Al-Qur'an Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Al-Ikhlas: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

qul
قُلْ
katakanlah
huwa
هُوَ
Dia
al-lahu
اللّٰهُ
Allah
ahadun
اَحَدٌۚ
Esa

Transliterasi Latin:

Qul huwallāhu aḥad (QS. 112:1)

Arti / Terjemahan:

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. (QS. Al-Ikhlas ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Wahai Nabi Muhammad, Katakanlah kepada kaum musyrik yang menanyakan sifat dan nasab Allah dengan tujuan mengejek, “Dia lah Allah, Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak berbilang dalam nama, sifat, dan ketuhanan-Nya.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan suatu apa pun. Keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada Zat-Nya, Maha Esa pada sifat-Nya dan Maha Esa pada perbuatan-Nya.
Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat makhluk pun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada perbuatan-Nya berarti Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya:

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36 : 82)

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa") lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id alias Muhammad ibnu Maisar As-Saghani, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abu Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi Saw.”Hai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah, "Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya."(Al-Ikhlas: 1-4)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Jarir, dari Ahmad ibnu Mani' —Ibnu Jarir menambahkan— dan Mahmud ibnu Khaddasy, dari Abu Sa'id Muhammad ibnu Maisar dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir dan Imam Turmuzi menambahkan bahwa as-samad artinya Tuhan Yang tidak beranak dan tidak diperanakan. Karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang diperanakan melainkan dia pasti mati, dan tiada sesuatu pun yang mati melainkan akan diwaris, dan sesungguhnya Allah Swt. tidak mati dan tidak pula diwaris. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (Al-lkhlas: 4) Tiada yang serupa dengan Dia, tiada yang sebanding dengan-Nya, dan tiada sesuatu pun yang semisal dengan Dia.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui hadis Abu Sa'id alias Muhammad ibnu Maisar dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Abu ibnu Humaid, dari Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Ja'far, dari Ar-Rabi', dari Abul Aliyah, lalu disebutkan hal yang sama secara mursal dan tidak disebutkan dengan kata 'telah menceritakan kepada kami'. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini lebih sahih sanadnya ketimbang hadis Abu Sa'id.

Hadis lain yang semakna. Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sarij ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Mujalid, dari Mujalid, dari Asy-Sya'bi, dari Jabir r.a., bahwa pernah ada seorang Badui datang kepada Nabi Saw. lalu bertanya, "Gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu." Maka turunlah firman Allah Swt.: Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa.”(Al-lkhlas: 1), hingga akhir surat.

Sanad hadis ini mutaqarib (berdekatan). Ibnu Jarir telah meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Auf, dari Suraij, lalu disebutkan hal yang semisal, dan hadis ini diriwayatkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf secara mursal.

Ubaid ibnu Ishaq Al-Attar telah meriwayatkan dari Qais ibnur Rabi'. dari Abu Asim, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas'ud r.a. yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah Saw., "Gambarkanlah keadaan Tuhanmu kepada kami." Maka turunlah surat ini yang diawali dengan firman-Nya: Katakanlah, "Dialah Allah Yang MahaEsa.” (Al-lkhlas: 1)

Imam Tabrani mengatakan bahwa Al-Faryabi dan lain-lainnya telah meriwayatkannya dari Qais, dari Abu Asim, dari Abu Wa-il secara mursal.

Kemudian Imam Tabrani meriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Usman At-Tara-ifi, dari Al-Wazi' ibnu Mani', dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Segala sesuatu mempunyai predikat dan predikat Allah ialah, "Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bersifat As-Samad. As-Samad artinya tidak berongga'.”

Hadis lain tentang keutamaannya.

Imam Bukhari mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad Az-Zuhali, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr, dari Ibnu Abu Hilal, bahwa Abur Rijal alias Muhammad ibnu Abdur Rahman pernah menceritakan kepadanya dari ibunya (yaitu Amrah binti Abdur Rahman) yang dahulunya berada di dalam asuhan Siti Aisyah r.a. istri Nabi Saw., dari Aisyah r.a., bahwa Nabi Saw. mengangkat seorang lelaki sebagai pemimpin suatu pasukan khusus untuk suatu tugas. Dan lelaki itu menjadi imam salat dari para sahabatnya dan ia selalu mengakhiri bacaan salatnya dengan surat Al-Ikhlas. Setelah pasukan khusus itu pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi Saw., maka Nabi Saw. bersabda, "Tanyakanlah kepadanya, mengapa dia melakukan hal itu," lalu mereka bertanya kepadanya, dan ia menjawab, "Karena di dalamnya disebutkan sifat Tuhan Yang Maha Pemurah, dan aku suka membacakannya dalam salatku." Setelah hal itu disampaikan kepada Nabi Saw., maka beliau Saw.bersabda:

Sampaikanlah kepadanya, bahwa Allah menyukainya.

