Al-Qur'an Surat At-Talaq Ayat 1

At-Talaq: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

yaayyuha
یٰۤاَیُّهَا
wahai
al-nabiyu
النَّبِیُّ
Nabi
idha
اِذَا
apabila
tallaqtumu
طَلَّقْتُمُ
kamu menceraikan
al-nisaa
النِّسَآءَ
isteri-isteri
fatalliquhunna
فَطَلِّقُوْهُنَّ
maka ceraikanlah mereka
li'iddatihinna
لِعِدَّتِهِنَّ
bagi iddah mereka
wa-ahsu
وَ اَحْصُوا
dan hitunglah
al-'idata
الْعِدَّةَ ۚ
iddah itu
wa-ittaqu
وَ اتَّقُوا
dan bertakwalah
al-laha
اللّٰهَ
Allah
rabbakum
رَبَّكُمْ ۚ
Tuhan kalian
la
لَا
tidak/jangan
tukh'rijuhunna
تُخْرِجُوْهُنَّ
kamu keluarkan mereka
min
مِنْۢ
dari
buyutihinna
بُیُوْتِهِنَّ
rumah-rumah mereka
wala
وَ لَا
dan tidak/jangan
yakhruj'na
یَخْرُجْنَ
mereka keluar
illa
اِلَّاۤ
kecuali
an
اَنْ
bahwa
yatina
یَّاْتِیْنَ
mereka mendatangkan/berbuat
bifahishatin
بِفَاحِشَةٍ
dengan kekejian
mubayyinatin
مُّبَیِّنَةٍ ؕ
terang/nyata
watil'ka
وَ تِلْكَ
dan itu
hududu
حُدُوْدُ
batas-batas/hukum-hukum
al-lahi
اللّٰهِ ؕ
Allah
waman
وَ مَنْ
dan barang siapa
yata'adda
یَّتَعَدَّ
melampaui batas/melanggar
hududa
حُدُوْدَ
batas-batas/hukum-hukum
al-lahi
اللّٰهِ
Allah
faqad
فَقَدْ
maka sesungguhnya
zalama
ظَلَمَ
dia berbuat zalim
nafsahu
نَفْسَهٗ ؕ
dirinya sendiri
la
لَا
tidak
tadri
تَدْرِیْ
kamu mengetahui
la'alla
لَعَلَّ
barang kali
al-laha
اللّٰهَ
Allah
yuh'dithu
یُحْدِثُ
mengadakan yang baru
ba'da
بَعْدَ
sesudah
dhalika
ذٰلِكَ
demikian itu
amran
اَمْرًا 
perkara/sesuatu

Transliterasi Latin:

Yā ayyuhan-nabiyyu iżā ṭallaqtumun-nisā`a fa ṭalliqụhunna li'iddatihinna wa aḥṣul-'iddah, wattaqullāha rabbakum, lā tukhrijụhunna mim buyụtihinna wa lā yakhrujna illā ay ya`tīna bifāḥisyatim mubayyinah, wa tilka ḥudụdullāh, wa may yata'adda ḥudụdallāhi fa qad ẓalama nafsah, lā tadrī la'allallāha yuḥdiṡu ba'da żālika amrā (QS. 65:1)

Arti / Terjemahan:

