Al-Qur'an Surat At-Takasur Ayat 1

At-Takasur: 1 ~ Quran Terjemah Perkata dan Tafsir Bahasa Indonesia

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ

alhakumu
اَلْهٰىكُمُ
telah melalaikan kamu
al-takathuru
التَّكَاثُرُۙ
berbanyak-banyak/bermegah-megah

Transliterasi Latin:

Al-hākumut-takāṡur (QS. 102:1)

Arti / Terjemahan:

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (QS. At-Takasur ayat 1)

Tafsir Ringkas Kemenag
Kementrian Agama RI

Wahai manusia, bermegah-megahan dalam hal harta, keturunan, dan pengikut telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, dan pengikut yang banyak, sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. Mereka asyik dengan berbicara saja, teperdaya oleh keturunan mereka dan teman sejawat tanpa memikirkan amal perbuatan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga mereka.
Diriwayatkan dari Mutharrif dari ayahnya, ia berkata:
Saya menemui Nabi saw ketika beliau sedang membaca al-hakumut-takatsur, beliau bersabda, "Anak Adam berkata, 'Inilah harta saya, inilah harta saya. Nabi bersabda, "Wahai anak Adam! Engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis." (Riwayat Muslim)

Diriwayatkan pula bahwa Nabi saw bersabda:
Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, sungguh ia ingin memiliki dua lembah harta, dan seandainya ia memiliki dua lembah harta, sungguh ia ingin memiliki tiga lembah harta dan tidak memenuhi perut manusia (tidak merasa puas) kecuali perutnya diisi dengan tanah dan Allah akan menerima tobat (memberi ampunan) kepada orang yang bertobat. (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidhi dari Anas)

Ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah bangga dalam berlebih-lebihan. Seseorang berusaha memiliki lebih banyak dari yang lain baik harta ataupun kedudukan dengan tujuan semata-mata untuk mencapai ketinggian dan kebanggaan, bukan untuk digunakan pada jalan kebaikan atau untuk membantu menegakkan keadilan dan maksud baik lainnya.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (al-hadid/57: 20)

Tafsir al-Jalalain
Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi

(Telah membuat kalian lalai) atau telah melalaikan kalian dari taat kepada Allah (bermegah-megahan) yaitu saling bangga-membanggakan harta, anak-anak dan pembantu-pembantu.

Tafsir Ibnu Katsir
Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir

Allah Swt. berfirman, bahwasanya kalian disibukkan oleh kecintaan kalian kepada duniawi dan kesenangannya serta perhiasannya, sehingga kalian melupakan upaya kalian untuk mencari pahala akhirat dan memburunya. Dan kalian terus-menerus sibuk dengan urusan duniawi kalian hingga maut datang menjemput kalian dan kalian dimasukkan ke dalam kubur hingga menjadi penghuninya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Al-Waqqad Al-Masri, telah menceritakan kepadaku Khalid ibnu Abdud Da-im, dari Ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian dari ketaatan, sampai kalian masuk ke dalam liang kubur (sampai maut datang menjemput kalian).

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. (At-Takatsur: 1) Yakni dengan harta dan anak-anak.

Di dalam kitab Sahih Bukhari dalam Bab "Raqa'iq' telah disebutkan hal yang sama dari Al-Hasan Al-Basri. Dan disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Walid, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Anas ibnu Malik, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa kami menganggap hal berikut termasuk dari Al-Qur'an sebelum diturunkan firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. (At-Takatsur: 1) Yang dimaksud adalah sabda Nabi Saw. yang menyebutkan: Seandainya Anak Adam (manusia) mempunyai lembah emas. dan seterusnya hingga akhir hadis.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Qatadah menceritakan dari Mutarrif ibnu Abdullah ibnusy Syikhkhir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia sampai kepada Rasulullah Saw. yang saat itu beliau Saw. sedang membaca firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. (At-Takatsur: 1) Lalu Rasulullah Saw. bersabda: Ibnu Adam mengatakan, "Hartaku, hartaku.” Tiadalah bagimu dari hartamu selain dari apa yang engkau makan, lain engkau lenyapkan; atau yang engkau pakai, lalu engkau lapukkan; atau engkau sedekahkan, lalu engkau lanjutkan.

Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui jalur Syu'bah dengan sanad yang sama.

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Maisarah dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Seorang hamba mengatakan, "Hartaku, hartaku!" Padahal sesungguhnya tiada dari hartanya selain tiga hal, yaitu apa yang telah dimakannya, lalu ia lenyapkan; atau yang ia pakai, lain ia lapukkan, atau yang ia sedekahkan, lalu ia lanjutkan. Sedangkan yang selain dari itu akan pergi dan akan ia tinggalkan untuk orang lain.