Demikianlah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab tauhidnya. Dan di antara mereka ada yang menggugurkan penyebutan Muhammad Az-Zuhali dan menjadikannya melalui riwayat Ahmad ibnu Saleh. Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini dan juga Imam Nasai melalui Abdullah ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Sa'id ibnu Abu Hilal dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Bukhari mengatakan di dalam kitab salat-nya, bahwa Ubaidillah telah meriwayatkan dari Sabit, dari Anas r.a. yang telah mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki menjadi imam suatu jamaah di Masjid Quba, manakala dia telah membaca Al-Qur'an yang mengawali salatnya, lalu ia mengiringinya dengan bacaan surat Al-lkhlas, setelah itu ia membaca surat yang lainnya. Hal ini ia lakukan pada tiap rakaat. Maka para sahabatnya (teman-temannya) berbicara kepadanya, "Sesungguhnya engkau telah membaca surat ini, tetapi kelihatannya engkau merasa tidak cukup dengannya, lalu engkau baca surat lainnya. Maka adakalanya engkau baca surat ini saja, atau engkau tinggalkan surat ini dan membaca surat lainnya tanpanya."

Lelaki itu menjawab, "Aku tidak akan meninggalkannya (surat Al-lkhlas), jika engkau mau menjadikan diriku imam kalian, maka aku akan tetap melakukannya. Dan jika kalian tidak suka, maka aku tidak mau menjadi imam kalian." Sedangkan mereka memandang lelaki ini sebagai orang yang paling diutamakan oleh mereka, dan mereka tidak suka bila diimami oleh selainnya.

Ketika Nabi Saw. datang berkunjung kepada mereka, maka mereka menceritakan kepada beliau berita tersebut, lalu beliau Saw. bertanya, "Hai Fulan, apakah yang mencegahmu hingga tidak mau melakukan apa yang diminta oleh teman-temanmu, dan mengapa engkau selalu menetapi surat ini dalam tiap rakaatmu?" Lelaki itu menjawab, "Aku menyukainya." MakaNabi Saw. bersabda:

Kecintaanmu kepada surat (Al-lkhlas) ini dapat memasukkanmu ke dalam surga.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta'liq dengan tegas dan sanad yang sama. Abu Isa At-Turmuzi di dalam kitab Jami'nya telah meriwayatkan hadis ini dari Al-Bukhari, dari Ismail ibnu Abu Uwais, dari Abdul Aziz ibnu Muhammad Ad-Darawardi, dari Ubaidillah ibnu Umar, lalu disebutkan hal yang semisal. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa riwayat melalui Ubaidillah, dari Sabit berpredikat garib.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa Mubarak ibnu Fudalah telah meriwayatkan dari Sabit, dari Anas, bahwa pernah ada seorang lelaki berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat Qul Huwallahu Ahad (surat) Al-Ikhlas." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Kesukaanmu kepadanya dapat memasukkanmu ke dalam surga.

Hadis yang diriwayatkan secara ta'liq oleh Imam Turmuzi ini telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya secara muttasil; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Mubarak ibnu Fudalah, dari Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya, "Sesungguhnya aku menyukai surat Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas)." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Kesukaanmu kepadanya dapat memasukkanmu ke dalam surga.

Hadis yang menyatakan bahwa surat Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an. Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Sa'sa'ah, dari ayahnya, dari Abu Sa'id, bahwa pernah ada seorang lelaki mendengar lelaki lainnya membaca firman-Nya: Katakanlah, "Dialah Allah YangMahaesa.”(Al-Ikhlas: 1), hingga akhir surat.

Surat ini dibacanya berulang-ulang (dalam salat sunatnya). Dan pada pagi harinya lelaki yang mendengar itu datang kepada Nabi Saw., lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau seakan-akan ia menilainya terlalu sedikit apa yang dibaca lelaki tersebut. MakaNabi Saw. bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya surat Al-lkhlas itu benar-benar sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Ismail ibnu Ja'far menambahkan dari Malik, dari Abdur Rahman ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Sa'id yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku saudaraku Qatadah ibnun Nu'mah, dari Nabi Saw. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula dari Abdullah ibnu Yusuf dan Al-Qa'nabi. Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Al-Qa'nabi, dan Imam Nasai dari Qutaibah; seluruhnya dari Malik dengan sanad yang sama. Hadis Qatadah ibnun Nu'man di-musnad-kan oleh Imam Nasai melalui dua jalur, yaitu dari Ismail ibnu Ja'far, dari Malik, dari Qatadah ibnun Nu'man.

Hadis lain. Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan Ad-Dahhak Al-Masyriqi, dari Abu Sa'id r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya, "Apakah tidak mampu seseorang dari kamu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?" Hal itu terasa berat oleh mereka, lalu mereka berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukannya, wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah Saw. bersabda:

Allahul Wahidus Samad (surat Al-lkhlas) adalah sepertiga Al-Qur’an.