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. (QS. At-Talaq ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada akhir Surah at-Tagàbun, Allah memberitahukan bahwa istri dan anak bisa jadi musuh; dan Allah memerintahkan agar bersikap baik dan pemaaf kepada mereka. Pada ayat ini diterangkan bahwa di antara suami istri bisa terjadi perceraian, namun Allah mengingatkan Nabi tentang hukum dan etika perceraian dalam Islam. Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu, perbuatan halal, tetapi paling tidak disukai Allah, maka hendaklah kamu ceraikan mereka atau salah seorang di antara mereka pada waktu mereka dapat menghadapi idahnya dengan tidak memberatkan, yaitu ketika masa suci dari haid agar tidak lama menunggu untuk bisa menikah lagi dengan laki-laki lain. Dan hitunglah waktu idah itu dengan cermat kapan mulainya dan kapan berakhir; serta bertakwalah, kamu semua, kepada Allah Tuhanmu dalam segala urusan. Janganlah kamu keluarkan mereka, istri yang dijatuhi talak itu selama masa idah, dari rumah yang ditempati-nya dan janganlah mereka diizinkan keluar secara bebas kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas seperti berzina. Itulah hukum-hukum Allah yang harus dilaksanakan manusia. Dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah secara sengaja atau karena lalai, maka sungguh dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri, karena merugikan dirinya, sedangkan ia tetap harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Kamu tidak mengetahui, wahai Nabi, rencana Allah bagi kamu, barangkali setelah itu, yakni setelah kamu menjatuhkan talak kepada istrimu, Allah mengadakan sesuatu yang baru, yakni memberikan istri yang lebih baik.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, khithab (seruan) Allah ditujukan kepada Nabi Muhammad, tetapi pada hakikatnya dimaksudkan juga kepada umatnya yang beriman. Allah menyerukan kepada orang-orang mukmin apabila mereka ingin menceraikan (menalak) istri-istri mereka, agar melakukannya ketika istrinya langsung bisa menjalani idahnya, yaitu pada waktu istri-istri itu suci dari haid dan belum dicampuri, sebagaimana dijelaskan dalam satu hadis Nabi saw yang berasal dari Ibnu 'Umar:
'Abdullah bin 'Umar telah menalak istrinya dalam keadaan haid. Lalu 'Umar bin Khaththab menanyakan hal itu kepada Nabi saw, lalu beliau memerintahkan 'Abdullah bin 'Umar merujuk istrinya, menahan istrinya (tinggal bersama) sampai masa suci. Lalu menunggu masa haidnya lagi sampai suci, maka setelah itu jika ia menginginkan tinggal bersama istrinya (maka lakukanlah), dan jika ia ingin menalak istrinya (maka lakukanlah) sebelum menggaulinya. Demikianlah masa idah yang diperintahkan Allah ketika perempuan ditalak. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Seorang suami yang akan menalak istrinya, agar meneliti dan memperhitungkan betul kapan idah istrinya mulai dan kapan berakhir, agar istri langsung bisa menjalani idahnya sehingga tidak menunggu terlalu lama. Suami juga diminta melaksanakan hukum-hukum dan memenuhi hak-hak istri yang harus dipenuhi selama masa idah. Hendaklah suami itu takut kepada Allah dan jangan menyalahi apa yang telah diperintahkan-Nya mengenai talak, yaitu menjatuhkan talak pada masa yang direstui-Nya dan memenuhi hak istri yang di talak. Antara lain, janganlah sang suami mengeluarkan istri yang ditalaknya dari rumah yang ditempatinya sebelum ditalak dengan alasan marah dan sebagainya, karena menempatkan istri itu pada tempat yang layak adalah hak istri yang telah diwajibkan Allah selama ia masih dalam idah.
Sang suami juga dilarang untuk mengeluarkan istri yang sedang menjalani idah dari rumah yang ditempatinya. Apalagi membiarkan keluar sekehendaknya, karena yang demikian merupakan pelanggaran agama, kecuali apabila istri terang-terangan mengerjakan perbuatan keji, seperti melakukan perbuatan zina dan sebagainya. Jika sang istri berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, maka bolehlah ia dikeluarkan dari tempat tinggalnya. Demikianlah batas-batas dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan Allah mengenai talak, idah, dan sebagainya.
Oleh karena itu, barang siapa melanggar hukum-hukum Allah itu, berarti ia berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Andaikata Allah menakdirkan satu perubahan, lalu hati suami berbalik menjadi cinta lagi kepada istrinya yang telah ditalaknya dan merasa menyesal atas perbuatannya kemudian ia ingin rujuk kembali, maka baginya sudah tertutup jalan, bila keinginannya itu dilaksanakan sesudah habis masa idahnya karena ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya. Istri yang dimaksud di sini ialah istri yang sudah atau masih haid dan sudah dicampuri sesudah akad nikah. Ada pun istri yang masih kecil atau sudah ayisah (tidak haid lagi) atau belum dicampuri sesudah akad nikah, apabila ditalak, mempunyai hukum idah tersendiri. Berbeda dengan hukum yang berlaku seperti tersebut di atas.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Hai Nabi!) makna yang dimaksud ialah umatnya, pengertian ini disimpulkan dari ayat selanjutnya. Atau makna yang dimaksud ialah, katakanlah kepada mereka (apabila kalian menceraikan istri-istri kalian) apabila kalian hendak menjatuhkan talak kepada mereka (maka hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka menghadapi idahnya) yaitu pada permulaan idah, seumpamanya kamu menjatuhkan talak kepadanya sewaktu ia dalam keadaan suci dan kamu belum menggaulinya. Pengertian ini berdasarkan penafsiran dari Rasulullah saw. sendiri menyangkut masalah ini; demikianlah menurut hadis yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (dan hitunglah waktu idahnya) artinya jagalah waktu idahnya supaya kalian dapat merujukinya sebelum waktu idah itu habis (serta bertakwalah kepada Allah Rabb kalian) taatlah kalian kepada perintah-Nya dan larangan-Nya. (Janganlah kalian keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan keluar) dari rumahnya sebelum idahnya habis (kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji) yakni zina (yang terang) dapat dibaca mubayyinah, artinya terang, juga dapat dibaca mubayyanah, artinya dapat dibuktikan. Maka bila ia melakukan hal tersebut dengan dapat dibuktikan atau ia melakukannya secara jelas, maka ia harus dikeluarkan untuk menjalani hukuman hudud. (Itulah) yakni hal-hal yang telah disebutkan itu (hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu) sesudah perceraian itu (sesuatu hal yang baru) yaitu rujuk kembali dengan istri yang telah dicerainya, jika talak yang dijatuhkannya itu baru sekali atau dua kali.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Nabi Saw. diprioritaskan mendapat khitab (perintah) dari ayat ini sebagai penghormatan dan kemuliaan baginya, kemudian menyusul buat umatnya sesudahnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: l)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sawab ibnu Sa'id Al-Hubari, telah menceritakan kepada kami Asbat ibnu Muhammad, dari Sa'id, dari Qatadah, dari Anas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah menceraikan Siti Hafsah, lalu Hafsah pulang ke rumah keluarganya. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: l) Maka dikatakan kepada Nabi Saw., "Rujukilah dia, karena sesungguhnya dia (Hafsah) adalah seorang wanita yang banyak berpuasa dan banyak salatnya, dan dia termasuk salah seorang dari istri-istrimu di surga nanti."

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui Ibnu Basysyar, dari Abdul A'la, dari Sa'id, dari Qatadah, lalu ia sebutkan hal yang semisal secara mursal.

Telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. pernah menceraikan Siti Hafsah, kemudian beliau Saw. merujuknya kembali.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, telah menceritakan kepadaku Aqil, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Salim bahwa Abdullah ibnu Umar pernah menceritakan kepadanya bahwa dirinya pernah menceraikan salah seorang istrinya yang sedang dalam haid. Kemudian Umar r.a. (ayahnya) menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. marah dan bersabda: Dia harus merujuknya, kemudian memegangnya hingga suci dari haidnya, lalu berhaid lagi dan bersuci, maka (sesudah itu) bila dia ingin menceraikannya, ia boleh menceraikannya dalam keadaan suci, sebelum dia menggaulinya. Itulah idah yang diperintahkan oleh Allah Swt. (untuk dijalani).

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini. Dia telah meriwayatkannya pula di berbagai tempat (bagian) lain dari kitab sahihnya. Sedangkan Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan teks yang berbunyi seperti berikut:

Itulah idah yang diperintahkan oleh Allah untuk dijalani bila menceraikan wanita.

