Al-Qur'an Surat Al-Anbiya' Ayat 1

Al-Anbiya': 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ

iq'taraba
اِقْتَرَبَ
telah dekat
lilnnasi
لِلنَّاسِ
bagi/kepada manusia
hisabuhum
حِسَابُهُمْ
perhitungan mereka
wahum
وَ هُمْ
dan/sedang mereka
fi
فِیْ
dalam
ghaflatin
غَفْلَةٍ
kelalaian
mu'riduna
مُّعْرِضُوْنَۚ
orang-orang yang berpaling

Transliterasi Latin:

Iqtaraba lin-nāsi ḥisābuhum wa hum fī gaflatim mu'riḍụn (QS. 21:1)

Arti / Terjemahan:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). (QS. Al-Anbiya' ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Telah semakin dekat kepada manusia, yang kafir dan yang menyekutukan Allah, perhitungan amal mereka, pada hari Kiamat tentang semua yang mereka kerjakan di dunia, sedang mereka dalam keadaan lalai tentang dahsyatnya hari Kiamat, karena kesibukan mereka tentang dunia, mereka berpaling dari iman terhadap akhirat.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa hari hisab atau perhitungan amal untuk manusia sudah dekat. Pada hari hisab itu kelak akan diperhitungkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan selagi mereka hidup di dunia. Selain itu, semua nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka diminta pertanggungjawabannya, baik nikmat yang ada pada diri mereka sendiri, seperti akal pikiran, makanan dan minuman, serta anak keturunan dan harta benda. Mereka akan ditanya, apa yang telah mereka perbuat dengan semua nikmat itu? Apakah karunia Allah tersebut mereka gunakan untuk berbuat kebajikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya, ataukah semuanya itu digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang membuktikan keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada-Nya?
Allah menegaskan bahwa manusia sesungguhnya lalai terhadap apa yang akan diperbuat Allah kelak terhadap mereka di hari Kiamat. Kelalaian itulah yang menyebabkan mereka tidak mau berpikir mengenai hari Kiamat, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjaga keselamatan diri mereka dari azab Allah.
Orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum musyrikin. Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya hari Kiamat, dan mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari hisab. Namun demikian, ayat ini memperingatkan kepada mereka bahwa hari hisab sudah dekat. Ini adalah untuk menekankan, bahwa hari Kiamat, termasuk hari kebangkitan dan hari hisab, pasti akan datang, walaupun mereka itu tidak mempercayainya; dan hari hisab itu akan diikuti pula oleh hari-hari pembalasan terhadap amal-amal yang baik atau pun yang buruk.
Kaum musyrikin itu lalai dan tidak mau berpikir tentang nasib jelek yang akan mereka temui kelak pada hari hisab dan hari pembalasan itu. Padahal, dengan akal sehat semata, orang dapat meyakini, bahwa perbuatan yang baik sepantasnya dibalas dengan kebaikan, dan perbuatan yang jahat sepatutnya dibalas dengan azab dan siksa. Akan tetapi karena mereka itu tidak mau memikirkan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat kelak, maka mereka senantiasa memalingkan muka dan menutup telinga, setiap kali mereka diperingatkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, yang berisi ancaman dan sebagainya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Telah dekat kepada manusia) kepada penduduk Mekah yang ingkar terhadap adanya hari berbangkit (hari penghisaban mereka) yaitu hari kiamat (sedang mereka berada dalam kelalaian) daripadanya (lagi berpaling) tidak bersiap-siap untuk menghadapinya, yaitu dengan bekal iman.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Hal ini merupakan suatu peringatan dari Allah Swt. yang menyatakan dekatnya hari kiamat dan bahwa manusia dalam keadaan lalai terhadap keberadaannya, yakni mereka tidak mau beramal dan tidak mau membuat bekal untuk menyambutnya.

Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Nasr, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Abdul Malik Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
Bahwa mereka di dunia lalai terhadap hari kiamat.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang). (An Nahl:1)

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling. (Al Qamar:1-2), hingga akhir ayat.

Ketika ditanyakan kepadanya, "Dari manakah engkau menyimpulkan kalimat ini?" Abul Atahiyah menjawab bahwa ia menyimpulkannya dan firman Allah Swt. yang mengatakan:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).