Imam Bukhari meriwayatkannya secara munfarid melalui Ibrahim ibnu Zaid An-Nakha'i dan Ad-Dahhak ibnu Syurahbil Al-Hamdani Al-Masyriqi, keduanya dari Abu Sa'id. Al-Fariri mengatakan, ia pernah mendengar Abu Ja'far Muhammad ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Abu Abdullah Al-Bukhari telah meriwayatkan Ibrahim secara mursal, dan dari Ad-Dahhak secara musnad.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq. telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Al-Haris ibnu Yazid. dari Abul Haisam, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. yang mengatakan bahwa Qatadah ibnun Nu'man semalaman membaca surat Al-Ikhlas, lalu diceritakan hal itu kepada Nabi Saw. Maka Nabi Saw. bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya surat Al-Ikhlas benar-benar sebanding dengan separo atau sepertiga Al-Qur’an.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa Abu Ayyub Al-Ansari dalam suatu majelis mengatakan, "Tidakkah mampu seseorang dari kamu salat dengan mem¬baca sepertiga Al-Qur'an setiap malamnya?" Mereka berkata, "Apakah ada seseorang yang mampu melakukannya?" Abu Ayyub menjawab, bahwa Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Qur'an. Maka datanglah Nabi Saw. yang saat itu telah mendengar apa yang diucapkan Abu Ayyub, lalu beliau Saw. menegaskan, "Abu Ayyub benar."

Hadis lain. Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Kaisan, telah menceritakan kepadaku Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, "Berkumpullah kamu sekalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepadamu sepertiga Al-Qur'an." Maka berkumpullah orang-orang yang ada, lalu Nabi Saw. keluar (muncul) dari rumahnya dan membaca Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas), setelah itu masuk ke rumah.

Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang Lain, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, "Sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga Al-Qur'an," sesungguhnya aku merasa yakin bahwa berita ini datang dari langit. Kemudian Nabi Saw. muncul lagi dan bersabda:

Sesungguhnya aku telah mengatakan bahwa aku akan membacakan kepadamu sepertiga Al-Qur’an. Ingatlah, sesungguhnya surat Al-lkhlas itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Imam Muslim telah meriwayatkan hal yang sama di dalam kitab sahihnya melalui Muhammad ibnu Basysyar dengan sanad yang sama. Dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih garib; nama Abu Hazim adalah Salman.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Zaidah ibnu Qudamah, dari Mansur, dari Hilal ibnu Yusaf, dari Ar-Rabi' ibnu Khaisam, dari Amr ibnu Maimun, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari seorang wanita kalangan Ansar dari Abu Ayyub, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:

Apakah tidak mampu seseorang dari kamu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam? Karena sesungguhnya barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad Allahus Samad (surat Al-lkhlas) dalam semalam, berarti sama saja dia dengan membaca sepertiga Al-Qur’an di malam itu.

Hadis ini termasuk yang bersanad sembilan bagi Imam Ahmad. Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Basysyar Bandar menambahkan, Imam Turmuzi dan Qutaibah, keduanya dari Abdur Rahman ibnu Mahdi dengan sanad yang sama, sehingga dengan adanya sanad ini hadis menjadi bersanad sepuluh. Menurut riwayat lain, Imam Turmuzi melalui istri Abu Ayyub, dari Abu Ayyub disebutkan hal yang semisal, dan Imam Turmuzi menilainya hasan. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa dalam bab yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Darda, Abu Sa'id, Qatadah ibnun Nu'man, Abu Hurairah, Anas, Ibnu Umar, dan Abu Mas'ud. Hadis ini hasan dan kami tidak mengetahui ada seseorang yang meriwayatkan hadis ini dengan predikat yang lebih baik dari riwayat Zaidah, dan Imam Turmuzi dalam riwayatnya mengikutkan Israil dan Al-Fudail ibnu Iyad. Syu'bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang saja dari kalangan orang-orang yang berpredikat 'siqah telah meriwayatkan hadis ini dari Mansur, tetapi mereka mengalami idtirab padanya.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Husain, dari Hilal ibnu Yusaf, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa pernah ada seorang lelaki dari kalangan Ansar mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barangsiapa yangmembaca Qul Huwallahu Ahad(surat Al-Ikhlas), maka seakan-akan dia membaca sepertiga Al-Qur’an.

Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui hadis Hasyim, dari Husain, dari Ibnu Abu Laila dengan sanad yang sama; tetapi di dalam riwayatnya tidak disebutkan Hilal ibnu Yusaf.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waqi', dari Sufyan, dari Abu Qais, dari Amr ibnu Maimun, dari Abu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Qul Huwallahu Ahad sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Ibnu Majah telah meriwayatkan hal yang sama dari Ali ibnu Muhammad Attanafisi, dari Waqi' dengan sanad yang sama. Dan Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui jalur lain dari Amr ibnu Maimun sacara marfu' dan mauquf.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Abus Samit, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Salim ibnu Abul Ja'd, dari Ma'dan ibnu Abu Talhah, dari Abud Darda r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Apakah tidak mampu seseorang dari kamu membaca sepertiga Al-Qur’an setiap harinya?” Mereka menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, kami adalah orang yang lemah dan tidak mampu melakukan hal itu.” Rasulullah Saw. bersabda, "Maka sesungguhnya Allah membagi-bagi Al-Qur’an menjadi tiga bagian; Qul Huwallahu Ahad (surat Al-lkhlas) adalah sepertiga Al-Qur’an.”

Imam Muslim dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui hadis Qatadah dengan sanad yang sama.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umayyah ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Muslim keponakan Ibnu Syihab, dari pamannya (yaitu Az-Zuhri), dari Humaid ibnu Abdur Rahman ibnu Auf, dari ibunya (yaitu Ummu Kalsum binti Uqbah ibnu Abu Mu'it yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Qul Huwallahu Ahad sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah, dari Amr ibnu Ali, dari Umayyah ibnu Khalid dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Nasai meriwayatkannya melalui Jalur Malik, dari Az-Zuhri, dari Humaid ibnu Abdur Rahman dan dikatakan sebagai perkataannya.

