Al-Qur'an Surat Al-Qadr Ayat 1

Al-Qadr: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

inna
اِنَّاۤ
sesungguhnya
anzalnahu
اَنْزَلْنٰهُ
Kami telah menurunkannya
fi
فِیْ
pada
laylati
لَیْلَةِ
malam
al-qadri
الْقَدْرِۚۖ
kemuliaan

Transliterasi Latin:

Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr (QS. 97:1)

Arti / Terjemahan:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (QS. Al-Qadr ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, atau menurunkannya secara sekaligus dari Lauë Maëfùî ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, pada malam qadar, malam kemuliaan dan ke agungan.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Terdapat empat tempat dalam Al-Qur'an yang menerangkan tentang penurunannya kepada Nabi saw yaitu:
1.Dalam Surah al-Qadr.
2.Dalam Surah ad-Dukhan, yaitu pada firman-Nya:

ha Mim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (ad-Dukhan/44: 1-6)

3.Dalam Surah al-Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (al-Baqarah/2: 185)



4.Dalam Surah al-Anfal, yaitu pada firman-Nya:

Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Anfal/8: 41)

Ayat Surah al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Al-Qur'an dari Lauh Mahfudh ke Baitul-'Izzah jelas pada malam Lailatul Qadr. Ayat Surah ad-Dukhan menguatkan turunnya Al-Qur'an pada malam yang diberkahi, ayat Surah al-Baqarah menunjukkan turunnya Al-Qur'an pada bulan Ramadan. Sedangkan Surah al-Anfal/8: 41 di atas menerangkan penyelesaian pembagian rampasan perang pada Perang Badar. Perang ini disebut yaumul-furqan karena merupakan pertempuran antara tentara Islam dengan tentara kafir, di mana kemenangan berada di tangan tentara Islam.
Dalam ayat ini diungkapkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an pertama kali kepada Nabi saw pada malam yang mulia. Kemudian diturunkan terus-menerus secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Sehubungan dengan uraian di atas, para ulama mengatakan bahwa kata anzala dan nazzala berbeda penggunaan dan maknanya. Oleh sebab itu, makna anzalnahu dalam Surah al-Qadr menunjukkan turunnya kitab suci Al-Qur'an pertama kali dan sekaligus dari Lauh Mahfudh ke langit dunia. Kemudian diturunkan berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad, yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Sedangkan makna nazzala bermakna diturunkan berangsur-angsur.
Tidak diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukan Al-Qur'an sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan dalam hal-hal yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi. Al-Qur'an juga menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari kebangkitan.
Manusia memerlukan pegangan tersebut karena tanpanya, mereka tidak dapat memahami prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya untuk membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang. Oleh sebab itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mengetahui secara ilmiah keadaan dan khasiat sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yaitu menurunkan Alquran seluruhnya secara sekali turun dari lohmahfuz hingga ke langit yang paling bawah (pada malam kemuliaan) yaitu malam Lailatulkadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. menceritakan bahwa Dia menurunkan Al-Qur'an di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati. (Ad-Dukhan: 3)

Yaitu Lailatul Qadaryangterletakdi dalam bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185)

Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur'an sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul 'Izzah di langit yang terdekat. Kemudian diturunkan secara terpisah-pisah sesuai dengan kejadian-kejadian dalam masa dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah Saw.

Kemudian Allah Swt. berfirman, mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang dikhususkan oleh Allah Swt. sebagai malam diturunkan-Nya Al-Qur'an di dalamnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 2-3)

Abu Isa At-Turmuzi sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Gailan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani, dari Yusuf ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa seorang lelaki bangkit menuju kepada Al-Hasan ibnu Ali sesudah membaiat Mu'awiyah. Lalu lelaki itu berkata, "Engkau telah mencoreng muka kaum mukmin," atau, "Hai orang yang mencoreng muka kaum mukmin."

