Al-Qur'an Surat Al-Hadid Ayat 1

Al-Hadid: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

sabbaha
سَبَّحَ
bertasbih
lillahi
لِلّٰهِ
kepada Allah
ma
مَا
apa
fi
فِی
pada
al-samawati
السَّمٰوٰتِ
langit(jamak)
wal-ardi
وَ الْاَرْضِ ۚ
dan bumi
wahuwa
وَ هُوَ
dan Dia
al-'azizu
الْعَزِیْزُ
Maha Perkasa
al-hakimu
الْحَكِیْمُ 
Maha Bijaksana

Transliterasi Latin:

Sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-'azīzul-ḥakīm (QS. 57:1)

Arti / Terjemahan:

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hadid ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Apa yang di langit, baik makhluk hidup seperti burung maupun makhluk mati semisal planet, bintang, bulan, dan matahari, dan demi-kian juga makhluk di bumi; mereka bertasbih kepada Allah untuk mengakui kebesaran dan kesucian-Nya. Dialah yang Mahaperkasa atas semua makhluk, lagi Mahabijaksana dalam menetapkan ketentuan dan hukum bagi mereka.2. Allah adalah Pencipta semua makhluk, karena itu hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Dia berkuasa menghidupkan dan mematikan apa saja sesuai kehendak-Nya, dan Dia Mahakuasa untuk menentukan apa yang Dia inginkan atas segala sesuatu.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada ayat ini dijelaskan bahwa semua yang diciptakan Allah, baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, batu dan lain-lain yang bernyawa atau pun tidak, seharusnya setiap waktu dengan tulus dan ikhlas bertasbih kepada-Nya, menyatakan kebesaran-Nya, dan mengakui bahwa Dia-lah yang Mahakuasa. Semuanya tunduk menyembah serta mematuhi segala perintah-Nya. Jika demikian, manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal seharusnya menyucikan Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam ayat lain yang menunjukkan kedudukan makhluk, Allah berfirman:
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra'/17: 44)
Dia pulalah Yang Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyaingi-Nya. Dia Mahabijaksana menciptakan, memerintah dan mengatur makhluk-Nya dengan peraturan yang sudah ditentukanNya, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah) memahasucikan-Nya dari semua yang tidak layak bagi-Nya. Huruf Lam adalah Zaidah, dan dipakai lafal Ma bukannya Man karena memandang dari segi mayoritasnya. (Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. menceritakan bahwa bertasbih kepada-Nya semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, yakni semua makhluk hidup dan tetumbuhan. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra: 44)

Adapun firman Allah Swt.:

Dan Dialah Yang Mahaperkasa. (Al-Hadid: 1)

yang tunduk patuh kepada-Nya segala sesuatu.

lagi Mahabijaksana. (Al-Hadid: 1)