Imam Nasai telah meriwayatkannya pula di dalam kitab Al-Yaum wal Lailah melalui hadis Muhammad ibnu Ishaq dari Al-Haris ibnul Fudail Al-Ansari, dari Az-Zuhri, dari Humaid ibnu Abdur Rahman, bahwa pernah ada segolongan orang dari sahabat Nabi Saw. menceritakan kepadanya dari nabi Saw., bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

Qul Huwallahu Ahad sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an bagi orang yang membacanya dalam salatnya.

Hadis lain yang menyatakan bahwa membacanya dapat mewajibkan pelakunya masuk surga.


Imam Malik ibnu Anas telah meriwayatkan dari Ubaidillah ibnu Abdur Rahman, dari Ubaid ibnu Hunain yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan bahwa ia datang bersama Nabi Saw., lalu mendengar seorang lelaki membaca Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas dalam salatnya). Maka Rasulullah Saw. bersabda: "Telah pasti baginya.” Aku bertanya, "Apanya yang telah pasti?” Rasulullah Saw. menjawab, "Surga.”

Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Malik. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Malik. Dalam hadis yang terdahulu telah disebutkan:

Kecintaanmu kepadanya (surat Al-lkhlas) dapat memasukkanmu ke dalam surga.

Hadis yang menyatakan membaca surat Al-lkhlas berulang-ulang.

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qatr ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Maimun Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tidakkah mampu seseorang dari kamu membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak tiga kali dalam semalam, karena sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Sanad hadis ini daif, tetapi lebih baik daripada sebelumnya.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui jalur lain dari Mu'az ibnu Abdullah ibnu Habib, dari ayahnya, dari Uqbah ibnu Amir, lalu disebutkan hal yang semisal dengan lafaz:

Itu dapat menghindarkanmu dari segala sesuatu (yang tidak diinginkan).

Hadis lain masih berkisar tentangnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Isa, telah menceritakan kepadaku Lais ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku Al-Khalil ibnu Murrah, dari Al-Azhar ibnu Abdullah, dari Tamim Ad-Dari r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang mengucapkan kalimah "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata Yang Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beristri, tidak beranak, dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya " sebanyak sepuluh kali, maka Allah mencatatkan baginya empat puluh juta kebaikan.

Imam Ahmad dan Al-Khalil ibnu Murrah meriwayatkannya secara munfarid, tetapi Imam Bukhari dan lain-lainnya menilainya daif sekali.

Hadis lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Zaban ibnu Fa-id, dari Sahl ibnu Mu'az ibnu Anas Al-Juhani, dari ayahnya, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad sampai akhir surat sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga. Maka Umar berkata, "Kalau begitu, kami akan memperbanyak bacaannya, wahai Rasulullah." Rasulullah Saw. bersabda: (Pemberian) Allah jauh lebih banyak dan jauh lebih baik.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid.

Imam Abu Muhammad Ad-Darimi meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil ibnu Ma'bad yang menurut Imam Ad-Darimi ia adalah seorang Wali Abdal, bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Allah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga. Dan barang siapa yang membacanya sebanyak dua puluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya dua buah gedung di dalam surga. Dan barang siapa yang membacanya sebanyak tigapuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya tiga buah gedung di dalam surga. Maka Umar ibnul Khattab berkata, "Kalau begitu, kami akan memperbanyak." Rasulullah Saw. bersabda: (Pemberian) Allah jauh lebih lapang daripada itu.

Hadis ini mursal predikatnya jayyid (baik).

Hadis lain.

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Nuh ibnu Qais, telah menceritakan kepadaku Muhammad Al-Attar, telah menceritakan kepadaku Ummu Kasir Al-Ansariyah, dari Anas ibnu Malik, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak lima puluh kali, Allah memberikan ampunan baginya dosa-dosa selama lima puluh tahun.

Sanad hadis berpredikat daif.

Hadis lain.

Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi', telah menceritakan kepada kami Hatim ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad dalam sehari sebanyak dua ratus kali, maka Allah mencatatkan baginya seribu lima ratus kebaikan, terkecuali jika ia mempunyai suatu utang.

Sanad hadis ini daif; Hatim ibnu Maimun dinilai daif oleh Imam Bukhari dan lain-lainnya. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Marzuq Al-Basri, dari Hatim ibnu Maimun dengan sanad yang sama dan lafaz seperti berikut:

Barang siapa setiap harinya membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak dua ratus kali, maka dihapuskan baginya dosa-dosa lima puluh tahun, terkecuali jika ia mempunyai hutang.

Imam Turmuzi meriwayatkan dengan sanad yang sama sampai kepada Nabi Saw. yang telah bersabda:

Barang siapa yang hendak tidur di atas peraduannya, lalu ia merebahkan dirinya pada lambung kanannya dan membaca Qul Huwallahu Ahad sebanyak seratus kali, maka kelak di hari kiamat Tuhan Yang Mahaagung lagi Mahamulia akan berfirman kepadanya, "Hai hamba-Ku, masuklah kamu ke surga di sebelah kananmu.”

