Al-Qur'an Surat An-Nahl Ayat 1

An-Nahl: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اَتٰىٓ اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْهُ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

ata
اَتٰۤی
telah/pasti datang
amru
اَمْرُ
ketetapan
al-lahi
اللّٰهِ
Allah
fala
فَلَا
maka janganlah
tasta'jiluhu
تَسْتَعْجِلُوْهُ ؕ
kamu minta disegerakannya
sub'hanahu
سُبْحٰنَهٗ
Maha Suci Dia
wata'ala
وَ تَعٰلٰی
dan Maha Tinggi
amma
عَمَّا
dari apa
yush'rikuna
یُشْرِكُوْنَ 
mereka persekutukan

Transliterasi Latin:

Atā amrullāhi fa lā tasta'jilụh, sub-ḥānahụ wa ta'ālā 'ammā yusyrikụn (QS. 16:1)

Arti / Terjemahan:

Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. An-Nahl ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Allah menegaskan bahwa ketetapan Allah, yaitu hari kiamat dan masa ketika para pendurhaka akan menerima azab, pasti datang, maka janganlah kamu, wahai para pendurhaka, meminta agar dipercepat kedatangan-nya. Mahasuci Allah dari segala aib, kesyirikan, dan kekurangan, dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sembah, berupa berhala atau apa pun juga yang mereka persekutukan dengan Dia.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Allah menegaskan bahwa ketetapan Allah pasti datang. Maksud ketetapan Allah dalam ayat ini ialah hari kiamat yang telah diancamkan kepada kaum musyrik dan orang-orang kafir. Mereka secara berolok-olok meminta kepada Nabi agar azab hari kiamat itu segera didatangkan. Itulah sebabnya, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan bahwa azab Allah yang akan dijatuhkan kepada mereka pasti terjadi. Allah swt melarang mereka agar tidak meminta azab itu disegerakan datangnya, karena azab hari kiamat itu akan datang pada waktu yang telah ditentukan dan diputuskan-Nya.
Dalam ayat ini, Allah swt memberitakan datangnya hari kiamat dengan menggunakan kata kerja bentuk lampau (fi'il madhi) padahal azab itu belum terjadi. Hal ini memberikan pengertian bahwa azab itu betul-betul akan terjadi. Ayat ini mengandung ancaman bagi orang-orang kafir dan sekaligus mengandung pemberitahuan kepada mereka bahwa azab yang akan ditimpakan kepada mereka dan kehancuran mereka telah dekat dan pasti datang.
Allah swt menyatakan bahwa Dia Mahasuci dari apa yang mereka persekutukan. Dia tidak memerlukan sekutu dan pembantu untuk menjatuh-kan azab kepada mereka. Bantahan ini sebagai jawaban terhadap pernyataan mereka bahwa mereka akan meminta bantuan (syafa'at) kepada patung-patung yang mereka sembah.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

Ketika orang-orang musyrik merasa lambat akan datangnya azab yang diancamkan kepada mereka, lalu turunlah firman-Nya: (Telah pasti datangnya ketetapan Allah) yakni hari kiamat. Lafal ataa diungkapkan dalam bentuk fi`il madhi untuk menunjukkan kepastian kejadiannya, artinya telah dekat (maka janganlah kalian meminta disegerakan datangnya) artinya janganlah kalian meminta disegerakan sebelum saatnya karena sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan terjadi (Maha Suci Allah) kalimat ini mengandung makna memahasucikan Dia (dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan) di samping-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. menceritakan tentang dekat masa datangnya hari kiamat, yang hal ini diungkapkan dalam bentuk madi, menunjukkan bahwa hal itu pasti terjadi. Sama halnya dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedangkan mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). (Al Anbiyaa:1)

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (Al Qamar:1)

Adapun firman Allah Swt.:

...maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.

Yakni telah dekat hal yang dianggap jauh itu, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan datangnya. Damir yang ada pada tastajiluhu dapat diinterpretasikan bahwa ia merujuk kepada Allah. Dapat pula diinterpretasikan bahwa ia kembali kepada azab (siksa), keduanya saling menguatkan. Perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir. (Al-'Ankabut: 53-54)

Sehubungan dengan tafsir ayat ini, yaitu firman-Nya: Telah pasti datangnya ketetapan Allah. (An Nahl:1) Ad-Dahhak mengemukakan suatu pendapat yang aneh. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan amrullah ialah hal-hal yang difardukan oleh-Nya dan batasan-batasan larangan-Nya. Akan tetapi, Ibnu Jarir menyanggahnya. Untuk itu ia mengatakan, "Kami tidak pernah mengetahui ada seorang yang meminta agar hal-hal yang fardu dan hukum-hukum syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktu keberadaannya. Lain halnya dengan azab, mereka meminta agar azab disegerakan sebelum tiba masa turunnya, sebagai ungkapan rasa tidak percaya dan anggapan mustahil akan terjadi."