terhadap makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam perintah dan syariat­Nya.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[57 ~ AL-HADID (BESI) Pendahuluan: Madaniyyah, 29 ayat ~ Surat ini dimulai dengan berita bahwa Allah disucikan oleh semua yang ada di langit dan di bumi, lalu dilanjutkan dengan keterangan tentang sebab-sebab penyucian itu, yaitu bahwa Allah adalah Pemilik kerajaan langit dan bumi, Maha Mengetahui dan bebas melakukan apa saja terhadap segala makhluk yang ada pada keduanya. Selanjutnya, disebutkan pula perintah untuk beriman kepada Allah dan membelanjakan harta di jalan-Nya. Membelanjakan harta, menurut bagian surat selanjutnya terbagi menjadi beberapa tingkat, tergantung pada faktor apa yang mendorongnya. Setelah itu, surat ini memaparkan gambaran orang-orang Mukmin di hari kiamat yang memancarakan cahaya, dari arah depan dan dari arah-arah sekitarnya. Selain itu, dalam surat ini terdapat pula gambaran tentang orang munafik yang berusaha menunggu orang-orang Mukmin itu demi mengambil sedikit dari cahaya mereka. Kedua kelompok ini dipisahkan oleh suatu pagar yang berpintu: bagian dalamnya berisi kasih sayang, sedang bagian luarnya adalah siksaan. Pembicaraan kemudian beralih kepada perintah kepada kaum mukminin untuk menundukkan hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan (al-Qur'ân). Selanjutnya surat ini memaparkan kepada kaum mukminin itu kedudukan orang-orang yang mempercayai, baik laki-laki maupun perempuan, di sisi Tuhan dan menerangkan bahwa tempat kembali orang-orang kafir dan pendusta adalah neraka Jahîm. Ayat-ayat berikutnya berisikan tamsil tentang betapa remehnya kehidupan dunia dengan segala kesenangan yang ada di dalamnya, dan tamsil tentang betapa besarnya kesenangan dan azab akhirat. Pada bagian berikutnya, surat ini menyampaikan himbauan agar kita menjadi orang yang bersegera meminta ampunan, dan menenangkan hati dengan meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan yang menimpa sudah tercatat di sisi Allah, dengan harapan agar hati menjadi tunduk dan menerima ketentuan-Nya. Pada bagian selanjutnya, surat ini membicarakan masalah pengutusan dan kesinambungan para rasul, dan bagaimana mereka didukung dengan bukti-bukti, kitab-kitab dan sarana- sarana kekuatan dan bagaimana mereka berbuat untuk meluruskan umat manusia secara adil. Dan, sebagai penutup, surat ini diakhiri dengan seruan kepada umat Islam untuk bertakwa, janji untuk melipatgandakan kasih sayang, dan janji untuk mendapatkan karunia yang tidak dapat diwujudkan oleh selain Allah. Hal itu disebabkan karena karunia itu berada di tangan Allah. Dia bebas untuk memberikannya kepada siapa saja. Allah memiliki karunia yang besar.]] Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi--manusia, hewan dan benda mati--menyucikan Allah Yang Mahaperkasa, mengatur semua urusan dengan bijaksana.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. Allah mengabarkan tentang keagungan dan kemuliaanNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya “semua yang berada di langit dan yang berada di bumi,” dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikanNya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah berfirman, “Dan Dia-lah Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana.” Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi memerlukan Allah di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah dalam mencipta dan menetapkan urusan.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Apa yang di langit, baik makhluk hidup seperti burung maupun makhluk mati semisal planet, bintang, bulan, dan matahari, dan demi-kian juga makhluk di bumi; mereka bertasbih kepada Allah untuk mengakui kebesaran dan kesucian-Nya. Dialah yang mahaperkasa atas semua makhluk, lagi mahabijaksana dalam menetapkan ketentuan dan hukum bagi mereka. 2. Allah adalah pencipta semua makhluk, karena itu hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Dia berkuasa menghidupkan dan mematikan apa saja sesuai kehendak-Nya, dan dia mahakuasa untuk menentukan apa yang dia inginkan atas segala sesuatu.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۖ (Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah)
Yakni bertasbih kepada Allah dengan lisannya para malaikat, manusia, dan jin; dan bertasbih dengan keadaannya makhluk-makhluk yang lain, sebab segala makhluk yang ada menunjukkan wujud Sang Pencipta.
Pendapat lain mengatakan yang dimaksud adalah segala sesuatu bertasbih kepada Allah dengan lisannya, namun manusia tidak memahami tasbih mereka.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-2. Allah mengabarkan kebesaran kuasa-Nya dan keluasan kekuasaan-Nya: Seluruh makhluk yang ada di tujuh langit dan bumi mengucapkan tasbih dan tahmid bagi Tuhannya, menyucikan-Nya dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Allah Maha Perkasa dalam kerajaan-Nya dan Maha Bijaksana dalam mengatur makhluk-Nya. Dia pemilik tujuh langit dan bumi, mengatur keduanya, Dia menghidupkan makhluk yang telah mati dengan kuasa-Nya dan mematikan makhluk hidup dengan cara yang Dia kehendaki. Dia Maha Kuasa atas segalanya, tidak ada yang sulit bagi-Nya.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi menyucikan Allah dan membersihkan-Nya . Dia Maha Perkasa, tidak ada sesuatu pun yang mampu mengalahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya dan takdir-Nya.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah membuka surat ini dengan mengabarkan bahwasanya setiap yang di langit maupun di bumi mensucikan dan mengagungkan Allah, Dialah yang berhak untuk disucikan baik secara ucapan dan keyakinan serta amalan. Kemudian Allah mengabarkan bahwa Dia Yang Maha Kuat, yang bahwasanya Dia tidak ada yang merebut atas kekuasaan-Nya, dan Dia Yang Maha Bijaksa dalam mengurus urusan hamba-Nya.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang keagungan-Nya, kebesaran-Nya dan luasnya kerajaan-Nya, yaitu bahwa semua yang ada di langit dan di bumi baik makhluk hidup yang bisa berbicara maupun yang diam dan lainnya serta benda-benda mati bertasbih dengan memuji Tuhannya serta mensucikan-Nya dari segala yang tidak layak dengan keagungan-Nya, dan bahwa semuanya taat kepada Allah Tuhannya dan tunduk kepada keperkasaan-Nya, dimana tampak di sana atsar (pengaruh) hikmah(kebijaksanaan)-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman, “Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Dalam ayat ini terdapat penjelasan meratanya rasa butuh makhluk baik yang berada di alam bagian atas maupun alam bagian bawah kepada Tuhannya dalam semua keadaannya. Demikian pula terdapat penjelasan meratanya keperkasaan-Nya kepada segala sesuatu dan meratanya kebijaksanaan-Nya pada ciptaan-Nya dan pada perintah-Nya. Dan pada ayat selanjutnya, Dia memberitahukan tentang meratanya kepemilikan-Nya.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

Keutamaan: Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan lainnya dari ‘Urbadh bin Sariyah bahwa rasul SAW selalu membaca dzikir tasbih sebelum beliau tidur. Dalam dzikir itu terdapat satu ayat yang keutamaan yang melebihi 1000 ayat, yaitu kalam Allah: Dia lah Allah Yang Maha Awal dan Maha Akhir. (3).

1. Allah Maha Suci dari segala apapun yang tidak sesuai dengan sifat dzat-Nya baik di langit maupun di bumi. Dia Maha Perkasa di seluruh kerajaan-Nya, Yang Maha Mengusai, Yang Maha Bijaksana dalam segala kehendak dan keputusan-Nya