Skip to content

Al-Qur'an Surat Taha Ayat 51

Taha Ayat ke-51 ~ Quran Terjemah Perkata (Word By Word) English-Indonesian dan Tafsir Bahasa Indonesia

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ الْاُوْلٰى ( طٰهٰ : ٥١)

qāla
قَالَ
He said
(Fir'aun) berkata
famā
فَمَا
"Then what
maka bagaimanakah
bālu
بَالُ
(is the) case
keadaan
l-qurūni
ٱلْقُرُونِ
(of) the generations
kurun/ummat-ummat
l-ūlā
ٱلْأُولَىٰ
(of) the former"
dahulu

Transliterasi Latin:

Qāla fa mā bālul-qurụnil-ụlā (QS. 20:51)

English Sahih:

[Pharaoh] said, "Then what is the case of the former generations?" (QS. [20]Taha verse 51)

Arti / Terjemahan:

Berkata Fir'aun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?" (QS. Taha ayat 51)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Mendengar jawaban Nabi Musa tentang kekuasaan Allah, Fir‘aun berkata, “Jadi, bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu yang telah meninggal dunia, seperti kaum Nabi Nuh, Hud, dan Saleh, yang lebih dulu ingkar?”

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Untuk mengalihkan Musa dari dakwahnya ke suasana yang lain, Firaun bertanya kepadanya, "Wahai Musa, bagaimanakah kira-kira nasibnya di akhirat nanti umat-umat yang dahulu seperti kaum 'Ad, kaum Samud yang tidak menyembah Allah, tetapi mereka menyembah selain Allah. Mereka mempunyai sembahan-sembahan benda mati seperti batu, pohon kayu dan lainnya. Apakah mereka akan dimasukkan ke dalam surga ataukah mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, disiksa dan diazab?" Firaun sengaja berbuat demikian, agar supaya Musa menghentikan dari mengemukakan hujjahnya serta alasan-alasan kuat lainnya yang membenarkan dakwahnya, karena Firaun khawatir kalau-kalau dakwah Musa termakan oleh kaumnya, lalu mereka beriman kepada Musa dan meninggalkan kepercayaannya yang sesat yang mempercayai bahwa Firaun itu adalah tuhan.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Berkatalah ia) yakni Firaun, ("Maka bagaimanakah) keadaan (umat-umat) yakni bangsa-bangsa (yang dahulu?") seperti kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Luth dan kaum Nabi Saleh, tentang penyembahan mereka kepada berhala-berhala.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Berkata Fir'aun, "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?"

Menurut pendapat yang paling sahih sehubungan dengan makna ayat ini, tatkala Fir'aun mendapat berita dari Musa bahwa Tuhan yang mengutusnya adalah Tuhan yang menciptakan makhluk, memberinya rezeki dan menentukan kadar masing-masing serta memberi petunjuk, maka Fir'aun berdalihkan dengan umat-umat terdahulu. Dengan kata lain, umat-umat terdahulu yang tidak menyembah Allah. Yakni mengapa mereka —jika kenyataannya demikian— tidak menyembah Tuhanmu, bahkan mereka menyembah selain-Nya?

Musa berkata kepada Fir’aun, menjawab ucapannya yang demikian itu, bahwa sekalipun mereka tidak menyembah Allah, sesungguhnya amal perbuatan mereka dicatat di sisi Allah, dan kelak Allah akan memberikan balasannya kepada mereka. Catatan yang dimaksud ialah Lauh Mahfuz dan catatan usia segala sesuatu.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

Fir'aun berkata, "Lalu bagaimana dengan orang-orang yang telah lalu?"