Maka Al-Hasan ibnu Ali menjawab, "Janganlah engkau mencelaku, semoga Allah merahmatimu, karena sesungguhnya Nabi Saw. pernah diperlihatkan kepadanya Bani Umayyah berada di atas mimbarnya, hal itu membuat diri beliau merasa berdukacita. Maka turunlah firman Allah Swt.:

'Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar' (Al-Kautsar: 1)

hai Muhammad, yakni sebuah sungai (teiaga) di dalam surga. Dan turunlah pula firman Allah Swt.:

'Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan' (Al-Qadar: 1-3).

yang akan dimilikkan sesudahmu kepada Bani Umayyah, hai Muhammad." Al-Qasim mengatakan bahwa lalu kami menghitung-hitungnya, dan ternyata masa pemerintahan Bani Umayyah adalah seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui jalur ini, yaitu melalui hadis Al-Qasim ibnul Fadl. Dia adalah seorang yang berpredikat siqah, dinilai siqah oleh Yahya Al-Qattan dan Abdur Rahman ibnu Mahdi.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa gurunya bernama Yusuf ibnu Sa'd yang dikenal dengan nama Yusuf ibnu Mazin, dia adalah seorang yang tidak dikenal. Dan hadis dengan lafaz yang seperti ini tidaklah dikenal melainkan hanya melalui jalur ini.

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin dengan sanad yang sama. Dan mengenai perkataan (penilaian) Imam Turmuzi yang menyebutkan bahwa Yusuf ibnu Sa'd seorang yang tidak dikenal, masih perlu diteliti. Karena sesungguhnya telah meriwayatkan darinya sejumiah ulama yang antara lain ialah Hammad ibnu Salamah, Khalid Al-Hazza dan Yunus ibnu Ubaid. Yahya ibnu Mu'in menilainya sebagai seorang yang masyhur (terkenal). Dan menurut suatu riwayat dari Ibnu Mu'in, Yusuf ibnu Sa'd adalah seorang yang siqah (dipercaya).

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Qasim ibnul Fadl, dari Yusuf ibnu Mazin, demikianlah menurutnya, dan ini menimbulkan idtirab dalam hadis ini; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian hadis ini dengan hipotesis apa pun berpredikat munkar sekali. Guru kami Imam Al-Hafiz Al-Hujjah Abul Hajjaj Al-Maziy mengatakan bahwa hadis ini berpredikat munkar.

Menurut hemat kami, ucapan Al-Qasim ibnul Fadl Al-Haddani yang menyebutkan bahwa ia menghitung-hitung masa pemerintahan Bani Umayyah, maka ternyata ia menjumpainya seribu bulan, tidak lebih dan tidak kurang barang sehari pun, pendapat ini tidaklah benar. Karena sesungguhnya Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan r.a. baru memegang tampuk pemerintahan saat Al-Hasan ibnu Ali menyerahkannya kepada dia pada tahun empat puluh Hijriah, lalu semua baiat sepakat 'tertuju kepada Mu'awiyah, maka tahun itu dinamakan dengan tahun Jama'ah.

Kemudian Bani Umayyah terus-menerus memegang kendali pemerintahan berturut-turut di negeri Syam dan negeri lainnya. Tiada suatu kawasan pun yang memberontak terhadap mereka kecuali hanya di masa pemerintahan Abdullah ibnuz Zubair di kedua tanah suci (Mekah dan Madinah), dan Al-Ahwaz serta negeri-negeri yang terdekat selama sembilan tahun. Akan tetapi, kesatuan dan persatuan mereka tetap berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah secara keseluruhan terkecuali hanya pada sebagian kawasan yang tertentu. Hingga pada akhirnya kekhalifahan direbut dari tangan mereka oleh Banil Abbas pada tahun seratus tiga puluh dua.

Dengan demikran, berarti jumlah masa pemerintahan Bani Umayyah seluruhnya adalah sembilan puluh dua tahun, dan ini berarti lebih dari seribu bulan, yang kalau dijumlahkan berarti hanya delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan.

Kalau begitu, berarti Al-Qasim ibnul Fadl menggugurkan masa pemerintahan mereka di masa-masa Ibnuz Zubair (yang hanya sembilan tahun itu). Jika demikian, berarti jumlah ini mendekati kebenaran dari apa yang dikatakannya; hanya Allah jualah Yang Maha Mengetahui.

Bukti lain yang menunjukkan ke-daif-an hadis ini ialah karena hadis ini sengaja diutarakan hanya untuk mencela pemerintahan Bani Umayyah. Seandainya dimaksudkan untuk mencela mereka, tentulah bukan dengan konteks seperti itu. Mengingat keutamaan LailatuI Qadar di masa-masa pemerintahan mereka bukanlah menunjukkan tercelanya hari-hari mereka. Sesungguhnya malam LailatuI Qadar itu sangat mulia, dan surat yang mulia ini diturunkan hanya semata-mata memuji malam LailatuI Qadar. Lalu mengapa ayat ini memuji keutamaannya di masa-masa pemerintahan Bani Umayyah yang dinilai oleh hadis ini tercela.

