiba-tiba aku melihat golongan yang amat besar, lalu dikatakan kepadaku, "Lihallah ke arah cakrawala yang lain!" Tiba-tiba aku melihat segolongan yang amat besar lagi. Kemudian dikatakan kepadaku, "Ini adalah umatmu, bersama mereka terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab." Kemudian Rasulullah Saw. bangkit dari majelisnya dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang-orang ramai membicarakan perihal mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab itu. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa barangkali mereka itu adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasul Saw., sedangkan sebagian yang lain mengatakan barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun. Mereka membicarakan pula hal-hal lainnya. Lalu Rasulullah Saw. keluar menemui mereka dan bersabda, "Apakah yang sedang kalian bicarakan?" Mereka memberitahukan kepadanya apa yang sedang mereka bicarakan, lalu Rasulullah Saw. menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melakukan ruqyah dan tidak pernah meminta ruqyah, tidak pernah berobat dengan setrika dan tidak pernah ber-tatayyur, hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." Maka berdirilah Ukasyah ibnu Mihsan, lalu berkala, "Doakanlah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku termasuk di antara mereka." Nabi Saw. menjawab, "Engkau termasuk di antara mereka." Kemudian berdiri pula lelaki lain dan mengatakan, "Doakanlah kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku termasuk mereka." Nabi Saw. bersabda, "Engkau telah kedahuluan oleh Ukasyah dalam memperoleh doa itu."

Imam Bukhari mengetengahkannya melalui Usaid ibnu Zaid, dari Hasyim, tetapi tidak disebutkan, "Tidak pernah melakukan ruqyah."

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Ubadah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jarir, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa ia pernah mendengar dari Rasulullah Saw. sebuah hadis yang antara lain disebutkan: Maka selamatlah golongan pertama yang wajah mereka adalah seperti rembulan di malam purnama dan mereka tidak dihisab. Kemudian orang-orang yang mengiringi mereka yang cahayanya sama dengan bintang-bintang di langit. Kemudian disebutkan hingga akhir hadis.

Imam Muslim meriwayatkannya dari hadis Rauh, hanya di dalam hadisnya tidak disebutkan Nabi Saw.

Hadis lain.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Khulaid, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Salam, dari Yazid ibnu Salam yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Amir, bahwa Qais Al-Kindi pernah menceritakan hadis kepadanya bahwa Abu Sa'id Al-Anmari pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Tuhanku telah menjanjikan kepadaku akan memasukkan ke dalam surga sebanyak tujuh puluh ribu orang dari kalangan umatku tanpa hisab, dan setiap seribu orang dapat memberi syafaat kepada tujuh puluh ribu orang. Kemudian Tuhanku meraup dengan kedua telapak tangan (kekuasaan)-Nya sebanyak tiga kali cidukan. Demikianlah menurut Qais. Maka aku bertanya kepada Abu Sa'id, "Apakah engkau yang mendengarnya dari Rasulullah Saw.?" Abu Sa'id menjawab, "Ya, dengan kedua telingaku, lalu kuhafal baik-baik." Abu Sa'id mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda pula: Jumlah yang sedemikian itu jika Allah menghendaki dapat mencakup semua Muhajirin dari umatku, sedangkan sisanya ditunaikan oleh Allah dari kalangan orang-orang Badui kami.

Hadis lain termasuk hadis-hadis yang menceritakan keutamaan, kemuliaan, dan kehormatan umat ini menurut Allah Swt. yang kesimpulannya menyatakan bahwa umat ini adalah umat yang terbaik di dunia dan akhirat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, ia pernah mendengar Jabir mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: "Sesungguhnya aku berharap semoga orang-orang yang mengikutiku dari kalangan umatku kelak di hari kiamat adalah seperempat ahli surga." Maka kami bertakbir, kemudian Nabi Saw. bersabda, "Aku berharap semoga mereka berjumlah sepertiga manusia semuanya." Maka kami bertakbir, kemudian beliau bersabda, "Aku berharap semoga mereka berjumlah separo umat manusia."

Demikian pula hal yang diriwayatkan oleh Rauh dari Ibnu Juraij dengan lafaz yang sama, tetapi hadis ini dengan syarat Imam Muslim.

Telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Abu Ishaq As-Subai'i, dari Amr ibnu Maimun, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada kami:

"Tidakkah kalian rela bila kalian adalah seperempat ahli surga." Maka kami bertakbir, kemudian beliau bersabda, "Tidakkah kalian rela bila kalian adalah sepertiga ahli surga." Maka kami bertakbir, kemudian beliau Saw. bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga kalian adalah separo penduduk surga."

