Al-Qur'an Surat Al-Lahab Ayat 1

Al-Lahab: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

tabbat
تَبَّتْ
binasalah
yada
یَدَاۤ
kedua tangan
abi
اَبِیْ
Abu
lahabin
لَهَبٍ
Lahab
watabba
وَّ تَبَّؕ
sebenar-benar binasa

Transliterasi Latin:

Tabbat yadā abī lahabiw wa tabb (QS. 111:1)

Arti / Terjemahan:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (QS. Al-Lahab ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Karena kebenciannya kepada Nabi dan penentangannya terhadap dakwah beliau dengan cara yang menyakitkan, maka celaka dan binasalah kedua tangan Abu Lahab yakni diri Abù Lahab, yang bernama ‘Abdul ‘Uzzà bin ‘Abdul Muttalib; dan benar-benar binasa dia!

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Abu Lahab akan rugi dan binasa dan kata-kata ini sebagai kutukan dari Allah baginya. Binasa pada kedua belah tangannya karena tangan adalah alat bekerja dan bertindak. Bila kedua belah tangan seseorang telah binasa, berarti ia telah binasa.
Dikatakan Abu Lahab, padahal namanya Abdul-'Uzza, karena ia berwajah tampan menawan. Namun para ulama berpendapat bahwa dikatakan Abu Lahab karena ia pasti menjadi penghuni neraka yang bergejolak apinya. Hal itu seperti orang komunis memilih syiar merah dan golongan kiri karena golongan kiri adalah ashabusy-syimal.
Permulaan ayat ini adalah kutukan atas kebinasaan Abu Lahab dan penutupnya adalah sebagai keterangan dari Allah bahwa kutukan tersebut telah terbukti dan Abu Lahab pasti rugi di dunia dan di akhirat.
Ketika ayat tabbat yadA abi lahabin watabba turun, Ummu Jamil al-'AurA (wanita yang sebelah matanya buta) binti harb datang sambil berteriak-teriak. Ia membawa batu sekepalan tangan, seraya berkata. "Dia mencela (agama kami), kami menolak. Agamanya kami benci dan perintahnya kami bantah." Ketika itu Nabi saw. duduk di dalam masjid bersama Abu Bakar. Ketika Abu Bakar melihat wanita itu, beliau berkata, Wahai Rasulullah, wanita itu telah datang. Saya khawatir dia melihatmu." Maka Rasulullah saw. berkata "Dia tidak akan melihatku." Kemudian Nabi membaca sebuah ayat dan berlindung dengan menggunakan ayat itu. Beliau membaca "Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an, kami jadikan diantara kamu dan orang-orang yang tidak beriman itu penghalang yang tertutup." Wanita itu berdiri di depan Abu Bakar, namum ia tidak bisa melihat Rasulullah saw. Ia berkata, "Hai Abu Bakar, aku mendapat kabar bahwa temanmu itu telah menghinaku." Abu Bakar berkata, "Tidak. Demi Tuhan Pemilik Ka'bah. Dia tidak mencelamu." Lalu wanita itu berpaling sambil berkata, "Kaum Quraisy telah tahu kalau aku adalah putri pembesarnya." (Riwayat al-hakim)

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Binasalah) atau merugilah (kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: "Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa." Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, "Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku." Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Saw. keluar menuju ke Lembah Batha, lalu menaiki bukit yang ada padanya dan berseru, "Awas ada musuh di pagi hari ini!" Maka orang-orang Quraisy berkumpul kepadanya dan beliau bersabda: "Bagaimanakah pendapat kalian jika aku sampaikan berita kepada kalian bahwa musuh akan datang menyerang kalian di pagi atau petang hari, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab, "Ya.” Nabi Saw. bersabda, "Maka sesungguhnya aku memperingatkan kepada kalian akan datangnya azab yang keras.” Maka Abu Lahab berkata, "Celakalah kamu ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Lahab: 1), hingga akhir surat

Menurut riwayat yang lain, disebutkan bahwa lalu Abu Lahab menepiskan kedua tangannya seraya berkata, "Celakalah kamu sepanjang hari ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami?" Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Lahab: 1)

