Skip to content

Al-Qur'an Surat Al-Furqan Ayat 69

Al-Furqan Ayat ke-69 ~ Quran Terjemah Perkata (Word By Word) English-Indonesian dan Tafsir Bahasa Indonesia

يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ ( الفرقان : ٦٩)

yuḍāʿaf
يُضَٰعَفْ
Will be doubled
akan dilipatgandakan
lahu
لَهُ
for him
untuknya
l-ʿadhābu
ٱلْعَذَابُ
the punishment
azab
yawma
يَوْمَ
(on the) Day
hari
l-qiyāmati
ٱلْقِيَٰمَةِ
(of) Resurrection
kiamat
wayakhlud
وَيَخْلُدْ
and he will abide forever
dan dia kekal
fīhi
فِيهِۦ
therein
didalamnya/dalam azab
muhānan
مُهَانًا
humiliated
terhina

Transliterasi Latin:

Yuḍā'af lahul-'ażābu yaumal-qiyāmati wa yakhlud fīhī muhānā (QS. 25:69)

English Sahih:

Multiplied for him is the punishment on the Day of Resurrection, and he will abide therein humiliated – (QS. [25]Al-Furqan verse 69)

Arti / Terjemahan:

(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, (QS. Al-Furqan ayat 69)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Bagi orang yang melakukan tiga perbuatan buruk diatas akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina. Inilah siksaan yang luar biasa besarnya, meliputi siksa lahir, berupa panasnya api neraka, dan batin berupa kehidupan yang hina.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Keenam: Pada ayat ini, Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadah, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, dan bila dia berbuat kebajikan, perbuatannya itu karena Allah bukan karena dia atau ingin dipuji orang. Bila dia berdoa, benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tidak melalui perantara. Dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata.
Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi hak atas dirinya. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya, dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak, akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan. Hak setiap warga masyarakat akan terpelihara dengan baik sehingga mereka benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidakstabilan.
Sehubungan dengan hal ini, dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:
'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, 'Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakan kamu. Aku bertanya pula, 'Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, 'Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu. Kemudian aku bertanya lagi, 'Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, 'Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Allah menurunkan ayat ini untuk membenarkan sabda Nabi Muhammad." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari Kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipatgandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lakukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di sana. Di samping menderita siksaan jasmani seperti minuman yang sangat panas yang membakar kerongkongan dan usus mereka, mereka juga mendapat siksaan batin atau rohani, karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesali kesalahan mereka sewaktu di dunia dahulu.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Yakni akan dilipatkan) menurut qiraat yang lain ia dibaca Yudha'afu dengan ditasydidkan huruf `Ainnya (azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu) Fi'il tadi bila dibaca Jazm yakni Yudha'af dan Yakhlud maka kedudukannya menjadi Badal, jika keduanya dibaca Rafa' yakni Yudha'afu dan Yakhludu berarti keduanya merupakan jumlah Isti'naf (dalam keadaan terhina) lafal Muhaanan berkedudukan menjadi Hal atau keterangan keadaan.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Takwil ini lebih serasi dengan makna lahiriah ayat, dan dengan pengertian yang sama disebutkan dalam konteks selanjutnya yang berfungsi sebagai mubdal minhu-nya, yaitu firman Allah Swt.:

(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat. (Al-Furqan:69)

Yakni siksaan itu diulang-ulang terhadapnya dan diperkeras.

dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. (Al Furqaan:69)

Maksudnya, dalam keadaan terhina lagi rendah.

Firman Allah Swt.:

kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh. (Al Furqaan:70)

Artinya, pembalasan dari perbuatannya yang buruk-buruk adalah seperti yang telah disebutkan di atas.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

Pada hari kiamat, dia akan mendapatkan siksa yang berlipat ganda dan kekal di dalamnya dalam keadaan hina dan tercela.