Kemudian bila-dipahami dari ayat ini bahwa seribu bulan yang disebutkan dalam ayat menunjukkan masa pemerintahan Bani Umayyah, sedangkan suratnya sendiri adalah Makkiyyah. Lalu bagaimana bisa dibelokkan dengan pengertian seribu bulan masa pemerintahan Bani Umayyah, padahal baik lafaz maupun makna ayat tidak menunjukkan kepada pengertian itu. Dan lagi mimbar itu hanyalah baru dibuat di Madinah sesudah hijrah. Semua bukti tersebut menunjukkan kelemahan dan kemungkaran hadis di atas; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, bahwa Nabi Saw. menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah Swt. Maka kaum muslim merasa kagum dengan perihal lelaki Bani Israil itu. Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1-3) Maksudnya, lebih baik daripada lelaki itu menyandang senjatanya selama seribu bulan dalam berjihad di jalan Allah.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Muslim, dari Al-Musanna ibnus Sabbah, dari Mujahid yang meHgatakan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki yang malam harinya melakukan qiyam hingga pagi hari, kemudian di siang harinya ia berjihad di jalan Allah hingga petang hari. Dia mengerjakan amalan ini selama seribu bulan, maka Allah menurunkan firman-Nya: Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 3) Yakni melakukan qiyam di malam kemuliaan itu lebih baik daripada amalan laki-laki Bani Israil itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Maslamah ibnu Ali, dari Ali ibnu Urwah yang mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah Saw. menceritakan tentang kisah empat orang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil (di masa lalu); mereka menyembah Allah selama delapan puluh tahun tanpa melakukan kedurhakaan kepada-Nya barang sekejap mata pun. Beliau Saw. menyebutkan nama mereka, yaitu Ayyub, Zakaria, Hizkil ibnul Ajuz, dan Yusya' ibnu Nun.

Ali ibnu Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu para sahabat Rasulullah Saw. merasa kagum dengan amalan mereka. Maka datanglah Jibril kepada Nabi Saw. dan berkata, "Hai Muhammad, umatmu merasa kagum dengan ibadah mereka selama delapan puluh tahun itu tanpa berbuat durhaka barang sekejap mata pun. Sesungguhnya Allah Swt. telah menurunkan hal yang lebih baik daripada itu."

Kemudian Malaikat Jibril a.s. membacakan kepadanya firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Al-Qadar: 1 -3)

Ini lebih baik daripada apa yang engkau dan umatmu kagumi. Maka bergembiralah karenanya Rasulullah Saw. dan orang-orang yang bersamanya saat itu.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa telah sampai kepadaku dari Mujahid sehubungan dengan malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan. Bahwa amalan, puasa, dan qiyamnya lebih baik daripada melakukan hal yang sama dalam seribu bulan. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan yang di dalam bulan-bulannya tidak terdapat malam Lailatul Qadar.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah ibnu Di'amah dan Imam Syafii serta yang lainnya yang bukan hanya seorang. Amr ibnu Qais Al-Mala'i telah mengatakan bahwa melakukan suatu amalan di malam kemuliaan lebih baik daripada melakukan amalan selama seribu bulan.

Dan pendapat yang menyebutkan bahwa malam Lailatul Qadar itu lebih afdal daripada melakukan ibadah selama seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat Lailatul Qadar, merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, dan pendapat inilah yang benar, bukan yang lainnya.

Pengertian ini sama dengan apa yang disebutkan dalam sabda Nabi Saw. yang mengatakan:

Berjaga-jaga selama semalam di jalan Allah (jihad) lebih baik daripada seribu malam di tempat-tempat yang lainnya.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Sebagaimana pula yang disebutkan berkenaan dengan keutamaan seseorang yang datang ke salat Jumat dengan penampilan yang baik dan niat yang saleh, bahwa dicatatkan baginya amal selama satu tahun, berikut pahala puasa dan qiyamnya. Dan masih banyak lagi nas-nas lainnya yang semakna.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa ketika Ramadan tiba, Rasulullah Saw. bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkati, Allah telah memfardukan bagimu melakukan puasa padanya. Di dalamnya dibukakan semua pintu surga dan ditutup rapat-rapat semua pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti dia telah terhalang (dari semua kebaikan).

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ayyub dengan sanad yang sama.

