Al-Qur'an Surat Al-Isra' Ayat 1

Al-Isra': 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

sub'hana
سُبْحٰنَ
Maha Suci (Allah)
alladhi
الَّذِیْۤ
yang
asra
اَسْرٰی
telah memperjalankan
bi'abdihi
بِعَبْدِهٖ
dengan hamba-Nya
laylan
لَیْلًا
pada suatu malam
mina
مِّنَ
dari
al-masjidi
الْمَسْجِدِ
Masjid
al-harami
الْحَرَامِ
Al Haram
ila
اِلَی
ke
al-masjidi
الْمَسْجِدِ
Masjid
al-aqsa
الْاَقْصَا
Al Aqsha
alladhi
الَّذِیْ
yang
barakna
بٰرَكْنَا
Kami berkahi
hawlahu
حَوْلَهٗ
sekelilingnya
linuriyahu
لِنُرِیَهٗ
untuk Kami perlihatkannya
min
مِنْ
sebagian dari
ayatina
اٰیٰتِنَا ؕ
tanda-tanda Kami
innahu
اِنَّهٗ
sesungguhnya Dia
huwa
هُوَ
Dia
al-sami'u
السَّمِیْعُ
Maha Mendengar
al-basiru
الْبَصِیْرُ 
Maha Melihat

Transliterasi Latin:

Sub-ḥānallażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī'ul-baṣīr (QS. 17:1)

Arti / Terjemahan:

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra' ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Pada akhir Surah an-Nahl mengandung pesan kepada Nabi Muhammad agar bersabar dan tidak bersedih hati disebabkan tipu daya dan penolakan orang-orang yang menentang dakwahnya. Di saat beliau mengalami kesulitan menghadapi orang-orang kafir yang menolak dakwahnya, ayat pertama dari surah ini menyatakan bahwa beliau mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, di mana Allah memperjalankannya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan dan kebesaranNya. Ayat pertama ini menyatakan, Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya, yakni Nabi Muhammad, pada malam hari dari Masjidilharam, yang berada di Mekah ke Masjidil Aqsa, yang berada di Palestina, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, dengan tanahnya yang subur yang menghasilkan aneka tanaman dan buah-buahan serta menjadi tempat turunnya para nabi, agar kami perlihatkan kepadanya dengan mata kepala atau mata hati sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia, yaitu Allah adalah Maha Mendengar perkataan hamba-Nya, Maha Mengetahui tingkah laku dan perbuatannya.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Allah swt menyatakan kemahasucian-Nya dengan firman "subhana", agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat keagungan-Nya yang tiada tara. Ungkapan itu juga sebagai pernyataan tentang sifat kebesaran-Nya yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.
Allah swt memulai firman-Nya dengan subhana dalam ayat ini, dan di beberapa ayat yang lain, sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradah dan kekuasaan-Nya.
Dari kata asra' dapat dipahami bahwa Isra' Nabi Muhammad saw terjadi di waktu malam hari, karena kata asra dalam bahasa Arab berarti perjalanan di malam hari. Penyebutan lailan, dengan bentuk isim nakirah, yang berarti "malam hari", adalah untuk menggambarkan bahwa kejadian Isra' itu mengambil waktu malam yang singkat dan juga untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra' itu memang benar-benar terjadi di malam hari. Allah swt meng-isra'-kan hamba-Nya di malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang paling baik untuk beribadah kepada-Nya.
Perkataan 'abdihi (hamba-Nya) dalam ayat ini maksudnya ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai nabi yang terakhir. Beliau telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, sebagai penghormat-an kepadanya.
Dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatan maupun kepulangan Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah. Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra' Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu masjid yang terkenal karena Kabah (Baitullah) terletak di dalamnya, menuju Masjidil Aqsa yang berada di Baitul Makdis. Masjid itu disebut Masjidil Aqsa yang berarti "terjauh", karena letaknya jauh dari kota Mekah.
Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa dan daerah-daerah sekitarnya mendapat berkah Allah karena menjadi tempat turun wahyu kepada para nabi. Tanahnya disuburkan, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu, masjid tersebut termasuk di antara masjid yang menjadi tempat peribadatan para nabi dan tempat tinggal mereka.
Sesudah itu, Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw diperjalankan pada malam hari, yaitu untuk memperlihatkan kepada Nabi tanda-tanda kebesaran-Nya. Tanda-tanda itu disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Allah Maha Pencipta. Pengalaman-pengalaman baru yang disaksikan Nabi Muhammad sangat berguna untuk memantapkan hati beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, dan meyakini kebenaran wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.
Di akhir ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat semua perbuatan mereka. Tak ada detak jantung, ataupun gerakan tubuh dari seluruh makhluk yang ada di antara langit dan bumi ini yang lepas dari pengamatan-Nya.
Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra', yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa di waktu malam. Sedangkan peristiwa Mi'raj, yaitu naiknya Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini, tetapi diisyaratkan dalam Surah an-Najm.
Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra' terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi rasul. Peristiwanya terjadi satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam az-Zuhri, Ibnu Sa'ad, dan lain-lainnya. Imam Nawawi pun memastikan demikian. Bahkan menurut Ibnu hazm, peristiwa Isra' itu terjadi di bulan Rajab tahun kedua belas setelah pengangkatan Muhammad menjadi nabi. Sedangkan al-hafidh 'Abdul Gani al-Maqdisi memilih pendapat yang mengatakan bahwa Isra' dan Mi'raj tersebut terjadi pada 27 Rajab, dengan alasan pada waktu itulah masyarakat melaksanakannya.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra' itu sebagai berikut:
Pertama:
Anas bin Malik menuturkan bahwa pada malam diperjalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam, datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama, "Siapakah dia ini?" Kemudian orang kedua menjawab, "Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya)." Setelah itu berkatalah orang ketiga, "Ambillah orang yang terbaik itu." Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidak berbicara sedikit pun kepada Nabi hingga mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zamzam. Di antara mereka ada Jibril yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya lalu ditutupnya kembali. (Riwayat al-Bukhari)

Kedua:
Bahwa Nabi saw bersabda, "Tiba-tiba datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia membedah dan mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku bejana yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi bejana itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala". (Riwayat al-Bukhari dari Sa'sha'ah)

Ketiga:
Bahwa Rasulullah saw bersabda, "Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari himar, dan lebih kecil dari bigal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai ke Baitul Makdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah bejana yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata, "Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar." (Riwayat Ahmad dari Anas bin Malik)

Dari hadis-hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad diperjalankan pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril. Sebelum Nabi Muhammad saw diperjalankan pada malam itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-Nya. Perjalanan itu dilakukan dengan mengendarai Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra' dan Mi'raj hanya memerlu-kan waktu kurang dari satu malam.
Dalam ayat ini tidak dijelaskan secara terperinci, apakah Nabi saw Isra' dengan roh dan jasadnya, ataukah rohnya saja. Itulah sebabnya para mufasir berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Mayoritas mereka berpendapat bahwa Isra' dilakukan dengan roh dan jasad dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya:
a. Kata subhana menunjukkan adanya peristiwa yang hebat. Jika Nabi di-isra'-kan dalam keadaan tidur, tidak perlu diungkapkan dengan meng-gunakan ayat yang didahului dengan tasbih.
b. Andaikata Isra' itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Banyaknya orang muslim yang murtad kembali karena peristiwa Isra' menunjukkan bahwa peristiwa itu bukanlah hal yang biasa. Kata-kata Ummu Hani yang melarang Nabi menceritakan kepada siapapun pengalaman-pengalaman yang dialami ketika Isra' agar mereka tidak menganggap Nabi saw berdusta, juga menguatkan bahwa Isra' itu dilakukan Nabi dengan roh dan jasadnya. Peristiwa ini yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelar as-shiddiq karena dia membenarkan Nabi, dengan cepat dan tanpa ragu, ber-Isra' dengan roh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.
c. Firman Allah yang menggunakan bi'abdihi menunjukkan bahwa Nabi Isra' dengan roh dan jasad karena kata seorang hamba mengacu pada kesatuan jasad dan roh.
Perkataan Ibnu 'Abbas bahwa orang-orang Arab menggunakan kata ru'ya dalam arti penglihatan mata, maka kata ru'ya yang tersebut dalam firman Allah berikut ini mesti dipahami sebagai penglihatan dengan mata.