Imam Muslim meriwayatkannya secara munfarid melalui jalur ini.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm yang telah mendengar dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ada tiga perkara yang mengiringi keberangkatan mayat; maka yang dua perkara kembali, sedangkan yang satunya menemaninya. Keluarganya, harta bendanya, dan amal perbuatannya mengiringinya; maka kembalilah keluarga dan harta bendanya, dan yang tertinggal (bersamanya) adalah amal perbuatannya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Ibnu Adam akan menua, dan akan tetap menemaninya dua perkara, yaitu keinginan dan cita-cita.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di dalam kitab sahih masing-masing.

Al-Hafiz ibnu Asakir di dalam biografi Al-Ahnaf ibnu Qais yang dijuluki Ad-Dahhak menyebutkan bahwa ia meliliat seorang lelaki yang di tangannya memegang mata uang dirham, lalu ia bertanya "Kepunyaan siapakah uang dirham ini?" Lelaki itu menjawab, "Milikku." Maka Ad-Dahhak mengatakan, "Sesungguhnya uang dirham itu adalah milikmu bilamana kamu belanjakan untuk hal yang mengandung pahala, atau sebagai rasa ungkapan syukurmu." Kemudian Ad-Dahhak alias Al-Ahnaf mengucapkan perkataan seorang penyair:

Engkau ditunggangi oleh harta jika engkau pegang dia, maka jika engkau belanjakan dia, berarti harta itu adalah milikmu (bermanfaat bagimu).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah yang telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Saleh ibnu Hibban, dari Ibnu Buraidah sehubungan dengan makna firman-Nya: bermegah-megahan telah melalaikan kalian. (At-Takatsur: 1) Bahwa surat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah Ansar, yaitu Bani Harisah dan Banil Haris, mereka saling membanggakan diri dengan kepemilikan mereka yang banyak. Salah satu pihak mengatakan bahwa apakah di kalangan kalian terdapat orang yang semisal dengan si Fulan bin Fulan dan si Fulan. Sedangkan pihak lain mengatakan hal yang sama pula kepada lawannya. Mereka saling berbangga diri dengan orang-orang yang masih hidup, kemudian mereka mengatakan, "Marilah kita berangkat menuju kuburan." Lalu salah satu pihak mengatakan, "Apakah di kalangan kalian terdapat orang yang seperti si Fulan," seraya mengisyaratkan kepada kuburan seseorang. Dan pihak lainnya mengatakan hal yang sama seraya mengisyaratkan ke kuburan lainnya. Maka turunlah firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1-2) Sesungguhnya telah ada bagi kalian suatu pelajaran dari apa yang kalian lihat dan juga kesibukan.

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1-2) Dahulu mereka mengatakan, "Kami lebih banyak daripada Bani Fulan, dan kami lebih kuat daripada Bani Fulan," setiap hari mereka saling menjatuhkan yang lainnya tanpa henti-hentinya. Demi Allah, mereka akan terus-menerus demikian sehingga mereka semuanya masuk ke dalam kubur dan menjadi penghuninya.

Pendapat yang sahih menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: sampai kamu masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 2) Yakni hingga kalian dikubur dan menjadi penghuninya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis sahih:

bahwa Rasulullah Saw. mendatangi seorang lelaki Badui dalam rangka menjenguknya, lalu bersabda: "Tidak mengapa, insya Allah disucikan.” Lelaki itu menjawab, "Engkau katakan disucikan, tidak sebenarnya yang kurasakan adalah demam yang mengguncangkan seorang syekh (berusia lanjut) lagi sudah tua dan sudah dekat ke Liang kuburnya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Kalau begitu, itu yang terbaik.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa'id Al-Asbahani, telah menceritakan kepada kami Hakkam ibnu Salim Ar-Razi, dari Amr ibnu Abu Qais, dari Al-Hajjaj, dari Al-Minhal, dari Zur ibnu Hubaisy, dari Ali yang mengatakan bahwa kami masih tetap meragukan tentang adanya siksa kubur sebelum diturunkan firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1 -2)

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini dari Abu Kurajb, dari Hakkam ibnu Salim dengan sanad yang sama, lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Daud Al-Irdi, telah menceritakan kepada kami Abul Malih Ar-Ruqiy, dari Maimun ibnu Mahran yang mengatakan bahwa ketika aku sedang duduk di hadapan Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz, maka ia membaca firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1-2) Maka dia diam sebentar, lalu berkata, "Hai Maimun, tiadalah kulihat kuburan itu melainkan dalam ziarahku, dan sudah merupakan keharusan bagi orang yang berziarah kembali ke tempat tinggalnya." Abu Muhammad menjelaskan bahwa makna yang dimaksud dengan kembali ke tempat tinggalnya ialah ke surga atau ke neraka.