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan, garib bila melalui hadis Sabit. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula melalui jalur lain darinya.

Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Bahr, telah menceritakan kepada kami Hibban ibnu Aglab, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwalldhu Ahad sebanyak dua ratus kali, Allah menghapuskan darinya dosa-dosa selama dua ratus tahun.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Sabit kecuali Al-Hasan ibnu Abu Ja'far dan Al-Aglab ibnu Tamim, keduanya saling berdekatan atau sekelas dalam hal buruknya hafalan keduanya. „

Hadis lain berkenaan dengan doa yang mengandung asma-asma Allah.

Imam Nasai telah mengatakan di dalam tafsir surat ini bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Khalid, telah menceritakan-kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Magul, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Buraidah, dari ayahnya, bahwa ia masuk ke dalam masjid bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba beliau menjumpai seorang lelaki sedang berdoa dalam salatnya seraya mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau demi kesaksianku yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau Yang Maha Esa, bergantung kepada Engkau segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada seorang pun yang setara dengan-Nya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya dia telah memohon kepada-Nya dengan menyebut asma-Nya yang terbesar, yang apabila dimintakan dengannya pasti diberi dan apabila didoakan dengannya pasti diperkenankan.

As-habbus Sunan yang lainnya telah mengetengahkannya melalui berbagai jalur dari Malik ibnu Magul, dari Abdullah ibnu Buraidah, dari ayahnya dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Hadis lain, berkenaan dengan bacaannya sebanyak sepuluh kali sesudah salat fardu,

Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Mansur, dari Umar ibnu Syaiban, dari Abu Syaddad, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ada tiga perkara yang barang siapa mengerjakannya dengan iman, niscaya ia dapat masuk surga dari pintu manapun yang disukainya, dan dinikahkan dengan bidadari sesukanya. Yaitu orang yang memaaf terhadap pembunuhnya; dan membayar utangnya dengan sembunyi-sembunyi; dan membaca sepuluh kali Qul Huwallahu Ahad seusai tiap salat fardunya. Maka Abu Bakar bertanya, "Bagaimanakah dengan orang yang hanya melakukan salah satunya saja wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab, "Berlaku pula bagi orang yang melakukan salah satu (dari ketiga)nya."

Hadis lain mengenai membacanya di saat hendak memasuki rumah.

Al-Hafiz Abu Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bakar As-Sarraj Al-Askari telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Faraj, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnuzZabarqan, dari Marwan ibnu Salim, dari Abu Zar'ah, dari Amr ibnu Jarir, dari Jarir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad saat hendak memasuki rumahnya, maka dijauhkanlah kefakiran dari penduduk rumah itu dan juga para tetangganya.

Sanad hadis berpredikat daif.

Hadis yang menceritakan tentang memperbanyak bacaan surat Al-Ikhlas dalam semua keadaan.

Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq Al-Musayyabi, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, dari Al-Ala ibnu Muhammad As-Saqafi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas ibnu Malik mengatakan bahwa ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw. di medan Tabuk, maka terbitlah matahari dengan sinar dan cahayanya yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Lalu datanglah Malaikat Jibril kepadaNabi Saw. Maka Nabi Saw. bertanya, "Hai Jibril, mengapa kulihat matahari hari ini terbit dengan sinar dan cahaya yang belum pernah kulihat sebelumnya seperti itu. Jibril menjawab, bahwa sesungguhnya hal itu disebabkan Mu'awiyah ibnu Mu'awiyah Al-Laisi, dia telah meninggal dunia pada hari ini di Madinah, maka Allah mengirimkan kepadanya tujuh puluh ribu malaikat untuk menyalatkannya." Rasulullah Saw. bertanya, "Mengapademikian?" Jibril menjawab, bahwa dia adalah orang yang banyak membaca Qul Huwallahu Ahad di malam dan siang harinya, dan saat ia berdiri, berjalan, dan duduknya. Maka maukah engkau, ya Rasulullah; aku akan mengambil segenggam tanah kuburnya, lalu engkau menyalatkannya?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya," maka Rasulullah Saw. menyalatkannya.

Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab Dala'ilun Nubuwah-nya. melalui jalur Yazid ibnu Harun, dari Al-Ala ibnu Muhammad, tetapi ia orang yang dicurigai sebagai pemalsu hadis; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Jalur lain.

Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu ibrahim Asy-Syami alias Abu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnul Haisam (muazzin masjid Basrah yang ada padaku), dari Mahmud alias Abu Abdullah, dari Ata ibnu Abu Maimunah, dari Anas yang mengatakan bahwa Jibril turun menemui Nabi Saw., lalu berkata, "Telah meninggal dunia Mu'awiyah ibnu Mu'awiyah Al-Laisi, apakah engkau ingin menyalatkan jenazahnya?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Maka Jibril memukulkan sayapnya ke bumi, maka tiada suatu pohon pun dan tiada pula suatu dataran tinggi pun melainkan merendah, maka Jibril mengangkat dipan Nabi Saw. Sehingga Nabi Saw. dapat melihat jenazah Mu'awiyah Al-Laisi, lalu beliau bertakbir menyalatkannya, sedangkan di belakang beliau terdapat dua saf dari para malaikat, yang setiap safnya terdiri dari tujuh puluh ribu malaikat. Maka Nabi Saw. bertanya, "Hai Jibril, karena apakah dia mendapat kedudukan yang tinggi seperti ini dari Allah Swt.?" Jibril menjawab, "Ini berkat kecintaannya kepada Qul Huwallahu Ahad yang selalu dibacanya saat datang dan perginya, saat berdiri dan duduknya, dan dalam semua keadaannya."