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (al-Isra'/17: 60)
e. Yang diperlihatkan kepada Nabi waktu Isra' dan Mi'raj adalah penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modern.

Beberapa mufassir yang lain berpendapat bahwa Isra' dilakukan Nabi dengan rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan perkataan Mu'awiyah bin Abi Sufyan ketika ditanya tentang Isra' Nabi Muhammad saw, beliau menjawab:
Isra Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.

Pendapat yang mengatakan bahwa Isra' hanya dilakukan dengan roh saja lemah, karena sanad hadis yang dijadikan hujjah atau pegangan tidak jelas.

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Maha Suci) artinya memahasucikan (Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya) yaitu Nabi Muhammad saw. (pada suatu malam) lafal lailan dinashabkan karena menjadi zharaf. Arti lafal al-isra ialah melakukan perjalanan di malam hari; disebutkan untuk memberikan pengertian bahwa perjalanan yang dilakukan itu dalam waktu yang sedikit; oleh karenanya diungkapkan dalam bentuk nakirah untuk mengisyaratkan kepada pengertian itu (dari Masjidilharam ke Masjidilaksa) yakni Baitulmakdis; dinamakan Masjidilaksa mengingat tempatnya yang jauh dari Masjidilharam (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) dengan banyaknya buah-buahan dan sungai-sungai (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami) yaitu sebagian daripada keajaiban-keajaiban kekuasaan Kami. (Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) artinya yang mengetahui semua perkataan dan pekerjaan Nabi saw. Maka Dia melimpahkan nikmat-Nya kepadanya dengan memperjalankannya di suatu malam; di dalam perjalanan itu antara lain ia sempat berkumpul dengan para nabi; naik ke langit; melihat keajaiban-keajaiban alam malakut dan bermunajat langsung dengan Allah swt. Sehubungan dengan peristiwa ini Nabi saw. menceritakannya melalui sabdanya, "Aku diberi buraq; adalah seekor hewan yang berbulu putih; tingginya lebih dari keledai akan tetapi lebih pendek daripada bagal; bila ia terbang kaki depannya dapat mencapai batas pandangan matanva. Lalu aku menaikinya dan ia membawaku hingga sampai di Baitulmakdis. Kemudian aku tambatkan ia pada tempat penambatan yang biasa dipakai oleh para nabi. Selanjutnya aku memasuki Masjidilaksa dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu aku keluar dari Masjidilaksa datanglah kepadaku malaikat Jibril seraya membawa dua buah cawan; yang satu berisikan khamar sedangkan yang lain berisikan susu. Aku memilih cawan yang berisikan susu, lalu malaikat Jibril berkata, 'Engkau telah memilih fitrah (yakni agama Islam).' Nabi saw. melanjutkan kisahnya, kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit dunia (langit pertama), lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit; ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Kemudian pintu langit pertama dibukakan bagi kami; tiba-tiba di situ aku bertemu dengan Nabi Adam. Nabi Adam menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kedua. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang kedua dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak bibiku, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Lalu keduanya menyambut kedatanganku, dan keduanya mendoakan kebaikan buatku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang ketiga, lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit ketiga bagi kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf; dan ternyata ia telah dianugerahi separuh daripada semua keelokan. Nabi Yusuf menyambut kedatanganku, lalu ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, maka malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab. 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka pintu langit yang keempat dibukakan bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku ke langit yang kelima, lalu malaikat Jibril mengetuk pintu langit yang kelima, maka ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Dan ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Lalu dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun, ia menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan bagiku. Selanjutnya malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia mengetuk pintunva, ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam buat kami, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, lalu Nabi Musa menyambut kedatanganku, dan ia mendoakan kebaikan bagiku. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia mengetuk pintunya. Ditanyakan kepadanya, 'Siapakah kamu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Jibril.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Siapakah orang yang bersamamu itu?' Malaikat Jibril menjawab, 'Muhammad.' Ditanyakan lagi kepadanya, 'Apakah dia telah diutus untuk menemui-Nya?' Malaikat Jibril menjawab, 'Dia telah diutus untuk menemui-Nya.' Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami; tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim. Kedapatan ia bersandar pada Baitulmakmur. Ternyata Baitulmakmur itu setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, yang selanjutnya mereka tidak kembali lagi padanya. Kemudian malaikat Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha, kedapatan daun-daunnya bagaikan telinga-telinga gajah dan buah-buahan bagaikan tempayan-tempayan yang besar. Ketika semuanya tertutup oleh nur Allah, semuanya menjadi berubah. Maka kala itu tidak ada seorang makhluk Allah pun yang dapat menggambarkan keindahannya. Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka Allah mewahyukan kepadaku secara langsung, dan Dia telah (mewajibkan) kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap hari. Setelah itu lalu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa (langit yang keenam). Maka Nabi Musa bertanya kepadaku, 'Apakah yang diwajibkan oleh Rabbmu atas umatmu?' Aku menjawab, 'Lima puluh kali salat untuk setiap harinya.' Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu niscava tidak akan kuat melaksanakannya; aku telah mencoba Bani Israel dan telah menguji mereka.' Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya, maka aku kembali kepada Rabbku, lalu aku memohon, 'Wahai Rabbku, ringankanlah buat umatku.' Maka Allah meringankan lima waktu kepadaku. Lalu aku kembali menemui Nabi Musa. Dan Nabi Musa bertanya, 'Apakah yang telah kamu lakukan?' Aku menjawab, 'Allah telah meringankan lima waktu kepadaku.' Maka Nabi Musa bertanya, 'Sesungguhnya umatmu niscaya tidak akan kuat melakukan hal tersebut, maka kembalilah lagi kepada Rabbmu dan mintalah keringanan buat umatmu kepada-Nya.' Rasulullah melanjutkan kisahnya, maka aku masih tetap mondar-mandir antara Rabbku dan Nabi Musa, dan Dia meringankan kepadaku lima waktu demi lima waktu. Hingga akhirnya Allah berfirman, 'Hai Muhammad, salat lima waktu itu untuk tiap sehari semalam; pada setiap salat berpahala sepuluh salat, maka itulah lima puluh kali salat. Dan barang siapa yang berniat untuk melakukan kebaikan, kemudian ternyata ia tidak melakukannya dituliskan untuknya pahala satu kebaikan. Dan jika ternyata ia melakukannya, dituliskan baginva pahala sepuluh kali kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya maka tidak dituliskan dosanya. Dan jika ia mengerjakannya maka dituliskan baginva dosa satu keburukan.' Setelah itu aku turun hingga sampai ke tempat Nabi Musa, lalu aku ceritakan hal itu kepadanya. Maka ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, lalu mintalah kepada-Nya keringanan buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat melaksanakannya.' Maka aku menjawab, 'Aku telah mondar-mandir kepada Rabbku hingga aku malu terhadap-Nya.'" (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim; dan lafal hadis ini berdasarkan Imam Muslim). Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak meriwayatkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, "Aku melihat Rabbku Azza Wajalla."

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. memulai surat ini dengan mengagungkan diri-Nya dan meng­gambarkan kebesaran peran-Nya, karena kekuasaan-Nya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain Dia sendiri. Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.

...yang telah memperjalankan hamba-Nya.

Yaitu Nabi Muhammad Saw.

...pada suatu malam.

Maksudnya, di dalam kegelapan malam hari.

...dari Masjidil Haram.

Yang tempatnya berada di Mekah

...ke Masjidil Aqsa.

Yakni Baitul Muqaddas yang terletak di Elia (Yerussalem), tempat asal para Nabi (terdahulu) sejak Nabi Ibrahim a.s. Karena itulah semua nabi dikumpulkan di Masjidil Aqsa pada malam itu, lalu Nabi Saw. mengimami mereka di tempat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah imam terbesar dan pemimpin yang didahulukan. Semoga salawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya.

Firman Allah Swt.:

...yang telah Kami berkahi sekelilingnya.

Yakni tanam-tanamannya dan hasil buah-buahannya.

...agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.

Maksudnya, Kami perlihatkan kepada Muhammad sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar-besar.

Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:

Sesungguhnya Dia telah melihat sebagian tanda-tanda (ke­kuasaan) Tuhannya yang paling besar. (An Najm:18)

Kami akan mengetengahkan hadis-hadis yang menceritakan peristiwa Isra ini yang bersumber dari Nabi Saw.

Firman Allah Swt.:

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Menge­tahui.

Allah Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, yang mukmin maupun yang kafir yang membenarkan maupun yang mendustakan di antara mereka. Dan Dia Maha Melihat semua perbuatan mereka: Maka kelak Dia akan memberikan kepada masing-masing dari mereka balasan yang berhak mereka terima di dunia dan di akhirat.

Imam Abu Abdullah Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada­ku Abdul Aziz ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman (yakni Ibnu Bilal), dari Syarik ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Anas ibnu Malik menceritakan malam hari yang ketika itu Rasulullah Saw. mengalami Isra dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram). Disebutkan bahwa ada tiga orang datang kepadanya sebelum ia menerima wahyu, saat itu ia (Nabi Saw.) sedang tidur di Masjidil Haram. Orang pertama dari ketiga orang itu berkata, "Yang manakah dia itu?" Orang yang pertengahan menjawab, "Orang yang paling pertengahan dari mereka. Dialah orang yang paling baik." Orang yang terakhir berkata, "Ambillah yang paling baik dari mereka." Hanya itulah yang terjadi malam tersebut. Nabi Saw. tidak melihat mereka, hingga mereka datang kepadanya di malam lainnya menurut penglihatan hatinya, sedangkan matanya terti­dur, tetapi hatinya tidak tidur. Demikianlah halnya para nabi, mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak tidur. Mereka tidak mengajak beliau bicara, melainkan langsung memba­wanya, lalu membaringkannya di dekat sumur zamzam, yang selanjutnya urusannya ditangani oleh Malaikat Jibril yang ada bersama mereka. Ke­mudian Jibril membelah bagian antara tenggorokan sampai bagian ulu hatinya, lalu ia mencuci isi dada dan perutnya dengan memakai air zam­zam. Ia lakukan hal ini dengan tangannya sendiri sehingga bersihlah bagian dari tubuh Nabi Saw. Kemudian Jibril membawa sebuah piala emas yang di dalamnya terdapat sebuah wadah kecil terbuat dari emas, wadah itu berisikan iman dan hikmah. Lalu Jibril menyisihkannya ke dalam dada dan kerongkongan­nya serta menutupkan bedahannya. Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit pertama. Jibril mengetuk salah satu pintu langit pertama, maka malaikat penghuni langit pertama bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Orang yang bersamaku adalah Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab "Ya." Mereka berkata, "Selamat datang untuknya." Semua penduduk langit pertama menyambut gembira kedatangannya. Para penduduk langit tidak menge­tahui apa yang diinginkan oleh Allah di bumi hingga Allah sendiri yang memberitahukan kepada mereka. Nabi Saw. bersua dengan Adam di langit yang pertama, dan Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Ini adalah bapakmu Adam." Maka Nabi Saw. mengucapkan salam kepada Adam, dan Adam menjawab salamnya seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku, sebaik-baik anak adalah engkau." Di langit pertama itu Nabi Saw. tiba-tiba melihat ada dua buah sungai yang mengalir. Maka ia bertanya, "Hai Jibril, apakah nama kedua sungai ini?" jibril menjawab, "Kedua sungai ini adalah Nil dan Eufrat, yakni sumber keduanya." Jibril membawanya pergi ke sekitar langit itu. Tiba-tiba Nabi Saw. melihat sungai lain. Yang di atasnya terdapat sebuah gedung dari mutiara dan zabarjad. Maka Nabi Saw. menyentuhkan tangannya ke sungai itu, ternyata baunya sangat wangi seperti minyak kesturi. Lalu ia bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Kausar yang disimpan oleh Tuhanmu buat kamu." Jibril membawanya naik ke langit yang kedua, maka para malaikat (penjaga langit kedua) mengatakan kepadanya pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit pertama, "Siapa­kah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapa­kah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka berta­nya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Selamat atas kedatangannya." Kemudian Jibril membawanya naik ke langit yang ketiga, dan para penjaganya mengatakan kepadanya pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh malaikat penjaga langit yang kedua. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keempat. Para penjaga­nya pun melontarkan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan sebelum­nya. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang kelima, dan para penjaganya melontarkan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan para malaikat penjaga langit yang sebelumnya. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keenam. Para penjaga­nya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan para malaikat sebelum­nya. Kemudian Jibril membawanya lagi ke langit yang ketujuh, dan para penjaganya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit sebelumnya. Pada tiap-tiap lapis langit terdapat nabi-nabi yang nama masing-masingnya disebutkan oleh Jibril. Perawi hadis berkata bahwa ia ingat nama-nama mereka, antara lain: Nabi Idris di langit yang kedua, Nabi Harun di langit yang keempat, dan nabi lainnya di langit yang kelima, pe­rawi tidak ingat lagi namanya. Nabi Ibrahim di langit yang keenam, dan Nabi Musa di langit yang ketujuh berkat keutamaan yang dimilikinya, yaitu pernah diajak berbicara langsung oleh Allah Swt. Musa berkata "Wahai Tuhanku, saya tidak menduga bahwa Engkau akan mengangkat seseorang lebih tinggi di atasku." Kemudian Jibril membawanya naik di atas itu sampai ke tingkatan yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah Swt., hingga sampailah Nabi Saw. di Sidratul Muntaha dan berada dekat dengan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung. Maka ia makin bertambah dekat, sehingga jadilah ia (Nabi Saw.) dekat dengan-Nya. Sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka Allah memberikan wahyu kepadanya, antara lain ialah, "Aku wajibkan lima puluh kali salat setiap siang dan malam hari atas umatmu." Kemudian Jibril membawanya turun sampai ke tempat Musa berada, lalu Musa menahannya dan berkata, "Hai Muhammad, apakah yang te­lah diperintahkan oleh Tuhanmu untukmu?" Nabi Saw. menjawab, "Tuhan­ku telah memerintahkan kepadaku salat lima puluh kali setiap siang dan malam hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerja­kannya, sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah ke­ringanan dari-Nya buatmu dan buat umatmu." Nabi Saw. menoleh kepada Jibril, seakan-akan beliau meminta saran darinya mengenai hal tersebut. Dan Jibril menjawab, "Baiklah jika kamu menghendakinya." Maka Jibril membawanya lagi naik kepada Tuhan Yang Mahaperka-sa lagi Mahasuci, lalu Nabi Saw. memohon kepada Allah Swt. yang ber­ada di tempat-Nya, "Wahai Tuhanku berikanlah keringanan buat kami, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikulnya." Maka Allah memberikan keringanan sepuluh salat kepadanya. Nabi Saw. kembali kepada Musa dan Musa menahannya. Maka Musa terus menerus membolak-balikannya dari dia ke Tuhannya, hingga jadilah salat lima waktu. Setelah ditetapkan salat lima waktu, Musa menahannya kembali dan berkata, "Hai Muhammad, demi Allah, sesungguhnya aku telah mem­bujuk Bani Israil:—umatku— untuk mengerjakan yang lebih sedikit dari lima waktu, tetapi mereka kelelahan, akhirnya mereka meninggalkannya. Umatmu lebih lemah, tubuh, hati, badan, penglihatan, dan pendengaran­nya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan kepada-Nya buatmu." Setiap kali mendapat saran dari Nabi Musa, Nabi Saw. selalu meno­leh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya, dan Malaikat Jibril dengan senang hati menerimanya, akhirnya pada kali yang kelima Jibril membawanya naik dan ia berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah orang-orang yang lemah, tubuh, hati, pendengaran, penglihatan, dan jasad mereka, maka berilah keringanan lagi buat kami." Maka Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfir­man, "Hai Muhammad."Nabi Saw. menjawab, "Labbaikawasa'daika (saya penuhi seruan-Mu dengan penuh kebahagiaan)." Allah berfirman, "Sesungguhnya keputusan yang ada pada-Ku ini tidak dapat diubah lagi, persis seperti apa yang telah Aku tetapkan atas dirimu di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). Maka setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan. Dan kewajiban salat itu telah tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan bagimu tetap lima kali." Nabi Saw. kembali kepada Musa dan Musa berkata "Apakah yang telah engkau lakukan?" Nabi Saw. menjawab, "Allah telah memberikan keringanan bagi kami, Dia telah memberikan kepada kami setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal." Musa berkata, "Sesungguhnya, demi Allah, saya telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan yang lebih ringan dari itu, tetapi mereka meninggalkannya. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah ke­ringanan buat dirimu juga." Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Musa, sesungguhnya —demi Allah— saya malu kepada Tuhanku, karena terlalu sering bolak-balik kepada-Nya." Musa berkata, "Kalau begitu, turunlah engkau dengan menyebut nama Allah." Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi Saw. terbangun, dan dia berada di Masjidil Haram."