Para pemilik kitab hadis dan kitab musnad telah meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dan dengan lafaz yang beraneka ragam lagi banyak, yang rinciannya dapat dijumpai di dalam kitab-kitab fiqih yang membahas masalah-masalah hukum. Akan tetapi, lafaz yang paling diperlukan dan paling penting untuk diketengahkan di sini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya melalui Ibnu Juraij. Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, bahwa ia pernah mendengar Abdur Rahman ibnu Aiman maula Izzah bertanya kepada Ibnu Umar, sedangkan Abuz Zubair mendengarnya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang menceraikan istrinya dalam keadaan haid?" Maka Ibnu Umar menjawab bahwa dirinya pernah menceraikan istrinya yang sedang haid di masa Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda:

Dia harus merujuknya. Maka Ibnu Umar merujuknya. Dan Nabi Saw. bersabda: Jika istrinya telah bersuci, dia boleh menceraikannya atau tetap memegangnya (sebagai istri). Ibnu Umar melanjutkan, bahwa Nabi Saw. membaca firman-Nya: Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: 1)

Al-A'masy telah meriwayatkan dari Malik ibnul Haris, dari Abdur Rahman ibnu Zaid, dari Abdullah sehubungan dengan makna firman-Nya: maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: 1) Makna yang dimaksud ialah dalam keadaan suci tanpa disetubuhi.

Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Ibnu Umar, Ata, Mujahid, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah, Maimun ibnu Mahran, dan Muqatil ibnu Hayyan. Ini merupakan riwayat yang bersumber dari Ikrimah dan Ad-Dahhak.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: 1) Bahwa seseorang tidak boleh menceraikan istrinya yang dalam keadaan haid; tidak boleh pula dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya. Tetapi hendaknya dia membiarkannya hingga berhaid lagi, lalu bersuci, kemudian ia baru boleh menjatuhkan talaknya sekali.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar). (Ath-Thalaq: 1) Bahwa yang dimaksud dengan idah ialah saat suci dan saat haid. Seseorang diperbolehkan menceraikan istrinya dalam keadaan hamil lagi positif kehamilannya. Dan ia tidak boleh menceraikannya, sedangkan ia telah menyetubuhinya dan tidak diketahui apakah istrinya dalam keadaan hamil atau tidak.

Berangkat dari pengertian ini, para ulama fiqih menyusun hukum-hukum talak dan mereka membaginya menjadi talak sunnah dan talak bid'ah. Yang dimaksud dengan talak sunnah ialah bila seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan suci tanpa menyetubuhinya atau dalam keadaan hamil yang telah jelas kehamilannya. Dan talak bid'ah ialah bila seseorang menceraikan istrinya dalam keadaan berhaid atau dalam keadaan suci, sedangkan dia telah menyetubuhinya di masa sucinya itu, dan tidak diketahui apakah istrinya telah hamil atau tidak. Talak yang ketiga ialah talak yang bukan sunnah dan bukan pula bid'ah, yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri yang masih belum balig, wanita yang tidak berhaid, dan wanita (istri) yang belum disetubuhi. Penjelasan mengenai hal ini secara rinci berikut semua cabang yang berkaitan dengannya di sebutkan di dalam kitab-kitab fiqih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Swt:

dan hitunglah waktu idah itu. (Ath-Thalaq: 1)

Yakni peliharalah dan ketahuilah permulaan dan batas berakhirnya, agar masa idah tidak memanjang bagi si istri, yang berakibat terhalang dari melakukan perkawinan.

serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. (Ath-Thalaq: 1)

Yaitu dalam hal tersebut.

Firman Allah Swt.:

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar. (Ath-Thalaq: 1)

Artinya, dalam masa idahnya ia berhak mendapatkan tempat tinggal yang dibebankan kepada pihak suami selama istrinya masih menjalani idah darinya, si suami tidak boleh mengusirnya dari tempat tinggalnya, dan si istri tidak boleh pula keluar darinya, karena terikat dengan hak suaminya juga.

Firman Allah Swt.:

kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. (Ath-Thalaq: 1)

Yakni mereka tidak boleh diizinkan keluar dari rumah tempat tinggal mereka terkecuali jika wanita yang bersangkutan melakukan perbuatan keji yang terang (yakni terbukti perbuatan kejinya). Maka dia baru boleh diusir dari tempat tinggalnya. Yang dimaksud dengan perbuatan fahisyah ialah mencakup perbuatan zina. Ini menurut pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Sa'id ibnul Musayyab, Asy-Sya'bi, Al-Hasan, ibnu Sirin, Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Abu Qilabah, Abu Saleh, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Ata Al-Khurrasani, As-Sadi, Sa'id ibnu Abu Hilal, dan lain-lainnya. Juga mencakup bilamana wanita yang bersangkutan bersikap membangkang atau bersikap menghina keluarga suami dan menyakiti mereka dengan lisannya dan juga dengan perbuatannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ubay ibnu Ka'b, Ibnu Abbas, Ikrimah, dan ulama Salaf lainnya.

Firman Allah Swt.:

Itulah hukum-hukum Allah. (Ath-Thalaq: 1)

Yakni hukum-hukum syariat:Nya dan batasan-batasan haram-Nya.

dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah. (Ath-Thalaq: 1)

Maksudnya, keluar dan menyimpang darinya ke jalan lain dan tidak mau mengikutinya.

maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. (Ath-Thalaq: 1)

dengan perbuatannya itu.

Firman Allah Swt.:

Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. (Ath-Thalaq: 1)

Yaitu sesungguhnya Kami biarkan wanita yang diceraikan tetap berada di tempat tinggal suaminya dalam masa idahnya, karena barangkali si suami menyesali talak yang telah dijatuhkannya, dan Allah menggerakkan hati suami untuk merujuknya. Bila demikian, maka urusannya mudah dan gampang.

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Ubaidillah ibnu Abdullah, dari Fatimah binti Qais sehubungan dengan makna firman-Nya: Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru. (Ath-Thalaq: 1) Yakni keinginan untuk rujuk.

Hal yang semisal telah dikatakan oleh Asy-Sya'bi, Ata, Qatadah, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Sauri.

Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama Salaf dan para pendukungnya —seperti Imam Ahmad rahimahullah— mengatakan bahwa tidak wajib memberikan tempat tinggal bagi wanita yang diceraikan habis-habisan (telah habis talaknya), demikian pula bagi istri yang ditinggal mati oleh suaminya.