Menurut kami, pendapat ini sama dengan yang disebutkan dalam firman-Nya:

Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan, dan orang-orang yang ber­iman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang- orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh. (Asy Syuura:18)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Yahya ibnu Adam, dari Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Muhammad ibnu Abdullah maula Al-Mugirah ibnu Syu'bah, dari Ka'b ibnu Alqamah, dari Abdur Rahman ibnu Hujairah, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kelak di dekat hari kiamat akan muncul kepada kalian awan hitam dari ufuk barat seperti tameng. Awan itu terus meninggi di langit. Kemudian dari dalamnya terdengar suara yang menyerukan, "Hai manusia!" Maka semua manusia terpusatkan perhatiannya kepada suara itu dan berkata, "Apakah kalian mendengar suara itu?” Maka sebagian dari mereka ada yang mengatakan, "Ya, " dan sebagian yang lain meragukan. Kemudian berserulah suara itu untuk kedua kalinya, "Hai manusia!" Maka sebagian dari mereka menanyakan kepada sebagian yang lain, "Apakah kalian mendengarnya?” Maka mereka mengatakan, "Ya.” Kemudian suara itu berseru lagi untuk ketiga kalinya, "Hai manusia, telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kalian meminta agar disegerakan (datang)nya.” Selanjutnya Rasulullah Saw. bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­Nya, sesungguhnya dua orang lelaki benar-benar -menggelarkan pakaian, maka keduanya tidak sempat melipatnya kembali selama-lamanya (karena hari kiamat terjadi). Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar sedang membedah saluran airnya, maka ternyata dia tidak sempat mengalirkannya barang sedikit pun untuk selama-lamanya. Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar sedang memerah susu untanya, tetapi ia tidak dapat meminumnya untuk selama-lamanya.

Perawi mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan semua orang sibuk dengan keadaan dirinya sendiri dan lupa kepada yang lainnya.