Mengingat melakukan ibadah di dalam malam Lailatul Qadar sebanding pahalanya dengan melakukan ibadah selama seribu bulan, telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Barang siapa yang melakukan qiyam (salat sunat) di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dan ridaAllah, maka diampunilah baginya semua dosanya yang terdahulu.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[97 ~ AL-QADR (KEMULIAAN) Pendahuluan: Makkiyyah, 5 ayat ~ Dalam surat ini terdapat penjelasan tentang al-Qur'ân dan malam diturunkannya, dan penjelasan bahwa malam tersebut mempunyai nilai keutamaan yang lebih baik dari seribu bulan. Selain itu, juga terdapat keterangan bahwa para malaikat, termasuk malaikat Jibrîl, pada malam itu turun ke bumi atas izin Allah untuk membawa segala perintah. Malam itu berisi kedamaian dan keselamatan sampai fajar menyingsing.]] Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur'ân pada malam kemuliaan (lailatulkadar, laylat al-qadr) dan kehormatan.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Allah berfirman menjelaskan keutamaan al-Quran dan tingginya derajat al-Quran. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan.” Hal itu karena Allah mulai menurunkan al-Quran di bulan Ramadhan pada malam qadar, dengannya Allah merahmati seluruh hamba secara umum yang tidak mampu dihargai oleh manusia. Disebut malam qadar karena agungnya kemuliaan malam itu dan keutamaannya di sisi Allah, karena pada malam itu Allah menentukan ajal, rizki, dan ketentuan-ketentuan takdir selama satu tahun.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Qadr Ayat 1

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Jarir dari Hasan bin Ali, ia berkata: "Suatu ketika, diperlihatkan kepada abi saw orang-orang dari Bani Umayah berdiri di atas mimbar beliau. Hal tersebut membuat beliau sedih. Setelah itu, turulah ayat Al-Kautsar : 1 dan Al-Qadar: 1-3. Yaitu lamanya masa kekuasaan Bani Umayah sepeninggal nabi." Qasim al-Hamdani berakata: "Ketika kami menghitungnya, ternyata ia benar-benar seribu bulan persis, tidak kurang dan tidak lebih." Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadis ini ganjil." Al-Muzni dan Ibnu Katsir berkata: "Hadis ini sangat lemah."

Diriwayatkan oleh Abi Hatim dan Al-Wahidi dari Mujahid bahwa suatu ketika Rasulullah saw bercerita tentang seorang laki-laki dari Bani Israel yang tidak henti-hentinya berjihad di jalan Allah selama seribu bulan. Kaum muslimin lantas terkagum-kagum dengan hal itu. Allah lalu menurunkan ayat ini. Artinya, lebih baik dari seribu bulan yang dihabiskan oleh laki-laki itu dalam berjihad di jalan Allah swt.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Al-qur'an adalah kitab suci yang mulia. Sesungguhnya kami telah menurunkannya untuk pertama kali kepada nabi Muhammad di gua hira, atau menurunkannya secara sekaligus dari lau' ma'f'' ke baitul 'izzah di langit dunia, pada malam qadar, malam kemuliaan dan ke agungan. 2. Dan tahukah kamu, wahai nabi Muhammad, apakah malam kemuliaan dan keagungan itu' ungkapan lailatul qadr baru disebut oleh Al-Qur'an dalam ayat pertama surah ini sehingga Allah perlu menjelaskan artinya dan menggugah perhatian nabi tentangnya.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

1. Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an. Awal turunnya Al-qur’an adalah di malam yang agung dan penuh kemuliaan di antara malam-malam bulan Ramadhan

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. إِنَّآ أَنزَلْنٰهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan)
Yakni al-Qur’an diturunkan sekaligus dari lauhul mahfuzh pada malam lailatul qadar ke langit dunia, kemudian diturunkan kepada nabi setahap demi setahap sesuai kebutuhan dalam kurun 23 tahun.
Malam lailatul qadar adalah salah satu malam dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan terdapat banyak hadits yang berbeda-beda dalam penentuan malam lailatul qadar tersebut.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-3. Kami -dengan keagungan dan kekuasaan Kami yang sempurna-menurunkan al-Qur’an pada malam lailatul qadar. Allah menurunkannya ke langit dunia sekaligus dari lauhul mahfuzh pada malam itu. Malam lailatul qadar merupakan malam dimulainya penurunan al-Qur’an, malam ini memiliki kemuliaan dan keutamaan karena mengandung banyak keberkahan, malam ini terdapat pada bulan Ramadhan, sesuai dengan firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran… (al-Baqarah: 185).