Imam Baihaqi telah meriwayatkannya melalui riwayat Usman ibnul Haisam (juru azan), dari Mahbub ibnu Hilal, dari Ata ibnu Abu Maimunah, dari Anas, lalu disebutkan hal yang semisal; dan inilah sanad yang benar. Sedangkan Mahbub ibnu Hilal menurut Abu Hatim Ar-Razi orangnya tidak terkenal. Dan hadis ini telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur yang lain, yang sengaja tidak kami utarakan untuk mempersingkat, tetapi semuanya berpredikat daif.

Hadis lain mengenai keutamaan surat Al-Ikhlas dan surat Mu'awwizatain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Rifa'ah, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia bersua dengan Rasulullah Saw., lain ia memulai salam kepada beliau dan memegang tangannya, kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang dapat menyelamatkan orang mukmin?" Rasulullah Saw. menjawab: "Hai Uqdah, jagalah lisanmu, jadikanlah rumahmu seakan-akan hias buat dirimu, dan menangislah atus kekeliruanmu. Uqbah ibnu Amir melanjutkan, bahwa lalu ia bersua lagi dengan Rasulullah Saw. di lain waktu. Maka belilaulah yang memulai salam kepadanya, lalu beliau memegang tangannya dan bersabda: "Hai Uqbah, maukah aku ajarkan kepadamu sebaik-baik tiga surat yang diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’anul Azim?” Aku menjawab, "Tentu saja mau, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Maka Rasulullah Saw. membacakan kepadaku Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas), Qul Auzu Birabbil Falaq, dan Qul Auzu Birabbin Nas (surat Al-Falaq dan surat An-Nas). Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Hai Uqbah, jangan engkau lupakan ketiga surat ini dan janganlah kamu tidur di malam hari sebelum membacanya. Uqbah mengatakan bahwa setelah itu ia tidak pernah melupakan ketiga surat tersebut sejak Nabi Saw. mengatakan, "Janganlah kamu melupakannya." Dan ia tidak pernah pula tidur di malam hari melainkan membaca ketiga surat itu. Uqbah melanjutkan, bahwa lalu ia bersua lagi dengan Rasulullah Saw., maka ia memulai membaca salam dan memegang tangannya lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amal-amal yang paling utama." Rasulullah Saw. menjawab: Hai Uqbah, bersilaturahmilah dengan orang yang memutuskannya darimu, dan berilah orang yang tidak pernah memberimu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat zalim kepadamu.

Imam Turmuzi telah meriwayatkan sebagiannya di dalam kitab Zuhud melalui hadis Abdullah ibnu Zahir, dari Ali ibnu Yazid, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan. Imam Ahmad telah meriwayatkannya melalui jalur lain, bahwa telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas, dari Usaid ibnu Abdur Rahman Al-Khas'ami, dari Farwah ibnu Mujahid Al-Lakhami, dari Uqbah ibnu Amir, dari Nabi Saw., lalu disebutkan hai yang semisal; Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid.

Hadis lain sehubungan dengan istisqa dengannya.

Imam Bukhari mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Mufaddal, dari Aqil, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa "Nabi Saw. apabila beristirahat di peraduannya di setiap malam, terlebih dahulu beliau menghimpunkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup keduanya setelah membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq, dan surat An-Nas. setelah itu beliau usapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuhnya yang dapat dicapai oleh kedua tangannya, yaitu kepalanya dan bagian depan tubuhnya; beliau melakukan ini sebanyak tiga kali.

Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh para pemilik kitab sunnah melalui hadis Uqail dengan sanad yang sama.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Mafia Penyayang.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[112 ~ AL-IKHLASH (MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH) Pendahuluan: Makkiyyah, 4 ayat ~ Nabi Muhammad saw. pernah ditanya tentang Tuhannya. Maka, dalam surat ini, beliau diperintah untuk menjawab pertanyaan itu. Yaitu, bahwa Allah adalah Tuhan Yang memiliki segala sifat kesempurnaan, Tuhan Yang Mahaesa, Tuhan tempat kembali dalam setiap kebutuhan, Tuhan Yang tidak membutuhkan kepada siapa pun, Tuhan Yang Mahasuci dari sifat serupa dengan makhluk, Tuhan Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Tuhan yang tidak satu makhluk pun dapat menyerupai-Nya.]] Mereka yang, dengan nada mengolok dan menghina, berkata, "Gambarkan kepada kami tentang Tuhanmu," katakan kepada mereka, wahai Muhammad, "Allah adalah Tuhan Yang Esa, bukan selain Dia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. “Katakanlah,” dengan perkataan tegas, dengan yakin, dan mengetahui maknanya, “Dia-lah Allah Yang Maha Esa,” yakni, kemahaesaan itu hanya terbatas padaNya. Dia-lah Yang Maha Esa, yang tersendiri dengan kesempurnaan, hanya bagiNya nama-nama indah, sifat-sifat sempurna yang tinggi dan perbuatan-perbuatan yang suci, yang tidak ada tandinganNya.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dari Abu Aliyah, dari Ubai bin Kaab bahwa suatu ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah saw, "gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau?" Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ibnu Jarir dengan riwayat senada dari Jabir bin Abdillah. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Makiyyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika sekelompok Yahudi datang kepada nabi saw, diantara rombongan tersebut terdapat Kaab bin Asyraf dan Huyay bin Akhthab. Mereka lalu berkata, "wahai Muhammad, gambarkanlah kepada kami ciri-ciri Tuhan yang mengutus engkau itu?" Allah lalu menurunkan ayat ini hingga akhir surah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, demikian pula oleh Ibnul Mundzri dari Said bin Jabir dengan riwayat yang mirip dengan di atas. Dengan riwayat ini, sebagian pihak berdalil bahwa surah ini adalah Madaniyyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abu Aliyah, ia berkata, Qatadah berkata bahwasanya sesungguhnya pasukan koalisi (kaum kafir) pernah berkata kepada nabi saw, "gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhan engkau itu?" Jibril lalu turun dengan membawa surah ini. Jadi inilah yang dimaksud dengan orang-orang musyrik seperti yang disebut dalam riwayat Ubaiy bin Kaab. Oleh sebab itu, jelaslah bahwa surah ini adalah Madaniyyah, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas. Dengan demikian, kontradiksi antara kedua hadits di atas telah dapat di atasi.

Diriwayatkan oleh Abu Syaikh dalam kitab al-Azhamah dari Aban dari Anas, ia berkata bahwasanya suatu ketika, orang-orang Yahudi Khaibar datang kepada Rasulullah saw dan berkata: "Wahai Abal Qasim! Allah telah menciptakan para malaikat dari cahaya tirai-Nya, Adam dari tanah liat yang diberi bentuk, Iblis dari kobaran api, langit dari awan, dan bumi dari buih air. Oleh karena itu, beritahukanlah kepada kami bagaimana hakikat Tuhanmu itu?" Rasulullah saw belum menjawab pertanyaan tersebut hingga Jibril datang dengan membawa surah ini.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Wahai nabi Muhammad, katakanlah kepada kaum musyrik yang menanyakan sifat dan nasab Allah dengan tujuan mengejek, 'dia lah Allah, yang maha esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak berbilang dalam nama, sifat, dan ketuhanan-Nya. 2. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia maha pencipta, mahakaya, dan mahakuasa. Dia tidak memerlukan yang lain, sedangkan semua makhluk bergantung kepada-Nya.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Keutamaan surah: Imam Ahmad dan Imam Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudzri yang berkata: Rasulallah SAW bersabda kepada para sahabatnya: ”Apakah salah satu dari kalian ada yang keberatan untuk membaca sepertiga Al-Qur’an di malam hari?” Maka pecahlah kondisi ketika itu. Mereka berkata: “Siapa di antara kami yang menanggung beban itu ya Rasulallah?”. Lalu Rasulallah bersabda: “Allahul Waahidush Shomad (surah Al-Ikhlash) adalah sepertiga Al-Qur’an”

1. Katakanlah wahai Nabi: Allah adalah yang Maha Esa dengan DzatNya. Tidak ada bagiNya Tuan dan tidak pula materi. Dialah Dzat yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Ayat ini diturunkan ketika orang-orang musyrik berkata: “Wahai Muhammad, nasabkanlah Tuhanmu kepada kami, maksudnya yaitu sebutkanlah nasab Tuhanmu kepada kami” kemudian turunlah surah ini

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ‌ ۚ‏ (Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa)
Orang-orang musyrik mengatakan: “Hai Muhamamd, sebutkan kepada kami nasab tuhanmu!” Maka turunlah surat ini.
Yakni jika kalian menanyakan nasab-Nya, maka Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-4. Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan dengan tegas kepada orang-orang musyrik yang berkata, “Sebutkanlah kepada kami nasab Tuhanmu!” Maka Allah mengajarkan Rasulullah bantahan terhadap mereka: Sungguh Tuhanku adalah Allah, satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada satupun sekutu-Nya dalam peribadatan; Dia Maha Sempurna kekuasaan dan kemuliaan-Nya; Dia tidak beranak dan tidak mengangkat seorang anak, sekutu, atau sesuatu yang menyamai-Nya baik itu dalam Dzat, sifat, maupun perbuatan-Nya.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Katakan -wahai Rasul-, “Dia lah Allah yang esa dalam uluhiyah, tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar berkata kepada manusia : Sesungguhnya Allah menyendiri dalam ke-Uluhiyyahan, Rububiyyah dan Nama serta Sifat-Nya, tidak bersekutu sesuatu apapun dengan-Nya. Inilah yang dimaksud makna ahad (Esa). Tidak sebagaimana diklaim oleh Mu’tazilah dan Asya’irah : Dia tunggal tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah, dengan kata lain : Dia tidak memiliki pembagian (Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma wa Sifat). Dan bantahan bagi mereka firman Allah yang ada dalam akhir akhir surat ini وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ yang artinya : Dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Dia. Ini lebih utama dan mencakup secara keseluruhan dibandingkan ucapan mereka.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

Disebutkan tentang sebab diturunkannya surat ini bahwa orang-orang musyrik atau yahudi berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Sebutkan sifat Tuhanmu kepada kami? Maka Allah menurunkan surat ini.