Hal yang sama telah disebutkan, bahwa pernah ada seorang lelaki Badui mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya: sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 2) Lalu ia berkata, "Demi Tuhan yang menguasai Ka'bah, ini artinya hari berbangkit." Yakni sesungguhnya bagi orang yang menziarahi kubur pasti akan pergi dari kubur itu

Tafsir Quraish Shihab
Muhammad Quraish Shihab

[[102 ~ AT-TAKATSUR (BERMEGAH-MEGAHAN) Pendahuluan: Makkiyyah, 8 ayat ~ Surat ini mencela orang-orang yang disibukkan oleh kemegahan hidup sehingga tidak menjalankan kewajibannya, dan memperingatkan bahwa mereka, kelak, akan mengetahui balasan keteledoran mereka. Selain itu, surat ini juga mengancam bahwa mereka akan menyaksikan api neraka dan akan ditanya tentang kenikmatan yang mereka rasakan.]] Kalian telah disibukkan oleh anak-anak dan pendukung-pendukung kalian, oleh sikap sombong kalian terhadap harta dengan menghitung-hitungnya dan juga oleh keturunan kalian, sehingga tidak menjalankan kewajiban dan ketaatan sampai ajal kalian datang menjemput.

An-Nafahat Al-Makkiyah
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi

2. Kelalaian, bermain-main, dan mempersibuk dirimu terus berlangsung, “sampai kamu masuk ke dalam kubur.” Pada saat itu terbukalah penutup bagimu, hanya saja setelah kalian tidak bisa memulainya. Firman Allah, “Sampai kamu masuk ke dalam kubur,” menunjukkan bahwa alam barzakh sebagai para pengunjung, tidak menyebut mereka sebagai para penghuni. Hal itu menunjukkan bahwa kebangkitan dan pembalasan amal perbuatan di akhirat yang kekal, bukan di tempat fana.

Asbabun Nuzul
Surat At-Takasur Ayat 1

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Buraidah, ia berkata bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan dua kabilah dari golongan Anshar, yaitu Bani Haritsah dan Bani Harits yag saling membanggakan diri dan merasa lebih baik dari yang lain. Satu pihak berkata: "Apakah pada kalian ada yang seperti si Fulan dan si Fulan?" Pihak yang satu lagi juga melakukan hal serupa. Mereka saling membanggakan diri dalam hal orang-orang yang masih hidup. Selanjutnya, mereka saling berkata, "mari pergi ke kuburan." Di sana, sambil menunjuk-nunjuk ke kuburan, kedua pihak juga saling berkata, "apakah pada kalian ada yang sehebat si Fulan dan si Fulan?" Allah lalu menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Ali, ia berkata bahwasanya sebelumnya kami agak ragu terhadap keberadaan azab kubur hingga turunlah ayat ini yaitu ayat 1 sampai dengan ayat 4. Lalu ayat berikutnya.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an
Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Wahai manusia, bermegah-megahan dalam hal harta, keturunan, dan pengikut telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir. 2. Kamu tidak akan berhenti bermegah-megahan seperti itu sampai kamu mati dan masuk ke dalam kubur.

Li Yaddabbaru Ayatih
Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

1. Kesibukanmu wahai manusia, hanya berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta dan merasa bangga dengan harta dan anak yang banyak. Imam Ahmad, Imam Muslim, Tirmidzi dan An-Nasa’I dari Abdullah bin Syikhir berkata: “Aku berhenti saat bertemu Rasulallah SAW yang sedang bersabda “{Alhaakumut takaatsur}, dan anak Adam menyebut-nyebut: “hartaku hartaku”, (beliau bertanya) “Tidaklah kamu memiliki hartamu kecuali kamu memakannya lalu menghancurkannya atau kamu memakainya lalu membuatnya lusuh atau kamu menyedekahkannya, maka kamu membuatnya tetap abadi”

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah
Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

1. اَلۡهٰٮكُمُ التَّكَاثُرُۙ‏ (Bermegah-megahan telah melalaikan kamu)
Yakni memperbanyak harta dan keturunan, serta berbangga-bangga dengan itu, dan saling berlomba untuk mengumpulkannya telah melalaikan kalian dari ketaatan kepada Allah dan beramal untuk akhirat.