Mereka yang berpendapat demikian berpedoman pula kepada hadis Fatimah binti Qais Al-Fihriyyah ketika diceraikan oleh suaminya (yaitu Abu Amr ibnu Hafs) pada talak yang terakhir, yaitu talak yang ketiga. Saat itu Abu Amr tidak ada di tempat, yaitu berada di negeri Yaman; ia mengirimkan kurirnya untuk menyampaikan talaknya itu, juga bersamaan dengan itu ia mengirimkan kepada kurirnya sejumlah gandum sebagai nafkah untuk istri yang diceraikannya. Maka istrinya marah karena hanya gandum yang dikirimkan kepadanya. Lalu Abu Amr mengatakan, "Demi Allah, tiada kewajiban atas kami memberi nafkah kepadamu." Fatimah binti Qais datang menghadap kepada Rasulullah Saw. mengadukan masalahnya, maka Rasulullah Saw. bersabda:

Engkau tidak punya hak nafkah darinya.

Menurut lafaz hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula:

dan (tidak pula) tempat tinggal.

Pada mulanya Rasulullah Saw. memerintahkannya untuk menjalani idahnya di rumah Ummu Syarik, kemudian beliau Saw. mencabut perintahnya dan bersabda:

Ummu Syarik adalah seorang wanita yang sering didatangi oleh sahabat-sahabatku, tunaikanlah masa idahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena sesungguhnya dia adalah seorang lelaki yang tuna netra, engkau dapat menanggalkan pakaian (jilbab)mu. dan seterusnya.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dengan lafaz yang lain; untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Mujalid, telah menceritakan kepada kami Amir yang mengatakan bahwa aku tiba di Madinah, lalu aku mengunjungi Fatimah binti Qais. Maka dia mencerita­kan kepadaku bahwa suaminya telah menceraikannya di masa Rasulullah Saw. dan beliau Saw. mengirimkan suaminya bersama suatu pasukan khusus. Fatimah binti Qais melanjutkan kisahnya, bahwa lalu saudara lelaki suaminya berkata kepadaku, "Keluarlah kamu dari rumah (saudaraku) ini." Maka aku menjawab, "Sesungguhnya aku berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal hingga masa idahku habis." Saudara suamiku berkata, "Tidak." Fatimah binti Qais melanjutkan kisahnya, bahwa lalu aku menghadap Rasulullah Saw. dan kukatakan kepadanya, "Sesungguhnya si Fulan telah menceraikanku, dan saudara lelakinya mengusirku dari rumah suamiku, dia tidak memberiku tempat tinggal dan nafkah." Maka Rasulullah Saw. menanyai saudara suaminya, "Mengapa kamu dan anak perempuan keluarga Qais ini?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saudaraku telah menceraikannya tiga kali seluruhnya." Fatimah binti Qais melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:

Perhatikanlah, hai anak perempuan keluarga Qais, sesungguhnya nafkah dan tempat tinggal bagi istri dibebankan pada suaminya selama si suami masih punya hak untuk merujuknya. Dan apabila si suami tidak punya hak lagi untuk merujuknya, maka tiada nafkah dan tiada tempat tinggal lagi. Sekarang keluarlah engkau dan tinggallah di rumah si Fulanah. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda lagi kepadanya: Tinggallah kamu di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena sesungguhnya dia adalah seorang yang tuna netra dan tidak dapat melihatmu. hingga akhir hadis.

Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdullah Al-Bazzar At-Tusturi, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim As-Sawwaf, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Yazid Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Amir Asy-Sya'bi, bahwa ia masuk menemui Fatimah binti Qais saudara perempuan Ad-Dahhak ibnu Qais Al-Qurasyi, suaminya bernama Abu Amr ibnu Hafs ibnul Mugirah Al-Makhzumi. Maka Fatimah binti Qais menceritakan bahwa sesungguhnya Abu Amr ibnu Hafs mengirimkan kurirnya kepadaku untuk menyampaikan talaknya terhadapku, sedangkan ia berada dalam rombongan pasukan yang diberangkatkan ke negeri Yaman. Maka aku menuntut nafkah dari walinya dan juga tempat tinggal, tetapi mereka (orang-orang yang menjadi walinya) mengatakan, "Dia tidak mengirimkan sesuatu pun kepada kami hal tersebut dan tidak pula memesankannya kepada kami." Maka aku menemui Rasulullah Saw. dan kukatakan kepadanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Amr ibnu Hafs telah mengirimkan kurirnya kepadaku untuk menceraikanku. Lalu aku meminta kepada para walinya agar aku diberi tempat tinggal dan nafkah. Tetapi mereka mengatakan, 'Dia tidak mengirimkan apa pun kepada kami mengenai hal tersebut'." Maka Rasulullah Saw. bersabda:

Sesungguhnya tempat tinggal dan nafkah itu hanyalah bagi wanita yang suaminya masih mempunyai hak untuk merujuknya. Dan jika wanita tidak halal lagi bagi suaminya sebelum kawin dengan lelaki lain, maka tiada nafkah baginya dan juga tiada tempat tinggal.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Ahmad ibnu Yahya As-Sufi, dari Abu Na'im Al-Fadl ibnu Dakin, dari Sa'id ibnu Yazid Al-Ahmasi Al-Bajali Al-Kufi. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa dia adalah seorang syekh (guru) yang sering diambil riwayat hadisnya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[65 ~ ATH-THALAQ (TALAK) Pendahuluan: Madaniyyah, 12 ayat ~ Surat ini membicarakan beberapa hukum talak dan idah ('iddah) dengan berbagai jenis dan hukumnya. Di antaranya adalah, misalnya, orang yang sedang dalam masa idah harus tetap tinggal di rumah tempat ia dijatuhi talak, kewajiban suami memberi nafkah dan tempat tinggal kepadanya, dan sebagainya. Di sela-sela pembicaraan tentang beberapa hukum di atas, seperti umumnya cara yang digunakan di dalam al-Qur'ân, Allah memberikan janji kepada orang yang melaksanakan segala perintah- Nya dan ancaman kepada orang yang melanggar ketentuan-Nya. Disinggung pula akibat yang diterima oleh orang-orang yang enggan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Surat ini ditutup dengan anjuran kepada orang-orang Mukmin untuk senantiasa bertakwa, peringatan kepada mereka akan karunia pengutusan rasul yang membacakan ayat-ayat Allah untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dan penjelasan tentang kekuasaan Allah yang besar dalam menciptakan tujuh langit dan, seperti itu pula, bumi.]] Wahai Nabi, jika kamu hendak menjatuhkan talak kepada istri-istrimu maka jatuhkanlah talak itu ketika mereka sedang dalam keadaan suci yang tidak dicampuri. Tepatkanlah hitungan masa idah dan bertakwalah kepada Tuhanmu. Jangan izinkan istri-istri yang kamu jatuhi talak itu keluar dari tempat mereka ditalak. Jangan izinkan mereka keluar kecuali jika melakukan perbuatan keji yang sangat nyata. Ketentuan- ketentuan itu merupakan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah untuk para hamba-Nya. Barangsiapa yang melanggar ketentuan Allah maka sesungguhnya ia telah menzalimi diri sendiri. Kamu, hai orang yang melanggar, tidak mengetahui barangkali Allah akan mewujudkan sesuatu yang tidak diperkirakan, sesudah talak itu, sehingga kedua pasangan suami-istri itu kembali saling mencintai.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Allah berfirman mengajak bicara Nabi Muhammad dan kaum Mukminin, “hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu,” maksudnya jika engkau ingin menceraikan mereka, “maka,” carilah alasan syari ketika mencerai mereka, jangan langsung mencerai hanya disebabkan tidak mengindahkan perintah Allah, tapi “hendaklah kamu menceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya,” maksudnya pada waktu iddah mereka, yaitu dengan cara menceraikan istri ketika ia sedang suci dan belum dicampuri selama masa suci itu. Talak inilah yang iddahnya dapat diketahui dengan jelas. Lain halnya ketika dicerai pada waktu haid. Haid tersebut tidak terhitung dalam masa talak sehingga masa iddahnya memanjang karenanya. Begitu juga jika dicerai ketika istri sedang suci namun sudah dicampuri, sebab dimungkinkan istrinya hamil. Di samping itu tidak jelas dari manakah ia mulai masa iddah. Dan Allah memerintahkan untuk menghitung masa iddah. Patokannya adalah haid jika wanita yang dicerai dalam keadaan haid. Karena menghitung iddah dalam masa itu merupakan penunaian hak Allah, hak suami yang menceraikan, hak lelaki lain yang akan menikahinya, hak wanita yang bercerai untuk mendapatkan nafkah dan hak-hak lainnya. Jika iddahnya telah diketahui secara pasti, maka keadaannya juga bisa diketahui, serta hak-hak yang akan didapatkan si wanita yang dicerai serta apa yang akan didapatkan dari mantan suaminya. Perintah untuk menghitung iddah ini ditujukan pada suami dan istri jika memang termasuk mukallaf (sudah terbebani kewajiban beribadah), jika belum baligh, maka yang bertugas menghitung iddah adalah walinya.
Allah berfirman, “Serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu,” di segala urusan kalian dan takutlah padaNya dalam hak istri yang dicerai. Maka “janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka,” selama masa iddah, tapi biarkan ia berada di rumah tempat suaminya menceraikannya. “Dan janganlah mereka (diizinkan) keluar,” maksudnya, mereka tidak boleh keluar dari rumahnya. Berkaitan dengan larangan mengeluarkan wanita yang dicerai dari rumahnya, karena hak menempati merupakan kewajiban yang harus ditanggung suami hingga masa iddahnya selesai. Hak menempati rumah merupakan salah satu dari beberapa haknya. Sedangkan larangan bagi wanita yang dicerai untuk keluar rumah adalah karena hal itu menyia-nyiakan hak suami dan tidak adanya tanggung jawab pihak suami. Larangan untuk memgeluarkan istri yang dicerai dari rumah dan larangan bagi istri yang dicerai keluar rumah ini berlaku hingga masa iddah selesai. “Kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” Maksudnya, dengan sesuatu yang tercela dan jelas yang mengharuskannya untuk diusir karena keberadaannya di dalam rumah menimbulkan dampak berbahaya bagi keluarga seperti mengeluarkan kata-kata dan perbuatan keji. Dalam kondisi seperti ini, suami dibolehkan mengusir istri yang dicerai itu karena dia sendirilah yang menyebabkannya diusir. Adapun tujuan dari penempatan istri yang dicerai di dalam rumah suami yang menceraikannya selama masa iddah adalah sebagai pelipur lara dan sebagai tindakan lemah lembut baginya. Dia sendirilah yang menimbulkan dampak berbahaya bagi dirinya sendiri. Hukum ini berlaku bagi wanita yang cerai raj’I (yang boleh rujuk) selama masa iddah. Adapun wanita yang dicerai ba’in (yang tidak boleh rujuk), maka tidak ada hak tinggal yang wajib. Karena hak tinggal itu berkaitan dengan hak nafkah. Dan nafkah itu hanya wajib diberikan pada wanita yang dicerai raj’I buka ba’in.
“Itulah hukum –hukum Allah,” yang ditentukan pada hamba-hambaNya, disyariatkan untuk mereka, diperintahkan agar dilaksanakan dan diindahkan. “Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah,” dengan tidak diindahkan tapi malah diterjang atau tidak ditunaikan secara baik, “maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri.” Merugikan haknya dan menyia-nyiakan bagiannya dengan tidak menuruti hukum-hukum Allah yang merupakan kebaikan dunia akhirat.
“Kamu tidak mengetahui, barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” Maksudnya, Allah mensyariatkan iddah dan membatasi talak dengan iddah tersebut karena beberapa hikmah besar,
• di antaranya agar Allah memberikan rasa kasih sayang dan cinta dalam hati suami yang menceraikan istrinya sehingga ia menarik kembali talaknya kemudian melanjutkan lagi kehidupan bersama. Hal ini bisa terjadi selama masa iddah. Atau bisa jadi karena si suami mentalaknya karena suatu sebab kemudia sebab itu hilang selama masa iddah kemudian rujuk kembali, karena sebab talak sudah tidak ada.
• Di antara hikmah iddah lainnya adalah diketahuinya kekosongan rahim istri yang dicerai dari bibit suaminya.