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan di dalam hadis syarik adanya suatu tambahan yang hanya ada pada riwayatnya, sesuai dengan pendapat orang yang menduga bahwa Nabi Saw. melihat Allah Swt. da­lam peristiwa ini. Yang dimaksudkan ialah apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,

"Kemudian Dia mendekat," yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepadanya (Nabi Saw.), "lalu bertambah mendekat lagi, maka jadilah Dia dekat kepadanya (Muhammad Saw.) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi."

Selanjutnya Imam Baihaqi mengatakan bahwa pendapat Aisyah dan Ibnu Mas'ud serta Abu Hurairah yang menakwilkan ayat-ayat ini —bahwa Nabi Saw. meli­hat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya— merupakan pendapat yang paling sahih.

Pendapat yang dikatakan oleh Imam Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar, karena sesungguhnya Abu Zar r.a. pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?" Rasulullah Saw. menjawab:

Nur, mana mungkin aku dapat melihatnya. Menurut riwayat yang lain disebutkan: Saya hanya melihat nur (cahaya). (Diketengahkan oleh Imam Muslim)

Firman Allah Swt.:

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. (An Najm:8)

Sesungguhnya yang dimaksudkan hanyalah Malaikat Jibril a.s., seperti yang ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui Siti Aisyah Ummul Muminin dan Ibnu Mas'ud.

Demikian pula yang ditetapkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah. Tiada seorang pun di antara para sahabat yang menentang penafsiran ayat dengan takwil seperti ini.

Sebuah Pasal:

Pendapat orang yang mengatakan bahwa semua riwayat, sebagian darinya berbeda dengan sebagian yang lain, adakalanya perbedaannya sangat mencolok. Lalu ia menyimpulkan adanya berkali-kali perjalanan Isra, maka sesungguhnya pendapat ini keliru dan jauh dari kebenaran. Sebagian di antara ulama mutaakhkhirin mengatakan bahwa Nabi Saw. menjalani Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis sekali, lalu dari Mekah ke langit sekali, dan sekali lagi ke Baitul Maqdis lalu ke langit.

Yang mengherankan orang yang berpendapat seperti ini merasa puas dengan kesimpulan yang didapatkannya. Dia merasa bahwa dirinya telah menyelesaikan semua kesulitan sehubungan dengan masalah Isra ini. Padahal kenyataannya pendapatnya ini tiada seorang pun yang menukilnya dari ulama Salaf selain dia sendiri. Seandainya perjalanan Isra yang dilakukan oleh Nabi Saw. berbilang, tentulah Nabi Saw. menceritakannya kepada umatnya, dan tentulah orang-orang menukilnya dan menyatakan bahwa perjalanan Isra Nabi Saw. dilakukan berkali-kali.

Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa perja­lanan Isra dilakukan setahun sebelum hijrah. Hal yang sama telah dikata­kan oleh Urwah. Lain pula dengan As-Saddi, ia mengatakan bahwa perjalanan Isra dilakukan enam belas bulan sebelum hijrah.

Pendapat yang benar mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menjalani Isra-nya dalam keadaan terjaga, buka dalam keadaan tidur (mimpi), yaitu dari Mekah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Disebutkan bahwa setelah Nabi Saw. di depan pintu Masjidil Aqsa, ia menambatkan hewan kendaraannya di dekat pintu masjid, lalu memasukinya dan me­ngerjakan salat menghadap ke arah kiblat sebanyak dua rakaat, yaitu salat tahiyyatul masjid (penghormatan pada masjid).

Kemudian didatangkan Mi’raj, sebuah alat seperti tangga bentuknya, memiliki undagan-undagan untuk naik ke atas. Lalu Nabi Saw. menaikinya menuju ke langit yang terdekat, kemudian ke langit-langit selanjutnya sampai ke langit yang ketujuh.

Di setiap lapisan langit Nabi Saw. disambut oleh penghuni langit yang selanjutnya. Nabi Saw. mengucapkan salam kepada nabi-nabi yang ada di setiap langit sesuai dengan kedudukan dan tingkatan mereka. Se­hingga bersualah Nabi Saw. dengan Musa yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah di langit yang keenam, dan beliau bersua dengan Nabi Ibrahim di langit yang ketujuh.

Kemudian Nabi Saw. melampaui kedudukan kedua nabi itu dan nabi­ nabi lain yang sebelumnya, hingga sampailah Nabi Saw. pada suatu ting­katan yang dari tempat itu beliau dapat mendengar geretan kalam, yakni kalam yang mencatat takdir terhadap segala sesuatu yang telah ada.

Nabi Saw. melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah Allah Swt,, yaitu oleh sejumlah yang sangat besar dari kupu-kupu emas dan berbagai macam warna-warni, para malaikat meliputinya pula. Di tempat itulah Nabi Saw. melihat bentuk dan rupa asli Malaikat Jibril yang memiliki enam ratus sayap. Dan Nabi Saw. melihat rafraf (bantal-bantal) hijau yang menutupi semua cakrawala pandangan.

Nabi Saw. melihat Baitul Ma'mur dan Nabi Ibrahim Al-Khalil pemba­ngun Ka'bah bumi sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma'mur, karena Baitul Ma'mur adalah Ka'bah penghuni langit. Setiap hari Baitul Ma'mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang melakukan ibadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya sampai hari kiamat.

Nabi Saw. melihat surga dan neraka serta difardukan kepada Nabi Saw, salat lima puluh kali di tempat itu, kemudian diberikan keringanan oleh Allah Swt. sampai menjadi lima kali salat (salat lima waktu) sebagai rahmat dari Allah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini terkandung perhatian yang besar terhadap kemuliaan dan kebesaran salat.

Lalu Nabi Saw. turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh semua nabi, kemudian Nabi Saw. salat bersama mereka di dalam Baitul Maqdis setelah waktu salat tiba. Barangkali salat yang dimaksud salat Subuh hari itu.

Di antara ulama ada yang menduga bahwa Nabi Saw. mengimami salat mereka di langit. Tetapi berdasarkan riwayat yang banyak menyebutkan, hal itu terjadi di Baitul Maqdis. Hanya dalam sebagian riwayat tersebut ada yang menyebutkan bahwa salat itu dilakukan ketika pertama kali Nabi Saw. memasukinya.

Menurut lahiriah makna hadis menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah Nabi Saw. pulang menuju ke Baitul Maqdis. Dikatakan demikian karena ketika Nabi Saw. melewati mereka di tempatnya masing-masing, Nabi Saw. bertanya kepada Jibril a.s. tentang masing-masing orang dari mereka, lalu Malaikat Jibril memberitahukan kepada Nabi Saw.

Kesimpuan inilah yang layak dipegang, karena pada awalnya Nabi Saw. di­perintahkan untuk menghadap kepada Allah Swt. yang Mahatinggi untuk difardukan atasnya dan atas umatnya perintah yang dikehendaki-Nya.

Setelah selesai menerima perintah yang dimaksudkan oleh Allah, maka barulah Nabi Saw. berkumpul bersama saudara-saudaranya dari kalangan para nabi. Kemudian ditampakkan keutamaan dan kemuliaan Nabi Saw. atas mereka karena Nabi Saw. diajukan untuk menjadi imam salat mereka, Jibrillah yang mengisyaratkan hal tersebut kepada Nabi Saw.

Setelah itu Nabi Saw. keluar dari Baitul Maqdis, lalu mengendarai Buraqnya dan kembali ke Mekah sebelum pagi hari.

