Al-Qur'an Surat Al-Humazah Ayat 1

Al-Humazah: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ

waylun
وَیْلٌ
kecelakaan
likulli
لِّكُلِّ
bagi setiap
humazatin
هُمَزَةٍ
pengumpat
lumazatin
لُّمَزَةِۙ
pencela

Transliterasi Latin:

Wailul likulli humazatil lumazah (QS. 104:1)

Arti / Terjemahan:

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. Al-Humazah ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Celakalah bagi setiap pengumpat atau pencaci, baik dengan ucapan atau isyarat, dan demikian pula pencela dengan menampilkan keburukan orang lain untuk menghinakannya. Perbuatan ini berdampak buruk dalam pergaulan karena mencoreng wibawa dan kehormatan seseorang, serta menghilangkan kepercayaan kepada orang tersebut.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah mengancam bahwa kemurkaan dan azab-Nya akan ditimpakan kepada setiap orang yang mengumpat, mencela, dan menyakiti mereka baik di hadapan maupun di belakang mereka. Firman Allah:


Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-hujurat/49: 12)

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Kecelakaanlah) lafal Al-Wail ini adalah kalimat kutukan, atau nama sebuah lembah di neraka Jahanam (bagi setiap pengumpat lagi pencela) artinya yang banyak mengumpat dan banyak mencela. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang suka mengumpat Nabi saw. dan orang-orang mukmin, seperti Umaiyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah dan lain-lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Al-hammaz dan al-lammaz, bedanya: Kalau yang pertama melalui ucapan, sedangkan yang kedua melalui perbuatan. Makna yang dimaksud ialah tukang mencela orang lain dan menjatuhkan mereka. Penjelasan mengenai maknanya telah disebutkan di dalam tafsir firman-Nya:

yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur hasutan. (Al-Qalam:11)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa humazah lumazah artinya tukang menjatuhkan orang lain lagi pencela. Ar-Rabi' ibnu Anas mengatakan bahwa al-humazah mengejek di hadapan, sedangkan lumazah mengejek dari belakang.

Qatadah mengatakan bahwa humazah lumazah mencela orang lain dengan lisan dan matanya, dan suka mengumpat serta menjatuhkan orang lain. Mujahid mengatakan bahwa humazah dengan tangan dan mata, sedangkan lumazah dengan lisan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid.

Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa makna yang dimaksud ialah memakan daging orang lain, yakni mengumpat. Kemudian sebagian dari ulama mengatakan bawah orang yang dimaksud ialah Al-Akhnas ibnu Syuraiq, dan pendapat yang lain mengatakan selain dia. Mujahid mengatakan bahwa makna ayat ini umum.

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[104 ~ AL-HUMAZAH (PENGUMPAT) Pendahuluan: Makkiyyah, 9 ayat ~ Dalam surat ini terdapat peringatan keras bagi orang yang terbiasa mencela orang lain, baik secara eksplisit maupun implisit, yang suka menumpuk-numpuk, menghitung-hitung dan membangga- banggakan kekayaan, dan mengira bahwa kekayaannya itu dapat menjamin kelangsungan hidupnya di dunia. Selain itu, dalam surat ini juga terdapat ancaman masuk neraka yang apinya menyala bagi orang-orang yang memiliki karakter seperti itu. Api neraka itu akan menghancur-leburkan tubuh dan hati mereka. Sementara mereka merasakan siksaan itu, semua pintu neraka ditutup. Di dalamnya, mereka dikekang sehingga tidak dapat bergerak dan menyelamatkan diri.]] Siksaan yang keras dan kehancuran akan dirasakan oleh orang yang terbiasa mencela orang lain dengan ucapan atau isyarat, atau selalu menceritakan aib orang lain.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

1. “Kecelakaanlah,” yaitu ancaman, bencana, dan kerasnya siksa, “bagi setiap pengumpat lagi pencela,” yakni orang yang mengumpat sesama dengan perbuatannya dan mencela sesama dengan perkataannya. ‘Alhammaazu’ adalah orang yang mencela dan memfitnah orang lain dengan isyarat dan tindakan, sedangkan ‘Allammaazu’ adalah orang yang mencela sesama dengan perkataan.

Asbabun Nuzul
Surat Al-Humazah Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Utsman dan Ibnu Umar, ia berkata: "Kami acap kali mendengar bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubai bin Khalaf."

Diriwayatkan bahwa Suddi berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syuraik."

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari seorang laki-laki yang saleh yang berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan Jamil bin Amir al-Jumahi"

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Ibnu Ishak, ia berkata bahwa setiap kali Umayah bin Khalaf bertemu Rasulullah saw maka ia selalu menghina dan mencaci maki beliau. Allah lalu menurunkan ayat-ayat dalam surah ini secara keseluruhan.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Celakalah bagi setiap pengumpat atau pencaci, baik dengan ucapan atau isyarat, dan demikian pula pencela dengan menampilkan keburukan orang lain untuk menghinakannya. Perbuatan ini berdampak buruk dalam pergaulan karena mencoreng wibawa dan kehormatan seseorang, serta menghilangkan kepercayaan kepada orang tersebut. 2. Celakalah orang yang sifatnya demikian, yang selalu menyibukkan diri dan berorientasi pada mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitungnya. Dia merasa nyaman untuk menumpuk dan menghitung harta untuk menjamin kehidupannya di masa datang, dan enggan me-nunai'kan hak Allah dalam hartanya itu.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

3. وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ (dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran)
Yakni saling menasehati untuk menjalankan kebenaran, yaitu berupa keimanan dan keesaan Allah, dan menegakkan syariat-Nya, serta menjauhi larangan-Nya.

وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ(dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran)
Yakni bersabar dalam menjauhi kemaksiatan dan menjalankan kewajiban, serta bersabar atas ketetapan Allah yang menyakitkan.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1. Allah mengancam akan membinasakan orang yang menyakiti kaum muslimin dengan perkataan dan perbuatannya; yaitu dengan menghina dan melecehkan mereka.

Dan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan (همزة) adalah orang yang menggunjing (ghibah), dan (لمزة) adalah orang yang menghina menggunakan isyarat mata dan alis.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Celaka dan siksa yang pedih bagi orang yang banyak menggunjing manusia dan mencela mereka.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

Allah memulai surat ini dengan teguran akan adzab yang keras, kecelakaan, penghinaan, dan kebinasaan bagi pencemooh manusia dan tukang ghibah.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ " Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela," Pada surat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'ala memulai dengan kata وَيْلٌ [Wail] ini adalah kata untuk mengancam. Maknanya: Bahwa kata tersebut menunjukkan adanya ancaman bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini: هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ " pengumpat lagi pencela," hingga akhir yang disebutkan. Dikatakan juga bahwa وَيْلٌ [Wail] adalah salah satu nama lembah di neraka jahannam. Tetapi penafsiran yang pertama yang lebih tipat لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ " setiap pengumpat lagi pencela," Kata كُل [Kull: setiap] adalah di antara bentuk kata yang menunjukkan umum, al-humazah dan al-Lumazah adalah dua sifat untuk satu orang yang disifati, apakah kedua kata tersebut bermakna satu? Ataukah berbeda makna?

Sebagian ulama mengatakan: Keduanya adalah lafaz yang memiliki satu makna, yakni humazah adalah lumazah.

Ulama lainnya mengatakan: Setiap kata memiliki makna tersendiri.

Di sini kaedah yang ingin saya utarakan dalam tafsir dan di luar pembahasan tafsir, yaitu: Bahwa apabila dalam sebuah konteks, ada dua kata yang bisa jadi keduanya satu makna atau setiap kata memiliki makna yang berbeda, maka kita menerapkan bahwa masing masing memiliki makna, karena jika kita menjadikan keduanya hanya bermakna dengan satu makna, maka konsekuansinya adalah tidak ada gunanya ada pengulangan kata (yang bermakna sama), tetapi jika kita terapkan setiap kata memiliki makna maka ini menjadi landasan dan pembeda antara dua kata tersebut, dan yang benar dalam ayat ini لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ "setiap pengumpat lagi pencela," adalah kedua kata tersebut memiliki perbedaan makna: Al-Hamz: (celaan) dengan perbuatan. Al-Lamz (celaan) dengan lisan, sebagaimana Allah ta'ala berfirman: وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ " Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. "(QS. At-Taubah: 58)

Sedangkan al-Hamz dengan perbuatan, yakni: Mencela dengan gerakan, bisa dengan memalingkan wajah, atau menampakkan wajah murka, atau dengan menunjuk orang lain, sambil mengatakan: lihatlah dia dalam rangka menghinanya, atau yang semisal. Al-Hamz adalah celaan dengan gerakan (perbuatan) sedangkan al-lamz celaan dengan lidah.

Sebagian orang -wal'iyaadzu billaah- gemar menghina orang, bisa dengan perbuatannya, sehingga disebut hammaz atau dengan ucapannya ini disebut lammaz, ini seperti firman Allah Ta'ala: وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,"(QS. Al-Qolam: 10-11)

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Kata ‘wail’ merupakan kata siksaan, ancaman dan kerasnya azab, atau sebuah lembah di neraka Jahannam.

Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang sering menggunjing Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin, seperti Umayyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah dan lain-lain, wallahu a’lam.

Humazah artinya yang mencela manusia dengan isyarat dan perbuatannya, sedangkan lumazah adalah yang mencela dengan ucapannya. Di antara sifat para pengumpat (penggunjing) lagi pencela adalah seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya, yaitu tidak ada maksud selain mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, tidak suka berinfak di jalur-jalur kebaikan, menyambung tali silaturrahim, dan sebagainya.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

{ وَيْلٌ } Kecelakaanlah { لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ } bagi setiap pengumpat dan pencela, dua sifat ini sangat buruk pada hakikatnya, berasal dari kata "الهمز" yaitu mengumpat, sifat yang ini didiketahui dengan perbuatan, dan "اللمز" mencela, yitu dengan perkataan, Allah - عز وجل - berfirman : { وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ } ( Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. ) [ At-Taubah : 58 ] , mereka mencela Rasulullah ﷺ perihal zakat, mereka tidak mementingkat hal lain selain diri mereka sendiri, maka seharusnya setiap muslim menjauh dari dua sifat keji ini.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1. Kehancuran, kerendahan dan siksaan yang sangat berat bagi setiap pengumpat (para pengumpat) yaitu orang yang menyakiti dan menghina kehormatan dan kemuliaan orang, dan bagi pencela (para pencela) yaitu pembuka aib, yang mencemarkan aib orang banyak yang dirahasiakan dalam lisan, mata, tangan, kepala atau bagian tubuh lainnya untuk merendahkan mereka dan menaikkan derajatnya