Asbabun Nuzul
Surat At-Talaq Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Abdul Yazid (Abu Rukanah) menalak istrinya (ummu Rukanah), kemudian ia menikah lagi dengan seorang wanita Madinah. Istrinya mengadu kepad Rasulullah saw. dengan berkata: "Ya Rasulullah, tidak akan terjadi hal seperti ini kecuali karena si rambut pirang." Ayat ini (ath-Thalaaq: 1) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa kewajiban seorang suami terhadap istrinya yang ditalak tetap harus ditunaikan sampai habis masa idah, tapi dilarang tidur bersama.
Menurut adz-Dzahabi, isnaad hadits ini lemah dan isi beritanya salah, karena peristiwa Abdu Yazid terjadi sebelum Islam sampai kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Qatadah yang bersumber dari Anas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah; dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu Sirin, tetapi keduanya mursal, bahwa Rasulullah saw. menalak istrinya yang bernama Hafshah. Ia pun pulang kepada keluarganya. Ayat ini (ath-Thalaq: 1) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada Rasulullah saw. agar memberi nafkah kepada Hafshah sampai habis masa idah. Dan dikatakan (oleh Jibril) agar Rasulullah rujuk kembali, karena Hafshah termasuk wanita ahli shaum dan bangun malam (Shalat)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa ayat ini (ath-Thalaq: 1) turun berkenaan dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash, Thufail bin al-Harits, dan Amr bin Said al-Ash yang menalak istri mereka yang sedang haid. Ayat ini (ath-Thalaq: 1) melarang perbuatan seperti itu.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Pada akhir surah at-tag'bun, Allah memberitahukan bahwa istri dan anak bisa jadi musuh; dan Allah memerintahkan agar bersikap baik dan pemaaf kepada mereka. Pada ayat ini diterangkan bahwa di antara suami istri bisa terjadi perceraian, namun Allah mengingatkan nabi tentang hukum dan etika perceraian dalam islam. Wahai nabi! apabila kamu menceraikan istri-istrimu, perbuatan halal, tetapi paling tidak disukai Allah, maka hendaklah kamu ceraikan mereka atau salah seorang di antara mereka pada waktu mereka dapat menghadapi idahnya dengan tidak memberatkan, yaitu ketika masa suci dari haid agar tidak lama menunggu untuk bisa menikah lagi dengan laki-laki lain. Dan hitunglah waktu idah itu dengan cermat kapan mulainya dan kapan berakhir; serta bertakwalah, kamu semua, kepada Allah tuhanmu dalam segala urusan. Janganlah kamu keluarkan mereka, istri yang dijatuhi talak itu selama masa idah, dari rumah yang ditempati-Nya dan janganlah mereka diizinkan keluar secara bebas kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas seperti berzina. Itulah hukum-hukum Allah yang harus dilaksanakan manusia. Dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah secara sengaja atau karena lalai, maka sungguh dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri, karena merugikan dirinya, sedangkan ia tetap harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Kamu tidak mengetahui, wahai nabi, rencana Allah bagi kamu, barangkali setelah itu, yakni setelah kamu menjatuhkan talak kepada istrimu, Allah mengadakan sesuatu yang baru, yakni memberikan istri yang lebih baik. 2. Maka apabila mereka, para istri yang dijatuhi talak telah mendekati akhir masa idahnya, maka rujuklah, kembali kepada mereka dengan baik guna mempertahankan ikatan perkawinan; atau lepaskanlah mereka, yakni terus menceraikannya dengan baik dengan memperhatikan hak-hak anak. Dan persaksikanlah keputusan kamu untuk menceraikannya dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu, yakni dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan; dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah dengan jujur dan adil, serta dengan menaati hukum Allah. Demikianlah pengajaran itu, perintah untuk mematuhi hukum Allah dengan tulus diberikan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat di antara hamba-hamba-Nya. Barang siapa bertakwa kepada Allah dalam segala urusan; niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya dari segala kesulitan.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ (Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu)
Pertama-tama Allah menyeru Rasulullah sebagai penghormatan baginya, kemudian Allah menyampaikan firman-Nya kepada umatnya.
Yakni jika kalian hendak menceraikan istri kalian.

فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ(maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya)
Yakni ketika mereka dapat menghadapi iddah mereka atau sebelum iddah mereka.
Dan yang dimaksud adalah menceraikan mereka saat mereka tidak dalam keadaan haidh dan tidak pada waktu jima’, lalu mereka dibiarkan menyelesaikan masa iddahnya. Jika para suami itu menceraikan mereka dengan cara seperti ini maka mereka telah menceraikan istri mereka saat isrti itu dapat menjalankan masa iddah.
Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia menceraikan istrinya pada saat ia sedang haidh. Lalu Umar menceritakan kejadian ini kepada Rasulullah, maka Rasulullah marah dan berkata: “Hendaklah ia rujuk dengannya kemudian melanjutkan hubungan nikahnya sampai ia selesai dari haidhnya, lalu menunggu sampai ia haidh lagi dan selesai dari haidh itu, kemudian jika setelah itu ia masih ingin mencerainya maka hendaklah ia mencerainya ketika ia tidak dalam keadaan haidh dan sebelum ia menggaulinya. Dan itulah waktu iddah yang dimaksud Allah ketika suami hendak mencerai istrinya.

وَأَحْصُوا۟ الْعِدَّةَ ۖ( dan hitunglah waktu iddah itu)
Yakni tunggulah istri itu dan perhatikanlah waktu perceraiannya hingga iddahnya selesai, yaitu selama tiga kali haidh.
Perintah ini ditujukan bagi para suami.

وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ رَبَّكُمْ ۖ( serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu)
Maka janganlah melanggar perintah-Nya, dan janganlah kalian memberikan mudharat kepada para istri.

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ(Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka)
Yakni rumah yang ia tinggali ketika diceraikan, selama ia masih dalam masa iddah.
Allah menyebut rumah itu dengan sebutan rumah para istri untuk menekankan hak mereka untuk tinggal di rumah tersebut selama masa iddah.
Dan Allah melarang para istri untuk keluar dari rumah itu, dengan firman-Nya:
وَلَا يَخْرُجْنَ(dan janganlah mereka keluar)
Yakni janganlah mereka keluar dari rumah itu selama ia masih menjalani masa iddah, kecuali untuk hal darurat yang mengharuskannya untuk keluar.

إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ( kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang)
Yakni janganlah kalian mengeluarkan mereka dari rumah itu kecuali jika mereka melakukan zina. Pendapat lain mengatakan: yakni jika mereka mengucapkan kata-kata keji kepada orang yang tinggal bersama mereka di rumah tersebut.

وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّـهِ ۚ( Itulah hukum-hukum Allah)
Yakni hukum-hukum yang Allah jelaskan pada hamba-hamba-Nya ini adalah batas-batas yang Allah tetapkan bagi mereka, tidak ada seorangpun yang boleh melanggar batas-batas itu.

وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّـهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُۥ ۚ( dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri)
Karena telah menjerumuskan dirinya kedalam kebinasaan.

لَا تَدْرِى لَعَلَّ اللَّـهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ أَمْرًا(Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru)
Yakni barangkali jika ia tetap tinggal di rumah itu kelak Allah akan menyatukan kembali hati mereka, sehingga sang suami dapat merujuk istrinya kembali.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Allah berfirman kepada Rasulullah dengan menyebutkan kemuliaan kenabian, untuk menjelaskan hak-hak wanita dalam perkara perceraian, agar dilaksanakan olehnhya dan orang-orang beriman:

Jika kalian bertekat untuk mencerai istri kalian, maka ceraikanlah ketika mereka dalam keadaan tidak berhaid dan tidak digauli; hitunglah masa iddah mereka dan bertakwalah kepada Allah dengan mentaati hukum-hukum-Nya.

Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari rumah yang mereka tinggali hingga selesai masa iddah mereka selama tiga kali masa suci atau tiga kali masa haid sesuai dengan kemaslahatan kedua belah pihak. Dan istri-istri itu juga tidak boleh keluar dari rumah itu, kecuali jika mereka terjerumus dalam perbuatan zina, maka mereka harus dikeluarkan darinya untuk menjalani hukuman had. Demikianlah hukum-hukum Allah yang berkedudukan tinggi; barangsiapa yang menyelisihi hukum-hukum ini maka dia telah menzalimi diri sendiri karena telah memasukkannya ke dalam ancaman siksaan dari Allah. Hai orang yang mencerai istrinya, mudah-mudahan Allah menetapkan rujuk kepadanya setalak kamu mentalaknya.


Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud: (يٰۤاَيُّهَا النَّبِىُّ اِذَا طَلَّقۡتُمُ النِّسَآءَ فَطَلِّقُوۡهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ) yakni ketika istri dalam keadaan suci tanpa dipergauli. (Diriwayatkan oleh at-Thabari, dan dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari 9/346).

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Wahai Nabi! Jika engkau atau salah seorang dari umatmu ingin menalak istrinya maka hendaklah ia menalaknya pada awal iddahnya, dengan menalaknya pada saat sedang suci dan belum disetubuhi. Dan jagalah iddah untuk memastikan kapan kalian bisa rujuk dengan istri-istri kalian jika kalian berkehendak untuk rujuk. Bertakwalah kepada Rabb kalian dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan janganlah kalian mengusir wanita-wanita yang kalian talak dari rumah-rumah tempat tinggal mereka dan janganlah mereka minggat sampai tuntas iddah mereka, kecuali apabila mereka melakukan suatu perbuatan nista yang nyata seperti berzina. Hukum-hukum itu adalah batasan-batasan Allah yang ditentukan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya. Barangsiapa melanggar batasan-batasan Allah maka ia telah menganiaya dirinya sendiri karena berarti menjerumuskan dirinya pada sumber-sumber kehancuran disebabkan kemaksiatannya terhadap Rabbnya. Kamu -wahai orang yang menalak- tidak tahu bisa jadi Allah setelah itu menumbuhkan rasa cinta di hati sang suami sehingga merujuk istrinya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah menujukan firman-Nya kepada Nabi-Nya Muhammad ﷺ dengan memuliakannya dan agar diperintahkan kepada umatnya. Allah berkata : Jika engkau telah berniat wahai Nabi, engkau maupun siapapun dari umatmu untuk mentalak salah satu dari istri-istrinya, maka talaklah mereka dengan mengetahui masa iddah ke depannya, dengan syarat mentalaknya dalam kondisi suci, belum engkau jima’i mereka, atau dalam kondisi hamil yang tidak ragu lagi. Dan wajib bagimu untuk menjaga hari yang engkau pada saat itu mentalakknya, agar tahu akhir dari masa iddah mereka, dan itu ada dalam 3 tahapan waktu. Atau suci yang ketiga, bukan maksudnya kesucian yang jatuh padanya talak ketika wanita sedang haid. Dan takutlah kalian pada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah tidak membolehkan kalian mengeluarkan mereka dari tempat tinggal mereka; Karena masih terikat dengan hukum sebagai istri selama masa iddah belum berakhir, sebagaimana juga dilarang secara mutlak para istri (yang telah ditalak) keluar dari rumah mereka yang mereka hidup di dalamnya bersama-sama dengan kalian sebelum jatuh talak; Kecuali jika mereka berbuat dengan amalan yang buruk semisal zina sebagaimana menurut para jumhur ulama, adapun Abu Hanifah berpendapat karena kekurang ajaran mulut mereka yang buruk. Ketahuilah oleh kalian bahwa yang telah disebutkan adalah hukum-hukum Allah dan syariat-Nya untuk kalian, maka tidak halal bagi kalian melanggarnya. Maka jika ada yang melanggarnya sungguh dirinya termasuk orang yang celaka dan terjatuh dalam kondisi yang buruk. Dan wajik bagi kalian secara mutlak untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada kalian dari hukum-hukum yang telah disebutkan, dan wajib untuk mencari kebaikan antara diri kalian dan istri-istri kalian; Karena sungguh kalian tidaklah mmengetahui kalau-kalau Allah menjadikan setelah talak yang Dia tidak setujui sehingga kalian kembali lagi bersama istri kalian (ruju’); Karena sesungguhnya Allah membolak-balikkan hati, dan mungkin membalikkan karena sebab cinta maka dijadikanlah kalian untuk ruju’. Karena talak adalah pemutus tali dan diperbolehkan dalam pernikahan. Dan tidak diragukan lagi bahwa itu semua adalah sesuatu yang dibenci namun diperbolehkan di sisi Allah.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada Nabi dan kaum mukmin.