Adapun mengenai penyuguhan beberapa jenis minuman kepadanya, yaitu minuman susu dan minuman madu atau minuman khamr, atau minuman susu dan air atau semuanya, menurut sebagian riwayat, hal itu terjadi di Baitul Maqdis, sedangkan menurut riwayat yang lain terjadi di langit. Barangkali hal ini terjadi di Baitul Maqdis dan juga di langit, mengingat suguhan ini termasuk ke dalam Bab "Menyediakan Sajian buat Tamu yang Baru Datang".

Kemudian para ulama berbeda pendapat apakah Isra yang dilakukan oleh Nabi Saw. ini dilakukan oleh tubuh dan rohnya, ataukah hanya dengan rohnya saja? Ada dua pendapat mengenai masalah ini. Tetapi menurut kebanyakan ulama, Nabi Saw. menjalani Isra-nya dengan tubuh dan rohnya lagi dalam keadaan terjaga, bukan sedang dalam keadaan tidur (mimpi).

Tetapi mereka tidak menyangkal bila Rasulullah Saw. telah melihat hal tersebut dalam mimpinya, kemudian sesudah itu beliau Saw. melihat­nya langsung dalam keadaan jaga. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali Nabi Saw. melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang seperti cahaya pagi hari.

Bukti yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. menjalani Isra-nya de­ngan badan dan rohnya adalah firman Allah Swt. yang menyebutkan:

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya.

Kata tasbih yang mengawali ayat ini tidak sekali-kali disebutkan melainkan bila mengawali perkara-perkara yang besar. Seandainya peristiwa Isra itu dilakukan dalam keadaan tidurnya (mimpinya), tentulah tidak mengandung sesuatu hal pun yang besar dan bukan dianggap sebagai peristiwa yang besar, serta orang-orang kafir Quraisy pun tidak segera mendustakannya, dan tidak akan murtadlah sejumlah orang yang tadinya telah masuk Islam.

Dan lagi pengertian kata 'hamba' mencakup pengertian roh dan ja­sad. Allah Swt. telah berfirman: Yang telah memperjalankan hamba-Nya di suatu malam. (Al- Isra: 1), Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang telah Kami tampilkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al Israa':60)

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ru-ya dalam ayat ini ialah penglihatan mata yang di tampakkan kepada Rasulullah Saw. pada malam beliau menjalani Isra-nya, (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk, yakni pohon zaqqum. Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari. Dan firman Allah Swt. yang mengatakan: Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (An Najm:17)

Sedangkan penglihatan mata merupakan bagian dari indera tubuh, bukan bagian dari roh. Dan lagi Nabi Saw. mengendarai Buraq, yaitu hewan yang berwarna putih mengkilat. Sesungguhnya hal ini hanyalah untuk badan, bukan untuk roh. Karena jika rohnya, maka dalam gerakannya tidak diperlukan adanya kendaraan yang dinaikinya.

Ulama yang lainnya mengatakan bahwa Nabi Saw. melakukan Isra-nya hanya dengan rohnya, tidak dengan jasadnya. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar di dalam kitab Sirah-nya mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya'qub ibnu Atabah ibnul Mugirah ibnul Akhnas, bahwa Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan apabila ditanya tentang Isra Rasulullah Saw., maka ia menjawab, "Perjalanan Isra itu adalah mimpi yang benar dari Allah."

Dan telah menceritakan kepadaku sebagian keluarga Abu Bakar, bahwa Siti Aisyah pernah mengatakan, "Jasad Rasulullah Saw. tidaklah hilang, melainkan beliau menjalankan Isra dengan rohnya."

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa perkataan Siti Aisyah ini tiada yang menyangkalnya, mengingat Al-Hasan pernah mengatakan bahwa ayat berikut, yakni firman Allah Swt.: Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Al Israa':60) Dan firman Allah Swt. tentang kisah Nabi Ibrahim: Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembe­lihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. (Ash Shaaffat:102)

Muhammad Ibnu Ishaq melanjutkan perkataanya, bahwa Al-Hasan melanjutkan perkatannya, lalu ia menyimpulkan bahwa kini ia mengetahui bahwa wahyu sampai kepada para nabi dari Allah, baik mereka dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur. Dan Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kedua mataku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga. Dengan kata lain, hal tersebut datang kepada Rasulullah Saw. dalam semua keadaannya, baik beliau dalam keadaan tidur ataupun terjaga, semuanya adalah hak dan benar. Demikianlah pendapat Ibnu Ishaq.

Akan tetapi, Abu Ja'far ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya menyang­gah dan menyangkal serta mengecam pendapat tersebut, bahwa pendapat seperti itu bertentangan dengan makna lahiriah Al-Qur'an. Lalu Ibnu Jarir mengemukakan dalil-dalil dalam sanggahannya yang antara lain ialah dalil-dalil yang telah di sebutkan di atas.

Sebuah pembahasan penting

Al-Hafiz Abu Na'im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Umar Al-Waqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Abur Rijal, dari Umar ibnu Abdullah, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. mengutus Dahiyyah ibnu Khalifah kepada Kaisar. Lalu disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam teksnya terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan berfikir Kaisar Heraklius. Kaisar memanggil para pedagang (Arab) yang ada di negeri Syam, maka dihadapkanlah Abu Sufyan ibnu Sakhr ibnu Harb beserta teman-temannya kepada Kaisar. Kaisar menanyai mereka pertanyaan-pertanyaan yang telah terkenal itu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Kemudian Abu Sufyan berupaya semaksimal mungkin untuk menghina Nabi Saw. dan menganggap kecil perkaranya di hadapan Kaisar. Dalam konteks ini disebutkan kata-kata Abu Sufyan yang mengatakan, "Demi Allah, tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi diriku untuk mengata-ngatai Muhammad dengan kata-kata yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar kecuali karena aku tidak suka melakukan suatu kedustaan di hadapan Kaisar, yang akibatnya justru akan berbalik terhadap diriku dan Kaisar tidak percaya lagi dengan kata-kata yang aku ucapkan pada­nya."

Abu Sufyan mengatakan, "Sampai aku teringat ucapannya tentang malam hari dia menjalani Isra," Abu Sufyan mengatakan pula, "Aku berkata, hai Raja! Maukah aku ceritakan kepadamu suatu berita, agar engkau mengetahui ia seorang pendusta?" Raja menjawab, "Berita apakah itu?" Abu Sufyan mengatakan, "Sesungguhnya dia (Nabi Saw.) mengaku kepada kami bahwa dirinya pergi dari tanah kami — yakni Tanah Suci — dalam suatu malam, lalu datang ke masjid kalian yang di IIiya ini (Yerussalem), lalu ia kembali kepada kami dalam malam yang sama sebelum subuh."

Saat itu Uskup Iliya berada di belakang Kaisar. Ia berkata, "Sesung­guhnya saya mengetahui kejadian malam itu." Kaisar menoleh ke arah uskup dan bertanya, "Bagaimana engkau mengetahui kejadiannya?" Uskup menjawab, "Sesungguhnya saya tidak pernah tidur dalam suatu malam pun sebelum menutup semua pintu masjid. Dan pada malam itu saya menutup semua pintu masjid selain sebuah pintu yang tidak kuat saya tutup. Maka saya meminta bantuan kepada para pekerja (pembantu) saya dan semua orang yang hadir pada saat itu untuk menutup pintu tersebut, tetapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Kami tidak mampu menggerakkannya, seakan-akan kami sedang menggeser sebuah bukit. Maka saya memanggil tukang-tukang kayu untuk memeriksa pintu itu. Mereka datang dan mengatakan,' Sesungguhnya pintu ini terkena oleh tekanan tembok bangunan yang menurun, juga oleh kusennya. Kami tidak mampu menggerakkannya, nanti saja pagi hari kami akan melihat penyebabnya'."

Uskup melanjutkan kisahnya, bahwa ia masuk ke dalam dan membi­arkan dua pintu itu terbuka lebar, "Kemudian pada pagi hari saya kembali memeriksa pintu itu. Tiba-tiba batu yang ada di sudut masjid dalam keadaan telah berlubang, dan ternyata pada lubang itu terdapat bekas tali kendali hewan kendaraan yang ditambatkan. Maka saya berkata kepada teman-teman saya, 'Tiada lain pintu ini tertahan tadi malam melainkan karena ada seorang nabi, dan dia telah melakukan salat di masjid kita ini'." Abu Na'im Al-Asbahani melanjutkan hadisnya hingga selesai.