Tafsir Al-Mukhtashar
Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

1-2. Allah menujukan firman-Nya kepada para pemimpin orang-orang musyrik: Kalian telah dilalaikan dari hal yang wajib kalian kerjakan, yaitu dilalaikan oleh perbuatan berlomba-lomba dan menyombongkan harta, derajat, kabilah, dan banyaknya jabatan. Perilaku ini merupakan sifat orang-orang musyrik, maka hendaklah kaum muslimin mengetahui bahwa sifat ini tercela di hadapan Allah.

Kalian melakukan perbuatan ini hingga kalian mendatangi kubur, yakni hingga kalian mati. Dan manusia memiliki tabiat ini hingga kematian datang.

Tafsir Al-Muyassar
Kementerian Agama Saudi Arabia

1. Bersombong-sombong dengan harta dan anak telah melalaikan kalian -wahai manusia- dari ketaatan terhadap Allah.

Tafsir Al-Wajiz
Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

1-2. Allah mengabarkan bahwa manusia telah disibukkan dari ketaatan kepada Allah dengan berbangga diri dan pamer atas banykanya harta dan anak; Sampai-sampai umurnya berakhir dan mereka binasa (hingga) menuju ke kuburan, dikuburkannya mereka di dalamnya sebelum dirinya (mampu) mendahulukan amalan yang baik (ketika di dunia). Dan ini adalah kondisi kebanyakan manusia. Kami meminta keselamatan kepada Allah.

Tafsir Juz 'Amma, Dr. Shalih
Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, anggota Lajnah Daaimah (Komite Fatwa Majelis Ulama KSA)

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ " Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur." Ungkapan dalam ayat ini adalah ungkapan pemberitaan, Allah 'Azza Wa Jalla memberitakan dengannya hamba-hamba-Nya, Dia mengajak bicara mereka dengan mengatakan: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ " Bermegah-megahan telah melalaikan kamu " Makna أَلْهَاكُمُ adalah: Telah melalaikan kalian, hingga kalaian lali terhadapa apa yang lebih penting , berupa mengingat Allah Ta'ala dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, yang diajak bicara di sini adalah semua umat, tetapi dikecualikan orang-orang yang tersibukkan dengan urusan-urusan akhirat dari urusan-urusan dunia, dan orang seperti ini sedikit. Kita katakan sedikit karena telah tetap dalam shahihain bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'ala berfirman pada hari kiamat: يَا آدَمُ، فَيَقُوْلُ: لَبَّيْكَ وَسَعَدَيكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُوْلُ: أَخْرِجْ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ بَعْثًا إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعُمِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ "Wahai Adam. Maka ia menjawab: Kami saya mendengar dan segera mentaati panggilan-Mu, dan kebaikan berada di kedua tangan-Mu. Lalu Allah berkata:
Keluarkanlah orang pilihan (diutus) ke neraka! Adam bertanya: Berapa jumlah orang pilihan dari neraka? Allah menjawab: Dari setiap seribu, (keluarkan satu) sembilan ratus sembilan puluh sembilan" (1) satu di surga dan sisanya (yaitu 999) di neraka. Ini adalah jumlah yang sangat timpang! Jika demikian, maka tidak ada dari anak-anak Adam melainkan hanya satu saja dari seribu orang yang menjadi penduduk surga, sedangkan sisanya adalah penghuni neraka. Dengan demikian maka yang diajak bicara di sini dalam ayat ini dengan keumumannya (mencakup semua manusia) diterapkan sesuai konteks asalnya, karena satu orang dibanding seribu tidak ada apa-apanya.

Sedangkan firman-Nya: التَّكَاثُرُ "berbanyak-banyak" Ini mencakup berbanyak-banyak dalam harta, jumlah suku, jabatan, ilmu dan segala sesuatu yang bisa dibangga-banggakan. Hal ini ditunjukkan oleh ucapan pemilik kebun kepada temannya: أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا " Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih perkasa"(QS. Al-Kahfi: 34) Manusia bisa saja ia berbangga dengan banyaknya harta, sehingga ia mencari harta lebih banyak dari yang lainnya atau mencari bisnis yang lebih luas lagi, bisa juga ia berbangga dengan sukunya, dengan mengatakan: Kami lebih banyak jumlahnya dari mereka, sebagaimana yang diungkapkan penyair:

وَلَسْتُ بِالأَكْثَرِ مِنْهُمْ حَصًى وَإِنَّمَا الْعِزَّةُ لِلْكَاثِرِ

Aku Bukanlah yang paling banyak kerikilnya dari mereka.
Tetapi keperkasaan sejati adalah yang lebih banyak jumlahnya (orangnya)..