Janganlah segera mentalak ketika ada sebabnya tanpa memperhatikan perintah Allah sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayat ini.

Maksudnya, istri-istri itu hendaklah ditalak diwaktu suci sebelum dicampuri. Jika ditalak dalam keadaan haidh, maka ia tidak menghitung dengan haidh yang dijatuhkan talak ketika itu dan masa ‘iddahnya semakin lama karenanya, demikian pula jika mentalaknya dalam keadaan suci yang telah dijima’i, maka tidak aman terhadap kehamilannya sehingga tidak jelas dengan iddah yang mana yang harus ia jalani.

Yakni hitunglah dengan haidh jika wanita itu haidh atau dengan bulan jika ia tidak haidh dan tidak hamil, yang di antara manfaatnya adalah agar kamu dapat merujuknya sebelum habisnya. Menghitungnya terdapat pemenuhan terhadap hak Allah, hak suami yang menalak, hak orang yang akan menikahinya setelahnya dan hak wanita dalam hal nafkah dsb. Jika ‘iddahnya telah dihitung, maka keadaannya dapat diketahui, kewajiban yang wajib dipenuhinya serta haknya juga diketahui. Perintah menghitung masa ‘iddah ini tertuju kepada suami dan kepada istrinya jika istrinya mukallaf (sudah baligh dan berakal), jika belum maka tertuju kepada walinya.

Yakni taatilah perintah-Nya dan jauhilah larangan-Nya dalam semua urusan serta takutlah kepada-Nya dalam hal hak istri yang ditalak.

Selama masa ‘iddah, bahkan mereka (kaum wanita) harus tetap di rumah suaminya yang mentalaknya.

Yakni mereka tidak boleh keluar dari rumah itu. Larangan mengeluarkannya adalah karena tempat tinggal wajib ditanggung suami untuk istrinya agar ia menyempurnakan ‘iddahnya di rumah itu yang menjadi salah satu haknya. Di samping itu, keluarnya istri dapat menyia-nyiakan hak suami dan tidak menjaganya. Larangan mengeluarkan istri dari rumah ini berlangsung terus sampai sempurna ‘iddahnya.

Yang dimaksud dengan perbuatan keji di sini ialah mengerjakan perbuatan-perbuatan pidana seperti zina sehingga ia keluar untuk ditegakkan had terhadapnya, atau berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, dan sebagainya yang layak untuk dikeluarkan seperti menyakiti dengan kata-kata dan perbuatan. Termasuk pula apabila seorang wanita bersikap nusyuz (durhaka) kepada suaminya. Dalam kondisi seperti ini, mereka boleh dikeluarkan karena ia yang menyebabkan dirinya berhak dikeluarkan. Memberikan tempat tinggal ini apabila talaknya talak raj’i (masih bisa rujuk), adapun dalam talak ba’in, maka istri tidak berhak mendapatkan tempat tinggal, karena tempat tinggal mengikuti nafkah, sedangkan nafkah wajib diberikan kepada wanita yang ditalak raj’i, bukan dilatak ba’in.

Yang telah ditetapkan dan disyariatkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya serta diperintahkan-Nya mereka untuk tetap memperhatikannya.

Dengan menyia-nyiakannya keberuntungan yang diperolehnya jika mengikuti hukum-hukum Allah, yaitu kebaikan di dunia dan akhirat.

Suatu hal yang baru maksudnya keinginan dari suami untuk rujuk kembali apabila talaknya baru dijatuhkan sekali atau dua kali. Ini adalah salah sau hikmah disyariatkannya ‘iddah. Hikmah lainnya adalah bahwa masa ‘iddah adalah masa menunggu untuk diketahui kosong rahimnya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1. {Yaa Ayyuhan Nabiy} – yang dimaksud adalah umatnya karena beliau adalah pemimpin umatnya – Jika kalian ingin menalak istri kalian, maka talaklah mereka saat mereka menghadapi masa iddahnya, yaitu dalam keadaan suci dan tidak dalam keadaan jima’. Perhitungkanlah dan jagalah masa iddah itu, agar sempurna mencapai 3 kali suci, yaitu masa haid atau masa suci dari haid (Lamaran itu hanya berlaku bagi para suami) Taatlah kalian kepada Allah dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jangan kalian suruh mereka keluar dari rumah yang mereka tempati ketika perceraian itu terjadi sampai datang masa iddahnya. Mereka juga tidak boleh keluar dari rumah itu selama masih pada masa iddah kecuali saat keadaan darurat, di antaranya kalian tidak mampu menahan melakukan zina atau pemaksaan misalnya, Maka kalian harus mengeluarkan mereka untuk mendirikan batas antara kalian dengan mereka atau agar terbebas dari sesuatu yang vulgar yang ada pada mereka dan agar mereka terbebas dari berlama-lama dengan suami atau keluarga suami. Hukum-hukum yang disebutkan itu adalah hukum Allah dan syari’atNya untuk hamba-hambaNya. Barangsiapa melampaui batas hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri dengan membahayakan diri agar dihukum dengan cara menolak hukum Allah tersebut, Wahai orang yang melakukan talak, kalian tidak menyadari bahwa barangkali Allah menciptakan sesuatu yang baru (untuk kalian) setelah talak itu, yaitu penyesalan dan keinginan untuk ruju’ dengan istri kalian setelah talak itu selama masih dalam masa iddah. Atau melakukan akad nikah baru setelah selesai masa iddah atau talak ba’in. Dorongan untuk melakukan ruju’ ini apabila hanya melakukan talak satu. Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dari Anas berkata: “Rasulallah SAW menceraikan Hafsah, lalu dia kembali ke keluarganya, kemudian Allah menurunkan ayat {Yaa ayyuhan nabiyyu idzaa thallaqtumun nisaa’a ..}” Kemudian dikatakanlah kepada beliau: “Ruju’lah dengannya! Sesungguhnya dia adalah perempuan yang banyak puasanya dan shalatnya, dia juga merupakan salah satu di antara istri-istrimu di surga”