Kemudian Allah Swt. menyucikan diri-Nya dari kemusyrikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap-Nya dengan yang lain dan penyembahan mereka terhadap tuhan yang lain di samping Allah, yaitu berupa berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang mereka jadikan sebagai sekutu Allah. Mahasuci dan Mahatinggi Allah dengan ketinggian yang setinggi-tingginya dari apa yang mereka lakukan, mereka adalah orang-orang yang mendustakan adanya hari kiamat. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka perse­kutukan.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[16 ~ AN-NAHL (LEBAH) Pendahuluan: Makkiyyah, 128 ayat ~ Surat ini termasuk dalam kelompok surat Makkiyyah, kecuali tiga ayat terakhir yang termasuk dalam surat Madaniyyah. Surat yang terdiri atas 128 ayat ini dimulai dengan penegasan Allah akan ancaman-Nya terhadap orang-orang musyrik dan penjelasan tentang kekuasaan-Nya dalam melaksanakan ancaman itu. Hal ini dibuktikan dengan penciptaan langit dan bumi. Beberapa karunia yang diberikan kepada manusia seperti penciptaan unta, menumbuhkan tanaman dan segala makhluk laut, seperti segala jenis ikan yang bisa dimakan dan mutiara-mutiara yang dapat dijadikan perhiasan juga dijelaskan. Selanjutnya Allah mengisyaratkan konsekuensi dari nikmat yang telah diberikan, yaitu keharusan bersyukur kepada-Nya dan kewajiban menyembah hanya kepada-Nya. Di samping itu, diisyaratkan juga sikap orang-orang musyrik dalam menyambut seruan kepada ajaran tauhid dan pendustaan yang mereka lakukan terhadap al-Qur'ân. Mereka menuduh bahwa al-Qur'ân adalah termasuk dongeng-dongeng dan legenda orang-orang terdahulu. Kemudian, di bagian lain, Allah menunjukkan siksa bagi orang-orang musyrik dan nikmat bagi orang-orang Mukmin pada hari kiamat. Lalu dijelaskan pula mengenai keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Allah menolak keingkaran mereka dengan menjelaskan kekuasaan-Nya dan menegaskan janji-Nya kepada orang-orang Mukmin dan ancaman-Nya terhadap orang-orang musyrik. Setelah itu Allah mendekatkan gambaran kebenaran hari kiamat melalui kekuasan-Nya kepada mereka dan ketundukan seluruh alam hanya kepada-Nya. Di surat ini, dijelaskan pula bahwa Allahlah yang akan membuka tabir kepalsuan dari keyakinan orang-orang musyrik mengenai kekuasaan tuhan-tuhan yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudarat sama sekali dan kekeliruan mereka dalam memandang wanita, baik kecil maupun dewasa. Kemudian, dalam surat ini Allah juga menyebutkan kisah beberapa rasul sebelum Muhammad, pelajaran yang harus dipetik dari penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu termasuk pelbagai nikmat-Nya kepada manusia, keterpautan rezeki yang membuat orang kaya memiliki kelebihan dari orang fakir, nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepada manusia dalam penciptaan laki-laki maupun perempuan dan keturunan yang dihasilkan dari perkawinan antara keduanya. Lalu Allah memberikan perumpamaan untuk menjelaskan kekuasaan-Nya dan mengajak untuk memperhatikan kehebatan berbagai ciptaan-Nya yang menunjukkan kebesaran Pencipta dan kemurahan nikmat-Nya, serta sikap orang-orang musyrik dalam menerima nikmat-nikmat yang besar itu. Setelah menjelaskan pandangan-pandangan Islam tentang keadilan, tentang pentingnya menjalin hubungan dengan menepati janji, tentang mukjizat al-Qur'ân serta keingkaran dan tuduhan orang-orang musyrik terhadap mukjizat itu, Allah menunjukkan keadaan orang-orang musyrik pada hari kiamat dan bagaimana dahulu mereka menghalalkan dan mengharamkan sesuatu tanpa alasan. Di bagian akhir surat ini disinggung tentang orang-orang Yahudi yang selalu mendekati orang-orang musyrik. Dijelaskan juga bahwa hukuman balasan itu hendaknya sesuatu yang sepadan, dan orang-orang Mukmin hendaknya selalu bersabar, bertakwa dan berbuat baik.]] Yakinilah, hai orang-orang musyrik, bahwa ancaman Allah kepada kalian pada hari kiamat tidak diragukan lagi pasti akan tiba saatnya. Maka janganlah kalian mengolok-olok dengan meminta agar kedatangan itu dipercepat. Mahasuci Allah dari sekutu yang berhak disembah dan dari segala sesuatu yang kalian sekutukan, yaitu tuhan-tuhan yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Aisarut Tafasir
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menerangkan dekatnya waktu azab yang diancamkan-Nya kepada orang-orang kafir dan menerangkan bahwa hal itu pasti terwujud. Yang demikian karena sesuatu yang akan datang adalah dekat.

Ketetapan Allah di sini adalah hari kiamat yang telah diancamkan kepada orang-orang musyrikin. Dalam ayat tersebut digunakan fi’il madhi (kata kerja lampau) untuk menunjukkan benar-benar terjadi atau pasti.

Sebelum tiba waktunya.

Seperti perbuatan mereka, menisbatkan sekutu, anak, istri, dan tandingan kepada-Nya serta penisbatan lainnya yang sesungguhnya tidak layak dengan kebesaran-Nya, dan menafikan kesempurnaan-Nya.

Asbabun Nuzul
Surat An-Nahl Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah, (telah pasti datangnya ketetapan Allah) (an-Nahl: 1), gelisahlah hati para shahabat Rasulullah saw. maka turunlah kelanjutan ayat tersebut yaitu, falaa tastajiluuh, ( maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]nya), sehingga merekapun merasa tenteram kembali.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad di dalam kitab Zawaa-iduz Zuhd, Ibnu Jarir, serta Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Hafsh. Bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah, (telah pasti datangnya ketetapan Allah) (an-Nahl: 1), para shahabat berdiri. Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut, falaa tastajiluuh, (maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang] nya).