Sebuah Faedah

Al-Hafiz Abul Khattab Umar ibnu Dahiyyah di dalam kitabnya yang berjudul At-Tanwir fi Maulidis Sirajil Munir telah meriwayatkan hadis Isra melalui Anas, dan ia mengetengahkannya dengan baik serta lengkap. Sesudah itu ia mengatakan bahwa banyak riwayat hadis mengenai Isra sampai kepada tingkatan mutawatir, seperti riwayat dari Umar ibnul Khattab, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, Malik ibnu Sa'sa'ah, Abu Hurairah, Abu Sa'id, Ibnu Abbas, Syaddad ibnu Aus, Ubay ibnu Ka'b, Abdur Rahman ibnu Qart, Abu Habbah, dan Abu Laila yang kedua-duanya dari kalangan Ansar, Abdullah ibnu Amr, Jabir, Huzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Abu Umamah, Samurah ibnu Jundub, Abul Hamra, Suhaib Ar-Rumi, Ummu Hani', Aisyah dan Asma yang kedua-duanya putri Abu Bakar.

Sebagian di antara mereka mengetengahkannya secara panjang lebar, dan sebagian lainnya mengetengahkannya secara ringkas seperti yang disebutkan di dalam kitab-kitab musnad. Sekalipun riwayat sebagian dari mereka harus memenuhi standar syarat sahih, tetapi hadis mengenai Isra ini kebenarannya telah disepakati oleh kaum muslim, dan orang-orang kafir zindiq dan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhanlah yang berpaling darinya. Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Ash Shaff:8)

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[17 ~ AL-ISRA' (PERJALANAN MALAM) Pendahuluan: Makkiyyah, 111 ayat ~ Surat ini memuat 111 ayat yang semuanya turun pada periode Mekah, kecuali dua belas ayat, yaitu ayat 26, 32, 33, 57, dan delapan ayat dari ayat 73 hingga ayat 80 yang turun pada periode Madinah. Surat ini diawali dengan tasbih menyucikan Allah, lalu dilanjutkan dengan menyinggung perjalanan Nabi Muhammad di malam hari (isrâ'), risalah Mûsâ dan berbagai peristiwa yang terjadi pada Banû Isrâ'îl. Kemudian disinggung pula mengenai kedudukan al-Qur'ân dalam memberikan petunjuk, pemaparan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam raya (âyât kawniyyah) di malam dan di siang hari, dan ganjaran manusia pada hari kiamat atas perbuatan-perbuatannya di dunia. Dijelaskan pula tentang hal-hal yang menyebabkan musnahnya beberapa bangsa, lalu dilanjutkan dengan memaparkan hal ihwal perbuatan manusia yang hasilnya akan diterima di akhirat. Kemudian dibicarakan tentang kewajiban menghormati orangtua, keadaan manusia berkaitan dengan harta mereka, sepuluh perintah yang di antaranya membangun masyarakat ideal, dan bantahan Allah terhadap kebohongan yang diada-adakan oleh orang-orang musyrik tentang malaikat serta penjelasan al-Qur'ân tentang pengulang-ulangan argumentasi al-Qur'ân. Selanjutnya Allah mengisyaratkan ihwal diri-Nya yang pantas untuk dipuji, keingkaran orang-orang musyrik, pemaparan wasiat-wasiat-Nya kepada orang-orang yang beriman, dan sikap Allah terhadap orang orang kafir di dunia dan akhirat. Dilanjutkan dengan penjelasan-Nya tentang asal penciptaan manusia dan setan dan ancaman-Nya terhadap orang orang musyrik. Kemudian dijelaskan pula tentang kemuliaan manusia, penjelasan Allah tentang siksaan-Nya di hari akhirat, pemaparan upaya orang-orang musyrik dalam memalingkan seruan nabi, dilanjutkan dengan ketetapan Allah dalam menetapkan seruan itu, lalu Allah berpesan kepada Nabi dengan beberapa wasiat dan doa. Dalam ayat selanjutnya, Allah mengisyaratkan tentang kedudukan al-Qur'ân, kemudian membicarakan tentang ruh dan rahasianya, tentang mukjizat al-Qur'ân yang membuat jin dan manusia tidak mampu mendatangkan ayat-ayat seperti al-Qur'ân dan bagaimana manusia menyikapinya, tentang kekuasaan Allah untuk mendatangkan ayat-ayat lainnya, tentang kedudukan al-Qur'ân yang mencakup kebenaran dan tentang keadaan orang-orang Mukmin yang jujur dalam keimanannya serta himbauan untuk selalu memuji Allah dan mengagungkan-Nya.]] Mahasuci Allah dari hal-hal yang tidak pantas untuk disandangkan kepada diri-Nya. Dialah yang memperjalankan hamba-Nya, Muhammad, pada sebagian waktu malam dari Masjid al-Haram, di Mekah, menuju Masjid al-Aqshâ, di Bayt al-Maqdis, yang telah Kami berkahi sekelilingnya berupa makanan untuk masyarakat sekitarnya. Semua itu agar Kami memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Kami yang dapat menjadi bukti yang menunjuki keesaan dan kebesaran kekuasaan Kami. Sesungguhnya hanya Allahlah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Aisarut Tafasir
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Masjidilharam adalah masjid yang paling utama secara mutlak, sedangkan Masjidil Aqsa termasuk masjid yang utama, di mana ia merupakan tempat para nabi.

Syaikh As Sa’diy berkata, “Beliau diperjalankan dalam satu malam ke tempat yang jauh sekali, dan kembali pada malam itu. Allah memperlihatkan kepada Beliau ayat-ayat-Nya yang dengannya bertambahlah hidayah, bashirah (pandangan yang dalam) dan furqan (pembeda). Hal ini merupakan perhatian Allah Ta’ala dan kelembutan-Nya terhadap Beliau, di mana Allah memudahkan Beliau menuju kepada kemudahan dalam semua urusannya. Allah juga memberikan kepadanya nikmat yang banyak yang mengalahkan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian. Zhahir ayat menunjukkan bahwa israa’ terjadi pada awal malam, dan dimulai dari Masjidilharam itu. Akan tetapi, ada riwayat dalam hadits shahih, bahwa Beliau diperjalankan dari rumah Ummu Hani’. Dengan demikian, keutamaan pada Masjidilharam untuk semua tanah haram. Semua bagiannya dilipatgandakan (pahala) ibadahnya sebagaimana dilipatgandakannya ibadah ketika di masjid tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa isra’ terjadi dengan ruh dan jasadnya secara bersamaan, karena jika tidak demikian, maka sama saja tidak ada tanda besar dan keutamaan yang agung. Banyak hadits-hadits yang sah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang israa’, dan perincian tentang apa yang Beliau lihat, dan bahwa Beliau diperjalankan ke Baitulmaqdis, lalu dari sana dinaikkan ke langit-langit sampai tiba di bagian langit yang paling atas. Beliau juga melihat surga dan neraka, dan melihat para nabi dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ketika itu, Allah mewajibkan kepada Beliau shalat lima puluh waktu, lalu Beliau kembali menghadap Allah dan terus kembali dengan isyarat Nabi Musa Al Kalim, sehingga jumlahnya menjadi lima waktu dikerjakan, namun pahala dan balasannya seperti melakukan shalat lima puluh waktu. Ketika itu, Beliau dan umatnya membawa banyak kebanggan, di mana tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Faedah: Sebagian orang yang kurang akalnya mengatakan bahwa isra’ dan mi’raj bertentangan dengan akal sehat manusia. Kita menjawab, “Tidak, bahkan sama sekali tidak bertentangan dengan akal manusia, karena yang memperjalankan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana dalam ayat di atas, bukan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri. Sedangkan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan semuanya mudah bagi-Nya. Untuk lebih jelasnya, kami akan membuatkan permisalan dengan pertanyaan berikut, “Mungkinkah seekor semut bisa tiba dari Jakarta ke Bogor dalam waktu tiga jam?” Jawab, “Mungkin, karena bisa saja semut tersebut berada dalam buah rambutan, lalu buah rambutan tersebut diangkut ke dalam sebuah mobil yang hendak berangkat dari Jakarta ke Bogor, ternyata sampai di Bogor hanya memakan waktu tiga jam, sehingga semut pun sampai di sana dalam waktu tiga jam.” Sampainya semut ke Bogor dalam waktu yang cukup singkat itu, karena yang memperjalankan adalah mobil yang memiliki kecepatan dan kekuatan, bukan semut itu sendiri. Perhatikanlah permisalan ini!

