Skip to content

Al-Qur'an Surat Al-Mu'minun Ayat 25

Al-Mu'minun Ayat ke-25 ~ Quran Terjemah Perkata (Word By Word) English-Indonesian dan Tafsir Bahasa Indonesia

اِنْ هُوَ اِلَّا رَجُلٌۢ بِهٖ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوْا بِهٖ حَتّٰى حِيْنٍ ( المؤمنون : ٢٥)

in
إِنْ
Not
jika
huwa
هُوَ
he
dia
illā
إِلَّا
(is) but
kecuali/hanyalah
rajulun
رَجُلٌۢ
a man
seorang laki-laki
bihi
بِهِۦ
in him
dengannya
jinnatun
جِنَّةٌ
(is) madness
gila
fatarabbaṣū
فَتَرَبَّصُوا۟
so wait
maka tunggulah
bihi
بِهِۦ
concerning him
dengannya/terhadapnya
ḥattā
حَتَّىٰ
until
sehingga/sampai
ḥīnin
حِينٍ
a time"
suatu waktu

Transliterasi Latin:

In huwa illā rajulum bihī jinnatun fa tarabbaṣụ bihī ḥattā ḥīn (QS. 23:25)

English Sahih:

He is not but a man possessed with madness, so wait concerning him for a time." (QS. [23]Al-Mu'minun verse 25)

Arti / Terjemahan:

La tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu". (QS. Al-Mu'minun ayat 25)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Para pemuka orang kafir itu melanjutkan, “Dia, yakni Nuh, hanyalah seorang laki-laki yang gila sehingga dia ingin menonjolkan diri, maka tunggulah terhadapnya, yakni bersabarlah kamu, sampai waktu yang ditentukan di mana dia sembuh atau meninggal dunia.”  

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang kafir akibat pandangan mereka yang meremehkan posisi Nuh sebagai rasul. Mereka mengatakan bahwa Nuh tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang miring otaknya, yang berbicara seenaknya, dan apa yang diucapkannya tidak beralasan sama sekali, sehingga tidak perlu dilayani. Oleh karena itu, mereka meminta kepada kaumnya untuk sabar sampai Nuh pada suatu waktu sadar dan kembali ke keadaannya yang normal dan kembali memeluk agama nenek moyang mereka. Ucapan mereka itu menunjukkan keingkarannya, padahal mereka mengetahui, bahwa Nuh orang yang paling cerdas pikirannya di antara mereka.
Menyimak perkataan kaum Nabi Nuh, yang menolak kedudukannya sebagai rasul, bisa dikatakan bahwa setiap rasul seharusnya memiliki kelebihan dari umatnya dari segi akhlak dan mukjizat. Seorang rasul kedudukannya harus lebih tinggi karena dengan demikian semua petunjuknya akan diikuti. Di samping itu seorang rasul harus berwibawa, supaya dengan wibawanya ia dapat memimpin umatnya ke jalan yang benar, dan rasul itu maksum, yakni terpelihara dari segala dosa termasuk kesombongan. Ucapan mereka bahwa seruan kepada ketauhidan itu belum pernah mereka terima dari nenek moyang mereka dahulu. Padahal ucapan mereka itu tidak cukup untuk dijadikan alasan menolak risalah Nuh. Tuduhan mereka bahwa Nabi Nuh menderita sakit ingatan, bertentangan dengan kenyataan yang mereka lihat dan alami sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Ia tiada lain) maksudnya Nuh ini tidak lain (hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila) dalam keadaan gila (maka tunggulah terhadapnya) tunggulah dia, atau biarkanlah dia (sampai suatu waktu") hingga saat kematiannya. Maksud mereka biarkanlah dia begitu, nanti juga mati sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Firman Allah Swt.:

Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila.

Maksudnya, gila dengan pengakuannya yang menyatakan bahwa Allah mengutusnya kepada mereka, dan hanya dirinyalah yang menerima wahyu dari Allah di antara kalian.

maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu.

Yaitu tunggulah sampai maut datang merenggutnya, dan bersabarlah kalian terhadap Nuh selama beberapa saat, sesudah itu kalian akan terbebas darinya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

"Nûh tak lain hanyalah seorang yang gila," kata mereka lagi. "Bersabarlah dan tunggulah saat terungkap kegilaan Nûh atau saat kehancurannya nanti."