Skip to content

Al-Qur'an Surat Ar-Rum Ayat 35

Ar-Rum Ayat ke-35 ~ Quran Terjemah Perkata (Word By Word) English-Indonesian dan Tafsir Bahasa Indonesia

اَمْ اَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطٰنًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوْا بِهٖ يُشْرِكُوْنَ ( الرّوم : ٣٥)

am
أَمْ
Or
ataukah/apakah
anzalnā
أَنزَلْنَا
have We sent
Kami menurunkan
ʿalayhim
عَلَيْهِمْ
to them
atas/kepada mereka
sul'ṭānan
سُلْطَٰنًا
an authority
kekuasaan/keterangan
fahuwa
فَهُوَ
and it
lalu ia
yatakallamu
يَتَكَلَّمُ
speaks
berbicara/mengatakan
bimā
بِمَا
of what
dengan apa
kānū
كَانُوا۟
they were
adalah mereka
bihi
بِهِۦ
with Him
dengan-Nya/Tuhan
yush'rikūna
يُشْرِكُونَ
associating?
mereka mempersekutukan

Transliterasi Latin:

Am anzalnā 'alaihim sulṭānan fa huwa yatakallamu bimā kānụ bihī yusyrikụn (QS. 30:35)

English Sahih:

Or have We sent down to them an authority [i.e., a proof or scripture], and it speaks of what they have been associating with Him? (QS. [30]Ar-Rum verse 35)

Arti / Terjemahan:

Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? (QS. Ar-Rum ayat 35)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Allah mempertanyakan alasan mengapa orang-orang musyrik itu bersikap demikian. Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan atau bukti yang menjelaskan dan membenarkan apa yang selalu mereka persekutukan dengan Tuhan? Tentu tidak. Itu hanyalah ke-bohongan yang mereka buat-buat.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Selanjutnya Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik itu memiliki sulthan (hujjah atau landasan) yang bersumber dari Allah yang dapat membenarkan perbuatan syirik mereka. Suatu akidah yang benar harus memiliki landasan yang benar.
Sulthan secara harfiah berarti "kekuatan nyata yang tidak dapat dibantah". Maksudnya adalah sebuah kitab suci dan seorang rasul dari Allah. Suatu kepercayaan hanya dapat disebut agama bila memiliki unsur-unsur itu di samping Tuhan. Kepercayaan syirik orang kafir Quraisy itu tidak didasarkan atas wahyu dan tidak diajarkan oleh seorang nabi dari Allah. Berarti kepercayaan itu salah.
Dengan demikian, ungkapan dalam bentuk pertanyaan ayat itu sekali lagi maksudnya adalah pengingkaran atau penolakan. Diungkapkan demikian supaya tajam masuknya ke dalam hati manusia. Akidah syirik itu sesat karena tidak ada dasarnya, tidak pernah diajarkan Allah, tidak pernah disampaikan rasul-Nya, dan tidak terdapat di dalam kitab suci-Nya. Oleh karena itu, akidah syirik itu akan diperiksa Allah secara ketat dan penganutnya tidak akan lolos dari hukuman-Nya, sebagaimana dinyatakan ayat berikut:
Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. (al-Mu'minun/23: 117)

(36) Perilaku kedua yang dapat mengantarkan manusia kepada kesyirikan adalah bila mereka diberi rahmat sedikit saja oleh Allah, mereka lupa daratan. Akan tetapi, bila ditimpa kemalangan sedikit saja, mereka putus asa lalu ingkar.
Dalam ayat ini, Allah juga menyatakan "mencicipkan" yang berarti bahwa yang dikaruniakan itu hanya sedikit. Karunia itu antara lain berupa harta benda. Oleh karena itu, bagaimana pun banyak harta, itu tidak ada bandingannya dengan kebahagiaan yang akan diberikan-Nya di akhirat. Akan tetapi, sebagian manusia ada yang terlena dengan karunia Allah di dunia itu, lalu lupa daratan. Mereka mengingkari Allah, dan tidak mempedulikan lagi semua perintah dan larangan-Nya. Mereka mau mengorbankan kebahagiaan mereka yang abadi di akhirat itu hanya dengan kenikmatan yang tidak berarti dan sementara di dunia. Akibatnya, mereka akan diazab kelak di akhirat.
Sebaliknya, bila mereka mendapat penderitaan yang diakibatkan kesalahan mereka sendiri, mereka cepat putus asa. Potongan ayat ini mengisyaratkan bahwa dunia itu tidak selamanya menyenangkan, tetapi akan diselingi kesusahan. Senang dan susah itu memang dipergilirkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
¦Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan¦. (al-Anbiya'/21: 35)