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Allah menegaskan bahwa ketetapan Allah, yaitu hari kiamat dan masa ketika para pendurhaka akan menerima azab, pasti datang, maka janganlah kamu, wahai para pendurhaka, meminta agar dipercepat kedatangan-Nya. Mahasuci Allah dari segala aib, kesyirikan, dan kekurangan, dan mahatinggi dia dari apa yang mereka sembah, berupa berhala atau apa pun juga yang mereka persekutukan dengan dia. Menjelaskan kesempurnaan ketetapan dan penciptaan-Nya, Allah berfirman, dia menurunkan para malaikat, yakni malaikat jibril, membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki untuk diberi wahyu di antara hamba-hamba-Nya yang taat dan suci jiwanya. Inti wahyu itu ialah pesan yang berisi, peringatkanlah oleh kalian, wahai hamba-hamba yang aku beri wahyu, bahwa tidak ada tuhan, penguasa alam raya, pencipta langit dan bumi yang berhak disembah selain aku yang mahaesa dan mahakuasa, tidak ada sekutu bagi-ku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-ku. Berimanlah kepada-ku, laksanakanlah semua perintah-ku, dan tinggalkanlah segala laranganku. (lihat: surah ga'fir/40: 15 dan asy-syura'/42: 52).

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. أَتَىٰٓ أَمْرُ اللهِ (Telah pasti datangnya ketetapan Allah)
Yakni datang waktu diutusnya Nabi Muhammad.
Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah datangnya siksaan Allah bagi orang-orang musyrik.
Dan menurut pendapat beberapa ahli tafsir, yakni hari kiamat pasti akan datang.

فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ( maka janganlah kamu meminta agar disegerakan)
Yakni maka janganlah kalian mengharap kedatangannya sebelum waktunya.

سُبْحٰنَهُۥ وَتَعٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ(Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan)
Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari memiliki sekutu.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

91. Mereka adalah orang-orang yang melanggar hak al-Qur'an karena menjadikannya bagian-bagian yang terpisah; mereka mengimani sebagian isinya dan mengingkari sebagian yang lain tergantung hawa nafsu dan kemaslahatan mereka.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Azab yang Allah putuskan untuk kalian - wahai orang-orang kafir- sudah dekat, maka janganlah meminta disegerakan sebelum waktunya. Mahasuci Allah lagi Mahatinggi dari sekutu-sekutu yang diangkat oleh kaum musyrikin itu.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1. Allah berfirman dalam rangka mendekatkan (waktu) kedatangan ketetapanNYa yang telah Dia janjikan dan memastikan maka janganlah kamu meminta minta agar disegerakan (datang) nya” sesungguhnya ia akan tiba. Dan setiap sesuatu yang pasti datang, berarti dekat.
“Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” yang berbentuk penisbatan sekutu, anak, istri, padanan, dan lain sebagainya, yang dilekatkan oleh kaum musyrikin kepada Allah, yang tidak pantas dengan keagungan Allah dan menafikan kesempurnaanNYa.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Makna Kata:
(أَتَىٰٓ أَمۡرُ ٱللَّهِ) ataa amrullah : telah datang dan mendekat keputusan Allah untuk mengazab kalian, wahai orang-orang musyrik, maka tidak perlu kalian meminta dipercepat.

Makna ayat:
Kaum Musyrikin Mekah telah meminta percepatan azab dan bahkan memintanya lebih dari sekali, maka Allah menurunkan Firman-Nya “Telah datang keputusan Allah.” Yaitu untuk mengazab kalian, wahai orang-orang yang memintanya. Azab itu telah dekat dan akan datang, An-Nadhr bin Al-Harits yang berkata, “Ya Allah, seandainya ini merupakan kebenaran dari-Mu maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Telah datang kepadanya setelah beberapa tahun, maka ia binasa pada perang Badar, dan menuju Jahanam. Azab hari kiamat bagi yang meminta percepatannya, telah dekat waktunya, oleh karena itu perkataan ini diungkapkan dengan bentuk lampau, karena kepastian dan dekatnya azab itu, maka tidak perlu meminta percepatan, sehingga Allah berfirman “maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya.” Firman-Nya “Maha Suci Allah dan Maha Tingga Dia dari apa yng mereka persekutukan.” Suci dan bersih dari apa yang mereka persekutukan berupa sesembahan yang batil, karena tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia.

Pelajaran dari ayat:
• Dekatnya hari kiamat, oleh karena itu tidak perlu memintanya untuk disegerakan, karena hari itu pasti akan datang dan setiap yang akan datang adalah dekat.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1. Datangnya ketetapan Allah telah menjadi kepastian, yaitu pertolongan kepada nabi dan mengazab orang-orang kafir. Maka janganlah kamu meminta agar disegerakan sebab itu sudah ditetapkan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan dengan berhala-berhala. Orang-orang musyrik telah meminta agar hari kiamat atau kebinasaan bagi mereka disegerakan. Mereka berkata, jika memang perkataan itu benar maka berhala kami akan menolong dan menyelamatkan kami dari itu. Maka turunlah ayat ini