Dan apa yang kamu ketahui tentang lailatul qadar? Itu adalah malam yang lebih baik daripada masa seribu bulan, karena pada malam itulah al-Qur’an diturunkan, terdapat berbagai amal shalih, dan pahala yang dilipatgandakan.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`ān sekaligus ke langit dunia sebagaimana kami mulai menurunkannya kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-2. Allah mengabarkan kepada Nabi-Nya (Muhammad ﷺ) bahwasanya Allah menurunkan Al Qur’an ini pada malam Al Qadar. Kemudian Allah berkata : Apa yang engkau ketahui wahai Nabi Allah tentang malam Al Qadar ? Telah disebutkan bahwa Al Qur’an semuanya diturunkan dari Lauhul Mahfudz kemudian menuju langit dunia pada malam Al Qadar, kemudian turun perlahan-lahan (satu persatu) atas Nabi ﷺ sesuai dengan kejadian-kejadian nyata dan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki atas alur kehidupannya (Nabi ﷺ) dari awal tahun pembebanan kerisalahan sampai menjelang tahun wafatnya. Dinamakan malam Al Qadar karena Allah mentakdirkan di dalamnya kejadian-kejadian pada keseluruhan tahun.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. " إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ Dhamir (kata ganti: kami) di sini kembali kepada Allah 'Azza Wa Jalla, dan dhamir haa pada أَنْزَلْنَاهُ kembali kepada Al-Quran, Allah menyebut diri-Nya dengan keagungan إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ Karena AllahSubhaanahu wa Ta'ala adalah al-Azhiim (Maha agung) tidak ada sesuatu yang lebih agung dari-Nya, dan Allah Ta'ala terkadang menyebut dirinya dengan keagungan seperti dalam mulia ini: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. " dan seperti dalam firman-Nya: إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ " Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."(QS. Al-Hijr: 9) dan seperti firman Allah Ta'ala: إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ " Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz)."(QS. Yasin: 12)

Terkadang Allah menyebut diri-Nya dengan bentuk satu orang, seperti: إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي " Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku."(QS. Thaha: 14) Itu dikarenakan Allah adalah esa lagi Maha Agung, ditinjau dari sifat datang dengan dhamir keagungan dan ditinjau dari keesaan datang dengan dhamir (kata ganti) satu orang.

Dan dhamir (kata ganti) dalam firman-Nya أَنْزَلْنَاهُ adalah dhamir maf'ul bih, yaitu haa. Kembali kepada al-Quran tanpa disebutkan sebelumnya. Karena ini adalah perkara yang diketahui, dan tidak ada yang menentang bahwa yang dimaksud pada ayat ini adalah turunnya al-Quran al-Karim. Allah menurunkannya di malam lailatulqadar. Apa makna diturunkan di malam lailatul qadar? Yang benar adalah bahwa maknanya: Kami memulai menurunkannya pada malam lailatulqadar di bulan ramadhan, tidak ada keraguan pada hal ini, dalilnya adalah firman Allah Ta'ala: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ " bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda "(QS. Al-Baqarah: 185) maka jika dikumpulkan ayat ini شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ " bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an " dengan ayat: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ " Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. " Maka terjelaskan bahwa lailatulqadar ada pada bulan ramadhan.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa yang tersebar di kalangan sebagian orang awam bahwa lailatulqadar adalah malam pertengahan bulan Sya'ban tidak ada sumbernya, dan tidak benar. Karena laialatulqadar terjadi pada bulan ramadhan. Malam tengah bulan sya.ban sama seperti malam-malam tengah bulan Rajab, Jumada, Rabii', Shafar, Muharram dan bulan-bulan lainnya, tidak ada kekhususan di dalamnya. Hingga hadits-hadits yang ada tentang keutamaan sholat malam di dalamnya adalah hadits-hadits yang lemah, yang tidak bisa menjadi hujjah, dan begitu pun hadits-hadits yang menunjukkan keistimewaan harinya, yaitu hari tengah bulan sya'ban dengan berpuasa, maka itu adalah hadits-hadits yang lemah, tidak bisa menjadi hujjah. Tetapi sebagian ulama rahimahumullah bermudah-mudah dalam menyebutkan hadits-hadits dha'if yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan, baik keutamaan amalan, bulan-bulan tau tempat-tempat, ini adalah perkara yang tidak pantas. Karena jika anda menyebutkan hadits-hadits dha'if tentang keutamaan sesuatu, maka pendengar akan meyakini bahwa hadits tersebut adalah shahih, dan menisbatkannya kepada Rasul 'alaihissholaatu wassalaam, ini adalah perkara besar.