Konteks riwayat pertama menunjukkan pengertian kutukan terhadap Abu Lahab, sedangkan konteks riwayat kedua menunjukkan pengertian pemberitaan tentang sikap Abu Lahab. Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah Saw., nama aslinya ialah Abdul Uzza ibnu Abdul Muttalib, dan nama kunyahnya (gelarnya) ialah Abu Utaibah. Sesungguhnya dia diberi julukan Abu Lahab tiada lain karena wajahnya yang cerah. Dia adalah seorang yang banyak menyakiti Rasulullah Saw., sangat membenci dan meremehkannya serta selalu memojokkannya dan juga memojokkan agamanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abu Zanad, dari ayahnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang dikenal dengan nama Rabi'ah ibnu Abbad, dari Banid Dail, pada mulanya dia adalah seorang jahiliah, lalu masuk Islam. Dia mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi Saw. bersabda di masa Jahiliah di pasar Zul Majaz:

Hai manusia, ucapkanlah, "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, " niscaya kamu beruntung.

Sedangkan orang-orang berkumpul mengerumuninya. Dan di belakangnya terdapat seorang yang berwajah cerah, bermata juling, dan rambutnya berkepang. Orang itu mengatakan, "Sesungguhnya dia adalah orang pemeluk agama baru lagi pendusta." Orang yang berwajah cerah itu selalu mengikuti Nabi Saw. ke mana pun beliau pergi. Aku bertanya mengenainya, maka dijawab bahwa orang itu adalah pamannya sendiri, bernama Abu Lahab.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui Syuraih, dari Ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, kemudian disebutkan hal yang semisal. Abu Zanad bertanya kepada Rabi'ah, "Apakah saat itu engkau masih anak-anak?" Rabi'ah menjawab, "Tidak, bahkan demi Allah, sesungguhnya aku di hari itu telah 'aqil lagi dapat mengangkat qirbah." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Husain ibnu Abdullah ibnu Ubaidillah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rabi'ah ibnu Abbas Ad-Daili mengatakan, "Sesungguhnya saat ia bersama ayahnya —telah berusia remaja— melihat Rasulullah Saw. mendatangi tiap kabilah, sedangkan di belakang beliau terdapat seorang lelaki yang bermata juling, berwajah cerah, dan berambut lebat. Rasulullah Saw. berdiri di hadapan kabilah, lalu bersabda:

Hai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian aku memerintahkan kepada kalian untuk menyembah Allah dan janganlah kalian persekutukan Dia dengan sesuatu pun; benarkanlah aku dan belalah aku hingga aku dapat melaksanakan semua yang diutuskan oleh Allah kepadaku.

Apabila Rasulullah Saw. selesai dari ucapannya, maka lelaki itu berkata dari belakangnya, "Hai Bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan 'Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan Bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid'ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti."

Aku bertanya kepada ayahku, "Siapakah orang ini?" Ayahku menjawab, bahwa dia adalah pamannya yang dikenal dengan nama Abu Lahab. Imam Ahmad dan Imam Tabrani telah meriwayatkan pula dengan lafaz yang sama.

Firman Allah Swt:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab. (Al-Lahab: 1)

Yakni merugi, kecewa, dan sesatlah (sia-sialah) amal perbuatan dan usahanya.

dan sesungguhnya dia akan binasa. (Al-Lahab: 1)

Yaitu sesungguhnya dia celaka dan telah nyata merugi dan binasa.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[111 ~ AL-MASAD (JERAT SABUT) Pendahuluan: Makkiyyah, 5 ayat ~ Surat ini dimulai dengan pemberitaan tentang kebinasaan Abû Lahab, musuh Allah dan Rasul-Nya. Harta, kehormatan atau apa saja selain itu yang dimilikinya tidak berguna lagi. Di akhirat kelak, ia diancam akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala dan membakar. Istrinya ikut pula menyertainya masuk ke dalam neraka. Allah memberikan kepadanya satu bentuk azab, yaitu dengan melilitkan seutas jerat ke lehernya untuk menyeretnya ke dalam neraka, sebagai tambahan siksa atas apa yang telah dilakukannya dalam menyakiti Rasulullah saw. dan mengganggu misi dakwahnya.]] Binasalah kedua tangan Abû Lahab yang selalu digunakannya untuk menyakiti kaum muslimin. Ia pun binasa pula bersama dengan kedua tangannya itu.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