Daerah-daerah sekitarnya mendapat berkah dari Allah dengan diutus-Nya nabi-nabi di negeri itu dan diberikan-Nya kesuburan tanah. Termasuk keberkahan Masjidil Aqsa adalah dilebihkan-Nya masjid itu di atas semua masjid selain Masjidilharam dan Masjid Nabawi, dan ia salah satu masjid yang dianjurkan mengadakan perjalanan untuk beribadah dan shalat di sana. Di samping itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengkhususkannya sebagai tempat para nabi dan makhluk pilihan-Nya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Pada akhir surah an-nahl mengandung pesan kepada nabi Muhammad agar bersabar dan tidak bersedih hati disebabkan tipu daya dan penolakan orang-orang yang menentang dakwahnya. Di saat beliau mengalami kesulitan menghadapi orang-orang kafir yang menolak dakwahnya, ayat pertama dari surah ini menyatakan bahwa beliau mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, di mana Allah memperjalankannya dari masjidilharam ke masjidil aqsha dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan dan kebesarannya. Ayat pertama ini menyatakan, maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya, yakni nabi Muhammad, pada malam hari dari masjidilharam, yang berada di mekah ke masjidil aqsa, yang berada di palestina, yang telah kami berkahi sekelilingnya, dengan tanahnya yang subur yang menghasilkan aneka tanaman dan buah-buahan serta menjadi tempat turunnya para nabi, agar kami perlihatkan kepadanya dengan mata kepala atau mata hati sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan kami. Sesungguhnya dia, yaitu Allah adalah maha mendengar perkataan hamba-Nya, maha mengetahui tingkah laku dan perbuatannya. Bila Allah memuliakan nabi Muhammad dengan memperjalalankannya dari masjidilharam ke masjidil aqsa, maka dia memuliakan nabi musa dengan menganugerahkan kepadanya kitab taurat agar menjadi petunjuk bagi bani israil. Dan kami berikan kepada nabi musa kitab, yaitu taurat, dan kami menjadikannya sebagai petunjuk yang khusus bagi bani israil, yaitu anak keturunan nabi yakub, agar mereka tidak menyembah kepada selain-ku. Kepada mereka aku berfirman, janganlah kamu mengambil penolong selain aku, yakni janganlah menyembah dan menggantungkan segala urusan kepada selain-ku.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

Keutamaan: Imam Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW setiap malam membaca surah Bani Israil dan Az-Zumar. Surah ini juga dinamakan surah Bani Israil dan termasuk surah-surah awal yang diturunkan di Mekah.

1. Maha suci Allah dari apa yang tidak sesuai dengannyan berupa sifat-sifat lemah dan kurang, Dzat yang menjalankan hambaNya, Muhammad SAW secara jasad dan ruh pada sebagian malam sebelum satu tahun berhijrah, dari rumah Ummu Hani’ di seberang Masjidil Haram (Masijil Haram digunakan untuk menyebut Mekah atau tempat suci yang ada di Mekah) menuju masjid Baitul Maqdis yang Kami berkahi sekelilingnya dengan buah-buahan, perkebunan dan sungai-sungai, dan menjadikannya sebagai tempat turunnya malaikat dan tempat tinggalnya para nabi, supaya Kami bisa memperlihatkan dia sebagian dalil-dalil kekuasaan Kami yang menakjubkan dan betapa menakjubkannya para makhluk. Sesungguhnya Dia (Allah) itu Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hambaNya dan Maha Melihat perbuatan-perbuatan mereka. Dan di sini Allah menggambarkan nabiNya sebagai orang yang menerima wahyu kehambaan untuk memberi penghormatan, kemuliaan dan isyarat kepadanya yang mana dia berkumpul bersama para nabi dan melakukan perjalanan langit. Dan sungguh rasulallah SAW telah mengatakan kepada kaum Quraisy tentang peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut dan mereka mendustakannya lalu Allah menurunkan ayat ini untuknya sebagai wujud pembenaran baginya.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. سُبْحٰنَ الَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam)
Yakni memperjalankan hamba-Nya di malam hari.
Allah tidak menyebut beliau dalam ayat ini dengan Nabi-Nya, Rasul-Nya, atau Muhammad, hal ini sebagai penghormatan bagi beliau dengan menjadikannya dalam kedudukan yang mulia ini (yakni sebagai hamba-Nya).

مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ(dari Al Masjidil Haram)
Rasulullah diperjalankan dari rumah milik Ummu Hani’ yang terletak di sebelah Masjidil Haram.

إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا(ke Al Masjidil Aqsha)
Yakni masjid Baitul Maqdis, dan pada saat itu tidak ada masjid setelahnya (oleh sebab itu disebut sebagai al-Masjidil Aqsha (masjid yang terjauh)).

الَّذِى بٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ(yang telah Kami berkahi sekelilingnya)
Dengan buah-buahan, sungai-sungai, dan tempat tinggal para nabi dan orang-orang shalih; serta di sana terdapat keberkahan dunia dan akhirat.

لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايٰتِنَآ ۚ(agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami)
Yakni keajaiban-keajaiban yang Allah tunjukkan kepada beliau di malam itu.

إِنَّهُۥ(Sesungguhnya Dia)
Yakni Allah Ta’ala.

هُوَ السَّمِيعُ (Maha Mendengar)
Segala suara.