Yang terpenting adalah bahwa hari tengah dari bulan Sya'ban, dan malam tengah bulan sya'ban, tidak mempunyai keistimewaan dari bulan-bulan lainnya. Malam hari pertengahannya tidak dikhususkan dengan sholat tertentu, malan tersebut juga bukanlah malam lailatulqadar, dan hari pertengahan bulan sya'ban pun tidak memiliki kekhususan berupa puasa. Ya, benar bahwa hadits menetapkan bahwa nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam memperbanyak puasa pada bulan tersebut, hingga beliau tidak berbuka padanya kecuali sedikit saja (1), dan apa-apa yang berkaitan dengan puasa, tidak shahih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, kecuaili keutamaan untuk seluruh bulan, seperti puasa tiga hari di setiap bulan (2), dan dilakukan pada tanggal 13, 14 dan 15, itulah puasa hari-hari putih (bertepatan bulan purnama)

Dan firman Allah Ta'ala فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ " pada malam lailatul qadar " Di antara para ulama ada yang mengatakan bahwa makna al-qadr adalah kemuliaan. Sebagaiamana jika dikatakan فُلَانُ ذُو قَدرٍ عَظِيمٍ [Fulan dzu qadrin adzim] "fulan mempunyai kemuliaan yang besar" atau فُلَانُ ذُو قَدرٍ كَبِيرٍ [Fulan dzu qadrin kabir] "fulan mempunyai kemuliaan yang besar" maknanya ذُو شَرَفٍ كَبِيْرٍ [Dzu syarafin kabiir] (sama). Dan sebagian ulama ada yang memaksudkan al-Qadr dengan at-Taqdir (ketentuan takdir). Karena pada malam tersebut ditetapkan takdir yang akan terjadi pada tahun tersebut, sebagaimana firman Allah Ta'ala: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ " sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,"(QS. Ad-Dukhan: 3-4) Dirinci dan dijelaskan.

Yang benar adalah maknanya mencakup kedua makna tersebut, lailatulqadr tidak diragukan lagi ia memiliki kemuliaan yang besar, dan pada malam tersebut juga ditetapkan ketentuan yang akan terjadi pada malam tersebut, berupa penghidupan, kematian, ketetetapan-ketetapan rejeki dan yang lainnya.

(1) Dikeluarkan oleh Bukhari (1969) dan Muslim (1156) dari hadits Aisyah radhiyallaahu 'anha
(2) Dikeluarkan Muslim (1160) dari hadits Aisyah radhiyallaahu 'anha

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan keutamaan Al Qur’an dan ketinggian kedudukannya.

Malam kemuliaan dikenal dengan malam Lailatul Qadr, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan dan kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran. Menurut Syaikh As Sa’diy, dinamakan Lailatul Qadr karena besarnya kedudukannya dan keutamaannya di sisi Allah, demikian pula karena pada malam itu ditentukan apa yang akan terjadi dalam setahun berupa ajal, rezeki dan ketentuan-ketentuan taqdir.

Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan Al Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, kemudian turun secara berangsur-angsur sesuai situasi dan kondisi selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Malam tersebut adalah malam yang penuh berkah. Barang siapa yang melakukan qiyamullail pada malam itu karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Melalui surah ini Allah ﷻ mengabarkan tentang waktu diturunkannya Al-Qur'an "

Allah ﷻ berfirman : { إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ }
{ إِنَّا } Sesungguhnya kami, kata ganti kami kembali kepada Allah , Allah ﷻ menyebut dirinya dengan menggunakan kata ganti jamak, padalah Dia ﷻ adalah satu, akan tetapi maksud dari penggunaan kata ganti jamak dalah pengagungan, dan Allah ﷻ berhk untuk menyandangnya.

{ أَنْزَلْنَاهُ } Kami telah menurunkannya, yakni Al-Qur'an, { أَنْزَلْنَاهُ } kami telah menurunkan Al-Qur'an melalui perantara Jibril pemegang kepercayaan untuk membawa wahyu Allah kepada Rasul-Nya Muhammad ﷺ , dan ini merupakan dalil bahwasanya Al-Qur'an itu diturunkan dari Tuhan semsta alam Allah ﷻ , dan Al-Qur'an bukan makhluk, seperti yang dikatakan oleh golongan "jahmiyah" .