Ibnu Asakir meriwayatkan pula di dalam biografi Amir ibnu Rabi'ah melalui jalur Musa ibnu Ubaid Al-Amadi, dari Abdur Rahman ibnu Za’d bin Aslam, dari ayahnya, dari Amir ibnu Rabi'ah, bahwa ia kedatangan seorang tamu dari kalangan orang Badui. Amir memuliakan kedatangannya dan menghormatinya. Sebelumnya Rasulullah SAW telah berbincang-bincang di rumah Amir, tidak lama kemudian lelaki Badui, itu datang. Ia berkata, "Sesungguhnya aku telah memperoleh sebuah lembah di daerah pedalaman dari Rasulullah Saw. Aku bermaksud memberikan sebagian darinya kepadamu. Kelak lahan itu buat kamu dan keturunanmu sesudah kamu tiada." Maka Amir menjawab, "Saya tidak memerlukan bagian tanahmu itu, karena pada hari ini telah diturunkan sebuah surat yang membuat kami merasa ngeri terhadap duniawi," yaitu firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).
Kemudian Allah Swt. menyebutkan bahwa mereka tidak mau mendengarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya.

Khitab atau pembicaraan ayat ini ditujukan kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang yang kafirnya sama dengan mereka.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[21 ~ AL-ANBIYA' (NABI-NABI) Pendahuluan: Makkiyyah, 112 ayat ~ Surat yang termasuk kelompok surat Makkiyyah dan diturunkan setelah surat Ibrâhîm ini mengandung seratus dua belas ayat. Surat ini diawali dengan penjelasan mengenai hari kiamat yang semakin mendekat, sementara orang-orang musyrik tidak memperhatikan hal itu. Mereka beranggapan bahwa semestinya seorang rasul bukanlah manusia. Tentang al-Qur'ân, mereka sesekali menganggapnya sebagai sihir, lain kali sebagai syair, bahkan kadang-kadang sebagai mimpi kosong belaka. Mereka telah diberi peringatan. Selain itu, terdapat pula penjelasan bahwa para rasul hanyalah manusia biasa, seperti Muhammad, misalnya. Juga terdapat keterangan bahwa orang-orang terdahulu pun ada yang mendustakan para rasul seperti kaum Quraisy mendustakan Muhammad. Allah menuturkan kisah tentang kehancuran mereka dalam surat ini, karena memang hanya Dialah yang mempertahankan dan membinasakan suatu bangsa. Dia pulalah yang memiliki kekusaan di langit dan di bumi, sedang malaikat-malaikat selalu bertasbih kepada-Nya di tempat-tempat peredarannya, tanpa pernah merasa lelah. Juga terdapat penjelasan bahwa langit dan bumi yang kokoh ini adalah bukti kemahaesaan penciptanya. Sebab, kalau ada pencipta lain selain Allah yang ikut serta, tentu langit dan bumi akan hancur. Keterangan bahwa semua rasul membawa misi yang sama, yaitu ibadah kepada Allah semata yang tidak mempunyai anak, juga terdapat dalam surat ini. Tidak ada seorang rasul pun yang mengakui adanya tuhan selain Allah. Kalau ada, maka balasannya adalah neraka jahanam. Selanjutnya, dalam surat ini Allah menjelaskan keagungan ciptaan-Nya dan keajaiban langit dan bumi. Pemaparan kondisi orang-orang musyrik dan orang-orang kafir. Mengingatkan bahwa Allah menjaga manusia. Diisaratkan pula akan balasan orang-orang kafir pada hari kiamat. Pemaparan kisah Nabi Mûsâ dan Hârûn dengan Fir'aun, kisah Nabi Ibrâhîm denan kaumnya, karunia Allah berupa keturunanya yang baik. Pemaparan kisah nabi Lûth dan kaumnya yang musnah. dan kisah nabi Nûh dan kekufuran kaumnya sehingga dihancurkan, kecuali orang yang beriman. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kisah nabi Sulaymân (Sulaiman), Dâwûd (Daud), Ismâ'îl (Ismail), Idrîs (Idris), Dzû al-Kifl (Zukifli) dan Nabi Yûnus (Yunus) serta Maryam. Dibicarakan pula tentang Ya'jûj dan Ma'jûj. Penjelasan lain yang dipaparkan dalam surat ini adalah tentang perbuatan saleh dan buah dari perbuatan itu, balasan orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan serta keadaanya pada hari kiamat, rahmat Allah pada misi kenabian Muhammad, peringatan Allah terhadap orang-orang musyrik, dan bahwa segala ketetapan. Hanya Dialah yang menentukan ketetapan, dan Dia adalah penentu ketetapan yang paling adil.]] Hari kiamat, saat perhitungan orang-orang musyrik itu, telah semakin mendekat, sementara mereka melalaikan kedahsyatannya dan menolak untuk mempercayainya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Telah semakin dekat kepada manusia, yang kafir dan yang menyekutukan Allah, perhitungan amal mereka, pada hari kiamat tentang semua yang mereka kerjakan di dunia, sedang mereka dalam keadaan lalai tentang dahsyatnya hari kiamat, karena kesibukan mereka tentang dunia, mereka berpaling dari iman terhadap akhirat. 2. Ingatlah wahai manusia, pada hari ketika kamu melihatnya, goncangan dahsyat pada hari kiamat itu, semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, karena terkejut dan panik; dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, karena goncangan dahsyat itu; dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, seperti orang yang tidak sadar, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk tetapi azab Allah yang terjadi pada hari kiamat itu sangat keras dirasakan oleh orang-orang kafir.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ (Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka)
Yakni telah tekat waktu terjadinya hari kiamat, waktu yang tersisa lebih sedikit daripada yang telah berlalu.