Abu lahab adalah paman Nabi. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki adan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah memberinya balasan buruk. Karena itu Allah amat mencelanya yang merupakan kehinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman,
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, “Dan sungguh dia akan binasa,” sehingga ia tidak akan beruntung.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Lahab Ayat 1

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya suatu hari, Rasulullah saw naik ke atas bukit Shafa lalu memanggil orang-orang Quraisy untuk berkumpul. Pada saat mereka telah berkumpul, rasulullah saw lalu berkata, "Sekiranya saya sekarang mengatakan kepada kalian bahwa pasukan musuh akan menyerang kalian di pagi ini atau sore ini apakah kalian akan mempercayainya?" Mereka serentak menjawab, "Yaa." Lalu Rasulullah saw bersabda, "sesungguhnya saya sekarang memberi peringatan kepada kalian terhadap akan datangnya azab yang pedih." Mendengar ucapan nabi saw tersebut, Abu Lahab langsung menyahut, "Celaka engkau, apakah hanya untuk menyampaikan hal ini engkau mengumpulkan kami?!" Allah lalu menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Israil, dari Abu Ishak dari seorang lelaki dari Hamadan yang bernama Yazid bin Zaid bahwa suatu ketika istri Abu Lahab menebarkan duri-duri di jalan yang akan dilalui oleh nabi saw. Tidak lama kemudian turunlah surah ini.
Diriwayatkan juga hal senada oleh Ibnul Mudzir dari Ikrimah.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Karena kebenciannya kepada nabi dan penentangannya terhadap dakwah beliau dengan cara yang menyakitkan, maka celaka dan binasalah kedua tangan abu lahab yakni diri ab' lahab, yang bernama 'abdul 'uzz' bin 'abdul muttalib; dan benar-benar binasa dia!2. Ketika azab Allah menimpanya maka tidaklah berguna baginya hartanya yang dia kumpulkan dan banggakan, dan tidak pula bermanfaat apa yang dia usahakan seperti jabatan dan keturunan untuk menyelamatkan dirinya dari azab itu. Hanya iman dan amal saleh yang dapat menyelamatkan seseorang dari murka Allah.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

1. Hancur dan merugilah Abu Lahab (yaitu Abu Al-Uzza bin Abdul Muthallib, paman Nabi SAW, namun dia adalah orang yang paling memusuhinya), maka sungguh merugilah dia. Ini adalah berita untuknya. Abu Lahab adalah julukan baginya karena saking merahnya wajahnya, julukan ini disebutkan untuk mengolok-olok dia. Kalimat pertama adalah doa yang abadi untuk Abu Lahab sampai hari kiamat. Ditetapkan dalam dua hadits shahih dan lainnya bahwa sesungguhnya Nabi SAW saat mengajak kaumnya di bukit Shafa untuk masuk Islam, Abu Lahab berkata:”Cih, apakah kamu mengumpulkan kami kecuali hanya untuk ini?” kemuidian turunlah surah ini.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. تبَّتۡ يَدَاۤ اَبِىۡ لَهَبٍ (Binasalah kedua tangan Abu Lahab)
Yakni binasa dan merugilah kedua tangannya.

وَّتَبَّؕ‏( dan sesungguhnya dia akan binasa)
Dan dia juga akan binasa.
Dan kebinasaan ini telah menimpanya, dia adalah Abu Lahab, paman Rasulullah, dan namanya adalah Abdul ‘Uzza.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Allah mencela orang sesat yang telah menyakiti Rasulullah: Binasalah kedua tangan Abu Lahab (Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib) dan binasalah dia bersama keduanya karena telah menyakiti Rasulullah.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Telah merugi kedua tangan paman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- Abu Lahab bin Abdul Muṭṭalib karena perbuatannya, karena ia telah menyakiti Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, dan gagallah usahanya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-2. Surat ini dimulai dengan celaan terhadap Abu Lahab, Allah berkata : Sungguh celaka kedua tangan orang yang celaka itu (yaitu Abu Lahab). Sia-sia dan merugi karena sebab memusuhi Nabi ﷺ. Dan sebagian celaannya kepada Nabi, ia (Abu Lahab) mengikuti Rasul ﷺ yang menuju ke Mina untuk berdakwah kepada orang-orang yang berhaji, kemudia Abu Lahab berkata : Jangan kalian percaya kepadanya, sesungguhnya ia adalah anak kami dan masih ingusan. Kemudian Allah mengabarkan bahwa harta yang dikumpulkan Abu Lahab dari hasil perdagangannya tidaklah memiliki manfaat, begitu juga dengan anaknya yang ia banggakan, tidak akan menolongnya dari adzab Allah.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

Dalam Al-Quran banyak bukti yang sangat jelas menunjukkan bahwa Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah benar, beliau tidak menyeru untuk kekuasaan dan jabatan, dan tidak untuk memperoleh ketokohan pada kaumnya.

Dan paman-paman Rasulullah ‘alaihissholaatu wassalaam dalam mereka berinteraksi dengan beliau dan dengan Allah ‘Azza Wa Jalla terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama: Paman beliau yang beriman dan berjihad bersamanya, dan berserah diri kepada Rabbul-‘aalamiin.
Kedua: Menjadi penopang dan membantu, tetapi tetap dalam kekafiran.
Ketiga: Menentang dan berpaling, dia pun kafir.

Yang pertama: Dialah Abbas Bin Abdulmuthalib dan Hamzah Bin Abdulmuthalib. Hamzah lebih utama dari pada Abbas, karena yang kedua adalah di antara para syuhada yang terbaik di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan singa Allah dan singa Rasul-Nya (1) beliau mati syahid radhiyallaahu ‘anhu pada saat perang uhud pada tahun ke 2 hijriyah.

Sedangkan pamannya yang mendukung dan membantunya meski tetap dalam kekufuran, ialah Abu THalib. Abu Thalib berdiri Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-bainya dalam membela dan mendukungnya akan tetapi ia wal-‘iyaadzu billaah telah ditetapkan kalimat azab baginya, tidak masuk islam hingga akhir hayatnya. Pada akhir hayatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan agar ia masuk islam tetapi ia enggan dan mati dalam keadaan ucapannya: Ia berada di atas millah Abdulmuthalib(2). Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafaat sehingga ia berada di neraka atas, yang mana ia mengenakan dua sandal yang mendidihkan otaknya.

Ketiga: Paman beliau yang menentang dan berpaling, dia adalah Abu Lahb. Allah menurunkan tentang kondisinya dalam sebuah surat yang sempurna, yang dibaca saat shalat-shalat baik yang wajib mau pun sunnah, baik shalat yang bacaannya dilirihkan maupun dikeraskan suranya. Seseorang akan diberi pahala dengan membacanya, di setiap huruf yang dibaca akan mendapatkan sepuluh kebaikan.

Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ “Merugilah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Ini adalah bantahan kepada Abu Lahab ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan mereka untuk mengajak kepada (agama) Allah, beliau memberi kabar kembira dan peringatan. Abu Lahab mengatakan: تَبًّا لَكَ أَلِهذَا جَمَعْتَنَا؟ “Celaka kamu, apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami?!” Perkataannya: أَلِهذَا جَمَعْتَنَا؟ “apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami?!” mengandung unsur pelecehan, yakni: Ini perkara yang sepele, tidak perlu mengumpulkan tokoh-tokoh untuknya, ini sebanding dengan firman-Nya: أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?”(QS. Al-Anbiya: 36) Maknanya: Menghinakan, tidak berharga dan tidak penting, sebagaimana mereka mengatakan: وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ “Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini?”(QS. Az-Zukhruf: 31)

Akhirnya, Abu Lahab mengatakan: تَبًّا لَكَ أَلِهذَا جَمَعْتَنَا؟ “Celaka kamu, apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami?!” maka Allah membantahnya dengan surat ini: تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ “Merugilah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Makna اَلتَّبَابُ [At-Tabaab] adalah rugi. Kerugian itu dimulai dari kedua tangannya sebelum dirinya, kerena kedua tangan adalah alat untuk bekerja, bergerak, mengambil dan memberi juga sebagainya. Julukan Abu Lahab (Tukang api) adalah julukan yang sangat pantas untuknya, karena keadaan dan tempat kembalinya. Keserasian itu adalah ia akan berada di neraka yang menyala-nyala, menyala-nyala dengan kobaran api yang besar sesuai dengan keadaan dan tempat kembalinya.

Seorang pujangga bersenandung:
قُلْ إِنْ أَبْصَرَتْ عَيْنَاكَ ذَا لَقَبٍ إِلَّا وَمَعْنَاهُ إِنْ فَكَّرْتَ فِي لَقَبِه

Katakanlah: Jika kedua matamu memandang yang punya julukan.
Kecuali ia memiki sifat sesuai dengan julukannya jika anda cermati.

Ketika Suhail Bin Amer menghadap kepada rasulullah pada kisah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: هَذاَ سُهَيْلٌ بن عَمْرٍو، وَماَ أَرَاكُمْ إِلَّا سَهَّلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ “ Ini adalah Suhail Bin Amer, dan aku tidak melihatnya melainkan ia akan memudahkan urusan untuk kalian”(3) karena nama serasi dengan perbuatan (seseorang).

(1) Lihat: Al-Ishabah: 2/121-122
(2) Dikeluarkan Bukhari (1360) dan Muslim (23) dari hadits Abu Sa’iid al-Makhzumiy radhiyallaahu ‘anhu
(3) Dikeluarkan oleh Bukhari (2731) dari hadits Al-Miswar Bin Makhramah radhiyallaahu ‘anhu, dan Marwan Bin Al-Hakam.

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata: Ketika turun ayat, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (Terj. Asy Syu’araa: 214) Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas Shafa dan menyeru, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Addiy.” Beliau menyebut beberapa suku orang Quraisy, sehingga mereka semua berkumpul, dan orang yang tidak bisa keluar mengirim utusan untuk melihat ada apa, lalu Abu Lahab dan orang-orang Quraisy datang, maka Beliau bersabda, “Bagaimana menurutmu jika aku beritahukan kepadamu, bahwa ada sebuah pasukan berkuda di sebuah lembah yang hendak menyerangmu, apakah kamu akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya, kami belum pernah mendapatkanmu selain berkata benar.” Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya aku seorang yang memberi peringatan kepadamu sebelum datang azab yang keras.” Lalu Abu Lahab berkata, “Celakalah kamu sepanjang hari! Apakah untuk hal ini engkau kumpulkan kami?” Maka turunlah surah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!-- Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan…dst.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir dalam At Taarikh juz 2 hal. 216 dan dalam At Tafsir juz 19 hal. 121 dan juz 30 hal. 337, dan Baihaqi dalam Dalaa’ilun Nubuwwah juz 1 hal. 431. Dalam ‘Umdatul Qaari juz 16 hal. 93 diterangkan, bahwa hadits ini mursal, karena Ibnu Abbas ketika itu masih kecil; bisa belum lahir atau sebagai anak-anak sebagaimana dipastikan oleh Al Ismaa’iliy, namun mursal tersebut adalah mursal shahabi, sedangkan mursal shahabiy tidaklah mengapa dan tidak mencacatkannya. Wallahu Ta’aala a’lam bish shawab.)

Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri, namun sangat memusuhi Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyakitinya. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencelanya dengan celaan yang keras ini yang merupakan celaan dan kehinaan yang berkelanjutan untuknya sampai hari Kiamat.

Yang dimaksud dengan kedua tangan Abu Lahab ialah Abu Lahab itu sendiri. Digunakan kata “kedua tangan” karena pada umumnya tindakan manusia dilakukan oleh kedua tangannya. Kalimat ini merupakan doa kerugian dan kecelakaan untuk Abu Lahab.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Allah - عز وجل - mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ dengan membawa risalah yang mulia kepada ummat manusia, mengajak mereka kepada tauhid mengesakan Allah , berjihad dijalan Allah memperjuangkan agama islam sejak beliau diangkat menjadi Rasul hingga mendekati masa-masa penaklukan kota Makkah.

Allah - عز وجل - telah menolong Rasul-Nya dalam segala urusan, dan beliau bersama sahabatnya sering menemukan kesulitan dan rintangan dalam perjuangan dakwah beliau pada masa-masa itu, dan dakwah beliau diawal risalah islam disebarkan hanya dalam bentuk dakwah lisan tanpa adanya jihad, karena pada masa itu Allah - عز وجل - belum menurunkan perintah untuk berjihad, walaupun keadaan kaum muslim ketika itu sangat memprihatinkan, ancaman datang silih berganti, serangan-serangan dari kaum kuffar quraisy dan Yahudi, cercaan demi cercaan di hadapi oleh kaum muslim dengan sabar, akan tetapi mereka tetap berada diatas keimananmereka yang kokoh.

Diawal-awal datangnya islam penduduk kota Makkah sangat membenci keberadaan kaum muslimin di kota itu, mereka mencaci maki kaum muslimin yang masih minoritas, akan tetapi Rasulullah ﷺ bersama sahabatnya sabar menerima semua cobaan itu dan mereka terus istiqomah dalam dakwah mereka, bahkan paman Rasulullah ﷺ sendiri Abu lahab sangat membeci dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ , dia kerap membuntuti Rasulullah ﷺ kemanapun beliau berjalan untuk menyampaikan dakwah islam, Abu mengikuti Nabi Muhammad setiap kali beliau menyampaikan dakwahnya Abu lahab terus mengatakan kepada orang-orang : "jangan kalian dengarkan ucapan orang ini sesungguhnya dia adalah pembohong, begitupun dengan istri Abu lahab yaitu Ummu jamil binti harb yang juga merupakan saudari abu sufyan, perempuan yang juga sering melakukan perlawanan terhadap dakwah Rasulullah ﷺ .

Suatu ketika Rasulullah saw naik ke bukit Shafa sambil berseru :”Mari berkumpul pada pagi hari ini !” maka berkumpullah kaum Quraisy. Rasulullah bersabda :”Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang, apakah kalian percaya padaku?” Kaum Quraisy menjawan: “Pasti kami percaya”. Rasulullah bersabda: “Aku peringatkan kalian bahwa siksa Allah yang dasyat akan datang.” Berkatalah Abu Lahab:”Celakalah engkau ! apakah hanya untuk ini, engkau kumpulkan kami ?” Maka turunlah ayat ini (surat Al-Lahab ayat 1-5). Berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa kecelakaan itu akan menimpa orang yang memfitnah dan menghalang-halangi agama Allah.

{ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } Binasalah kedua tangan Abu lahab, Yang dimaksud dengan kedua tangan Abu Lahab ialah Abu Lahab sendiri, hal itu karena tangan adalah alat yang dipakai setiap manusia untuk melakukan apapun yang ia inginkan baik itu kejahatan ataupun kebaikan.

Abu lahab yang bernama asli 'Abdul 'uzza bin Abdul muththolib, al-'uzza adalah nama dari salah satu patung berhala penduduk kota Makkah, sedangkan kunyahnya yaitu Abu lahab diambil dari sifat wajahnya yang terang tanpan, yang diserupakan dengan kemerah merahan bara abi, Ayat ini merupakan balasan untuknya yang mengatakan : "binasalah kamu wahai Muhammad" .

{ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } Ayat ini juga merupakan doa agar kebinasaan dan kerugian tertimpa kepadanya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Ada pelajaran bahwasanya nasab tidaklah berpengaruh dalam menentukan nasib seseorang selamat dari azab Allah, bahkan nabi yang mulia pun ketika pelanggaran syariat terjadi diantara keluarganya maka akibat yang akan mereka terima lebih besar, sebagaimana Allah berfirman : { يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا } "Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah". [ al-Ahzab : 30 ].