Jahmiyah mengatakan : Al-Qur'an adalah makhluk, baik lafazh maupun maknanya, karena mereka tidak mengimani bahwa Allah ﷻ berbicara .

{ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ } Kami telah menurunkan Al-Qur'an, kapan ? yaitu pada malam lailatul qadr, diayat lain Allah mengatakan : { إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ , رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ } ( Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan , Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah , (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul , Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, ) [ Ad-Dukhan : 3-6 ] . dalam surah ad-dukhan Allah mengatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam yang diberkahi, akan tetapi belum menjeleskan waktu yang tepat untuk malam itu, dan pada surah ini Dia ﷻ menerangkan secara pasti bahwa malam yang diberkahi itu pada malam lailatul qadar.

Allah ﷻ mengatakan : { إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ } Sesungguhnya kami telah menurunkannya ( Al-Qur'an ) pada malam lailatul qadr, yakni { فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ } pada suatu malam yang diberkahi, kemudian di ayat lain Allah mengatakan : { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ } ( (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran ) [ Al-Baqarah : 185 ] , ayat ini menjadi penguat bahwa Al-Qur'an diturunkan di malam lailatul qadar, karena malam lailatul qadar hanya ada di bulan ramadhan.

Disebut malam lailatul qadr : karena malam itu memiliki ketetapan yang agung, dan pada malam ini juga ditetapkan taqdir tahunan tiap-tiap hamba mulai dari kehidupannya sampai kematiaannya, sehat dan sakitnya, dan apapun yang akan dia hadapi dalam satu tahun kedepan, taqdir yang ditetap pada malam ini juga telah dituliskan di lauhil mahfuzh.

Sebagaimana adanya taqdir umuri ( التقدير العمري ), Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah saw. berikut ini : (( ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. )) “…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, amal, sengsara, atau bahagia….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudian ada Takdir Yaumi/harian (التقدير اليومي) . Yaitu takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah : { يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ } “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahmaan : 29)

Semua macam-macam taqdir yang telah disebutkan kembali kepada taqdir 'am / taqdir azali yang telah ditetapkan di lauh mahfuzh.

Dan apakah Al-Qur'an yang diturunkan pada malam lailatul qadr telam mencakup semua surah yang diturunkan kepada Nabi ﷺ ? tentu tidak, karena seperti yang diketahui bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi ﷺ secara berangsur-angsur, yaitu selama 23 tahun masa kenabian beliau , 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di Kota Madinah, 23 Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah ﷺ sesuai peristiwa dan kejadian-kejadian.

Lalu apakah makna dari ayat ini { إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ } , bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam lailatul qadr, dan { شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ } bulan ramadhan yang diturunkan didalamnya Al-Qur'an ? , makananya adalah : bahwasanya permulaan diturunkannya Al-Qur'an pada bulan ramadhan di malam lailatul qadr, kemudian setelahnya diturunkan secara bertahap hingga terkengkapi seluruhnya di akhir-akhir hidup Rasulullah ﷺ .

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1 ) . Diantara tanda keagungan al-Qur'an ada tiga sisi yang disebutkan dalam surah ini :
a. Kata kerja yang berarti diturunkan dalam surah ini hanya dinisbatkan kepadanya ( al-
Qur'an ) tanpa adanya penisbatan kepada selainnya.
b. Bahwasanya penyebutan al-Qur'an dalam surah ini dengan dhomir ( kata ganti ),
adalah merupakan bukti akan kepastian makna yang terkandung didalamnya.
c. Dan kemuliaan waktu yang didalamnya al-Qur'an ini diturunkan.

2 ) . Betapa banyak nyawa kaum muslimin telah pergi padahal mereka adalah jiwa-jiwa yang rindu akan bertemu dengan malam yang dimuliakan oleh Allah ini ! bukankah didalamnya sebaik-baik ucapan itu diturunkan ? dan bukankah Allah menjadikan malam ini lebih baik dari masa seribu bulan lamanya ? dan tidakkah dalam satu malam ini para Malaikat yang mulia turun dengan membawa rahmat Allah ? sungguh orang-orang yang bertemu dengan malam ini adalah orang-orang yang paling beruntung.