وَهُمْ فِى غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ(sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling)
Itu karena kesibukan mereka dengan kenikmatan kehidupan yang tidak mereka butuhkan, dengan begitu mereka sibuk dengan dunia dari akhirat, dan tidak mempersiapkan kehidupan akhirat.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Telah dekat waktu perhitungan amal perbuatan manusia sehingga mereka akan mendapat siksaan dan pahalanya, namun mereka dalam keadaan lalai terhadap kejadiannya dan sibuk dengan kenikmatan dunia.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Telah semakin dekat kepada manusia waktu perhitungan amalan mereka pada hari Kiamat, sedangkan mereka masih saja berada dalam keadaan lalai dan berpaling dari Akhirat, lantaran dengan perkara dunia.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1. Ini adalah bentuk keheranan terhadap kondisi manusia. Mereka itu, tidak mempan dengan peringatan, dan tidak mau mendekat kepada pemberi peringatan. Padahal sebenarnya sudah dekat masa perhitungan amalan dan pembalasan bagi mereka atas amalan mereka yang baik ataupun buruk. Ternyata mereka berada dalam keadaan, “Kelalaian lagi berpaling (dari padanya),” maksudnya lalai dari tujuan penciptaanya, dan berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka. Seolah-olah merreka tercipta (semata-mata) untuk dunia saja, dan dilahirkan hanya untuk bersenang-senang saja. Sementara itu, Allah masih senantiasa memperbaharui peringatan dan nasihat terhadap mereka, namun mereka masih saja dalam kondisi lalai dan berpaling.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Ayat ini merupakan ta'ajjub (keanehan) terhadap keadaan manusia yang tetap saja lalai dan berpaling, dan seperti inilah keadaan mayoritas manusia -kecuali orang yang mendapatkan ‘inayah (perhatian) dari Allah-, di mana peringatan dan nasehat tidak bermanfaat bagi mereka, padahal hari penghisaban dan pembalasan terhadap amal mereka telah dekat. Mereka lalai terhadap sesuatu yang karenanya mereka diciptakan (ibadah), dan berpaling dari peringatan. Seakan-akan mereka diciptakan untuk dunia, dan untuk bersenang-senanglah mereka dilahirkan ibu mereka. Namun demikian, Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa memperingatkan dan menasehati agar mereka kembali sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, tetapi mereka senantiasa dalam kelalaian lagi berpaling.

Tentang maksud ayat ini ada dua pendapat; pertama, bahwa umat ini (umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) adalah umat terakhir dan rasulnya adalah rasul terakhir, dan kiamat tegak pada umat ini, karena telah dekat penghisabannya jika melihat kepada umat-umat sebelumnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَ السَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ

“(Jarak) aku dibangkitan dengan kiamat itu seperti dua jari ini.” Beliau menghubungkan kedua jarinya, yaitu antara jari telunjuk dengan jari setelahnya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Kedua, maksud dekatnya hisab adalah dekatnya maut, dan bahwa barang siapa mati, maka telah tegak kiamatnya dan telah masuk ke tempat pembalasan amal.

Bisa juga maksudnya, lalai terhadap hari kiamat atau kematian.

Yakni berpaling dari mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata: “Surah Bani Israil, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya’ itu termasuk surah-surah terdahulu dan hartaku yang terdahulu”, yaitu termasuk surah-surah Al-Qur’an yang lebih dahulu dihafalkan.

1. Telah dekat bagi manusia itu masa penghisaban mereka yaitu hari kiamat sedangkan mereka itu disibukkan dengan dunia dan melupakan akhirat serta tidak mau mempersiapkan diri untuk dihisab. Al-Ghaflah asalnya adalah tidak mengingat sesuatu, namun yang dimaksud di sini adalah meninggalkan sesuatu dengan mengabaikan dan melalaikannya.