الْبَصِيرُ (lagi Maha Mengetahui)
Segala wujud, termasuk diantaranya adalah Maha Mengetahui diri Rasulullah dan amal perbuatan-Nya.
Terdapat pendapat mengatakan bahwa perjalanan tersebut dengan jasad dan ruh Rasulullah. Pendapat lain mengatakan perjalanan tersebut hanya dengan ruhnya saja.
Isra’ Mi’raj terjadi satu tahun sebelum Rasullah berhijrah ke Madinah. Dan pendapat lain mengatakan terjadi beberapa tahun sebelum hijrah.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Maha Suci Allah dari segala yang tidak layak bagi kebesaran dan keagungan-Nya; Dia berkuasa untuk melakukan hal-hal menakjubkan, seperti memperjalankan hamba-Nya, Muhammad pada malam hari dengan jasad dan ruhnya dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Haram di Baitul Maqdis yang telah Kami berkati sekelilingnya dengan banyak risalah dan berbagai jenis buah-buahan dan rezeki. Hal ini agar Kami menunjukkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang agung seperti menaiki langit ke tujuh dan mukjizat-mukjizat lain yang menunjukkan keesaan dan kebesaran Allah. Dia Maha Mendengar segala perkataan dan Maha Melihat segala perbuatan.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Sungguh Allah -Subḥānahu- Maha Suci lagi Agung; lantaran kekuasaan-Nya yang tidak bisa ditandingi oleh selain-Nya. Dia lah yang memperjalankan hamba-Nya Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan jasad dan ruhnya serta dalam kondisi sadar (bukan mimpi) pada sebagian malam dari Masjidil Haram menuju Masjid Bait al-Maqdis (Al-Aqṣa) yang kami berkahi dan anugerahi tanah-tanah sekelilingnya dengan banyaknya buah-buahan, dan pertanian, serta sebagai tempat diutus dan menetapnya para Nabi -'alaihimussalām-, agar ia (Muhammad) menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang menunjukkan kekuasaan Allah -Subḥānahu-, karena sesungguhnya Dia Yang Maha Mendengar; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala sesuatu yang terdengar, lagi Maha Melihat; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya segala sesuatu terlihat.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1. Allah menyucikan dan mengagungkan diriNYa, karena Dia memiliki perbuatan-perbuatan dan aneka karunia yang agung. Termasuk dalam kategori itu adalah bahwa Dia “yang telah memperjalankan hambaNya,” yaitu RasulNya, Muhammad “dari Masjidil Haram,” masjid yang paling agung secara mutlak “ke Masjidil Aqsha,” sebuah masjid yang termasuk kategori masjid-masjid yang utama dan tempat (pusat) para nabi. Beliau diperjalankan dalam satu malam melintasi jarak yang sangat jauh, dan kembali pada malam itu juga. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya kepada beliau, yang menyebabkan beliau mendapatkan tambahan petunjuk, kekuatan bashirah, ketetapan hati serta pembeda (antara yang benar dan bathil).
Peristiwa ini menunjukkan perhatian dan kelembutan Allah terhadap Nabi, lantaran Dia memberikan kemudahan dalam seluruh uruusan serta melimpahkan karunia-karuniaNya kepada beliau beliau hingga mengungguli orang-orang terdahulu dan generasi yang akan datang dengannya.
Zahirnya ayat menunjukkan bahwa, peristiwa Isra’ terjadi pada permulaan malam dan sejak dari tempat Masjidil Haram itu sendiri. Akan tetapi, telah disebutkan dalam kitab ash-Shahih bahwasanya Rasulullah memulai perjalanan Isra’ dari rumah Ummu Hani. Berdasarkan ini maka keutamaan Masjidil Haram berlaku untuk seluruh tanah Haram.
Di setiap tanah Haram, (pahala) beribadah akan berliparganda sebagaimana pelipatgandaan (pahala) ibadah di dalam Masjidil haram. (Selain itu), ayat ini menunjukkan bahwasanya peristiwa Isra’ (dan MI’raj) berlangsung dengan ruh dan jasad Nabi sekaligus. Karena jika tidak demikian, maka kejadian ini bukanlah termasuk tanda kebesaran yang besar dan keistimewaan yang agung.
Begitu banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi berkaitan dengan peristiwa Isra’ (dan Mi’raj). Nabi menerangkan secara rinci kejadian-kejadian yang telah beliau lihat, dan bahwasanya beliau diperjalankan di malam hari menuju Baitul Maqdis, kemudian dinaikkan dari sana menuju langit-langit hingga sampai pada permukaan atas langit yang tertinggi. Beliau telah menyaksikan surge dan neraka, (bertemu dengan) sejumlah Nabi sesuai dengan kedudukan mereka, lantas ditetapkan atas beliau kewajiban shalat lima puluh waktu (dalam sehari semalam). Atas arahan dari Nabi Musa al-Kalim, beliau berbolak-balik kepada RabbNya (untuk meminta keringanan) hingga menjadi lima kali waktu secara perbuatan, dan menjadi 50 dalam pahala dan balasannya. Beliau dan umatnya telah meraih sumber-sumber kebanggaan di malam itu, yang tidak ada yang mengetahui kadarnya kecuali Allah. Allah menyebut Muhammad di sini dan di dalam kesempatan menurunkan al-Quran dan di tempat penentangan sifat ‘ubudiyah. Lantaran Rasulullah telah meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi ini melalui penyempurnaan penghambaan beliau kepada Rabbnya.
Dan Firman Allah, “Yang telah Kami berkahi sekelilingnya,” dengan pepohonan yang banyak dan sungai-sungai dan kesuburan yang langgeng. Di antara keberkahan (Masjidil Aqsha) adalah pengutamaan Masjid ini dibandingkan masjid-masjid lainnya selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan bahwasanya dituntut untuk memaksakan bepergian ke masjid-masjid ini semata-mata untuk beribadah dan shalat di dalamnya. Dan bahwa Allah telah mengkhususkan tempat ini bagi kebanyakan para nabi dan orang-orang pilihanNya.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Makna kata:
(سُبۡحَٰنَ) subhaana : Maha Suci dari segala yang tidak layak bagi keagungan dan kesempurnaan-Nya, yaitu Allah jalla jalaaluh.
(بِعَبۡدِهِۦ) bi’abdih : dengan hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ) minal masjidil haraami : dari Masjidil Haram yang berada di Mekah.
(إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا) ilal masjidil aqshaa : menuju Masjidil Aqsha yang berada di Baitul Maqdis.
(مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ) min aayaatinaa : keajaiban dan bukti kekuasaan Kami yang terdapat pada kerajaan tertinggi.

Makna ayat:
Allah ta’ala mensucikan diri-Nya dari segala yang disematkan oleh kaum musyrikin berupa sekutu, anak perempuan, dan sifat-sifat makhluk. Allah berfirman “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya” yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi Al-‘Adnani “pada malam hari dari Masjidil Haram” dari Mekah ketika beliau keluar dari rumah Ummu Hani` dan hatinya dicuci dengan air zamzam, serta ditanami iman dan hikmah. Kemudian Allah memperjalankannya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah ta’ala mengumpulkan seluruh nabi di Masjidil Aqsha, dan beliau menjadi imam shalat bagi mereka, karena beliau adalah imam para nabi dan penutup mereka. Kemudian beliau naik ke atas langit, langit demi langit. Setiap langit beliau menemukan penghuninya, hingga sampai pada Sidratul Muntaha di sisinya ada surga Jannatul Ma`wa. Lalu beliau dinaikkan hingga dapat mendengar goresan pena-pena. Firman-Nya ta’ala “yang telah Kami berkahi sekelilingnya” yaitu disekitar Masjidil Aqsha, makna “sekelilingnya” bagian luarnya, yang meliputi pepohonan, sungai-sungai, dan buah-buahan. Adapun bagian dalamnya, maka keberkahan agama dengan dilipat gandakannya pahala shalat di dalamnya; pahalanya setara dengan pahala 500 shalat. Firman-Nya “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.” Ini adalah sebab dari Isra` dan Mi’raj. Yaitu, Allah memperjalankan hamba-Nya dan menaikkannya menuju langit, untuk memperlihatkan keajaiban ciptaan-Nya pada kerjaan tertinggi, dan agar apa yang telah ia ketahui dengan wahyu bisa ia saksikan dengan pengelihatan. Firman-Nya ta’ala “Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Melihat.” Maha Suci Dia, Dialah yang Maha Mendengar perkataan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat perbuatan dan keadaan mereka, sehingga hikmah dari Isra` yang menakjubkan ini adalah untuk memperkuat keimanan orang yang beriman dan agar orang yang ragu semakin ragu dan bertambah kufur serta ingkar.

Pelajaran dari ayat:
1. Penegasan keyakinan pada Isra` dan Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ruh dan jasad beliau bersamaan, dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian menuju langit-langit yang tinggi, hingga mendengar goresan pena-pena, dan Allah mewahyukan kepadanya apa yang Dia wahyukan, serta mewajibkan bagi umatnya shalat lima waktu.
2. Kemuliaan tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Nabawi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha. Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha telah disebutkan dengan dalil tersendiri, adapun Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dengan isyarat yang mengarah ke sana, karena kata Al-Aqsha merujuk kepada qashiyy (jauh). Sehingga Al-Qashiyy adalah Masjid Nabawi dan Al-Aqsha adalah masjid di kompleks Baitul Maqdis.
3. Penjelasan hikmah dari Isra` dan Mi’raj, yaitu untuk menunjukkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mata kepalanya apa yang telah dia imani dan ketahui dengan wahyu, sehingga yang gaib menjadi terang bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1 ). Diantara gaya bahasa al-Qur'an yang unik yaitu dengan mendatangkan sesuatu yang sudah dikenal baik secara istilah maupun adat atau logika, diantaranya : firman Allah : { سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا } "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam" dalam ayat disebutkan kata "Lail" padahal sudah difahami bahwa kata "isra" tidak memiliki makna lain melainkan hanya (perjalanan di malam hari); hal itu bertujuan untuk menghadirkan gambaran yang lebih jelas tentang Isra' ini ke dalam fikiran pendengar, sehingga seakan-akan ia benar-benar hadir dalam peristiwa malam itu, dan dengan konteks seperti ini memberikan nilai pengaruh yang lebih besar.

2 ). Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa dari penyebutan masjid al-Aqsho dengan menambahkan sifatnya yang diberkahi, dan tidak seperti masjid al-Harom yang tidak disebutkan sifat berkahnya: bahwasanya kemashuran masjid al-Harom sebagai masjid yang diberkahi telah meluas di kalangan masyarakat dan sebagai tempat berpijaknya Ibrahim juga sangat dikenal oleh kalangan Arab, adapun masjid al-Agsho bahkan tidak sedikit orang yang seolah-olah ia lupa tentangnya, lebih parahnya lagi orang-orang kafir dengan usaha mereka untuk mengahpuskan jejak-jejak kenabian dari masjid ini, hal itu karena kebencian orang Nashrani terhadap Yahudi.