قُلْ “katakanlah” yang diajak bicara di sini adalah Rasul ‘alaihissholaatu wassalaam, dan untuk umat islam juga dan هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,” Dhamir asy-Sya’en menurut para pakar I’rab (gramatika Bahasa arab) dan lafadzul jalaalah الله adalah khabar mubtada dan أَحَدٌ [Ahad] khabar mubtada kedua.

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Dengan memastikan, meyakininya dan mengetahui maknanya. Dan jawablah dengan surah ini orang-orang yang bertanya tentang siapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala?

Dia sendiri dengan kesempurnaan, memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi yang sempurna serta perbuatan-perbuatan yang suci, dimana pada semua itu tidak ada yang menyamainya.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Tiga surah terakhir ini : Al-Ikhlash, dan Al-mu'awwidzatain ( al-falaq dan an-nas ), adalah tiga surah penutup Al-Qur'an, tiga surah yang agung dan mulia surah yang sering dibaca oleh Rasulullah ﷺ setiap sebelum tidur dengan meniupkan pada kedua telapak tangannya dan membaca ketiga surah ini, kemudian ﷺ mengusap wajahnya, dan sebisa yang dapat ia usap dari badannya, surah yang dijadikan oleh Rasulullah ﷺ sebagai penangkal kejahatan sihir dengan izin Allah ﷻ , surah yang mengandung banyak keutamaan didalamnya.

Adapun sebab dinamakan surah ini "Al-Ikhlas" adalah bahwasanya Allah memurnikan / mengkhususkan surat tersebut hanya untuk-Nya, yaitu Allah tidak menyebutkan sedikitpun di dalamnya hukum-hukum syar'i dan tidak juga khabar-khabar tentang selain-Nya. Yang ada, Allah hanya menyebutkan pengkhabaran tentang diri-Nya. Tauhid yang terdiri dari "Tauhid asma' wa sifat" terlampir didalam surah yang agung ini, juga hadits shahih menjelaskan salah satu keutamaan dari surah ini, yaitu surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran, yakni dari segi keutamaan surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an, dalam hadits dikatakan : (( أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : ((وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ. )) “Sesungguhnya seseorang mendengar orang lain membaca قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya, ia mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an” [ HR al Bukhari, 4/1915 no. 4726 ] .

Dalam hadits lain dikatakan : (( أَنَّ النَّبِيَّ بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِ، فَيَخْتِمُ بِـ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا، ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ، فَقَالَ: ((سَلُوْهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟))، فَسَأَلُوْهُ، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ : أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ )) “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya” [ HR al Bukhari, 6/2686 no. 6940; Muslim, 1/557 no. 813 ] .

{ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ } Katakanlah wahai Muhammad, sampaikanlah kepada ummat mu, bahwasanya Dialah Allah ﷻ yang esa, Dia ﷻ yang sempurna sifat-sifat dan nama-Nya, tiada sembahan selain-Nya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Muqoddimah surah al-Ikhlas :
1 ). Beberapa orang alim yang fasih dan ahli balaghoh di andalusia mencoba untuk menyusun kitab beberapa ayat yang serupa dengan al-Qur'an, maka mereka pun mengamati dan mempelajari surah al-Ikhlas; untuk mereka tiru dalam penyusunan surah yang serupa, tanpa disadari seseorang dari mereka berkata : aku ditimpa ketakutan pada sebuah kertas; yang kemudian membawaku pada pintu taubat dan penyesalan.

2 ). Surah al-Ikhlas diibaratkan seperti sepetiga al-Qur'an sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang shohih; hal itu berdasarkan bahwasanya ilmu yang terkandung dalam al-Qur'an ada tiga pembagian : tauhid, hukum-hukum, dan kisah, dan surah al-ikhlas mencakup didalamnya pembahsan tentang tauhid yang merupakan sepertiga bagian dari al-Qur'an.

{ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ , اللَّهُ الصَّمَدُ }

1-2
1 ). Mungkin sebagian dari mereka ada yang menyangka bahwa dua ayat ini pada hakikatnya bersambung : قُلْ هُوَ اللَّهُ الأَحَدٌ الصَّمَدُ , tetapi nyatanya kedua ayat ini saling terpisah, karena kalimat dari ayat ini disesuaikan agar menjadi tetap dalam diri-diri siapa yang yang membacanya dan untuk pengagungan untuknya, maka lebih sesuai jika setiap kalimat tidak terikat dengan yang lainnya.

2 ). { اللَّهُ الصَّمَدُ } Dzat yang digantungkan kepada-Nya segala urusan, dan tidak kepada selain-Nya perkara dan urusan itu digantungkan : { وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ }.

Maka apakah Allah yang menjadi tempat pertama kita melaporkan segala sesuatu yang kita butuhkan, dalam susah ataupun senang, dalam keadaan sempit ataupun lapang ?