Yang paling banyak kerikilnya, karena mereka dahulu, mereka menjadikan alat hitung sesuatu dengan kerikil, misalnya, apabila kerikil mereka berjumlah sepuluh ribu, dan yang lain jumlah kerikilnya delapan ribu, maka qobilah pertama adalah yang lebih banyak dan lebih perkasa, maka dari itu, penyair bersenandung:

وَلَسْتُ بِالأَكْثَرِ مِنْهُمْ حَصًى وَإِنَّمَا الْعِزَّةُ لِلْكَاثِرِ

Aku Bukanlah yang paling banyak kerikilnya dari mereka.
Tetapi keperkasaan sejati adalah yang lebih banyak jumlahnya (orangnya).

Manusia pun berbangga bangga dengan ilmu, anda mendapati dirinya membanggakan ilmu dari yang lainnya, tetapi jika dengan ilmu syar'iy maka ini baik, jika bukan dengan selain ilmu syar'iy maka bisa jadi mubah atau pun haram. Ini lah kebanyakan pada anak Adam yaitu berbangga-bangga, mereka berbanyak-banyak pada perkara-perkara tersebut dari tujuan mereka diciptakan berupa ibadah kepada Allah 'Azza Wa Jalla.

(1) Dikeluarkan Bukhari (3348) dan Muslim (222) dari hadits Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallaah 'anhu

Tafsir Juz 'Amma, Muhammad bin Shalih
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama besar abad 14 H

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menegur hamba-hamba-Nya yang dibuat lalai oleh bermegah-megahan dari mengerjakan tujuan mereka diciptakan, yaitu beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mengenal-Nya, kembali kepada-Nya dan mengutamakan kecintaan kepada-Nya di atas segala sesuatu.

Maksudnya, bermegah-megahan dalam hal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, kedudukan dan semisalnya yang tujuannya bukan untuk mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Tafsir as-Sa'di
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

{ أَلْهَاكُمُ } Telah melalaikanmu { التَّكَاثُرُ } sikap berbanyak-banyak, yakni berbanyak-banyak dalam kemegahan harta dunia, Allah - عز وجل - berfirman : { اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ } ( Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak ) [ Al-Hadid : 20 ] , berapa banyak manusia didunia ini sedang mneyibukkan dirinya untuk mencari dan terus memperbanyak harta kekayaan, dan mereka membanggakan itu semua, sehingga dengan kebanggaannya itu mereka lala dari mengerjakan amal shalih, bagi mereka amal shalih tidak begitu penting dibandikan dengan kekayaan yang mereka anggap akan menyenangkan kehidupan dunia mereka, dan kepada hari akhir mereka lalai.

{ أَلْهَاكُمُ } Telah melalaikanmu, dari perkara apa ? dari hari akhir, dunia telah melalaikanmu dari mengingat hari akhir dan sibuk bersiap diri untuk menghadapinya, dunia ini akan punah, sedangkan akhirat akan tiba dan kehidupannya kekal selamanya, lalu mengapa kamu meninggalkan perkara yang kamu akan kekal hidup didalamnya dan sibuk dengan perkara yang pasti akan berakhir ? .. maka berfikirlah kalian.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

1-2
1 ). Hamzah al-Kannany berkata : "Aku telah mengeluarkan sebuah hadits yang diriwayatkan melalui 200 jalan yang berbeda, akhirnya rasa senang yang berlebihan menguasaiku, dan aku juga ditakjubkan olehnya, kemudian aku melihat Yahya bin Ma'in dalam mimpi, lalu aku berkata kepadanya : "wahai abu Zakaria, aku telah mengeluarkan sebuah hadits melalui 200 jalan yang berbeda ! kemudian ia terdiam beberapa saat, lalu berkata : aku hawatir hal itu termasuk dalam ayat yang berbunyi : { أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ }

2 ). Maimun bin mahran berkata : suatu ketika aku duduk disisi Umar bin Abdul Aziz kemudian ia membaca : { أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ , حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ }, tiba-tiba ia menangsis, kemudian berkata : "wahai ma'mun !" aku tidak pernah melihat kuburan kecuali aku mengunjunginya, dan setiap orang yang mengunjunginya pasti akan kembali kerumahnya di surga atau di neraka !

3 ). { حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ } Jika seandainya keberadaan sesorang didalam kuburnya hanya sekedar ziaroh padahal masa keberadaan mereka ada yang sampai seribu tahun, lalu bagaimana kita menggambarkan dan menjelasakan keberadaan kita didunia yang tidak terikat waktu ? perhatikanlah ayat ini : { قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ } " Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. [ al-Mu'minun : 113 ], sungguh merugilah orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya !