Al-Qur'an Surat Al-'Asr Ayat 1

Al-'Asr: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

وَالْعَصْرِۙ

wal-'asri
وَ الْعَصْرِۙ
demi waktu

Transliterasi Latin:

Wal-'aṣr (QS. 103:1)

Arti / Terjemahan:

Demi masa. (QS. Al-'Asr ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Demi masa, waktu sore, atau salat Asar. Allah bersumpah dengan masa agar manusia memperhatikan masa dan memanfaatkannya dengan baik; bersumpah dengan waktu sore, sebagaimana dengan waktu duha, sebagai salah satu bukti kuasa Allah; dan bersumpah dengan salat Asar karena keutamaanya atas salat-salat yang lain.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan masa yang terjadi di dalamnya bermacam-macam kejadian dan pengalaman yang menjadi bukti atas kekuasaan Allah yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi, dan Ilmu-Nya yang sangat luas. Perubahan-perubahan besar yang terjadi pada masa itu sendiri, seperti pergantian siang dengan malam yang terus-menerus, habisnya umur manusia, dan sebagainya merupakan tanda keagungan Allah.
Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. (Fussilat/41: 37)

Apa yang dialami manusia dalam masa itu dari senang dan susah, miskin dan kaya, senggang dan sibuk, suka dan duka, dan lain-lain menunjukkan secara gamblang bahwa bagi alam semesta ini ada pencipta dan pengaturnya. Dialah Tuhan yang harus disembah dan hanya kepada-Nya kita memohon untuk menolak bahaya dan menarik manfaat. Adapun orang-orang kafir menghubungkan peristiwa-peristiwa tersebut hanya kepada suatu masa saja, sehingga mereka beranggapan bahwa bila ditimpa oleh sesuatu bencana, hal itu hanya kemauan alam saja. Allah menjelaskan bahwa masa (waktu) adalah salah satu makhluk-Nya dan di dalamnya terjadi bermacam-macam kejadian, kejahatan, dan kebaikan. Bila seseorang ditimpa musibah, hal itu merupakan akibat tindakannya. Masa (waktu) tidak campur tangan dengan terjadinya musibah itu.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Demi masa) atau zaman atau waktu yang dimulai dari tergelincirnya matahari hingga terbenamnya; maksudnya adalah waktu salat Asar.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Al-Asr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah waktu asar.

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Allah Swt. bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-'Asr:3)

Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. (Al-'Asr: 3)

Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (A1-'Asr: 3)

Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[103 ~ AL-'ASHR (MASA) Pendahuluan: Makkiyyah, 3 ayat ~ Dalam surat ini, Allah Swt. bersumpah demi masa--karena masa mengandung banyak keajaiban dan pelajaran yang menunjukkan kemahakuasaan dan kemahabijaksanaan-Nya--bahwa manusia tidak akan lepas dari kekurangan dalam perlakuan dan keadaannya, kecuali orang-orang yang benar-benar beriman yang mengerjakan amal saleh, saling menasihati sesama mereka untuk berpegang teguh dalam kebenaran yang mengandung semua kebaikan, dan saling menasihati untuk bersabar dalam melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka dan dalam menjauhi segala larangan.]] Aku bersumpah demi masa karena mengandung banyak peristiwa dan pelajaran.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1-3. Allah bersumpah dengan masa, yaitu malam dan siang sehingga tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam;
ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan Neraka Jahim.
Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum kecuali orang yang memiliki empat sifat:
~ Iman terhadap apa yang diperintahkan Allah dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna.
~ Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, zahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan.
~ saling menasehati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong, dan menganjurkannya.
~ Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam ketaatan terhadap Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.
Dengan dua hal pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan dengan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Demi masa, waktu sore, atau salat asar. Allah bersumpah dengan masa agar manusia memperhatikan masa dan memanfaatkannya dengan baik; bersumpah dengan waktu sore, sebagaimana dengan waktu duha, sebagai salah satu bukti kuasa Allah; dan bersumpah dengan salat asar karena keutamaanya atas salat-salat yang lain. 2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, baik di dunia maupun akhirat, akibat hawa nafsu yang menyelubungi dirinya.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Keutamaan surah: Ath-Thabrani dari Ubaidillah bin Hafsh berkata: “Ada dua laki-laki dari sahabat Rasulallah SAW, ketika keduanya bertemu maka mereka tidak akan berpisah kecuali salah satunya membaca surah Al-Ashr sampai ayat terakhir, lalu yang satunya memberikan salam kepada yang lain.” Ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Khudzaifah.

1-2. Aku bersumpah demi masa, yaitu waktu yang mengandung persimpangan dan perputaran. Sesungguhnya manusia (manusia yang terbebani) berada dalam kerugian yang besar dalam perniagaannya dengan setan untuk mendapatkan hasil dunia. Jika saja dia melakukan perniagaan dengan Allah SWT, maka sungguh baginya keuntungan abadi. Jika dia menaati Allah maka dia akan mendapatkan hasil akhirat. Ini adalah jawaban dari sumpah

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. وَالۡعَصۡرِۙ‏ (Demi masa)
Allah bersumpah dengan masa, yakni waktu; karena di dalamnya terdapat banyak ibrah, seperti pergantian siang dan malam dengan penuh perhitungan, pergantian kegelapan dan cahaya, dan keberlangsungan hidup karena hal ini; ini semua adalah bukti jelas atas wujud dan keesaan Sang Pencipta.
Muqatil berpendapat: yang dimaksud adalah waktu shalat ashar.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-3. Allah bersumpah dengan waktu antara akhir waktu zhuhur hingga ketika matahari mulai memerah; dan yang dimaksud adalah waktu ketika terjadinya berbagai perbedaan keadaan dan fenomena dan waktu hidupnya makhluk.

Kemudian disebutkan isi dari sumpah itu: Sungguh manusia dalam kerugian dengan mendapat kesudahan yang buruk di akhirat, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih, yaitu amalan yang diperintahkan untuk dilaksanakan. Dan disebutkan perbuatan saling menasehati dalam kebenaran, padahal itu termasuk amal shalih, sebagai penyebutan hal yang khusus setelah hal yang umum agar menjadi perhatian.

Maka bagian dari hal yang diperintahkan adalah memberi petunjuk kepada orang lain menuju kebenaran, termasuk mengajarkan hal-hal yang berkenaan dengan hidayah.

Dan yang dimaksud dengan sabar adalah menahar diri dari hal yang diinginkan hawa nafsu. Dan ini merupakan bagian dari akhlak yang paling mulia.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Allah Yang Mahasuci bersumpah dengan waktu asar.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-2. Allah bersumpah dengan waktu atau zaman, dikarenakan di dalamnya (zaman) adalah jembatan dari segi berjalannya malam dan siang. Di dalamnya, manusia menjadi orang-orang yang merugi dalam amalan, sepanjang kehidupannya; Karena manusia akan berlalu (kehidupannya) dengan sekejap. Manusia seperti pedagang, kecakapannya dan hartanya jika telah dikuasai, akan dihabiskan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang sampai maut mendatanginya; Maka (manusia) seperti ini yang di akhirat menjadi orang-orang yang merugi.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

1-2. Allah 'Azza Wa Jalla berfirman: وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ " Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian," Allah Ta'ala bersumpah dengan al-'Ashr. Al-Ashr sendiri dikatakan bahwa maksudnya adalah akhir siang hari, karena akhir siang hari adalah waktu siang yang paling baik, sholat ashar disebut dengan shalat wustha maknanya yang terbaik, sebagaimana Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam telah menyebutnya demikian.

Dikatakan juga: Bahwa al-'ashr di sini berarti waktu (atau masa), inilah yang lebih tepat, Allah bersumpah dengannya karena di dalamnya adalah perbedaan-perbedaan kondisi, perubahan-perubahan keadaan, dan berlangsungnya hari-hari di antara manusia, dan yang lainnya yang bisa disaksikan secara nyata juga diperbincangkan tentangnya saat belum tiba. Al-Ashr adalah waktu yang di dalamnya makhluk menjalani kehidupan, waktu-waktunya berbeda-beda bisa dalam kondisi susah maupun lapang, terjadi peperangan atau perdamaian, sehat atau pun sakit, dan amalan saleh atau pun buruk dan yang lainnya seperti sudah diketahui bersama.

Allah bersumpah dengan waktu atas firman-Nya: إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ " Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian," manusia di sini menunjukkan keumuman, karena maksud dari manusia di sini adalah (semua) jenis manusia. Dan tanda bahwa manusia di sini bemakna umum adalah ال [Al] di sini dapat ditempatkan dengan kalimat كل [Kull: semua] di sini andai dikatakan: Semua manusia dalam keadaan rugi maka inilah makna ayat tersebut.

Makna ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah bersumpah dengan sumpah atas kondisi manusia bahwa dia dalam keadaan merugi. Maknanya: Dalam keaadan kerugian dan kekurangan di segala keaadaannya, di dunia dan di akhirat, kecuali orang-orang yang dikhususkan oleh Allah 'Azza Wa Jalla. Kalimat ini ditegaskan dengan tiga penguat, pertama: Dengan sumpah. Kedua: Dengan إِنَّ[inna]. Ketiga: Dengan huruf lam (taukid). Firman-Nya لَفِي خُسْرٍ "Benar-benar dalam kerugian" Dalam bentuk kalima seperti itu agar lebih tegas dari pada jika bentuk kalimatnya: Benar-benar merugi. Dan ini karena kata في [fii: di dalam] untuk menunjukkan tempat, maka seakan akan manusia tenggelam masuk dalam kerugian, dan kerugian itu meliputinya dari segala sisi.

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Kata ‘Ashr’ di ayat bisa juga diartikan waktu ‘Ashr atau shalat Ashar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan masa yang mencakup malam dan siang; yang merupakan tempat terjadinya perbuatan hamba dan amal mereka, bahwa setiap manusia akan rugi, yakni tidak beruntung sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya. Kerugian ada beberapa macam; ada kerugian yang mutlak dan ada kerugian yang hanya sebagiannya saja. Kerugian yang mutlak adalah kerugian di dunia dan akhirat; di dunia mendapatkan kesengsaraan, kebingungan dan tidak mendapatkan petunjuk, sedangkan di akhirat mendapatkan neraka jahannam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala meratakan kerugian kepada semua manusia kecuali orang yang memiliki empat sifat; iman, amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

{ وَالْعَصْرِ } Demi masa, Allah - عز وجل - bersumpah dengan waktu, dan Dia - عز وجل - bersumpah dengan apapun dari makhluk-Nya, dan Dia Allah - عز وجل - tidak bersumpah dengan satu makhluk-Nya melainkan padanya keutamaan ataupun keajaiban, agar setiap mata bertuju kepadanya, dan pada surah ini Allah - عز وجل - bersumpah dengan waktu karena waktu mengandung keajaiban dan keistimewaan yang besar, dengan adanya waktu atau masa hamba dapat mengerjakan amal shalih juga amal keburukan, Allah - عز وجل - berfirman : { وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا } ( Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur ) [ Al-Furqon : 62 ] , waktu-waktu itu adalah kesempatan bagi orang-orang yang ingin Allah lapangkan kepadanya untuk mengerjakan amal shalih.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1-3
1 ). Surah al-'Ashr secara khusus adalah surah yang paling mencakup didalamnya segala kebaikan, dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kitab-Nya mencukupi apapun selainnya , sebagai penawar untuk segala penyakit , juga sebagai petunjuk kepada kebenaran.

2 ). Allah telah bersumpah dengan al-'Ashr yaitu masa bahwasanya manusia itu berada dalam kerugian, hal itu menandakan bahwa kerugian yang mereka hadapi datang bersamaan dengan masa, dan bukan kerugian harta yang akan terganti dan tidak pula kerugian hilangnya kekasih yang dilupakan, melainkan kerugian yang akan memusnahkan kebaikan kehidupan seseorang itu sendiri.

3 ). Dua hal yang mesti selalu saling berdampingan : { وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ } yaitu memberi nasehat dengan kebenaran dan kesabaran; maka memberi wasiat atau nasehat kepada kebenaran tanpa adanya kesabaran bagaikan seseorang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, dan orang yang memberi nasehat dengan kesabaran tanpa kebenaran seperti orang yang mengatakan : { أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ } “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu" [ Shad : 6 ] , kedua hal ini dapat mencetuskan seseorang kepada kerugian jika keduanya saling berpisah.

4 ). Tadabburilah surah al-'Ashr { وَالْعَصْرِ , إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ } ketika disampingkan dari golongan orang-orang yang merugi orang-orang yang tergolong dalam empat sifat itu, maka akan jelas bagimu siapa diantara mereka yang beruntung.