Jalur lain dari Ibnu Mas'ud.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Musawir, telah menceritakan kepada kami Affan ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritakan kepadaku Al-Haris ibnu Husain, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Bagaimanakah menurut kalian bila seperempat penduduk surga adalah kalian, sedangkan bagi orang-orang lain adalah tiga perempatnya." Mereka berkata, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw. bersabda, "Bagaimanakah kalian bila sepertiganya?" Mereka menjawab, "Jumlah itu lebih banyak." Rasulullah Saw. bersabda, "Bagaimanakah menurut kalian bila separo penduduk surga adalah kalian?" Mereka menjawab, "Jumlah itu lebih banyak lagi." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Ahli surga terdiri atas seratus dua puluh saf, untuk kalian adalah delapan puluh saf darinya."

Imam Tabrani mengatakan bahwa hadis ini hanya diriwayatkan sendiri oleh Al-Haris ibnu Husain.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Dirar ibnu Murrah (yaitu Abu Sinan Asy-Syaibani), dari Muharib ibnu Dinar, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Penduduk surga terdiri atas seratus dua puluh saf, bagian umat ini dari jumlah tersebut adalah delapan puluh saf.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah mengatakan: Kami adalah orang-orang yang terakhir, tetapi orang-orang yang pertama di hari kiamat. Kami adalah orang-orang yang mula-mula masuk surga, hanya saja mereka diberi Al-Kitab sebelum kami, sedangkan kami diberi Al-Kitab sesudah mereka. Karena itu, maka Allah memberi petunjuk kami perihal sebagian perkara hak yang mereka perselisihkan, dan hari inilah yang dahulu selalu mereka perselisihkan mengenainya. Manusia lain sehubungan dengan hari ini adalah mengikuti kami, besok untuk orang-orang Yahudi (yakni hari Sabtu) dan lusa (hari Ahad) adalah untuk orang-orang Nasrani.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abdullah ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. secara marfu dengan lafaz yang semakna.

Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui jalur Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulul-lah Saw. pernah bersabda:

Kita adalah orang-orang yang terakhir, tetapi orang-orang yang pertama di hari kiamat, dan kita adalah orang yang mula-mula masuk surga.

Lalu Imam Muslim menuturkan hadis ini hingga selesai.

Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Daruqutni di dalam kitab Al-Afrad melalui hadis Abdullah ibnu Muhammad ibnu Uqail, dari Az-Zuhri, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Umar ibnul Khattab r.a., bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

Sesungguhnya surga itu dilarang atas semua nabi sebelum aku memasukinya, dan diharamkan atas seluruh umat sebelum umatku memasukinya.

Kemudian Imam Daruqutni mengatakan bahwa hadis ini hanya diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Uqail dari Az-Zuhri, dan tiada orang (perawi) lain yang meriwayatkan hadis ini darinya (yakni Az-Zuhri). Hadis ini juga hanya diriwayatkan oleh Zuhair ibnu Muhammad, dari Ibnu Uqail, dan hadis ini hanya diriwayatkan pula oleh Amr ibnu Abu Salamah, dari Zuhair.

Abu Ahmad ibnu Addi Al-Hafiz meriwayatkan hadis ini. Untuk itu dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Husain ibnul Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-A'yun (yaitu Muhammad ibnu Abu Gayyas), telah menceritakan kepada kami Abu Hafs At-Tanisi, telah menceritakan kepada kami Sadaqah Ad-Dimasyqi, dari Zuhair ibnu Muhammad, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Az-Zuhri.

Semua hadis yang disebutkan di atas terangkum ke dalam makna firman-Nya:

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Barang siapa yang memiliki sifat tersebut dari kalangan umat ini, berarti dirinya termasuk orang yang terpuji melalui ayat ini.

Barang siapa yang tidak memiliki sifat ini, maka ia lebih mirip dengan orang Ahli Kitab yang dicela oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. (Al Maidah:79), hingga akhir ayat.

Karena itu, setelah Allah memuji umat ini karena memiliki sifat-sifat tersebut, lalu dalam ayat selanjutnya Allah mencela Ahli Kitab dan menyesalkan perbuatan mereka. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Sekiranya Ahli Kitab beriman...

Yakni beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur'an.

...tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Maksudnya, sedikit sekali dari mereka yang beriman kepada Allah dan Kitab yang diturunkan kepada kalian, juga kepada apa yang diturunkan kepada mereka sendiri. Kebanyakan dari mereka bergelimang di dalam kesesatan, kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

Kalian, wahai umat Muhammad, adalah umat paling baik yang diciptakan Allah di muka bumi untuk manfaat orang banyak. Yaitu, selama kalian tetap berpegang pada prinsip al-amr bi al-ma'rûf wa al-nahy 'an al-munkar dan beriman dengan sesungguhnya kepada Allah. Kalau saja Ahl al-Kitâb jujur seperti kalian dalam beriman, hal itu tentu lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka lakukan sekarang. Akan tetapi, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan lainnya keluar dari batas-batas keimanan.