Oleh karena itu, manusia tidak boleh cepat terlena bila memperoleh nikmat dan tidak boleh cepat putus asa bila mendapat kesusahan.
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa mereka putus asa karena perbuatan tangan mereka sendiri. Itu berarti bahwa mereka melakukan kesalahan itu dengan sengaja. Seharusnya mereka mengakui kesalahan itu dan cepat bertobat. Tetapi tidak demikian, mereka menjauh dari Allah dan tidak minta tolong kepada-Nya. Karena merasa tidak mampu menghadapi kesusahan itu, mereka putus asa dan bersikap pesimis. Dengan demikian, mereka melawan fitrahnya, karena orang yang berdiri di atas fitrah adalah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah (lihat ayat 31 di atas) dan selalu bersikap optimis.
Prilaku itu dilukiskan dalam ayat lain:
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh-kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma'arij/70: 19-22)

Dalam ayat-ayat itu diterangkan bahwa prilaku tidak sabar, gelisah, dan kikir itu adalah sifat sebagian manusia, tidak semuanya. Mereka yang konsisten dalam melaksanakan salat tidak akan berprilaku demikian, karena setiap waktu mereka berkomunikasi dengan Allah. Dengan demikian, mereka tidak akan kehilangan akal ketika mendapat kesusahan dan tidak akan lupa daratan ketika menerima nikmat. Mereka sabar ketika mendapat kesulitan, dan bersyukur ketika memperoleh kebahagiaan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut:
Aneh keadaan orang Mukmin, Allah tidak akan memutuskan sesuatu keputusan kecuali hal itu baik baginya. Jika dia ditimpa kegembiraan dia berterima kasih, hal itu adalah baik baginya. Jika dia ditimpa kemalangan dia bersabar, hal itu adalah baik baginya. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari suhaib)

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Atau pernahkah) lafal am menunjukkan arti yang sama dengan hamzah yang menunjukkan makna ingkar, yaitu bukankah (Kami menurunkan kepada mereka keterangan) yakni hujah dan Kitab (lalu keterangan itu menunjukkan) mengungkapkan dengan jelas (tentang apa yang mereka selalu mempersekutukannya dengan Tuhan?) Apakah kitab dan hujah tersebut memerintahkan mereka untuk berbuat musyrik, tentu saja tidak dan tidak akan ada.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Selanjutnya Allah Swt. berfirman, mengingkari perbuatan orang-orang musyrik karena mereka menyembah selain Allah tanpa dalil, tanpa alasan, dan tanpa keterangan:

Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan. (Ar Ruum:35)

Yang dimaksud dengan sultan ialah alasan.

lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran). (Ar Ruum:35)

Yakni membicarakan atau mengungkapkan

apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? (Ar Ruum:35)

Istifham (kata tanya) dalam ayat ini mengandung makna ingkar, yakni tiada suatu keterangan pun yang membuktikan kebenaran perbuatan mereka itu.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

Apakah Kami akan meninggalkan mereka dalam kesesatan dan tidak pernah mencela impian-impian mereka. Tidak! Bahkan Kami telah menurunkan kepada mereka keterangan yang akan memberikan kesaksian tentang apa yang mereka sekutukan.